you're reading...
Thoughts to Share

Taking The Chances

Have you ever said to your heart, that there was something that you had to do but didn’t?
That there was something that needed to be said but it remains unspoken?
That there were a lot of things that needed to said or done, but all you did was nothing and waited for your second chance?

But, what if there will be no second chance?
What if today is your very last chance to do something really important and you blew your only chance away because you were so damn afraid to make your moves?
You will spend the rest of your life, regretting everything that should’ve been said and done.
And believe me. It doesn’t make your life any better!

So,
Have you?

***

Spend all your time waiting for that second chance
For the break that will make it OK
There’s always some reason to feel not good enough
And it’s hard at the end of the day
(Angel / OST City of Angel– Sarah McLachan)

Suara khas Sarah McLachan yang melantunkan lagu yang menjadi soundtrack salah satu film kesayangan saya, City of Angel, mengiringi saya saat sedang mengetik tulisan ini di depan laptop, di suatu sore, sepulang dari acara arisan keluarga yang diadakan di rumah sepupu saya yang baru saja melahirkan bayi keduanya.

Di keluarga besar saya, yang terdiri dari Papi dan adik-adiknya yang berjumlah sampai sepuluh orang itu berikut dengan anak cucu mereka, biasa mengadakan sebuah arisan keluarga setiap dua bulan sekali dengan tempat yang bergiliran. Dan kebetulan, siang tadi adalah giliran Sukma, sepupu saya, sehingga kami semua berkumpul ke sana.

Semua?

Oh tidak. Tidak semuanya. Dari sepuluh bersaudara, Papi dan adik-adiknya kini tinggal berdelapan saja. Dua orang adiknya, Lek Nanik dan Om Sapto, telah meninggalkan kami setahun yang lalu dalam rentang waktu tujuh bulan saja.

Jadi berdelapan, La?
Oh tidak juga.

Arisan keluarga ini hanya diikuti oleh Papi dan adik-adiknya yang berdomisili di Jawa Timur saja, yaitu di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Malang, sedangkan ketiga adiknya yang sekarang menetap di Kalimantan dan Jogjakarta tentu akan mengalami kesulitan kalau harus berkunjung setiap dua bulan sekali ke Surabaya, sehingga dari awal, kami memutuskan untuk mempererat yang terdekat dulu karena akan lebih mudah merangkul yang dekat daripada melebarkan pelukan sampai ratusan kilometer bahkan sampai menyeberang lautan segala.

Kami mulai rutin mengagendakan acara arisan keluarga ini sejak September tahun 2007, meskipun sebetulnya keinginan untuk membuat acara kumpul-kumpul keluarga seperti ini sudah tercetus sejak Mami masih sehat, sebelum tahun 2002 kemarin. Mami adalah orang pertama yang menginginkan adanya acara kumpul-kumpul keluarga yang disisipi arisan (biar seru, katanya). Tujuannya tentu saja supaya keluarga kami bisa semakin erat dan tidak perlu menunggu Lebaran, saat kami semua memang sifatnya wajib berkumpul di rumah Mbah Ratih, di Sidoarjo.

Tapi, rencana tinggal rencana. Meskipun ditanggapi dengan antusias, tapi selalu tidak ada realisasinya, bahkan sampai akhirnya Mami tutup usia di hari Minggu, tanggal 7 Juli 2002.

Lantas apakah ide Mami itu mengendap begitu saja?
Oh, tidak, tidak.

Kali ini giliran Lek Nanik yang antusias untuk mengadakan kumpul-kumpul keluarga seperti yang pernah Mami usulkan. Dan, seperti biasa, kami hanya mengangguk-angguk setuju, antusias, tapi tidak ada yang mengambil langkah konkrit, seperti misalnya: menyusun silsilah keluarga, tema-nya seperti apa, acaranya bakal seperti apa, nanti sistem arisannya bagaimana, dan lain-lain. Atau setidaknya, meminta kami untuk berkumpul di suatu tempat sambil membahas bagaimana langkah berikutnya. Saat itu kami semua mengangguk setuju tapi kami diam, tak bergerak.

Lek Nanik tutup usia tanggal 8 April 2007, hari Minggu sore, pukul 18.00.

Sama halnya ketika Mami meninggal, di mana saat itu semua keluarga kami berkumpul, mulai dari Bulik Uni di Kalimantan, juga Bulik Tutik dan Lek Kiki yang ada di Jogja, dan pastinya adik-adik Papi yang ada di Surabaya dan sekitarnya. Semuanya juga berkumpul di rumah Lek Nanik ketika tante tercinta saya itu meninggal.

Then one small fact kicked me in my heart.

“Kenapa kami semua malah berkumpul pada saat seseorang sedang sakit? Seseorang sedang mengalami kesusahan? Seseorang sedang menemui ajalnya? Dan kami malah berkumpul saat kami  tak punya daya untuk tertawa?
Kenapa tidak berkumpul pada saat kami semua bisa saling melempar canda? Menggoda Om Yoyok dan Om Sapto, duet Om kesayangan yang biangnya ngelucu itu? Yang saling menimpali canda seperti Ludrukan Surabaya itu?
Wouldn’t it be nicer?”


Rupanya, bukan saya saja yang merasa demikian, tapi juga Om Sapto. My most favorite uncle ever inilah yang kemudian bilang sama saya, “La, ayo kamu atur deh, acara arisan keluarganya… Masa kita musti ketemuan pas dulur-dulur (saudara-saudaraku) meninggal…” Dia mengucapkannya sambil tertawa.

Om Sapto menyampaikan ini menjelang bulan puasa tahun 2007 kemarin (Om Sapto bahkan secara khusus datang ke rumah saya lalu menyuruh saya untuk segera mengadakan acara ini, entah kenapa) dan tanpa banyak pertimbangan, saya bergerak untuk merealisasikan ide ini. Saya menghubungi semua saudara, mengajak mereka berkumpul saja untuk membicarakan acara arisan ini, sambil berbuka puasa di rumah, September, di tahun yang sama.

Buka Puasa Bersama 2007

Soejono’s Girls : Daughter, Daughter in Laws, and Grand Daughters

Anak-Anak Pak Soejono

Anak-Anak Pak Soejono

Look at my Om Sapto (tengah, sedang tertawa). He was so happy, wasn’t he?

Memang menyenangkan sekali bercengkerama dengan keluarga. Apalagi kami bukan keluarga yang doyan basa basi, sehingga semua orang tidak luput dari godaan Om Yoyok, Om Sapto, dan Papi, tentunya. Kami bebas tertawa ngakak. Sampai menangis-nangis, malah, saking lucunya. Begitulah suasana ketika keluarga besar Mbah Kakung Soejono berkumpul dalam satu ruangan. Musti siap-siap didatangi tim Huru Hara, kayaknya…😀

Berawal dari hasil diskusi saat Buka Bersama itulah, akhirnya tercetuslah konsep yang paling sempurna untuk acara arisan keluarga kami, yang akan diadakan setelah lebaran, alias tidak sampai sebulan kemudian, dengan sponsor Lala dan Kakak-Kakaknya karena diadakan di rumah Papi.

Halal Bihalal 2007

Halal Bihalal 2007

Kami berkumpul lagi. Bersenang-senang lagi. Bercanda-canda lagi. Dan sungguh, arisan perdana itu sangat berkesan, PALING berkesan sepanjang hidup saya.

Dan saya rasa, Om Sapto juga merasakan hal yang sama.
Kenapa demikian?

Karena seminggu setelah acara arisan perdana itu, Om Sapto meninggalkan kami karena serangan Stroke mendadak, yang membuatnya terjatuh dari atas sepeda motornya, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju ke rumahnya…
It was November 7, 2007, when I lost my lovely uncle…. Orang yang menjadi sandaran saya selama ini…

Ketika Om Sapto meninggal, saya… okay, kami semua kemudian berkata, “Untung waktu itu kita bikin acara arisan ya…”

Karena di hari lebaran tahun itu, tidak satupun keluarga kami berkumpul bersama di tempat Mbah Ratih seperti tahun-tahun sebelumnya. Papi dan keluarga Mbak Pit datang terlampau siang. Lek Wiwin datang terlampau pagi tapi harus segera pulang. Om Totok pergi ke Sumedang, ke tempat istrinya. Saya dan Bro pergi ke Magelang, ke tempat Eyang Putri dari keluarga Mbak Ira. Intinya, kami berkumpul dalam formasi lengkap, justru pada saat acara halal bihalal di rumah Papi, seminggu kemudian.

Bayangkan, apa jadinya kalau kami tidak punya agenda untuk Halal Bihalal itu? Bisa jadi, saya tidak bisa melihat Om Sapto saat dia masih bebas tertawa dan bercanda, tapi malah melihatnya ketika sudah terbaring tanpa kata-kata di ranjang rumah sakit…

***

Ketika saya datang di acara arisan keluarga tadi siang, tiba-tiba segala kenangan tentang Mami, Lek Nan, dan Om Sapto berkelebat di depan mata saya, seperti sebuah sajian presentasi dengan slide demi slide yang muncul bergantian lalu menggali semua kenangan.

Apa yang membuat kami tak segera mengadakan acara arisan keluarga yang sederhana itu?
Apa sih, repotnya merancang sebuah arisan? Tidak sampai harus mengurus ijin ke RT-RW sampai Kecamatan segala, kan?
Lantas, kenapa semua ini harus menunggu Mami dan Lek Nan meninggal?
Apakah hanya karena kami menganggap, “Ah, nanti-nanti aja, deh…. Sekarang masih repot… Toh, acara ini bisa menunggu, kan…”

…ya, acaranya memang bisa menunggu, bisa ditunda. Tapi bukan usia kami, bukan waktu kami, yang tak pernah bisa diketahui persis sampai kapan jatah yang diberikan olehNYA yang Terindah…

Why wait for second chance?
Why don’t we just use our FIRST chance?
Siapa tahu, tidak akan pernah ada second chance… Siapa tahu, tidak pernah ada kesempatan untuk melakukan apa yang harus kamu lakukan… Apa yang harus kamu ucapkan…

Well,

Untung saja kami mengambil kesempatan itu, meskipun harus menunggu sampai bertahun-tahun lamanya untuk terealisasikan. Dan meskipun terlambat bertahun-tahun, setidaknya, Om Sapto sempat mengetahui bahwa keinginannya itu telah terwujud…

Kami beruntung masih memiliki kesempatan kedua itu, tapi saya yakin, banyak di antara kamu yang tidak memiliki kesempatan kedua seperti kami, lalu menjalani hari-hari berikutnya dengan penyesalan yang tidak akan pernah bisa terlepas dari pikiran kamu, selama hidupmu.

Is that the kind of life that you really wanted to live?
Spending the rest of your life, thinking of things that should’ve been said and done?

It’ll be an endless torture. And hate to say this, not until you’re amnesia, it will torture you every single day.
*okay, mungkin dengan pintar-pintar mencari makna tersembunyi dalam setiap kejadian, it will make every thing a lot easier, tapi tidakkah akan lebih mudah kalau dari awal kita tidak perlu menunggu kesempatan kedua dan membiarkan kesempatan pertama itu pergi begitu saja, hanya karena alasan-alasan silly seperti takut, malas, malu, atau sibuk, kan?*

Saya tidak bilang, if you take your first chance, you will end up being much happier than ever.

Seperti misalnya seorang Lala *iya, saya…* yang pernah jatuh cinta dengan seorang lelaki yang tadinya tak pernah tahu tentang perasaan saya buat dia.

One time, I took my chance to say I love him and told him how he colored my days, secretly.
I took my chance to admit every thing and didn’t care whether he was going to reply or not.

*Hey, seperti yang Rachel ucapkan di salah satu episode Friends, “Saying I love you isn’t something that needs to be replied. It’s just something that needs to be said.” Iya, kan?*

Yeah, he only smiled at me and said thank you for the magic words I’ve just said, but hey… no matter how terribly wrong it could be, at least…. I could do something about it… And that’s my friend, what I called “RELIEF”.
LEGA!😀

I don’t want to live  my life, regretting every thing. No, no way. Not anymore.
I am already sorry for those unspoken words for my High School’s Sweetheart, for having a fight with my Mom at her very last day, and sorry for blowing the chances because I was too busy on thinking unnecessary thoughts! And I had enough of those, please…

Care to join me,
Atau tetap menjadi seorang kamu yang terlalu takut untuk mengambil kesempatan cuman karena kamu memanjakan rasa takutmu?

Well, it’s your call, My Friends…
Hope you’ll be happy… Hope WE will be happy…. in any decisions we make, for the rest of our lives.

So, good night, Guys…
Have a great night and please enjoy your hectic Monday, tomorrow!😀

Love,
LALA

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

21 thoughts on “Taking The Chances

  1. Night lala….
    gak perlu takut mo ngelakuin apa aja…

    you have a lovely family ya la…

    Pagi Ria (udah pagi sekarang.. hehe)

    Selama yang kita lakukan itu masih reasonable dan tidak merugikan, memang sebaiknya tidak perlu takut untuk melakukan apa saja..

    I have a lovely family?
    Well, I think I do, Ria.
    Kamu pasti juga, kan…….🙂

    Posted by Ria | January 18, 2009, 8:29 pm
  2. Take every chance, because it might be no second chance …

    Iya, Pak Grandis.
    Menunggu second chance sama tidak pastinya dengan sisa umur yang kita punya.
    Saling berpacu… siapa yang duluan datang…
    Makasih udah mampir malam-malam di blogku, ya, Pak…🙂

    Posted by Oemar Bakrie | January 18, 2009, 10:00 pm
  3. Mmmm aku ga pernah takut untuk mengambil sebuah kesempatan karena sejak dulu bokap selalu bilang, “kalo kamu takut untuk melangkah maka kamu ga akan pernah maju, kamu ga akan pernah dapet kesempatan langka ini lain waktu”

    Saat aku menerima tawaran kerja di JKT di usiaku ke 19 th, yang hanya berbekal ijasah SMA aku kerja di salah satu perusahaan kosmetik terbesar aku juga ga takut meskipun ada rasa ga tenang waktu ninggalin bokap sendirian di sby dan aku musti koq sendiri di JKT mmmm seandainya aku dulu takut mungkin aku ga punya pengalaman kerja yang sangat berharga itu🙂

    Arisan keluarga🙂 jadi inget ma pakde dari mas Bayu yang sempat jadi wakil keluarga dari mas bayu waktu kami menikah dua bulan setelah itu pakde meninggal🙂
    Arisan keluarga emang perlu dech🙂 jadi kalo ngumpul ga pas kalo ada yang meninggal aja

    Wow!
    19 tahun, ya, Ret… Hebat sekali kamu… Keputusan yang sangat luar biasa berat untuk gadis seusia kamu juga dengan latar belakang keluarga seperti kamu… But hey, you’ve the decision and it has brought you here, as a great woman, lovely wife, and mom wannabe, kan?

    Senang sekali bahwa semua keindahan ini berawal dari keputusan yang begitu berat…🙂

    Eh eniwei, rata-rata setiap keluarga memang baru berkumpul ketika tertimpa kesusahan aja, ya, Ret? Makanya perlu banget sering-sering diadakan acara kumpul2 seperti ini… Aku baru merasakan senangnya… Dan mikir: “Kenapa nggak dari dulu aja, sih…”🙂

    Posted by retie | January 18, 2009, 10:17 pm
  4. satu per satu mereka (pasti) akan tiada.
    hei…. kita juga….siapa yang tahu umur kita.
    berbuatlah sesuatu sebelum terlambat.

    Makanya aku selalu bikin reuni kalo mudik kan hehhehe.
    wong di Japan, setiap detik bisa ada gempa bumi ….

    Mungkin ada hubungannya juga dengan istilah “ichigo ichie” yang pernah aku tulis itu ya La. Orang Jepang menghargai sebuah pertemuan dengan menganggap pertemuan itu adalah untuk yang pertama dan terakhir.

    EM

    Ichigo ichie.
    Seperti pertemuan dirimu dengan perempuan di atas kereta itu, ya, Sis.. kalo nggak salah, sih, yang kemudian mengubah persepsimu itu…

    Eniwei,
    Sis benar. Memang sebaiknya kita menganggap bahwa setiap pertemuan pertama adalah sekaligus pertemuan yang terakhir, sehingga tidak diakhiri dengan rasa marah, tidak suka, atau menangis sebal. Biar yang teringat hanyalah kenangan yang indah-indah saja….

    *usai nonton Sweet November, jadi kebawa lebay deh gue… wekekekeke…*

    Posted by Ikkyu_san | January 19, 2009, 1:20 am
  5. mampir dan baca dolo….salam knal yah mba…..

    Kan udah kenal, MrPall…🙂
    saya udah maen ke situ, kan…. ^_^
    Silahkan kalau mau kenalan lagi…🙂

    Posted by mrpall | January 19, 2009, 1:43 am
  6. iya jeung…siapa tahu nggak ada kesempatan lagi…
    kadang kebanyakan mikir atau yang paling parah malas tuh yang jadi ganjelannya…

    Nah, kadang kita tuh keliwat memikirkan hal-hal yang nggak penting,
    atau ya… malas melakukan sekarang, ntar-ntar aja… padahal sedetik ke depan itu bukan milik kita, lho… We’ll never know…

    Ayo,
    selagi ada kesempatan…. better do something that you need to do… better say something that you need to say…🙂

    Posted by geRrilyawan | January 19, 2009, 4:05 am
  7. Hidup haruslah bersahabatan dengan kematian seperti halnya pertemuan berhimpitan dengan perpisahan. Dan karena kita tidak tahu kapan tepatnya sahabat itu memanggil kita, setiap detik amatlah berharga untuk dilewati, La!

    Benar, Don!
    Benar sekali….!
    Setiap detik sangatlah berharga…… every single second, Don… every single second..

    So..
    In this very second, I would like to say, “Good luck with your new job, Don! Jangan lupa kirim paycheck ke Surabaya akhir bulan ini!” Hehe….

    Aku tunggu cerita-ceritamu, ya…

    Posted by DV | January 19, 2009, 4:47 am
  8. Agak sulit menarik garis antara …

    1. Do it now … versus …
    2. Think before you move …

    So kuncinya … ikuti kata hati …
    en siapkan diri dengan segala kemungkinan …
    And yes … ini tidak mudah … indeed …

    Salam saya La …

    Posted by nh18 | January 19, 2009, 9:51 am
  9. smoga kluarga jeung lala teteup harmonis sampe cucu cicit, jeung lala jadi ninik2, dan sterusnya,,,,:mrgreen:

    Posted by [H] | January 19, 2009, 10:04 am
  10. belum sempet baca nih, tapi nyapa dulu deh……

    Posted by kenuzi50 | January 19, 2009, 10:37 am
  11. gue udah baca la…
    Komennya entar ya…beres beres banjir dulu nih…

    Posted by yessymuchtar | January 19, 2009, 11:27 am
  12. sulit memang. tapi pilihan dalam memutuskan itu kira2 begini:

    kalau ada 12 bulan waktu kita:

    1. kita sediakan waktu 6 bulan untuk memikirkan perubahan yang akan kita ambil. kita periksa betul setiap kemungkinan, dengan pertimbangan yang selengkap mungkin dan sedetil mungkin. timbang lagi timbang lagi. tanya sana tanya sini. baru kita bener2 pilih mana yang paling baik. kemudian kita punya waktu tersisa 6 bulan untuk menyempurnakan pilihan yang sudah kita buat.
    6 bulan dimenduga-duga 6 bulan di perjuangan realita.

    2. kita hanya sediakan waktu 1 bulan untuk memutuskan dengan sebaik-baiknya, setidaknya, secukupnyalah. ngga panjang lebar kemudian kita berjuang untuk membuat keputusan yang sudah kita pilih menjadi keputusan yang paling baik. maka kita punya waktu 11 bulan untuk menyempurnakan keputusan kita itu. 1 bulan menduga-duga 11 bulan berada dalam perjuangan dan kesulitan melalui realita.

    ketika di akhir 12 bulan itu, situasinya bisa sama bisa berbeda. bergantung pilihan dan kesiapan kita. tapi yang pasti kita mesti memilih 2 kondisi yang berbeda itu. karena masing2 membawa perjuangan dan konsekwensi sendiri2.

    @mba yessy kebanjiran… waduh jangan sampai banjir kali ini membawa hanyut jiwa narsisnya. sehingga memudarkan pesona tulisannya. yang sabar ya mba, tulang rontok bisa dibenahi koq.

    Posted by tren di bandung | January 19, 2009, 11:42 am
  13. Nice post La. Siapa yang menghidupkan silahturahmi katanya akan banyak rejeki.

    Posted by Yoga | January 19, 2009, 12:21 pm
  14. jalani semua dengan senyum jeung nanti juga ada jalannya, karena kadang hidup tidak selalu seperti apa yang kita harapkan…..

    Posted by han han | January 19, 2009, 12:33 pm
  15. jangan pernah takut mengambil kesempatan
    karena kesempatan tidak akan datang dua kali
    manfaatkan kesempatan selagi kita bisa dan mampu

    makasih jeung atas kunjungannya ke blog saya
    sering2 mampir ya…..

    salam kenal🙂

    Posted by kejujurancinta | January 19, 2009, 2:09 pm
  16. yupp, stujuuh.. kesempatan ga kan mampir dua kali.. tp bener juga kata omNH, harus tetep mikir en follow our hearts. jadi ada inspirasi bwt postingan slanjutnya,tentang nekadnya aku ganti pilihan persis di depan loket pendaftaran umptn, hihiw.. that was my biggest moment of taking-the-chance thing..🙂

    upps, sori, udah kadung nyerocos, ga knalan dulu.. permisi jeung, blognya rame..🙂

    Posted by gamma | January 19, 2009, 3:26 pm
  17. take a chance means …
    ah terlalu banyak untuk bisa diartikan disitu La..🙂

    Posted by chic | January 19, 2009, 5:24 pm
  18. Ada rindu yang kadang kadang melebihi rindu sebelumnya
    Ada sepi yang mungkin lebih sepi dari sebelumnya
    dan karena ada perpisahan dengan orang-orang terkasih, maka ketika ada kebahagiaan hadir dalam diri, bisa dibarengi air mata karena kerinduan berbagi dengan yang telah pergi. Jangnan penah ada sesal didalam membaca warna hidup yang dianugrahkan sang maha pencipta.

    Posted by Sony | January 19, 2009, 8:15 pm
  19. Berkumpul bersama keluarga besar memang menyenangkan, dan tak perlu menunggu sampai semuanya lengkap.
    Selama ini, kami bisa “agak lengkap” hanya jika ada yang mantu…padahal cuma tiga bersaudara.
    Kebangetan memang, tapi karena jaraknya berjauhan, berbeda propinsi, dan semuanya sibuk.

    Posted by edratna | January 20, 2009, 8:27 pm
  20. Sesuatu yang jarang kualami, La. Bersyukurlah engkau.

    Posted by Daniel Mahendra | January 21, 2009, 12:26 am
  21. Oh, I see…

    Posted by Daniel Mahendra | January 21, 2009, 2:23 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: