you're reading...
Fiktif, Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi (1)

Because last nite, I remembered you…

“I’m leaving…”

Suaranya berbisik, lirih. Sangat perlahan, sampai yang kurasakan hanya nafas yang memburu dari bibirnya. Aku tak berdaya. Sungguh. Mencoba mencerna kalimat-kalimat sederhana itu seperti mengunyah teori ilmu Kimia yang baru bisa kumengerti setelah berkali-kali kupelajari.

Hanya dua kata.
Aku.
Pergi.
Itu saja.

Kedua matanya seperti mencoba menelanjangi tubuhku yang tiba-tiba mengilu. Ingin berteriak, ingin memukulnya, ingin bilang padanya supaya mengulang kata… tapi bukan kata yang sama.

Aku mendengar.
Tapi aku menuli.

Aku hanya tak ingin dia pergi. Meninggalkan aku. Juga kenangan-kenangan yang terbentuk tanpa ia sadari. Bersemi menjadi ikatan rantai utuh yang mengikat hari-hariku untuk selalu mencintainya. Hanya dia, yang kubiarkan merajaiku tanpa pernah kuberusaha menolaknya.

Jadi aku menunduk. Dan memegang sebelah bahunya.

“You, what?” tanyaku pura-pura bodoh, sama-sama lirihnya, tapi wajahku mulai dibanjiri dengan air mata yang menetes tak terkendali.

“Aku pergi.”

Hanya kata-kata pendek. Sederhana. Tanpa reaksi. Tanpa mata yang memelas atau memohon supaya aku memegang kedua tangannya, atau memeluknya, atau menangis di dadanya, lalu bilang padanya jangan pergi, tetaplah di sini, cintai aku selamanya.

Tidak ada.
Padahal aku menginginkannya.

Dalam diam, di tengah isak tangis yang bersahutan dengan nafas, yang membuat kedua matanya terkejut karena reaksi yang tak pernah dia sangka sebelumnya, aku hanya menggenggam jemarinya, yang kemudian ditepiskannya perlahan.

“Kamu nggak bohong?”

Bagaimana mungkin seseorang seperti dia akan bermain-main dengan kata-kata seperti ini? Tiga tahun aku bersama dia, meniti hari yang menggelap tanpa sempat kusadari kalau aku membutuhkannya, dan harum tubuhnya sudah seperti wangi bunga yang menyapa tiap hari-hari indahku, dia adalah seseorang yang selalu jujur, apa adanya, dan berkata apa yang ada di dalam hatinya.

Seperti yang kutebak, dia hanya menggeleng. Kulihat dia sangat angkuh, memandang lurus tanpa hati, lalu tersenyum seolah aku tak punya mimpi. Aku selalu memimpikannya. Dalam tidur-tidur di malam hari, sepanjang hampir seribu hari, sepanjang jutaan waktu yang tersisipkan dengan ramai canda tawa aku dan dia, aku bermimpi bisa merengkuh dia dalam satu kelebatan cahaya dan membawanya pergi ke dalam hatiku. Biar, menetap di sana sampai waktu yang tak pernah kutahu.

Aku menangis saat dia seolah tak pernah tahu kalau aku mencintainya, membutuhkannya, dan luluh lantak seperti serpihan debu yang melayang-melayang setelah menyentuh hati. Aku menangis, karena dia tak pernah mau tahu tentang aku.

“Kenapa kamu tega?”

Lalu dia memandangku. Memperhatikan setiap detil wajahku. Sampai butiran jerawat yang belakangan menghias di wajahku yang selalu bersemu merah setiap bertemu, karena aku mulai kesakitan karena merindukannya sampai tak cukup waktu.
Dia heran.

“Tega?” Satu kata yang membuatku ingin memegang kedua bahunya. Mengguncangnya. Sampai dia mengerti, kalau aku mencintainya.

“Iya, tega.”

“Tega, apanya?”

Senyumnya mengembang.

“Sudah, sudah. Seharusnya kamu bahagia, kalau aku bahagia…” Dia mengakhiri percakapan kami di suatu sore yang basah karena hujan. Yang basah pula, karena air mata yang tertumpah di sudut ruang, tempat aku mengisak tanpa henti di sana. Di dalam pelukan sahabat yang akhirnya berkata:

“Kalau kamu mencintainya, kamu akan merelakan dia pergi, Luna…” Sambil mengelus rambutku, dia berkata lagi. “Kamu cinta sama dia, kan, Lun?”

Pertanyaan itu membawaku ke masa-masa hampir tiga tahun yang lalu. Saat pertama kali kami bertemu, bertukar sapa, dan mulai merasakan debaran hati yang bergetar tak terkendali setiap dia lewat dan menyapa.
Aku tak pernah tahu itu cinta.
Yang kutahu aku merindukannya setiap tak berjumpa.
Dan menangis ketika hari merambat pergi, seolah tak berpihak.
Dan terluka saat dia mengucapkan kata-kata perpisahan yang membuat telingaku robek dan tuli seketika.

Aku baru menyadari kalau aku mencintainya.
Hari ini.

to be continued…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “Sebelum Dia Pergi (1)

  1. “aku mendengar
    tapi aku menuli.”

    ciamik dah.

    tega bener yah laki-laki. Dasar!
    hihihi…

    haha.. ngakak banget baca kalimat “Ciamik dah”-mu Mas.. hehe..
    Emang laki-laki itu raja tega! 😀

    Posted by mascayo | January 25, 2009, 2:28 pm
  2. I’m leaving….
    I told that to someone yesterday…him and her…
    semoga keputusanku tepat..and guess what
    “Aku baru menyadari kalau aku mencintainya.
    Hari ini.”
    dan aku membiarkannya pergi karena aku mencintainya 🙂

    Posted by Ria | January 27, 2009, 9:05 am
  3. sia-sia pengorbananku selama ini terhadapmu,,,,,,, semua kau balas dengan meninggalkanku disini sendiri………..

    Posted by bam's | January 27, 2010, 10:43 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: