archives

Archive for

It’s finally over…

Tiba-tiba saya merasa sangat tolol.
Merasa sangat bodoh, goblog, dan segala jenis sifat yang sederajat.

Detik ini juga, saya pingin semuanya selesai saja.
Semua rasa yang dulu pernah bermain-main di dalam hati saya.

Sudah.
Cukup.
Selesai.

This game…
is finally over.

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Radiohead&title=Creep&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/2522_15032578.mp3&song_info=12+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago


When you were here before
Couldn’t look you in the eye
You’re just like an angel
Your skin makes me cry
You float like a feather
In a beautiful world
And I wish I was special
You’re so fuckin’ special

But I’m a creep, I’m a weirdo.
What the hell am I doing here?
I don’t belong here.

I don’t care if it hurts
I want to have control
I want a perfect body
I want a perfect soul
I want you to notice
When I’m not around
You’re so fuckin’ special
I wish I was special

But I’m a creep, I’m a weirdo.
What the hell am I doing here?
I don’t belong here.

She’s running out again,
She’s running out
She’s run run run running out…

Whatever makes you happy
Whatever you want
You’re so fuckin’ special
I wish I was special…

But I’m a creep, I’m a weirdo,
What the hell am I doing here?
I don’t belong here.
I don’t belong here.
(Creep — Radiohead)

Sebelum Dia Pergi (7 dan Terakhir)

1/2/3/4/5/6

Kulihat Rei sedang duduk di depan komputernya. Sebentar-sebentar menengok ke mesin print, sebentar-sebentar mengetik sesuatu di atas keyboardnya, lalu kemudian sibuk sendiri dengan teman-temannya.

Aku melihatnya dengan hati yang berdebar.
Jantungku seperti berlompatan keluar dari relnya.
Keringatku menjadi sebesar bulir jagung yang keluar tanpa kendali dari anak-anak rambutku.
Aku takut.
Aku tak sabar.
Aku takut.
Aku ingin segera bilang.

Semalam sudah kuputuskan, untuk bilang saja padanya, ungkapkan semuanya, tanpa membutuhkan jawaban, hanya satu kepastian kalau dia tahu bahwa selama ini aku tidak pernah bercanda saat aku mengatakan betapa inginnya aku dicintai olehnya.

Tak perlu dia mencintaiku juga.
Atau mendapatkan reaksi paling romantis ala Shakespears, yaitu dia berhambur memelukku dan bilang dia mencintaiku juga sejak bertahun-tahun yang lalu tapi menunggu saat-saat seperti ini. Continue reading

Sebelum Dia Pergi (6)

1/2/3/4/5

Seorang teman yang lain pernah bercerita padaku soal istilah “I love you came too late”. Cerita yang diawali dengan kisah romansa malu-malu tentang kata-kata cinta yang lenyap di udara setiap pandangan mereka beradu, kemudian diakhiri dengan penyesalan lalu kata-kata yang mengusik ketegaran seperti ini.

“Luna, kita nggak pernah tahu cara membaca hati seseorang. Kecuali orang-orang yang punya gift, kita ini hanya orang-orang yang buta aksara dalam membaca huruf-huruf yang bertebaran di dalam hati. Tapi kita bisa mendengar, Luna. Dan suara yang tersiar di telinga itu bisa menyampaikan informasi dan memberikan sinyal-sinyal ke impuls syaraf lalu sisanya, hati yang memutuskan. Jangan menebak-nebak, jangan menerka apa yang ada di hati seseorang. Tanyalah. Jangan membiarkan orang bingung menilai. Jadi bicaralah. Jangan pernah membiarkan kamu tersesat dalam masquerade ciptaanmu sendiri. Ungkapkan saja. Katakan saja. Dan dengarkan dia.”

“Tapi… aku takut…”

“Kalau kamu takut, mulai sekarang, harus kamu ingat baik-baik.”

“Apa?”

“Seandainya suatu saat nanti, bertahun-tahun sesudah hari ini, kamu baru tahu kalau ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama tapi tersimpan kuat hanya karena dia sama nggak beraninya seperti kamu… ingat ini baik-baik. NEVER REGRET.”

“…”

“Nggak usah nangis… why bother? Nggak usah sedih dan meratapi nasib… well… I’ve told you so? Nggak usah menyesal… you did it, no pressure.”

“…”

“Tuhan punya maksud, Luna, kenapa peristiwa ini terjadi.”

“…”

“Mungkin… Dia bermaksud begini… supaya kamu segera jujur padanya dan mengungkapkan semua.”

“… kamu yakin, Ta?”

“Mm… sudah berapa lama sih dia ada di hati kamu?”

“… hampir seribu hari…”

“Luna…” Dia memandangku. Memberi jeda. Lalu meremas jemariku, sambil tersenyum. “I think it’s time…” Continue reading

Sebelum Dia Pergi (5)

1/2/3/4

Hari-hari seperti berlari cepat semenjak dia berpamitan padaku untuk segera terbang ke langit di sebelah sana yang katanya menjanjikan terang yang lebih terang. Tentang tempat yang katanya banyak tertabur ribuan bintang dan memudahkannya mencapai semua mimpi yang pernah terkubur bertahun-tahun lamanya karena harus terperangkap dalam sistem 9 to 5 selama belasan tahun.

“Aku ingin bebas.”
Katanya di suatu hari yang cerah dan berlangit vanila. Senyumnya terkembang manis dan matanya bercerita lebih banyak dari bibirnya.

“Aku ingin terbang saja… Melayang-layang… tanpa perlu takut terjatuh… lalu terbang lagi sampai aku menyentuh tempat yang paling indah…”
Masih matanya yang berkata lebih jujur.

“Kamu tahu, Luna? Aku lelah… Aku ingin menciptakan sebuah dunia yang kumau, bukan yang mengaturku untuk berbuat sesuatu. Aku bosan terperangkap dalam aturan yang mengikat kaki-kakiku. Aku ingin pergi, Luna… Aku ingin berlari…”

Hatiku berdebar saat itu.
Berlari dari sini, berarti lari dari hidupku juga. Terbang dari sini, artinya sama saja dengan terbang dari kehidupanku juga. Continue reading

Sebelum Dia Pergi (4)

1/2/3

Sebaliknya, Rei sungguh berbeda dengan aku. Dalam sejarah napas yang kuhitung bersamanya, tak pernah kumelihat ada bunga-bunga yang sengaja mekar dan mewangi di sekelilingnya. Tak pernah terhembus berita tentang dia mencintai siapa, seperti apa yang bisa menarik hatinya, dan apa yang terjadi dengan dunianya sebelum dia masuk ke dalam hari-hariku.

Yang kutahu dia berbeda.
Kaku.
Jujur.
Sederhana.
Apa adanya.

Dia tak pernah menyadari tentang mukjizat Tuhan paling nyata yang pernah kulihat, ada pada dirinya. Kesempurnaan wajah, kesempurnaan tubuh, kesempurnaan hati, kesempurnaan yang nyaris sempurna.

Tak pernah dia menyadari tentang keindahan yang ada pada dirinya. Tak pernah sedikitpun aku mendengar tentang dia melukai hati, memainkan hati, mencubit hati, mengolok-olok hati… tak pernah sama sekali. Atau cerita tentang masa lalu yang membentuk Rei masa kini dengan segala keunikannya yang mempesona, tak pernah sama sekali.

Rei yang kukenal hanya seorang Rei yang:
Kaku.
Jujur.
Sederhana.
Apa adanya.
Dan satu lagi:
Dia tak pernah sudi memberikan hati buat perempuan yang diam-diam menggilainya… Continue reading

Sebelum Dia Pergi (3)

1/2

 

Ribuan kali aku berkata,
“Aku cinta kamu, Rei.”

Tak terhitung berapa kali aku bilang padanya,
“Kamu adalah pencuri hatiku sejak pertama kita bertemu…”

Hampir selalu kubisikkan padanya,
“Aku ingin melahirkan anak-anak yang lucu buat kamu, Rei…”

Tapi di setiap ujung kalimat penuh romansa dan rayuan gombal itu, aku selalu menambahkan kalimat-kalimat tak penting, yang melenyapkan efek magis yang mungkin sempat tercipta karena betapa jujurnya aku mengungkap sisi terdalam sebuah hati padanya. Continue reading

Sebelum Dia Pergi (2)

sebelumnya…

Di dalam coffee house yang tenang meskipun bermusik lirih dari sudut sana, aku merasa terasing sendiri dalam duniaku.

Air mata meleleh dalam setiap adukan kopi latte yang entah kenapa tak bisa berhenti kuaduk. Setiap dentingnya menciptakan nyeri. Setiap riak airnya yang membentuk bulatan-bulatan melebar lalu hilang menepi, menciptakan letih. Aku letih. Merindunya. Aku tak sabar. Ingin sekali berteriak padanya kalau aku mulai kehilangan dia.
Tapi, bisakah aku? Continue reading

Sebelum Dia Pergi (1)

Because last nite, I remembered you…

“I’m leaving…”

Suaranya berbisik, lirih. Sangat perlahan, sampai yang kurasakan hanya nafas yang memburu dari bibirnya. Aku tak berdaya. Sungguh. Mencoba mencerna kalimat-kalimat sederhana itu seperti mengunyah teori ilmu Kimia yang baru bisa kumengerti setelah berkali-kali kupelajari.

Hanya dua kata.
Aku.
Pergi.
Itu saja.

Kedua matanya seperti mencoba menelanjangi tubuhku yang tiba-tiba mengilu. Ingin berteriak, ingin memukulnya, ingin bilang padanya supaya mengulang kata… tapi bukan kata yang sama.

Aku mendengar.
Tapi aku menuli.

Aku hanya tak ingin dia pergi. Meninggalkan aku. Juga kenangan-kenangan yang terbentuk tanpa ia sadari. Bersemi menjadi ikatan rantai utuh yang mengikat hari-hariku untuk selalu mencintainya. Hanya dia, yang kubiarkan merajaiku tanpa pernah kuberusaha menolaknya. Continue reading

I don’t wanna get married!

After a long, long, and frustrating years..
Setelah dibilangin ina inu sama banyak orang…
Soal jodoh, lah.
Soal umur, lah.
Soal kapan nyusul si A sampai Z, lah.
Soal jangan sibuk ngurusin kerjaan dan melupakan kodrat lah.

Akhirnya..
Saya memutuskan untuk TIDAK MAU NIKAH!!!
Iya.
Nggak mau.
Ogah.
Beneran deh. Ogahhhh!!!!

*lho, emang kenapa sih, La? lo abis disakitin cowok lagi ya?*

Ugh, bukan itu, Guys…
Sungguh bukan itu. Cowok nyakitin saya mah gebleg aja kalee… Bodohnya mereka aja yang nggak mau sama cewek sebaik saya.. huihihihi…
Lagipula, cuman karena disakitin cowok akhirnya saya males kawin?
Ah, kenapa harus nunggu sampai pacar yang kesembilan sih? hehe…

Kamu tahu apa alasan saya nggak mau menikah???
Karena eh karena…

..
..

SAYA JELEK BANGET KALO PAKE KEBAYA!!!
Wakakakaka…
Banci banget deh tampang saya! Sumprit!!!
Nggak ada Luna Maya-Luna Maya-nya sama sekali!!! *emang lo pernah mirip dia, La? Lo kan cuman mirip Demi Moore aja, bukan Luna Maya?* hehe..


(seragam kebaya buat acaranya Mbak Neph, 22 Feb 2009)

Photo itu diambil ketika hari Sabtu siang kemarin, saya fitting baju di butiknya Anne Avantie *BOONG KALEE! hihihi* dan begitu saya pake… buset dah! Kayak maen lenong!!! Huaa… Nggak kebayang deh kalau musti disanggul segala… Haduh, ndak deh.. saya masih waras, Sodara-Sodara… 😀

Jadi cuman karena ini akhirnya elo nggak mau nikah La?

Oh.. ndak deng, ndak juga..
Nggak seekstrim itu lah.
Yang saya maksud “I don’t wanna get married” itu adalah…
I don’t wanna get married dengan baju kebaya seperti itu… I would prefer a gown or simple cocktail dress seperti yang pernah saya tulis di posting ini nih… Pesta kebun dengan pakaian-pakaian yang biasa aja.. minus konde dan jarik yang ribet itu..

Suami saya nanti bakal kompakan nggak ya, dengan ide brilliant saya ini…
*udah, udah. Ndak usah berkhayal… cari suaminya dulu, baru pikirin pestanya!*

hahaha…

Good day, everyone..
Masih pada bobo semua, kan?
Aduh… saya masih melek abis nih jam 3 pagi ini!
*sambil nguprek-nguprek koleksi DVD dan mulai nonton*

Bye….

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono