you're reading...
Jogjakarta's Stories

Jogjakarta’s Stories (3): AM I THAT SELFISH?

I heard it on the news; people kill each other, kids are suffering from cold blooded war (that they don’t even know why! damn!), dan someone who’s actually capable on doing the war peace sepertinya enggan untuk berbuat sesuatu apapun.

It’s killing me to see how people could be perfect murderer; meanwhile saya melihat banyak bayi-bayi berlumuran darah yang memang tidak mengerti kenapa dan untuk apa semua itu terjadi. They only know how to play, but they don’t know where to play safe.

Ah,
sungguh ironis.
Sekarang saya sedang duduk di atas ranjang empuk, dalam kamar sebuah hotel, dengan air conditioner yang mengembuskan udara dingin, di depan laptop, dengan mengemil biskuit favorit saya; Biskuat energy, lalu mengajari keponakan kecil saya bermain mobil-mobilan di laptop Bro yang juga ia bawa.

Kemarin?
Kami ketawa ketiwi di Magelang, berjumpa dengan banyak saudara-saudara Mbak Ira yang berkumpul di sana karena ada kerabat yang menikah. Nyanyi-nyanyi ala penyanyi rock juga saya lakoni. Lantas keliling meja prasmanan juga. Kesimpulannya: it was a great day!

Kemarinnya lagi?
Saya bertemu dengan Bu Dyah Suminar dan Mbak Tutinonka. Makan malam di resto Omah Dhuwur dengan nuansa super duper romantic.

How about the morning?
Dan sebelum-sebelumnya?
Tidak pernah ada masalah, kecuali issue yang saya bikin sendiri: Loneliness Issue yang akhirnya kini sudah tidak bersisa lagi karena sekarang saya sudah bersemangat lagi…

I’m happy, here.
And they’re suffered, there.

Would it be a crime if I smile?
Laugh?
Be happy?

Would it be a total sin if I’m happy here but they’re suffered there?

Pertanyaan itu terlontar terus di dalam kepala saya, membuat saya sangat-sangat kebingungan: what should I do.. what should I react… haruskah saya merasa tidak manusiawi karena saya sedang bahagia? Haruskah saya merasa menjadi penjahat yang tidak punya empati sama sekali karena malah tertawa lepas padahal saya tahu sekali di belahan dunia lain, banyak manusia yang berduka?

Am I that selfish?
Am I that selfish??
AM I???

(Ketika keluar dari Malioboro Mal, beberapa waktu yang lalu, saya terpaksa berhenti beberapa menit untuk menunggu iring-iringan demonstrasi di jalan yang berseru ingin memperjuangkan nasib Palestina. Dan ya, that question was totally captured my mind…. til this very moment)

Apakah salah kalau liburan ini saya bahagia,
sementara di sana mereka sudah lupa bagaimana cara untuk tertawa?

*Oh God, You always know what to do… I’m not capable of doing something beyond my ability, so I let You do the magic works.. like always. Please…. it’s so painful to see the blooded victims, hanya karena perang yang tak berkesudahan dan egoisme yang tak masuk akal itu…..*

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

24 thoughts on “Jogjakarta’s Stories (3): AM I THAT SELFISH?

  1. aku lebih sedih lagi pagi ini sis,
    karena di televisi jepang disiarkan warning tsunami
    akibat gempa di papua…

    uhhh jadi teringat gempa di Aceh 4 tahun lalu
    orang-orang tak bersalah yang menjadi korban
    bencana alam
    meskipun kita tahu hidup itu terletak di tangan Tuhan.

    mari kita gunakan hidup lebih baik lagi sis…
    EM

    Posted by Ikkyu_san | January 4, 2009, 12:10 pm
  2. lam kenal ya. 🙂

    Posted by Rian Xavier | January 4, 2009, 12:52 pm
  3. Hai….
    Selamat Tahun baru 2009, maafin saya bila menyakiti atau menyinggung perasaanmu selama ini ….
    Posisi kita hampir sama ….. kamu tertidur dan bermain diatas tempat tidur empuk hotel di Jogja….. sementara saya tergolek dengan manis di tempat tidur empuk rumah sakit Krakatau Medika di Cilegon Banten …… beda tipis kan…?!
    Tak perlu menyesali diri atas semua yang terjadi …. lebih baik berbuat sesuatu yang bermanfaat buat mereka ……..

    Posted by michaelsiregar | January 4, 2009, 3:11 pm
  4. dengan begini saja kamu sudah menunjukkan empatimu terhadap derita yang terjadi di sebelah sana!
    Berbahagilah, tapi jangan berlebihan! karena ada orang yang sedang menderita…. (halah…)

    Posted by qizink | January 4, 2009, 3:21 pm
  5. It’s like ying and yang sist, to make life balanced. Nggak salah kalau kita berbahagia, but one thing to remember is that we have to be aware that there are many people suffered out there. However, it doesn’t mean that we’ve to suffer as well….We can do something for them, one, two or more little things that might make them at least less suffered 🙂 what’s that little thing? it’s up to u…one simplest thing is pray for them 🙂
    Happy New Year Sist!

    Posted by 1nd1r4 | January 4, 2009, 4:11 pm
  6. Saya kira ini bukan soal “being selfish or not” tapi ditengah kegembiraan dan kebahagiaan kita perlu selalu ingat untuk bersyukur atas semua kenikmatan yg telah dianugerahkan Allah kepada kita (wah jadi sok menasehati nih … hehehe).

    BTW, happy tahun baru alias selamat new year 2009 ya, semoga makin sukses dan bahagia …

    Posted by Oemar Bakrie | January 4, 2009, 5:39 pm
  7. a very good sense of empathy …. happy new year jeung lala .. wish u all the best , ijin ngelink ya

    Posted by Hilal Achmad | January 4, 2009, 11:26 pm
  8. Memandang dunia memang tak pernah lepas dari pilu, Lala…
    Ada ketidakadilan, dan memang akan selalu ada…

    Tapi biarlah.. biarlah semua berlalu, kita bantu yang bisa kita bantu meskipun itu hanya seutas doa…

    Berbuat sebaik-baiknya, menjadikan diri menjadi lebih kuat dari yang kemarin dan tidak merepotkan sesama kupikir adalah tindakan yang juga tidak kalah “toleran”nya ketimbang demo di jalan.

    Mungkin pendapat saya salah…

    Posted by DV | January 5, 2009, 5:36 am
  9. wah jadi pingin ke jogja lagi….. hehehe….

    Met tahun baru ya jeung….. 🙂

    Posted by han han | January 5, 2009, 8:32 am
  10. Setidaknya ikutan nyumbang sesuatu buat dikirim kesono… 😀

    Posted by ashardi | January 5, 2009, 9:33 am
  11. Kita memang mesti bersimpati dan punya solidaritas kepada rakyat Palestina, tetapi bukan berarti lalu kita tidak boleh merasa bahagia dengan hidup yang kita miliki saat ini. Saya juga geleng-geleng kepala dan menghela nafas berat melihat korban-korban rakyat Palestina di teve, muak kepada Bush yang selalu mendukung Israel, dan kecewa kepada Obama yang bungkam seribu bahasa.

    Apa yang bisa kita lakukan? Berdoa, memberikan sumbangan dana kemanusiaan jika ada, atau menulis keprihatinan kita di blog.

    Baru-baru ini ada seorang pembaca blog mengajak saya berdoa untuk rakyat Palestina. Dia menuliskannya sebagai komen di postingan kopdar Yogya. Wah … saya merasa malu hati, sampai nggak bisa jawab panjang. Lha gimana, pada posting yang memuat kenarsisan kita, ada orang mengingatkan tentang tragedi Palestina. Gimana saya nggak merasa malu hati?

    Ooow … terimakasih foto kita dipasang di halaman depan blog Lala (ajarin dong, aku mau pasang juga …)

    Posted by tutinonka | January 5, 2009, 9:46 am
  12. bergabung disini yuk La… id.bloggerforhummanity@googlegroups.com

    baru terbentuk dua hari, atas pemikiran beberapa blogger akan bencana-bencana yang menimpa… dan berharap bisa membuat sedikit perubahan…

    ditunggu ya…

    Posted by chic | January 5, 2009, 10:50 am
  13. nggak lah jeung. Yang Diatas sana tentu tahu yang ada dihatimu Jeung. sama aku juga masih suka ketawa-ketiwi sama tetangga, tapi setidaknya masih selalu menyempatkan do’a untuk mereka

    Posted by mascayo | January 5, 2009, 11:05 am
  14. semog mereka tetap di jaga olehnya NYA….

    Posted by Ria | January 5, 2009, 3:15 pm
  15. hakikatnya tragedi itu Tuhan juga yang tentukan koq. dan setiap dari kita mendapatkan pelajarannya. hanya ketika mencoba mengambil pelajaran. ketika kita abai atau salah mengambil pelajaran, maka kita tetap saja merugi.

    menurut saya kejadian ini betul2 menohok dan mempertanyakan banget eksistensi kita sebagai indonesia apalagi kita yang muslim. dan tepat sekali ini terjadi di momen hijrah yang menurut saya adalah masanya kita menunjukkan eksistensi.

    jadi kita boleh merasa sendu atau heroik dengan kejadian ini dan merespon dengan reaktif banget. tapi kita juga mesti menjawab itu semua dengan peningkatan eksistensi kita di tahun depan.

    masa eksistensi kita cuma diakui sebatas demo, do’a dan duit (yang maaf, sedikit).

    meningkat dong.

    misalnya kita bisa punya diplomasi yang elegan dan menekan karena kita punya bargaining position. kita bisa punya bahasa boikot ekonomi yang menggigit karena kita menguasai perputaran ekonomi itu. atau kita bisa punya kekuatan militer yang sangat kuat sehingga disegani. ya, kita tinggal ngancam memberangkatkan armada militer kita.

    itu mulukkah jeung???

    iya muluk sih…
    tapi itu menunjukkan kebodohan kita. iya lah kemudian kita menyebut israel kejam dan mengecam. bolehlah kita menyebut bangsa palestina menderita dan kemudian kita menyatakan solidaritas.

    tapi patut kita sadari, kita juga bodoh, lemah dan tidak mampu berbuat apa2. setidak-tidaknya mungkin kita secara individu juga dari tahun ke tahun eksistensi kita juga hanya segitu-gitu aza.

    bangsa israel sudah menunjukkan kekuatannya. bangsa palestina sudah menunjukkan darahnya. kita disini, apa yang sudah bisa kita tunjukkan???

    terlalu besar yang dikorbankan bangsa palestina. dan terlalu berani apa yang ditunjukkan bangsa israel. kalau itu semua tidak membuat kita sadar untuk memperbaiki keadaan diri kita sendiri, sehingga tahun depan dalam momentum hijrah itu kita menunjukkan eksistensi yang lebih berarti.

    demikian pidato ini kami sampaikan. walaupun berat untuk menyampaikan tapi kita harus sadar, bahwa hidup ini hanya sementara, tidak ada semen tiga roda, atau semen holcim atau merek2 lainnya, hehehe…

    Posted by tren di bandung | January 5, 2009, 4:03 pm
  16. Kadang aku berpikir seperti yang kau pikirkan, La.
    Di sana lagi perang, kok aku enak2an liburan.
    Tapi, kalau kita nggak liburan, apa perangnya bisa otomatis kelar?
    Sama seperti yang pernah kau posting sebelumnya, bahwa kita tidak bisa merubah semua yang kita inginkan.
    Seandainya mau, Tuhan bisa saja membuat semua manusia menjadi baik atau berserah diri kepadanya. Tapi itu tidak terjadi, kan?
    Setiap kita punya tanggungjawab masing2 sesuai dengan porsinya. Kalau level kita hanya bisa cuap2 lewat ngeblog, nggak usahlah punya keinginan berjihad ke sana. Mau mati konyol apa?
    Kalau bisa menyumbang sedikit, nggak usahlah bernafsu menghapuskan kelaparan di sana.
    Tapi, kalau di luar itu ada ide2 out of the box sih nggak masalah.
    Kamu punya La?
    Kalau aku sih nggak….
    Wong negara2 Arab dan PBB aja nggak berkutik…

    Posted by Hery Azwan | January 5, 2009, 4:57 pm
  17. Saya kira kita tak bisa berbuat lebih banyak lagi untuk korban2 di Palestina sana. Paling banter kita hanya mendoakan semoga mereka dilindungi Allah dan berbagi bila ada rejeki lebih di sini. Semoga kita masih memiliki standar nilai yang tetap kita perjuangkan.

    Ke Magelang? Walah, kalau kutahu kudatangi dirimu Jeung untuk silaturahmi. Sekarang aja masih di Magelang dalam rangka liburan, nyante2, males2an..ha.. ha..
    Met Tahun Baru, semoga sukses dan sejahtera ya Jeung. 😀

    Posted by Hejis | January 5, 2009, 8:52 pm
  18. Aku juga sedih melihat kebiadaban ini berlangsung didepan mata. Kita memang gak bisa melakukan semua yang kita inginkan untuk menyelamatkan bumi ini.. Yah..yang penting kita berbuat kebaikan yang bisa kita lakukan…

    Posted by ernalilis | January 5, 2009, 10:22 pm
  19. Saat ini mungkin hanya doa dan pasti hanya keprihatinan yang dapat kita rasakan dan kirimkan pada Palestina. I’m sad that i cant do more than that 😥

    Posted by Menik | January 5, 2009, 10:34 pm
  20. Kalo gitu kita transper duit kesana aja gimana ?

    Posted by Raffaell | January 6, 2009, 1:27 am
  21. Bunda tidak tega kalau melihat tayangan TV tentang kepedihan palestina….
    Berdoa…agar Palestina segera bebas dari serangan sadis israel….karena memang tidak mudah untuk melakukan sesuatu,karena kita ada di indonesia…Insya Allah, pemerintah kita akan melakukan sesuatu untuk mereka…

    He eh Bun.
    Sore kemarin, Lala lihat TV one yang menayangkan berita soal anak-anak Palestina yang menjadi korban sia-sia karena kekejaman perang. Gambar-gambarnya benar-benar memilukan hati, Bunda… Lala nangis hebat… Merasa powerless but wanted to do more than just pray. Ah, how I wish I could be a superhero… tapi aku tahu, Lala cuman Lala, just a twenty eight years old woman yang memang hanya bisa berdoa aja…..

    Mudah-mudahan ada pelangi setelah ini.
    Meskipun.. ya… entah kapan…

    Posted by dyahsuminar | January 6, 2009, 3:09 pm
  22. nonton berita cm bs bikin aku nangis terus tanpa bs melakukan sesuatu selain berdoa mbak… pengen stop tv, tp kerjaanku di kantor ya monitoring berita2 di beberapa stasiun tv.. pengen berhenti browsing internet, tp aku penasaran terus kabar sodara2 kita disana…
    yang bs aku lakukan cm demo di doa dan di blog aja mbak.. selebihnya, aku ga bs berbuat apa2 T_T

    Posted by indah rephi | January 8, 2009, 5:18 pm
  23. Antara Jagad Cilik dengan Jagad Gede, tapal batasnya adalah diri kamu (yang cantikitu). Ketika kamu menjenguk dalam-dalam seperti menjenguk dalamnya sumur di lubuk hatimu (bukan sumur Lapindo ya) dan menelitinya satu-persatu sedetil-detilnya, ada keramaian disana yang sangat rumit begai kerumunan trilyun semut menyemut, dengan tali-temalinya yang saling bergantung dan saling berpengaruh, dalam susunan yang maha misterius.
    Dan ketika matamu kamu arahkan kedepan, kearah landscape dan bentang geografi bentang budaya bahkan bentang kekuasaan antar benua, disana juga ada tali temali politik ekonomi sosial budaya dan nilai-nilai ketuhanan dengan kebenarannya masing-masing. Termasuk upaya-upaya manusia untuk menyingkapkan tabir rumus-rumus dan hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan pada saat penciptaan.
    Anata menjenguk kedalam diri dengan menjenguk keluar, sama misteriusnya, seperti misteri membahas separoh kosong dan separoh isi sebuah botol berisi air.
    Coba kamu putar cara kamu menulis postingan (yang selama ini kamu bercerita tentang apa yang kamu lihat, alami dan fikirkan) ditukar denga membicarakan apa yang kamu belum tahu, belum alami dan belum kamu lihat. Kira-kira seberapa banyak ya ????

    Posted by sonyssk | January 9, 2009, 8:01 pm
  24. Aku bener2 ga tega lihat anak2 yg jadi korban,sekali aku lihat airmataku bercucuran,daripada kepalaku pusing karena nangis mending aku doain mereka2 aja, karena aku ga bisa berbuat apa2 untuk mereka.
    2 kali aku dapet email dari teman yg nawarin donor darah untuk palestina tapi…. ga mungkin,pengen banget ikutan donor darah tapi kondisiku benar2 ga mungkin, seandainya boleh aku pengen banget nekat donor darah.

    Posted by retie | January 10, 2009, 11:32 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: