you're reading...
Thoughts to Share

and if he dies…

Suatu sore, seorang teman yang baru saya kenal tiba-tiba menyapa saya di chat messenger. Entahlah, saat itu dia sedang panik, butuh jawaban segera, atau karakternya memang seperti itu. Pastinya, tanpa basa basi, menanyakan kabar atau bagaimana, dia langsung segera ke inti masalah:

“Mbak, aku mau nanya, ya?”
“Tanya apa?”
“Kalau Pacarnya Mbak punya penyakit parah dan sudah divonis dokter kalau usianya tinggal beberapa tahun lagi, gimana, Mbak?”
“Mmmm…” Mikir.
“Terus, misalnya Pacar Mbak itu nggak bisa temenin Mbak jalan-jalan, hang out.. ya, kayak orang pacaran pada umumnya gitu, deh… Mbak masih mau pacaran sama dia, nggak?”
“Mmmm…” Mikir, jauh lebih ribet.
“Gimana, Mbak?”

Saya diam. Cukup lama, sampai teman saya itu mengira koneksi internet saya terputus. Maklum, saya memang hobi memasang status invisible (bukan karena apa-apa, sih, tapi karena saya memang jarang ceting aja selama jam kerja… ya, kecuali pas jaman pacaran dulu, sama My Five O’Clock Phone Calls itu! Hehe… ), sehingga teman saya itu tidak bisa mengetahui dengan persis apakah saya sedang berpikir atau koneksi saya mendadak terputus.

Jadi, mumpung disangka disconnected, saya gunakan waktu itu untuk berpikir. Hehe, biar disangka pinter, gituh… Well, jujur saja, minimnya pengalaman saya pada kondisi itu, membuat saya musti mengembangkan imajinasi saya seluas-luasnya. Dan saya tahu, she needed my opinion... iya. Second opinion.

“Mbak?”

Okay. Saya tahu, saya tahu. Ada satu pertanyaan yang musti saya tanyakan pada dia saat itu, sebelum saya mulai ngoceh nggak karuan ala psikolog gadungan.

“Dek, gini, gini. Aku boleh nanya sesuatu, kan?”
“Boleh, Mbak. Mau nanya apa?”
“Memangnya, aku udah pacaran berapa lama sama Pacarku yang sakit itu?”
“Kalau sudah lama, Mbak? Tiga tahunan gitu, gimana, Mbak…”
“Mmm… Ok. Terus, terus. Dari awal aku udah tahu nggak, kalau Pacarku sakit?”
“Kalau baru tahu sekarang?”

Dan saat itu, I know exactly what I was about going to say

**

Do you know how often people lose their logic when they’re in love?

Ketika saya bilang ‘People‘ artinya adalah orang kebanyakan, bukan orang pintar atau bodoh saja, orang cantik atau ganteng saja, orang kaya atau miskin saja, atau manusia yang terkelompok-kelompok dalam golongan status, jenis kelamin, pekerjaan, agama, dan lain sebagainya.

People. Ya, ya, yang artinya adalah kamu, saya, dan mereka.

So, do you know that we often lose our logic when we’re in love? Do you know how stupid you may react when it comes about love? Meletakkannya di kolong tempat tidur dan membiarkan hati saja yang bicara? Menepikan sebentar resiko-resiko sakit hati yang musti dirasakan kalau cinta itu sudah berakhir tapi perasaan itu masih nyata?

Do you?
Or, for once again,
saya menjadi manusia aneh yang seringkali melupakan bahwa hati saya ini bukan dari besi baja (seingat saya, sewaktu terakhir medical check up, saya masih manusia biasa, bukan bionic woman.. hehe), yang punya spare part kalau sewaktu-waktu rusak dan proses penggantian yang tidak terlalu rumit serta minus air mata?

Karena saya selalu merasa bodoh ketika sedang jatuh cinta. Saya lupa, kalau di dunia ini selalu ada konsep yang berlawanan. Heaven and Hell. Right and Left. Young and Old. Dan pastinya… Happy and Sad.

Bahagia ketika cinta sedang asyik bermain-main dalam setiap kedipan mata saya.
Lalu sedih ketika cinta itu memutuskan untuk pergi meninggalkan saya.

Dan kebodohan apa yang saya lakukan?

Most of the times, because I always knew that my relationships were going no where. I had no future with them, I couldn’t even picture them as my husbands, dan berlindung di bawah shelter bernama kebahagiaan yang saya rasakan pada saat itu, I know now, that it was only my defense mechanism. Berkata, “Nope, that’s OK” padahal di malam harinya saya berteriak, “Will you stop torturing me!”

Bodoh, kan?

Nah, apakah saya juga bodoh kalau saya tak ingin beranjak pergi ketika mengetahui Kekasih yang saya cintai tak lagi bisa sebebas tahun-tahun sebelumnya, ketika ia bisa menjadi orang pertama yang akan bergegas mengantarkan saya kemana saja, selama bisa ditempuh, selama bisa dilakukan, asal tidak memintanya pergi mengantarkan saya ke Italia cuman karena saya mengidam spageti asli bikinan koki Italia?

Apakah saya juga bodoh kalau mengubah semua kebiasaan nonton, jalan-jalan, belanja, hunting tempat hang out terbaru, dan memilih untuk berkunjung ke rumahnya dan duduk di sofa ruang keluarganya sambil menikmati film di layar televisi?

Apakah saya bodoh kalau saya tetap ada di sampingnya ketika ia meminta saya untuk meninggalkannya, hanya karena takut dia tak pernah menjadi suami yang baik untuk seorang perempuan lajang, berpendidikan, dan memiliki karir di kantor?

Apakah sekali lagi saya meninggalkan logika itu di bawah kolong tempat tidur dan membiarkan hati saja yang mengendalikan semua keputusan saya?

Call me stupid.
Idiot.

Atau apa saja, lah.

Jika saya dikatakan bodoh hanya karena saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai, yang harum tubuhnya sangat saya kenali, yang jemarinya selalu membelai rambut saya saat sedang menangis karena kesal yang tak berujung, yang bibirnya telah mengecup ubun-ubun kepala saya sembari memberikan sugesti dalam hati kalau sebentar lagi segala risau itu pasti pergi…….

He didn’t leave in my worst of times.
How could I leave my guy, ketika saya tahu bahwa orang yang terdekat di dalam hatinya hanya saya, bukan Ibu dan Ayahnya, bukan Kakak-Adiknya, bukan teman-temannya, melainkan saya saja yang sudah bertahun hafal-hafal betul dengan kebiasaan nyengir khasnya, kernyitan di dahi yang khas saat berpikir, senyum manisnya yang meneduhkan, dan moment without words yang penuh kalimat cinta di udara?

No, no way.
I would stay.
Ini bukan soal saya membalas budi saja, tapi karena saya tahu, leaving him in his worst of times is killing him even more. Dan kalau saya meninggalkannya hanya karena saya tak sanggup melihat tubuh kekasih saya menjadi semakin kurus setiap saat lalu merasa ketakutan pada perasaan, “What if he dies, tomorrow… What if he dies…. what if tonite, when I come to visit him, he’s gone in his sleep….” bukankah itu sama artinya bahwa saya tak pernah menggunakan cermin untuk benar-benar utuh melihat refleksi saya sendiri?

Bahwa saya juga manusia.
Yang sanggup menarik dan menghembuskan nafas, bukan karena kendali saya.
Yang sanggup berjalan, berlari, duduk, berhenti… bukan karena kendali saya.
Yang sanggup melakukan semua yang saya lakukan sampai hari ini… tidak semuanya adalah kendali saya.

Jadi masihkah saya harus sombong bahwa hidup saya lebih panjang dari Kekasih saya? Masihkah saya harus sombong bahwa saya tak ingin masa depan saya sia-sia karena Kekasih saya akan meninggal sewaktu-waktu dan tidak bisa memenuhi kebutuhan saya?

Saya manusia.
Bisa jadi, saya yang lebih dulu pergi, bukannya dia… *sob*

Itulah kenapa saya tidak ingin pergi. Itulah kenapa saya memilih untuk tinggal di sampingnya, menciptakan saat-saat indah yang bisa menjadi kenangan manis kami, kelak. Bisa kenangannya tentang saya, bisa kenangan saya tentang dia.

I know, akan sangat berat ketika melihat tubuhnya yang dulu gagah, kini menyusut dari hari ke hari karena gerogotan penyakit…
Melihat matanya yang dulu sering mengerling nakal saat menggoda saya, kini memiliki bayang-bayang hitam di bagian wajahnya yang pucat…
Melihat Lelaki tercinta saya yang gelisah karena menanti kereta penjemputan yang seolah sudah terjadwal…

Siapa bilang ini tidak berat? Siapa bilang saya tidak akan menangis? Siapa bilang saya tidak akan menghabiskan malam-malam saya di kamar dengan air mata sedih? I’m crying because I know that my wonderful man is dying… Not crying over some futures that I would never have!

But no matter how painful it would be…
No matter how ruined my life could be…
No matter how sorry I might feel, if someday I would end up being alone and wouldn’t have time to look for another…
I always know,
that it’s just too impossible to leave a guy, who never hurt me in my whole life time, just because he’s sick and about to die…

No.
It’s just not me. And this is my call.

**

“Masa depan Mbak gimana, dong?”
“Memang masa depan itu apa?”
“Pernikahan, anak-anak, karir, biaya hidup…”
“Itu masa depan?”
“Iya, Mbak.”
So, what?”
“Itu nggak penting?”
“Penting, lah.”
“Kok, Mbak masih mau sama dia… Maksudku… Bukankah itu semua akan rumit kalau Mbak tetap ada di samping Pacar Mbak?”
“Rumit tidak rumit itu kan masalah hati, Dek. Semua itu tergantung dari kemantapan hati di setiap proses pengambilan keputusan. Kalau memang bimbang dan banyak keraguan, mending nggak usah. Tapi kalau memang sudah mantap, ya telan semua resikonya. Make a brief preview in every choice you wanna take. Dan kalau kamu sudah tahu dengan segala resiko yang terjadi, mudah-mudahan segalanya akan lebih mudah…”
“Jadi?”
“Jadi, ya….  I’ll stay.”
“Bener, Mbak?”
“Iya.”
“Mbak nggak takut?”
Scared? Well, I am. Tapi bukan berarti, I love him less, does it?”
“Iya.”
So?”
So apa, Mbak?”
Are you going to stay?”
“Hah?”
“Iya, kamu… Kamu milih untuk pergi atau ninggalin pacarmu?”
“Kok aku sih, Mbak…”
“Lah, tadi itu nanya-nanya buat apa, dong…”
“Hehe… iseng, Mbak.. kepingin tau aja… Tadi kan aku cuman nanya pendapat aja, kan?”
“Jadi?”
“Hehehe… Ya udah deh, Mbak… Kapan-kapan ngobrol lagi, ya! Dweeehhh….”

Saya hanya tersenyum-senyum sendiri ketika menyadari kebodohan saya; memang dari awal dia tidak pernah bilang soal itu, kok, jadi saya nyerocos panjang lebar tadi karena saya memang paling bocor kalau sudah ditanyain pendapat seperti itu. Maklum, bakat artis, kali ya… 🙂

Apapun itu, saya menghargai pertanyaan teman baru saya itu yang telah membuat saya semakin yakin bahwa jika itu benar-benar terjadi, saya akan melakukannya…

Ya.

Saya tidak akan pergi. Saya akan tetap bersamanya, mencari tahu bagaimana caranya untuk menyembuhkan penyakitnya, menghabiskan waktu seindah mungkin berdua dengannya, bersenang-senang, tertawa… saling memeluk, mengecup, dan merasakan kehangatan tubuh kami berdua…

And if he dies..
He will see my face, as the last face he sees…
He will hold my hands, as the last hands he holds…
He will smile at me…

Seorang perempuan yang tahu bahwa dia telah melakukan segalanya untuk membuat orang tercintanya bahagia, di sepanjang sisa umurnya…

Seorang perempuan yang tersenyum di antara isak tangisnya karena menyadari satu hal:
That in the whole life time God’s given to her, at least, she has made one right-perfect-clever decision…

***

inspired by DYING YOUNG, a movie I saw last Sunday 🙂

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

36 thoughts on “and if he dies…

  1. susah dan senang itu memang sudah lama bersahabat.. disaat kita senang senang, maka susah juga akan datang menghampiri.. saat sedang susah, senang juga akan menyertai.. jadi ya, hadapi saja… gitu kan? 🙂

    OOT: eh La, I saw YOU on CC Magz yesteday, have you read that? :mrgreen:

    Setuju, Chi. Ibarat satu paket yang tak terpisahkan; sedih dan senang itu akan datang bergantian. Namanya juga masih di dunia… Kebahagiaan abadi hanya ada di surga… 🙂

    Have I read that?
    OF COURSE! 😀

    Posted by chic | January 15, 2009, 1:48 pm
  2. kalo itu bener terjadi..
    berarti..
    Lala memang cewek setia…. 🙂

    Tapi nggak kebayang juga, Yun, kalau itu beneran terjadi…
    Tau nggak sih, saking menjiwainya menulis ini, aku sampai nangis-nangis sendiri.. hehehe… penulis kok cengeng… ^_^

    Posted by Yuyun | January 15, 2009, 2:04 pm
  3. hahahah
    Dying Young
    aku barusan tulis di sini
    http://imelda.coutrier.com/2009/01/11/all-of-you/

    and
    aku TIDAK AKAN meninggalkan dia
    EM

    Hehe… iya, ya..
    Hari Minggu kemarin aku nonton lagi filmnya dan bener-bener deh, sampai butuh sprei buat ngelap ingus yang meler.. hahaha… 🙂

    Well, you know what..
    I know you’re going to say that… ^_^

    Posted by Ikkyu_san | January 15, 2009, 2:07 pm
  4. HHmmm … This is good La …
    I think …
    Memang seharusnya kan begitu … apakah mau meninggal ataupun tidak …
    If you love him … you should stay with him … forever …

    Cheers …
    Salam saya …

    Thanks, Om.
    Terbawa suasana gara-gara nonton pilem sama keingetan sama percakapanku di YM itu…. Udah lama juga, tapi baru kepikiran untuk ditulis hari ini…

    Posted by nh18 | January 15, 2009, 2:12 pm
  5. haduh…serasa nonton film sinetron bhooo…..so touchy….
    never thought about it before. semua itu hati yg punya jawaban ya? gak bisa diungkapkan dgn kata2……tergantung jg situasi, apa kita beneran cintrong….apa cuma kasihan……..ada 1000 macam alasan kenapa milih snip dan kenapa milih snap. yg tau jawabnya cuma hati dan perasaan (& of course the One upthere).

    salam kenal….thanks for dropping comment in my blog…….sering2 mampir ya jeng…biar rame dan heboh. yuuuk…

    Wah… senangnya udah maen ke sini… gimana bisnis es campurnya? sukses? 😀
    Kayak sinetron ya…
    hehe…. life’s a movie, actually. Ada kamera-kamera yang menyorot segala sisi dan setiap wajah. Hanya saya, they’re hidden, dan premier-nya… kelak, ketika seluruh nyawa dikumpulkan dalam satu tempat dan kita melihat betapa ‘hebat’nya kita dulu sebagai manusia di dunia… *idih, La.. serius amat dwehh… hehehe*

    Anyway,
    beres, Bos… ntar saya bakal sering mampir… sip, sip….

    Posted by sisesu | January 15, 2009, 2:51 pm
  6. Justru pada saat pacar sakit, disitulah cinta diuji, apakah dia hanya mencintai saat senang saja (lagi cantik, baik, keren), atau mau juga menerima saat dalam kondisi terburuk.

    Iya, Bunda…
    Di situlah kita tahu seberapa cinta kita dengan pasangan, yang biasanya ketika sakit akan menjadi sangat sangat rewel, menyebalkan, bikin sakit hati, dll… tapi sebetulnya dia hanya ketakutan saja…

    Posted by edratna | January 15, 2009, 5:35 pm
  7. tau gak jeung…saat seseorang itu sakit akan keliatan sifat aslinya gimana 😀

    Mungkin bukan sifat asli, ya…
    tapi karena takut, orang bersikap menjadi di luar kebiasaannya… dan tugas orang-orang disekitarnya yang membantu dia menciptakan kondisi yang menyenangkan, nyaman, dan tetap hangat buat dia.. di situ dia akan merasa bahwa ketakutan yang sama juga dialami oleh orang-orang yang menyayanginya….

    Posted by Ria | January 15, 2009, 10:09 pm
  8. cinta diuji,
    terus sifat aslinya keluar,
    merasa repot atau bertindak seharusnya (stay or leave it)
    atau majuin tanggal pernikahan…

    Hmm… this is true….
    mudah-mudahan kalau ini terjadi, saya nggak repot, Mas…
    kan for better for worse, til death do us apart? hehe… vow-nya orang bule kalau nikah tuh..

    Posted by antokoe™ | January 15, 2009, 11:09 pm
  9. mmhhh moga2 aku bisa seperti itu yahh… dan dapat orang yang seperti itu juga…. 🙂

    Amin, Ndah.
    Orang yang baik akan mendapatkan yang baik pula.
    We deserve people who deserve us.
    So, percayalah, say… you will! 🙂

    Posted by Indah Sitepu | January 15, 2009, 11:45 pm
  10. wew. tertohok 😀
    lha ini belum ditimpa masalah hidup dan mati aja udah berantem kaya gini mbak.. klo ada sikon gtu apa kabar ya?
    -ngeri membayangkan-

    Narpen… ah, ada Narpen di sini… Masuk, Dek… 🙂

    Kalau ada sikon gitu.. hmmm… we’ll never know, Dek. Until we’re already in the situation, baru kita tahu.
    Yang aku tulis ini hanya pandanganku pada hari ini.
    Bisa jadi semua berubah ketika kehilangan semua kekuatan dan nggak tahu musti cari di mana lagi…

    NGgak usah dibayangin, ah…
    bayangin helm-mu yang imut2 itu aja..

    (udah cari yang warna Pink, nggak? hehe)

    Posted by narpen | January 16, 2009, 3:01 am
  11. Ketika kita sudah bisa menyadari kematian itu adalah sahabat kehidupan, maka semua akan terlihat biasa-biasa saja meski orang lain membahasakan itu semua sebagai sebuah kekuatan!

    Benar, Don.
    Kita menganggap kematian adalah musuh kehidupan, padahal dia adalah bagian dari kehidupan itu sendiri… bagian yang tak terpisahkan…

    …dan aku masih menganggapnya musuh, Don.
    Aduh, apa karena aku ini masih banyak dosa ya, Don? 😦

    Posted by DV | January 16, 2009, 7:43 am
  12. Mba Lala…

    Wahh udah lama gak main ke blognya mba niy (aku sekalian pengumuman juga kalau aku ganti alamat blog hehehe)

    Well, mba, ceritanya itu hampir sama sama yang dialami sama sahabat saya. Gak sama banget memang.

    Sahabat saya itu meninggalkan pacarnya (yang juga sahabat saya) untuk memilih jalan bareng sama orang lain karena orang itu… sakit. Sakit parah lah kalau boleh dibilang.

    Adilkah ini? pertanyaan itu yang selalu sounding terus di dalam diri saya.

    Sampai saat ini saya belum bisa melihatnya dari sudut pandang yang terbijak.

    Halo, Adek..
    kapan hari aku mampir ke sana…. bukan yang dotcom.
    ntar aku mampir yah… 🙂

    Sudut pandang yang terbijak? Yang menyenangkan semua pihak? Win Win solution?
    Mungkin untuk masalah yang satu ini, harus ada yang legowo, Dek…
    Ah, tapi nggak tahu lagi ah..
    I’m just being me aja… 🙂

    Posted by tea! | January 16, 2009, 7:44 am
  13. Tsah…pemilihan kata2nya manis sekali, jeung….nampak jeung lala ini cewe yg romantis 😉

    Bwt Narpen:
    huahaha narpen dipanggil “dek” 😛
    setelah komen d blognya (ttg helm) sungguh narsis, Narpen kalah telak 😛
    -maaf OOT-

    Nampak??
    Nampak????
    Bukan nampaknya aja… tapi MEMANG romantis.. hhihii..

    Narpen kalah telak?
    waduh… apa nih, ya….. *pura-pura mikir* hehe…

    Posted by Si bulet | January 16, 2009, 8:29 am
  14. Hmm…Setuju mbak Lala 🙂 Cinta yang akan memberi kekuatan pada kita. Yaya sudah membuktikannya kan? Yaya bisa nekat pergi sendiri setelah Mas telepon bahwa dia sakit. Kita memang harus tetap bertahan disampingnya untuk membuat hari-hari yang akan dilalui mungkin waktu yang tak lama menjadi semakin indah. Aaaahhh….kadang cinta itu tampak indah ya mbak walau ditengah badai 🙂

    Keindahan cinta yang sesungguhnya justru nampak kalau cinta itu tetap bertahan meskipun badai datang…. karena badai yang datang justru menguatkan cinta yang sudah ada, bukan malah sebaliknya… well, itu hanya berlaku if it’s really love… 🙂 Yaya nggak pernah menyesal kan udah senekat itu? It feels so great, doesn’t it? ^_^

    Posted by cahayadihati | January 16, 2009, 8:41 am
  15. “Kalau Pacarnya Mbak punya penyakit parah dan sudah divonis dokter kalau usianya tinggal beberapa tahun lagi, gimana, Mbak?”

    this is d question which I never have d answer…
    I’m not a sober woman, kinda egois and selfish…
    and if talking about life and death.. i really dont have any question…

    Well, Nia..
    Sama seperti aku yang hanya bisa mengira-ira akan memberikan reaksi seperti itu, kelak aku juga nggak tahu bisakah aku seperti itu…
    tapi setidaknya, itu yang pertama kali terpikir, Nia…
    ya, life and death is not ours.
    jadi sudahlah.. jangan dipikirin.. *emang siapa yang mikirin, sih? hehehe*

    Posted by julehajones | January 16, 2009, 11:03 am
  16. Menurut saya, being in relationship it means we have to take off half of our self and let his half of himself to be part of me

    Jadi , yah mo sedih sedih sama2, mo ketawa yah ketawa sama2

    We cant start good relationship if we still in state of ego

    Setuju… setuju… 🙂
    Kalau kata spice girls di lagunya yang super jadul, two become one.
    Dan ketika sudah melebur menjadi satu, seharusnya kita bergerak sama-sama.. bukan saling bergerak berlawanan…

    Posted by Dinot | January 16, 2009, 12:43 pm
  17. till death do us apart 🙂
    kayak lagunya naff nih …

    aku mau hidup dengan mu
    aku mau matipun karenamu
    aku mau .. sisa waktuku .. bersamamu ….

    Lah, malah nyanyi di sini.. hehehe…
    Makasih udah mampir ya….

    Posted by Hilal Achmad | January 16, 2009, 2:13 pm
  18. Pertanyaan model “what ifs” begini memang agak susah dijawab.

    Kalau pejabat ditanya wartawan kan jawaban standarnya “jangan berandai-andai lah …”

    Sementara para seleb kita juga selalu punya jawaban standar “mengalir saja … ”

    Meski begitu pertanyaan seperti ini memang kadang bisa dijadikan bahan renungan.

    Hehe.. bener, Pak.. Memang pertanyaan seperti ini susah sekali untuk dijawab. Tapi sekali lagi, seperti kata Pak Grandis, pertanyan seperti ini bisa menjadi bahan perenungan… Ini perlu, Pak… bukan pertanyaan sia-sia, tapi siapa tahu, kita akan membutuhkannya…. siapa tahu saja….

    Posted by Oemar Bakrie | January 16, 2009, 2:37 pm
  19. Kalau saya dah ngga perlu mikir, langsung aja bilang ndak.
    Buat apa punya pacar cuma nyusahin. kwakwkwkwkwkwkwk…………………

    Hehehe…
    Iya deh… iyaa.. 🙂

    Posted by dariman | January 16, 2009, 3:19 pm
  20. pertanyaanya susah dijawab juga ya…

    Susah, Mas…
    Itu pake acara diskonek segala pas menjawabnya.. hehe..
    sekarang, Mas udah nemu jawabannya?

    Posted by Antoni | January 16, 2009, 3:30 pm
  21. hidup dan mati cuma Tuhan yg tau. Postingan jeung pas bgt ma yg dialami tmn kntr saya. Sayangnya dia terlalu bodoh utk ditipu apakah penyakit itu cuma sekedar rekayasa utk mencari simpati ato bukan.
    Ngomong2 soal film…ntn “life is beautiful” or “my life without me” boleh juga tuh. Cuma sekedar buat menginspirasi bahwa hidup itu sangat indah dan klo pun memang harus berakhir, akhirilah dgn indah 🙂
    *ambil tissue n usap2 air mata

    Iya.. memang harus peka.. jangan dijadikan alasan untuk mencari simpati saja…. mudah-mudahan tidak tertipu, mudah-mudahan kita cukup mengenal pasangan kita apakah dia sebenarnya berbohong atau tidak… Kalau memang dia berbohong, artinya dia bukan kekasih yang baik… as simple as that.

    Makasih buat referensi filmnya, ya?
    Memang, if it has got to be over, let’s over it in a beautiful way… and not the other way around..

    Posted by ipi | January 16, 2009, 3:45 pm
  22. Mbak, kadang gemes nee kalo tyan di curhatin kaya jeng lala…
    Dulu pernah punya temen kaya gitu…
    Hasilnya tetep dia bertahan…
    Kalo cinta kadang nasihat dan masukan orang ga dipeduliin…
    Alhasil “Nothing”… he…
    Tapi kalo tyan mending cari cowo normal aza… Tapi kalo dah hampir merried or dah tunangan baru tau pasangan tyan sakit ya, tyan mencintai dan menerima apa adanya…
    halah… 😉

    Nasehat bukanlah nasehat kalau dia sedang tidak membutuhkannya, kan, Dek? Saat itu, yang temanmu butuhkan, mungkin, adalah dukunganmu… bukan nasehatmu… tapi kamu juga nggak boleh berhenti memberikan pilihan-pilihan yang ada, supaya kedua matanya terbuka.. kalaupun akhirnya dia memilih untuk tidak mendengarkan kamu, ya sudahlah.. jangan gemes, ya… ini bukan hidup kamu, Sayang, ini hidupnya…

    Sama seperti aku yang nggak bisa melakukan apa-apa ketika sahabatku menikah dengan orang yang tidak pernah dia suka, cuman karena dia takut jadi perawan tua…
    Lalu belakangan dia nangis karena kepingin lari dari perkawinan itu…
    Dia menyesal…
    Aku nggak marah sama dia, Dek…. Aku akan tetap menjadi sahabatnya…. seperti dulu… dan tidak akan pernah berubah meskipun mungkin saja aku bisa bilang, “Hey, I’ve told you so…”

    Posted by tyanjogjack | January 16, 2009, 3:49 pm
  23. Yup.. I will stay with him until death do us apart huhu..
    😛

    That’s nice, Siwi…. 🙂

    Posted by siwi | January 16, 2009, 6:18 pm
  24. Naaahh… betul kan…
    dari awal baca aku dah mikir… Lala barusan nonton Dying Young?… dan… benar !!!

    Well,
    Lihat, segala hal dapat terjadi karena cinta,
    itu bukan semata-mata hal yang bodoh atau irasional,
    mungkin tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata,
    mungkin tak mudah dipahami dengan logika,
    terjadi begitu saja
    hanya dapat dirasakan dengan hati.
    🙂

    Hehe, semingguan kemarin aku memang lagi nonton DVD-DVD romantis hollywood….. Lalu terinspirasi untuk menulis banyak cerita romantis juga.. jadi dalam waktu dekat, akan muncul banyak postingan romantis.. hehehe….

    Cinta hanya bisa dirasakan di hati.
    That’s absolutely right.. 🙂

    Posted by tanti | January 16, 2009, 6:41 pm
  25. selalu ada konsep yang berlawanan. Heaven and Hell. Right and Left. Young and Old. Dan pastinya… Happy and Sad.

    Aku suka kalimat itu. Itulah konsep dialektika.
    Tak ada sedih selamanya, pun tak ada bahagia selamanya.

    Thanks, DM.
    Memang…. itulah yang menjadi modal kekuatanku kalau sedang mengalami segala sesuatu…
    Supaya tidak sombong,
    supaya tidak merasa paling menderita sedunia… 🙂

    Posted by Daniel Mahendra | January 16, 2009, 10:29 pm
  26. aku ingin hidup lebih lama dengannya
    bersandar di dadanya lebih panjang dr waktu semalam,
    agar ku dengar namaQ berdenyut diantara degupan jatungnya

    Dan aku ingin lebih lama
    menggenggam jemarinya,
    merasakan desir cintanya di antara keringat tangannya

    Mungkin aQ tak akan cukup kuat,
    merasakan degup jantungnya tak menyebut namaQ
    tak merasakan desir cinta diantara pori-pori tangannya lagi

    GiliranQ menyebut namanya di tiap degu pajntung
    dan merembeskan hangat cintaku di antara kulitQ untuknya
    agar ia tetap hidup lebih lama
    lebih lama dari yang bisa ia tahu

    Ndak bisa bales komentar, Sar..
    Ini indah banget puisinya..

    Posted by sarahtidaksendiri | January 17, 2009, 11:00 am
  27. Nah sarah sepertinya lebih mengerti akan hal ini…

    Well, I bet she does… 🙂

    Posted by Antoni | January 17, 2009, 12:47 pm
  28. Saya mempunyai seorang teman, yang suaminya sakit parah selama bertahun-tahun. Penyakit itu demikian merusak, bukan saja fisik sang suami, tetapi juga kepribadiannya. Teman saya ini akhirnya tidak kuat, ia sedemikian stress hingga harus berkonsultasi dengan psikiater. Akhirnya ia mengajukan gugatan cerai, demi kesehatan dirinya dan kedua anak mereka (ia harus bekerja untuk membiayai kedua anaknya).

    Masyarakat yang tidak tahu mengecam dirinya sebagai isteri yang tidak setia. Tetapi siapakah yang tahu bagaimana hidup dia sebenarnya? Bagaimana beban hidup dan penderitaannya?

    Apa yang Lala tulis sangatlah indah, dan pasti saya pun bertekad demikian jika dihadapkan pada situasi yang sama. Tetapi sesuatu yang indah dan ideal ada kalanya tidak selalu bisa diterapkan dalam dunia nyata. Wah, saya ingin suatu saat menulis tentang teman ini (tapi harus dengan ijin dia ya … )

    Satu kemungkinan terparah yang terjadi adalah ketika pasangan berubah menjadi tidak menyenangkan.. Mengabaikan perasaan kita… Membuat kita merasa tak nyaman harus menangis setiap hari, menangisi pasangan yang tiap hari seolah berbuat apa saja untuk menyakiti hati kita…

    Tapi ya…
    Aku nggak kepingin mencoba untuk sok tahu, Mbak Tuti. Ilmu-ku belum sampai di sana… Aku hanya sebatas berandai-andai bagaimana harus bersikap, jika kelak itu terjadi…
    I believe, ada banyak pasangan yang tetap bersama dan tidak saling meninggalkan ketika hal seperti ini terjadi… Jadi aku memilih untuk percaya saja bahwa aku-pun bisa seperti mereka… 🙂

    Aku tunggu ceritanya, Mbak Tuti…
    Tentunya setelah dirimu minta ijin .. 🙂

    Posted by tutinonka | January 17, 2009, 1:35 pm
  29. Hehehe … maap, kalimat terakhir yang nggak selesai itu dihapus saja … (lupa belum saya delete)

    Sudah aku hapus, Mbak Tuti…
    Lagi pusing-pusing, sih, makanya salah ketik.. hehehe…

    Posted by tutinonka | January 17, 2009, 1:37 pm
  30. cinta kadang nggak bisa dilogikakan…betul jeung asalkan hati sudah mantap ya jalani saja dengan segala konsekuensinya.

    wah DYING YOUNG ya? jadul juga ya nih film…jaman julia roberts masih kinyis-kinyis…

    Selama sudah tahu bagaimana resiko yang mungkin ada lalu memantapkan hati benar-benar…. sebaiknya dijalani saja… 🙂
    Setuju banget aku, Mas..!

    Eh, iya… Si Julia Roberts masih kinyis-kinyis buanget, tuh..
    masih mudaaaa sekali. Cuantik buanget…. Bener-bener cuantiikkkkkk…. *sampai sekarang sih.. hehe..*

    Posted by geRrilyawan | January 18, 2009, 5:18 am
  31. permasalahan yang sederhana dengan pemecahan yang complicated,
    .
    mungkin saya akan dan harus merenung sekian tahun untuk masalah seperti ini

    Posted by pengendara | January 18, 2009, 3:11 pm
  32. Nice article…. 😀

    Posted by Fahrisal Akbar | January 18, 2009, 6:37 pm
  33. Mmmm inilah gambaran Lala yang sesungguhnya!!!

    Buat para cowok yang udah tega nyakitin kakakku yang satu ini bener-bener dech kalian akan rugi nyakitin Lala.
    karena Lala adalah cewek yang begitu setia.

    Posted by retie | January 18, 2009, 9:50 pm
  34. Hm.. I love this posting La..

    It happen quite common in one or the other versions in life
    The choice of stay or go
    The voice of your heart or your logic
    But that is love about, right?
    It is about an integral package of happiness and sadness
    The holding hand tight and raise your hand to say goodbye
    About irrationality…
    About complexity of life..

    So..
    When people are in love, they trend to follow their heart..
    When people are only a bunch of meat structured by their bones, they trend to follow their logic..

    Ideally.. we should banlance them well..
    But some times, it is not as easy as we though..

    La… La… are you still there…??
    Pasti belagak disconected lagi dech… 😀

    Posted by Nug | January 21, 2009, 9:35 am
  35. Hai La..
    Salam kenal yah..
    Sebenarnya udah cukup lama berkunjung ke blog ini, tapi belum sempat untuk benar2 menulis komentar dari hati.. *halah..
    Topiknya menyentuh..
    Membaca pemikiranmu makin menjadi..
    Benar2 bertanya sama hati, apa yang akan aku lakukan kalo berada dalam situasi itu..
    Dan jawabannya adalah sama..
    Aku tetap akan disisi dia.. Paling ga, aku pernah merasakan bahagia bersama dia.. apapun bentuknya..

    eniwei, pernah nonton film jepang yang judulnya One Liter of Tears ga?? Itu sedih sekali.. Katanya kisah nyata..
    Bagus filmnya..

    hihihi…
    Salam kenal lagi yah..

    Posted by ay | January 22, 2009, 10:52 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: 437 « the blings of my life - February 26, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: