archives

Archive for

Roy & Luna

“Kenapa, sih, kamu musti pergi?” Sahabatnya bertanya.
Dia hanya tersenyum. “Semuanya bukan ‘musti’ pergi, tapi ‘pasti’ pergi,” jawabnya lalu berjalan menuju lemari pendingin. Mengambil satu botol air minum dan meminum isinya, langsung dari bibir botol.
“Dan kamu tenang-tenang saja?” Si Sahabat seperti seorang perempuan yang sedang gelisah karena mens-nya tak kunjung datang. “Kok bisa, sih? Gimana bisa?”
“Karena gue tahu kalau gue bakal pergii.”
“Dan tahu kalau kamu bakal pisah sama aku, kamu nggak pernah sedih?”
Dia menggeleng.
“Not at all????” Sahabatnya menjerit.
“Nope….”
“Kamu memang bukan manusia, Roy!”

Sahabatnya berlari keluar dari kamarnya. Sambil menutupi wajahnya yang merah menahan amarah yang amat sangat.
Dia bergeming di atas karpet ruang tidurnya. Masih memegang rokok yang sudah separuh habis. Masih menghela nafas berulangkali. Masih mengatakan hal yang sama, seperti sebuah alat perekam yang memutar ulang rekamannya.

“Dan kamu bidadari, Luna… Dan kamu bidadari…”

***

Why is it so hard to say, “I love you”?
Why is it so hard to say, “I’m going to miss you”?
Why is it so hard to say, “I won’t be long, wait for me, please…”?
Why is it so hard to say, “I know it’s gonna be you, from the beginning”?

Kalau dari awal Roy tahu, bahwa hanya sosok Luna yang terbayang ketika hari ini ia memutuskan pergi, meninggalkan kepingan-kepingan kenangan yang pernah dirangkainya menjadi satu lukisan indah, namun tak pernah lengkap, dan kemudian mencari kepingan yang lain, entah di mana.

Kalau dari awal Roy tahu, bahwa hanya Luna yang bisa melengkapinya ketika dia merasa hampa dan kosong, meskipun keramaian telah mengurungnya rapat-rapat dan hingar bingar musik kencang seolah mengejek kesendiriannya. Luna selalu ada buatnya, hadir begitu ajaib dalam satu tekanan tombol di ponselnya, lalu sahabatnya itu mengurai kekusutan hatinya.

Dari awal Roy tahu ia tak bisa meninggalkan Luna.
Dan dari awal Roy pun tahu ia tak bisa tinggal untuk Luna.

Meskipun kemudian ia mengetahui…
Luna adalah perempuan yang membuatnya tidak seperti lelaki yang sempurna.

She made him…
powerless.
And he hates that.

***


“Jadi aku salah karena selalu datang malam-malam setiap saat dia merasa kesepian?”

“Nggak, Lun…”
“Jadi aku salah kalau aku memilih untuk menemani dia sampai panasnya turun, karena aku khawatir?”
“Nggak, Lun…”
“Lantas? Lantas?”
“Dia lelaki, Lun…”
“Aku tahu…”
“Tapi kamu tahu, kalau terkadang, lelaki tidak ingin nampak lemah di mata seseorang yang dia cintai?”
“Maksudmu?”
“Tidak semua lelaki bisa dengan mudah mengakui kelemahannya di depan orang yang dia kagumi… Dan Roy adalah salah satunya…”
“…”
“He left, because he loved you.”
“Berarti dia bodoh…”
“Bodoh?”
“Iya… Dia bodoh… “
“…”
“…karena nggak pernah tahu… kalau semua yang kulakukan itu… karena aku menyukai perasaan dibutuhkan olehnya…”

***

Dan cerita ini,
memang tak pernah bisa bergulir kemana-mana.
Seperti seorang Roy yang tahu sejak awal, lalu memutuskan untuk pergi saja, dari sisi seorang Bidadari, yang setahunya tak pernah kembali menjenguk kamarnya bahkan ketika ia pergi mencangklong ransel dan mencari kepingan yang terserak entah di mana atau apakah memang ada…

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Tangga&title=TerbaikUntukmu&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1886_15000136.mp3&song_info=38+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

will you please, just leave?

Ada seseorang berdiri di balik pintu. Mengetuk pintu berkali-kali, seolah seluruh energi di tubuhnya hanya untuk mengetuk pintu itu. Dan anehnya, seseorang itu menyukai energinya yang terkuras juga keringatnya yangΒ  tidak berhenti menetes.

Dia menunggu di balik pintu. Menunggu di situ, sembari mengetuk daun pintu itu. Lagi, dan lagi.

Aku memegang jemari perempuan itu lalu mengusap punggung tangannya. “Hey, kenapa kamu diem aja, sih?” Kutanya dengan lembut. Aku tahu bagaimana perempuan ini. Aku tahu bagaimana sensitifnya perasaannya.

Perempuan itu masih diam; oh, tapi bukan tubuhnya. Mulutnya memang terkunci, tapi kurasakan tubuhnya bergetar dan air matanya terus menetes.

“Dia ada di luar…” bisikku sembari membelai rambutnya.
“Aku nggak peduli,” katanya.
“Dia menunggumu…” bisikku lagi.
“Biarin,” sahutnya.
“Kenapa?” tanyaku.

Lalu perempuan itu menangis semakin hebat. Dia berhambur ke dalam pelukanku seolah mencari kedamaian di sana.
Ah, padahal dia seharusnya tahu, tidak ada kedamaian di hatiku, kalau dia masih terus menyakiti hatinya sendiri…. Continue reading

Will you please, just leave me?

Ada seseorang berdiri di balik pintu. Mengetuk pintu berkali-kali, seolah seluruh energi di tubuhnya hanya untuk mengetuk pintu itu. Dan anehnya, seseorang itu menyukai energi yang terkuras dan keringat yang menetes.

Dia menunggu di balik pintu. Menunggu di situ, sembari mengetuk daun pintu itu. Lagi, dan lagi.

Aku memegang jemari perempuan itu lalu mengusap punggung tangannya. “Hey, kenapa kamu diem aja, sih?” Kutanya dengan lembut. Aku tahu bagaimana perempuan ini. Aku tahu bagaimana sensitifnya perasaannya.

Perempuan itu masih diam; oh, tapi bukan tubuhnya. Mulutnya memang terkunci, tapi kurasakan tubuhnya bergetar dan air matanya terus menetes.

“Dia ada di luar…” bisikku sembari membelai rambutnya.
“Aku nggak peduli,” katanya.
“Dia menunggumu…” bisikku lagi.
“Biarin,” sahutnya.
“Kenapa?” tanyaku.

Lalu perempuan itu menangis semakin hebat. Dia berhambur ke dalam pelukanku seolah mencari kedamaian di sana.
Ah, padahal dia seharusnya tahu, tidak ada kedamaian di hatiku, kalau dia masih terus menyakiti hatinya sendiri….

**


Suatu sore, ketika kami minum kopi di teras rumahnya, aku bertanya padanya.

“Apa dia sejahat itu?”

Perempuan itu menoleh, memandangku dengan kedua mata bulatnya yang sangat cantik.

“Hah?”

“Aku tanya, apa dia sejahat itu?” Aku tahu sebetulnya dia mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulutku, tapi perempuan itu memilih untuk tuli.

“Iya,” sahutnya pendek, lalu kembali menyisip kopi di bibir cangkirnya yang menghangat karena air kopi yang baru saja diseduh.

“Sejahat apa?”

“Sudah, deh, aku capek. Kenapa kita nggak bisa santai-santai saja? Duduk di teras, menikmati kopi, menatap senja saja? Harus, ya, kamu bahas dia, terus dan terus, seolah aku bakal mati kalau nggak bersama dia?”

Matanya membasah. Mata bulat cantiknya membasah dan membuat hatiku berdesir. Ah, the last thing I want to do is to hurt her. Dia tak boleh bersedih. Dia tak PATUT bersedih.

Dan kugenggam tangannya.
“Iya, kamu tidak akan mati tanpa dia…” bisikku perlahan sambil melirik ke arahnya.

“Aku… nggak akan mati… tanpa dia….” katanya bergetar. “Iya, kan…?” Dia menoleh padaku. “Iya, kan? Aku nggak akan mati tanpa dia, kan?”

Aku menangis.
Dia menangis.

Di senja itu, kami menangis dan melupakan bahwa hari ini kami ingin duduk saja di teras, menikmati senja, dan menyisip kopi favoritnya.


**

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Rossa&title=TerlaluCinta&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/2134_15000133.mp3&song_info=39+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

Seseorang itu masih di balik pintu.
Mengetuk tanpa jemu dengan irama yang konstan. Setiap kali perempuan itu merasa bahagia dengan kesendiriannya, seseorang itu datang mengetuk pintu dan ingin berkunjung.

Tidakkah dia tahu bahwa butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hati?
Tidakkah dia tahu kalau luka hati tak punya teori khusus bagaimana cara untuk menghilangkan sakitnya?
Tidakkan dia tahu kalau luka hati tidak seperti luka karena tersayat pisau yang tak akan terasa perih meskipun dia mengingatnya kembali berbulan-bulan kemudian?

Tapi seseorang itu kini masih berdiri di balik pintu. Menunggunya. Menunggunya saja. Sambil merokok, sambil mendengarkan musik kesayangan lewat iPod-nya, sambil membayangkan bagaimana wajah perempuan ini ketika melihatnya.
Dia masih ada di balik pintu itu. Entah, untuk apa.

“Kamu benci dia?” tanyaku.
“Iya.”
“Karena dia selalu datang ketika kamu sedang bahagia?”
“Karena dia seolah punya radar untuk mengetahui kalau aku sedang menikmati hidupku.”
“Dan?”
“Dan menggilas kehidupanku sampai rata, shit all over it…”
“Hmm… tapi sebelum tergilas, kamu bahagia dengannya, kan?”
“Hey!”
“Maaf, maaf…”
“Aku nggak pernah bahagia sama dia…”
“Jangan bohong, Sayang.”
“Aku nggak bohong… Dia sudah menyakitiku…”
“Dan hanya orang-orang yang pernah membuatmu bahagia saja yang bisa menyakiti hatimu sampai begini…”


**



Seseorang itu masih di balik pintu.
Dan perempuan itu masih di sini. Tubuhnya bergetar, seperti tubuh yang kedinginan. Wajahnya basah, karena gerimis air mata yang kunjung mereda.

Aku hanya menyaksikan keduanya dengan hati resah, karena aku tak berdaya melakukan apa-apa.
Aku bukan paranormal yang tahu bagaimana isi hati seseorang di balik pintu itu, tapi tak butuh untuk menjadi seorang paranormal untuk mengetahui bagaimana bimbangnya hati perempuan itu, saat ini.

Hatinya mudah terbaca.
Hatinya seperti buku yang terbuka, di mana setiap orang bebas membacanya lalu mengetahui gundah gulana, sedih juga gembiranya.

Ya.
Dia memang sebuah buku yang terbuka.
Dan saat ini, aku hanya membaca sebuah kalimat di sana.

Will you please, just leave me?
Karena setiap aku melihat kamu lagi, aku tahu aku akan selalu kembali padamu…
Please…

Aku membacanya.
Dan berharap, aku punya penghapus ajaib untuk menghapus semua kalimat itu dari bukunya… SELAMANYA!


took the moment to exhale

Pernah marah dengan seseorang lalu kamu memaki-maki dia, kamu keluarkan segenap perasaan marahmu dan menunjukkan bahwa dia salah dan kamu benar?

Lalu kamu berlalu dari depan wajahnya; wajah yang kemudian menunduk sedih karena tak percaya bahwa kata-kata sepedas itu bisa keluar dari bibirmu? Tidak menyangka bahwa seseorang seperti kamu bisa semarah itu? Atas kesalahan yang mungkin baginya tidak penting tapi buatmu seolah kalau kamu tidak marah, segalanya akan berantakan?

Dan ya..
kamu akhirnya tenang. Merasa senang. Merasa puas. Merasa lega karena telah mengeluarkan segala kemarahan yang sudah kamu pendam selama ini.

Sampai akhirnya, di setiap detik yang berlalu berikutnya, segala peristiwa tadi seolah berkelebat terus di dalam benakmu. Bagai slide show presentation yang memperlihatkan wajah bersedih orang itu, wajah kemarahanmu yang seolah tak punya hati, dan kata-kata yang kamu harap bisa tertelan kembali….

That time,
you just wish,
you took the moment to exhale.

……

But you didn’t.

Hmmm….

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono