archives

Archive for

Just Me. Just Him. And Frank Sinatra

(please click the song first before reading this)


http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Frank%20Sinatra&title=Moon%20River&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1448_15000359.mp3&song_info=48+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

Moon River; boleh dibilang ini adalah lagu paling kesayangan saya… dari semua lagu ever made so far, dan saya pikir akan sulit tergantikan oleh lagu apapun. Lagu yang dikenalkan oleh Mami ketika masa kanak-kanak saya yang lebih dua puluhan tahun kemarin. I still remember how she sang the song with her soft voice and the face that I will never forget. She sang it with her heart and I could see how magical a song could be… karena saya melihat keajaiban itu ketika Mami menyanyikannya…

Sampai sekarang, lagu ini tak pernah bisa tergeser dari dalam hati saya. Liriknya yang saya hafal di luar kepala… suara Frank Sinatra yang membuat saya jatuh cinta pada lelaki bersuara berat dan khas ini… dan bagaimana melodi itu membuat kaki saya ingin segera bergerak… memutari lantai…. berdansa…. Ya. Berdansa.

I picture myself dancing with the man who offers me a ring and asks me to live in his life forever. I imagine how wonderful to dance with the man I really love… dengan lagu Moon River… lalu kami saling memeluk dan berdansa… tanpa suara… tanpa kata-kata… memejamkan mata dan menikmati setiap melodi indah yang tercipta… saling merasakan hembusan nafas yang sahut menyahut.. juga getaran di dada yang seolah berirama…

Kami berdansa dan terus berdansa…
Dalam sunyi.
Dalam sepi.
Dan tak ada siapapun di sana.

Just me.
Just him.
Just us.
And Frank Sinatra.

*ditulis sambil mendengarkan Moon River, sambil melamunkan sebuah wajah yang serupa bayangan, dan tak terasa… kedua mata saya berkaca-kaca…..*

Stay. Leave. Live. What’s your call, hm?

Do you ever have a feeling that you wanted to go but you were so afraid to do so?

Seolah berharap pada keajaiban untuk mengetuk pintu dan berkata, “Hey, bahagia ini milikmu aja… jadi nikmati tanpa takut ada yang mengganggu, ya…”

When I know magic moments are rare.
When I know magic moments don’t come as often as silly moments, my silly moments.

So, what’s the point?
Masih berharap pada bintang jatuh? Don’t they have some kind of guidance to help them from falling over and over again to the earth? πŸ™‚

Masih berharap pada keajaiban yang memang hanya terjadi ketika kita least expect it? When we spend most of the time expecting things to happen…

Duh, duh.. ceracau yang nggak penting, di pukul satu pagi, yang tanpa niat apapun, tapi nggak bisa beranjak dari depan laptop dan memilih untuk menutup layarnya. Damn! Kenapa pikiran saya jadi nggak jelas begini ya?

*You! Yeah you! I’m talking about you! Bayangan nyebelin itu!*

Sometimes… okay, most of the times, saya berpikir ini.
Should I stay… dengan kenyataan bahwa someday, bisa jadi saya sangat sangat menyesal.
Should I leave… dengan probabilitas bahwa someday, saya bisa sangat bahagia.
Should I just live the moment… kunyah perlahan, resapi sampai kenyang, nangis kalau butuh, ketawa kalau emang pingin ketawa…

I should live the moment, adalah pilihan yang tepat dan rasional, tapi bukan menjadi option ketika pagi ini tiba-tiba saya benci sekali dengan diri saya sendiri.

I’m almost 29 and I’m confused.
Help!

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono