you're reading...
Broken Heart

Will you please, just leave me?

Ada seseorang berdiri di balik pintu. Mengetuk pintu berkali-kali, seolah seluruh energi di tubuhnya hanya untuk mengetuk pintu itu. Dan anehnya, seseorang itu menyukai energi yang terkuras dan keringat yang menetes.

Dia menunggu di balik pintu. Menunggu di situ, sembari mengetuk daun pintu itu. Lagi, dan lagi.

Aku memegang jemari perempuan itu lalu mengusap punggung tangannya. “Hey, kenapa kamu diem aja, sih?” Kutanya dengan lembut. Aku tahu bagaimana perempuan ini. Aku tahu bagaimana sensitifnya perasaannya.

Perempuan itu masih diam; oh, tapi bukan tubuhnya. Mulutnya memang terkunci, tapi kurasakan tubuhnya bergetar dan air matanya terus menetes.

“Dia ada di luar…” bisikku sembari membelai rambutnya.
“Aku nggak peduli,” katanya.
“Dia menunggumu…” bisikku lagi.
“Biarin,” sahutnya.
“Kenapa?” tanyaku.

Lalu perempuan itu menangis semakin hebat. Dia berhambur ke dalam pelukanku seolah mencari kedamaian di sana.
Ah, padahal dia seharusnya tahu, tidak ada kedamaian di hatiku, kalau dia masih terus menyakiti hatinya sendiri….

**


Suatu sore, ketika kami minum kopi di teras rumahnya, aku bertanya padanya.

“Apa dia sejahat itu?”

Perempuan itu menoleh, memandangku dengan kedua mata bulatnya yang sangat cantik.

“Hah?”

“Aku tanya, apa dia sejahat itu?” Aku tahu sebetulnya dia mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulutku, tapi perempuan itu memilih untuk tuli.

“Iya,” sahutnya pendek, lalu kembali menyisip kopi di bibir cangkirnya yang menghangat karena air kopi yang baru saja diseduh.

“Sejahat apa?”

“Sudah, deh, aku capek. Kenapa kita nggak bisa santai-santai saja? Duduk di teras, menikmati kopi, menatap senja saja? Harus, ya, kamu bahas dia, terus dan terus, seolah aku bakal mati kalau nggak bersama dia?”

Matanya membasah. Mata bulat cantiknya membasah dan membuat hatiku berdesir. Ah, the last thing I want to do is to hurt her. Dia tak boleh bersedih. Dia tak PATUT bersedih.

Dan kugenggam tangannya.
“Iya, kamu tidak akan mati tanpa dia…” bisikku perlahan sambil melirik ke arahnya.

“Aku… nggak akan mati… tanpa dia….” katanya bergetar. “Iya, kan…?” Dia menoleh padaku. “Iya, kan? Aku nggak akan mati tanpa dia, kan?”

Aku menangis.
Dia menangis.

Di senja itu, kami menangis dan melupakan bahwa hari ini kami ingin duduk saja di teras, menikmati senja, dan menyisip kopi favoritnya.


**

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Rossa&title=TerlaluCinta&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/2134_15000133.mp3&song_info=39+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

Seseorang itu masih di balik pintu.
Mengetuk tanpa jemu dengan irama yang konstan. Setiap kali perempuan itu merasa bahagia dengan kesendiriannya, seseorang itu datang mengetuk pintu dan ingin berkunjung.

Tidakkah dia tahu bahwa butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hati?
Tidakkah dia tahu kalau luka hati tak punya teori khusus bagaimana cara untuk menghilangkan sakitnya?
Tidakkan dia tahu kalau luka hati tidak seperti luka karena tersayat pisau yang tak akan terasa perih meskipun dia mengingatnya kembali berbulan-bulan kemudian?

Tapi seseorang itu kini masih berdiri di balik pintu. Menunggunya. Menunggunya saja. Sambil merokok, sambil mendengarkan musik kesayangan lewat iPod-nya, sambil membayangkan bagaimana wajah perempuan ini ketika melihatnya.
Dia masih ada di balik pintu itu. Entah, untuk apa.

“Kamu benci dia?” tanyaku.
“Iya.”
“Karena dia selalu datang ketika kamu sedang bahagia?”
“Karena dia seolah punya radar untuk mengetahui kalau aku sedang menikmati hidupku.”
“Dan?”
“Dan menggilas kehidupanku sampai rata, shit all over it…”
“Hmm… tapi sebelum tergilas, kamu bahagia dengannya, kan?”
“Hey!”
“Maaf, maaf…”
“Aku nggak pernah bahagia sama dia…”
“Jangan bohong, Sayang.”
“Aku nggak bohong… Dia sudah menyakitiku…”
“Dan hanya orang-orang yang pernah membuatmu bahagia saja yang bisa menyakiti hatimu sampai begini…”


**



Seseorang itu masih di balik pintu.
Dan perempuan itu masih di sini. Tubuhnya bergetar, seperti tubuh yang kedinginan. Wajahnya basah, karena gerimis air mata yang kunjung mereda.

Aku hanya menyaksikan keduanya dengan hati resah, karena aku tak berdaya melakukan apa-apa.
Aku bukan paranormal yang tahu bagaimana isi hati seseorang di balik pintu itu, tapi tak butuh untuk menjadi seorang paranormal untuk mengetahui bagaimana bimbangnya hati perempuan itu, saat ini.

Hatinya mudah terbaca.
Hatinya seperti buku yang terbuka, di mana setiap orang bebas membacanya lalu mengetahui gundah gulana, sedih juga gembiranya.

Ya.
Dia memang sebuah buku yang terbuka.
Dan saat ini, aku hanya membaca sebuah kalimat di sana.

Will you please, just leave me?
Karena setiap aku melihat kamu lagi, aku tahu aku akan selalu kembali padamu…
Please…

Aku membacanya.
Dan berharap, aku punya penghapus ajaib untuk menghapus semua kalimat itu dari bukunya… SELAMANYA!


Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: