archives

Archive for

there’s something about the mall

Semua bisa terjadi ketika saya nge-mal bareng sama GangGila.

Cekakak cekikik di coffee shop sampai modar… selalu!
Iseng mampir ke cosmetic booth cuman buat touch up karena lupa bawa alat-alat tempur a.k.a make up… sering!
Makan di resto dari sore ketemu malem… hidih, ini hobby kalee! πŸ™‚
Buang hajat entah besar atau kecil… hampir selalu! (dan seringkali… sayah! hehe)
Photo-photoan sampai lupa sama umur dan menganggap orang lain itu cuman bayangan doang… ugh, yeah.. jangan tanya..

Ada beberapa hal lagi yang kayaknya akan segera bikin kamu ilfeel sama saya *apa udah? hehe*, cuman ada satu hal yang perlu kamu tahu tentang satu fakta penting about me. Iya. Saya. Lala. Kandidat terkuat di ajang Miss Universe 2009 (saya kan bilang terkuat, yang artinya paling kuat ngangkat air galonan.. hehehe).

Tau apa?
Hmm… saya ini seringkali beli baju yang nggak penting setiap nge-mal. Dan tahu kenapa? Karena saya sering nggak pede dengan baju yang saya pakai! (gebleg aje lo) Baju seperti apa yang saya beli? Jangan bayangin yang mahal, yah.. Karena seringkali baju yang saya beli itu.. cuman lima belas ribu-an! Hehe… kadang-kadang, itupun sudah pakai voucher belanja 10rb dan saya musti bayar cukup lima ribu sajah! Hebat kan?

Setelah bayar… pergi ke kamar mandi.. ganti baju… beres. Jalan lagi! Tebar pesona lagi! hehe

Dan kebiasaan gebleg saya itu kembali saya lakukan kemarin, pas jalan-jalan sama Yuan dan Linda di Tunjungan Plaza, Paris.. eh, Surabaya deng πŸ™‚
Lihat aja photo di atas. Photo diambil di lokasi yang sama (kamar mandi, Matahari Dept Store lantai empat), pukul 1-an dan 7 malem. Bener-bener kurang kerjaan kan? (gpp.. yang penting seneng! hehe)

Jadi, jadi..
kamu sudah semakin ilfeel sama saya, kan?
Udah deh ngaku aja…
Tapi kamu juga harus ngaku, kalau saya tetep cakep kan biar makeup-nya udah luntur… hihihi.. maksa aaammmmaaatttt…

Udah ah.
mandi dulu! πŸ™‚

exactly, like him

Last night,
when the rain poured down like hell.
when I was so cold, waited alone in front of a supermarket.
when I felt so lonely and afraid.

He came for rescue.
Just like a knight in white horse,
he saved me from a cold, frustrated, and frightened night.

I saw him.
With a light smile in his face,
with those tired eyes, but still… he laughed when I told him about my feeling.

Yeah.
He was there.
Just like days before… just like any days before that day.

I wish I’ll have a husband… someone exactly like him… The one who always does his best shot to make me comfortable and put me in one of his priorities. The one who will say, “Okay… ” maybe not in an instant, but he did always say that whenever I need him. The one who never said that he really cares but I know… he really does.

God, I love you..
I love you, Bro.
This naughty, spoiled, and childish girl… yeah, me, your sister.. just can’t help to admire you.. to love you.. to feel so much grateful… to have a brother like you…

I hope I’ll meet someone like you and let him marry me, no doubt πŸ™‚
It’s not too much to ask, right?
Right?

(thanks for lastnite, yah.. God, aku nggak tahu musti gimana lagi kalau kamu nggak jemput aku yang lagi keujanan di pinggir jalan, without knowing what to do, dan menelepon taksi adalah tindakan paling konyol yang akan aku lakukan…)

My Addiction

Once,
I loved a song: Ordinary People, John Legend.
…then I played that song, over and over again. Berjam-jam. Menemani saya menulis sampai pagi. Menemani saya saat menunggu Bro menjemput setiap pulang kantor. Menemani saya saat minum kopi di pagi hari, sebelum jam kantor. I played that song….. over and over again.

Then I loved another song: The Blower’s Daughter, Damien Rice.
…i did my habit, again. Memutarnya dalam notebook, memutarnya di handphone… and yeah, asked my brother to play that song in his MP3 player, in his car. I did this.. over and over again… Seolah tidak pernah bosan. Seolah saya nggak punya cadangan lagu lain. Seolah menganaktirikan lagu-lagu lain yang akhirnya terbengkalai kedinginan ..cieh, kayak nelantarin anak tiri aja gua.. haha…

Then there was another song: Big Girls Don’t Cry, Fergie.
Masih sama. Masih mendengarkannya seolah candu. Masih menikmatinya seolah saya bakal mati kalau nggak mendengarkannya, sekali aja dalam sehari. Anytime anywhere, selagi sempat dan bisa, that song filled my brain…

Geez..

Saya memang perempuan aneh, yang mungkin bakal dicurigai memiliki kelainan karena terlampau kecanduan pada sesuatu. Sebuah lagu… sehelai pakaian… sepasang sepatu dan sandal… satu pilihan kopi di sebuah kedai kopi tertentu… one colored lipstick… satu film drama romantis Hollywood… sebuah blog baru (see?)…

and yeah.
Lelaki πŸ™‚
Seorang lelaki yang saya begitu mencanduinya sehingga saya lupa…
kalau semua ini salah.

(Previous experiences has taught me not to fall for guy easily and let time works magically… satu hal lagi… don’t be the only one who love him… but be loved by him, too)

In the middle of confusion, kenapa saya selalu mencandu sesuatu dan bukannya biasa-biasa saja, I began to question myself:

Would it be worse, if you turn yourself into a great someone else? A girl who loves any different coffee… A girl who will easily change her style… A girl who thinks that this man she’s dating is another ordinary guy for her… A girl who listen to music without soul…

Hm..
Guess.
I would rather to be me.
And consider that my addiction…
is a blessing.

Yeah…
I am blessed to be a weirdo … it’s me! Myself πŸ™‚

The One

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Barbra%20streisand%20&%20bryan%20Adams&title=I%20finally%20found%20someone&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1612_15002213.mp3&song_info=31+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

Sore tadi Linda bilang, dia sudah menemukan “the love of her life”. Ya, ya, ya. Si Bajingan Kampret itu 😦 Dia bilang, apapun yang telah terjadi, sesakit apapun luka yang dia rasakan sekarang, tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa cuman si Bajingan Kampret itu yang berhasil memiliki dia… body and soul, completely! Hah!

Lepas dari kebencian saya dengan cowok yang gebleg surebleg itu, saya tak bisa untuk tidak terkagum-kagum sama Linda.
Bukan karena kerelaannya untuk sakit hati yang memungkinkan dia untuk menangis bombai again and again, tapi karena dia telah berhasil mendefinisikan seseorang sebagai The Love of Her Life; dan itu kan bukan hal yang gampang!

Bayangkan saja.
Cinta dalam hidupnya.
Ketika kita sudah memberikan gelar itu kepada seseorang lalu kemudian suatu saat nanti kita putus dan punya pacar baru… then what is he? The Love of My Life, the sequel? Kemudian putus lagi… apa jadinya? The Trilogy? Kalau sampai punya pacar sebanyak saya, gimana? *hidih, punya mantan banyak kok sombong sih, La… itu kan artinya lo gebleg aja pacaran bolak balik tapi ga pernah berhasil nyeret mereka sampai ke depan penghulu! hehe*

Dan saya pun bilang sama sahabat saya.

“Gua pernah kayak elo kan, Bu… yang dikit-dikit bilang, he’s the one.. he’s the one… sampai akhirnya gua sadar kalau cinta itu bukan kata yang sembarangan. Bahkan, menurut gua, kata cinta itu bakal kehilangan maknanya kalau diucapkan tanpa hati dan perasaan.. yang diucapkan sambil lalu ketika buru-buru menyudahi telepon… the magic will be lost.”

“He eh.”

“Dan ini bikin gua sekarang mikir-mikir panjang dulu sebelum memvonis seseorang sebagai the love of my life…”

“He eh.. I know.”

“I’d rather think that he’s a great guy, instead of The One.”

“Hm… iyah..”

“Lo tahu, lo ha-ah he-eh dari tadi… tapi benernya, lo ngerti maksud gua, kan?”

“Lo mempertanyakan soal kenapa gua bilang Bapak Satu Itu as The One, kan? The Love of My Life, kan? Lo kuatir gua sembarangan bilang gitu, kan? Lo kuatir karena lo tau banget, gue ini orang yang trauma sekali sama komitmen, kan?”

“Gua cuman khawatir elo terlalu membebani diri lo sendiri dengan label itu, Say.”

“So?”

“Apa lo nggak gegabah untuk bilang kalau dia itu Your One?”

Linda tersenyum. “Hey, gue pernah bilang kan, soal ada sesuatu yang sifatnya nggak bisa diterjemahkan dengan apapun kecuali dirasain sama hati?”

…yeah, been there.
and still doing it! πŸ™‚

Saya mengangguk. Pasrah aja. Pasti kalah deh, argumentasi saya.. πŸ™‚

“He completed me, La. With anything that he did to me… he just completed me.”

Saya terdiam.

“Dan ketika gue sadar kalau dengan sama dia gue merasa komplit… di situlah gue tahu… laki-laki itu… is the love of my life. Dan nggak butuh kata-kata untuk menjelaskan ke banyak orang kenapa gue menganggapnya begitu, kan?”

Detik itu juga, saya seolah tahu bagaimana rasanya menjadi orang bisu.
Saya..
speechless.

*Sambil pikiran saya terbang kemana-mana… membayangkan… siapa yang bakal berduet dengan saya, menyanyikan lagu Finally Found Someone, di hari pernikahan kami berdua… di sebuah pesta kebun… my picture perfect of wedding party….*

SokRomantis Mode : ON
And ON
and ON
and yeah…
STILL ON….. πŸ™‚


Silly, Stupid, but Beautiful Mistake

“La?”
“Hm?”
“Kalau seandainya gue bisa memutar waktu…”
“Kenapa?”
“Dan gue ada di tahun 2007… tahun kemarin..”
“Hmm…”
“Pas gue lagi deket-deketnya sama Bapak Satu Itu…”
“Ya? Kenapa?”
“Mmm… gue bakal ngulangin lagi kesalahan gue, La…”
“…”
“Karena sekalipun ujung-ujungnya gue sama dia musti pisahan dan akhirnya dia nikah sama cewek lain… at least, saat itu… gue bener-bener bahagia bisa ketawaan sama dia, bisa ngabisin waktu sama dia, bisa jadi orang gila barengan…”
“Hm, kok gitu? Bukannya malah bakal nyakitin?”
“Hah? Nyakitin? Hmm.. iya… I know…”
“So?”

Dia diam. Menarik napas. Saya tahu, ada bayangan si Bapak Satu Itu (yang selalu saya sebut sebagai Bajingan Kampret saking sebelnya saya dengan laki-laki sinting itu!) sedang bermain-main di dalam pikiran sahabat saya. Menyakitkan sekali setiap ingat ketika dia menangisi lelaki gebleg itu. Tapi saya sadar.. saya juga ingat… sahabat saya pernah merasa benar-benar bahagia ketika menghabiskan waktunya dengan laki-laki yang sekarang sudah menikah dan punya satu bayi mungil, beberapa minggu yang lalu.

“Hey.. udah tahu nyakitin, kenapa lu nekat?” tanya saya lagi.

Dia memandang saya. “Lo tau lah, apa jawabannya…”

Dan sumpah, saya diam.
…iya, saya tahu.
Menghabiskan waktu dengan seseorang yang kita cintai adalah sangat menyenangkan. Kalau kemudian ada kesempatan untuk melakukan hal yang sama… masa-masa ketika hanya ada bahagia saja… masa-masa minus air mata meleleh… doesn’t it sound really interesting?

Dan orang lain boleh bilang kalau ini adalah goblog, tolol, bodoh, sinting, gebleg, dan segala macam kata lain untuk mengungkapkan ketidakwarasan teman saya… atau saya sendiri.

Hm, I tell you one thing.
Sometimes, when it comes about love.. We put our logical aside and use our heart.
Kalau kemudian saya sakit sakit hati..
saya nangis-nangis darah lagi.. well… it’s maybe stupid. It’s maybe silly. It’s maybe a huge mistake.

But honey…
It’s my Huge but Beautiful Mistake.

Sore tadi saya melihat kedua matanya seolah bercahaya ketika membayangkan Bajingan Kampret itu. Dan di sore yang sama, saya sadar… if it’s gonna be her stupid, silly, and huge mistake… I simply just hope.. that she would learn something…

(and I won’t be the one who’s gonna say, “I told you so…” tapi akan merangkul bahu elu kalau elu nangis-nangis bombai kayak tahun kemaren…)

Fashion Kills

A girl put stilettos in her feet.
Yeah, she looked adorable.
Yeah, she looked so damn gorgeous.
Tapi kemudian dia bilang sama saya, “La, duduk bentar yuk?”

“Kenapa?” tanya saya sambil melihat wajahnya yang meringis nggak jelas.
“Kaki gue…”
“Kenapa kaki lo?”
“Sakit…”
“Hah?”
“Capek juga..”
“Hah?”
“Hah, heh, hah, heh.” That girl seemed too upset. Haha, salah saya juga sih. Menggoda dia seolah saya tuh bloon *hayah! saya emang bloon kalee.. hihihi* Sementara saya tau banget kalau nekat pake stiletto padahal kita lagi mau ngobrak-ngabrik *kenapa jadi kayak satpol ya? hehe* mal dan window shopping sampai waktu yang nggak bisa ditentukan! “Lo nggak liat sepatu gue??”

..her another pair of stilettos, keajaiban fashion yang bikin seorang perempuan keliatan lebih cantik dan anggun.

“Anjrit, sakit bener, La.. Istirahat dulu yuk…” pintanya sambil menyeret saya ke food court di lantai lima.

Okay. Stiletto memang bikin cewek keliatan cakep.
Kakinya terlihat lebih jenjang.
Dan ya, wanita-wanita ajaib kayak saya ini, yang gendut tapi ogah dibilang gendut tapi lebih memilih dibilang chubby dan menggemaskan *hidih!*, sangat terbantu dengan stiletto yang bekerja secara ajaib menjadikan kami jadi lebih kurusan *tinggian, maksudnya! hehe*

But still…
stiletto tetap stiletto.
Bukan sandal jepit.
Bukan sandal teplek.
Bukan pula sandal ala gladiator *yang sumpah demi George Clooney, saya kepingin punya satu pasang aja tapi nggak pernah sempet (apa ga punya duit, heh? hehe) beli*

No matter how magic Stiletto can be,
tetap aja stiletto bukan fashion item yang bisa jadi teman menyenangkan saat shopping, beredar di mal sekedar untuk cuci mata, apalagi buat lari marathon! πŸ˜€

So, ladies..
keep your stilettos at home kalau kamu masih sayang sama temen kamu, ya..
soalnya belum tentu temen-temen kamu bisa sebaik saya yang ho oh-ho oh aja kalau diajakin ke food court buat istirahat..

…hey! Bukan karena akhirnya saya ditraktir ya?
tapi memang karena temen saya itu jadi kasihan melihat saya bengong sendiri dan memutuskan untuk membeli cemilan dan es teh manis..

hahaha!

Fashion maybe kills,
but it’s also a blessing in disguise…

ya, ya, ya..
buat saya! πŸ™‚

It’s Anonymous…

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=malique&d'essentials&title=Hanyakaudihatiku&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1495_15001039.mp3&song_info=18+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

“Tapi kamu nggak tahu soal aku…”

“Iya…”

“Kamu jangan melihat aku dari luarnya aja….”

“Iya…”

“Kita belum pernah ketemu…”

“Iya, aku tahu…”

“Kamu belum tahu aku… Belum pernah bertemu lalu ngobrol denganku…”

“…”

“Bagaimana bisa kamu yakin dengan perasaan kamu?”

“…”

I don’t know.
I really don’t know.
And I’m sorry I can’t describe what I feel inside.

Because, it maybe doesn’t have any names.
It’s maybe just anonymous.

But all I know is…
It’s something that makes me so jealous when you’re with someone else…

*dan sumpah… it kills me… kills me…*

delete or not delete

Teman saya sedang putus cinta.
Saya tahu cerita ini dari postingan terakhir di blognya. Kesedihan itu dia tuangkan dalam beberapa baris kalimat saja lalu diakhiri dengan permintaan dukungan dari kami, teman-teman blogger-nya, yang saling setia berkunjung untuk menyapa … (atau mencela, barangkali? hehe).

Hus, ga boleh becanda.

(serius mode: ON)

Di situ dia bilang, haruskah dia menghapus semua cerita-cerita tentang kekasihnya, ketika mereka masih bersama? Kenangan-kenangan yang terjalin ketika mereka masih ketawa ketiwi, haha hehe bareng-bareng, sampai photo-photo mesra yang mereka abadikan saat mereka jalan-jalan berdua? Tulisan-tulisan yang isinya I LAP YU SO MACH. Tulisan-tulisan yang saya yakin sekali bakal bikin hati teman saya itu makin berdarah-darah setiap membaca ulang satu persatu…

*Duhai para lelaki di dunia.. kenapa kalian sejahat itu sama kami, sih!* πŸ™‚

Ketika dia bertanya, apakah dia harus menghapus semua kenangan itu dengan cara menghilangkan segala posting penuh cinta dari isi blognya, I couldn’t help but wonder: apakah bisa segala kenangan itu akan otomatis hilang ketika kita menghapus sesuatu dalam satu click mouse saja? Bisakah semua keindahan yang pernah terangkai itu dapat hilang tak berbekas hanya bermodal satu click mouse?
…dan semuanya bekerja seperti magic? Sihir? Ajaib?

Buat saya… jangan berharap segala keindahan bisa hilang dalam satu kedipan mata, dalam satu click mouse. Lain dengan prinsip mencabut cepat-cepat plester yang melekat di luka supaya sakitnya hanya terasa di awal tapi kemudian tidak lagi sakit, buat saya, melupakan seseorang tidak harus dalam waktu yang instan.

Deal with it, everyday.
Lupa, kalau memang lupa.
Karena kalau kamu memaksa untuk melupakan seseorang, it’s like keeping an old shirt in our cupboard. Ditumpuk sedemikian rupa dengan pakaian-pakaian yang baru… mencoba untuk tidak dipakai lagi…

until someday you realize..
that shirt… is still there.

So,
delete?
or not delete?

Hmm..
Sweetheart..
why don’t you just… deal with it?
Pelan-pelan saja..
Because no one asks you to get rid of him in a blink of an eye…

Love ya.
Kiss kiss. Hug hug.

Lonely is my Middle Name

I sent someone, a very short message, in the cell phone.

Lonely is my middle name. Hhh…

Kemudian dia membalas.

Why you said that?

Lalu saya bilang.

Because that’s what I’m feeling right now..
Sibuk?
Bisa ditelpon?

Dan sekali lagi dia membalas.

Sebentar ya? Lagi ribet banget euy…

Setelah itu, saya menutup komunikasi kami dengan kata-kata ini saja:

Iya, gpp… πŸ™‚

Then I begin to wonder: kenapa saya musti menyamakan orang lain dengan saya? When I’m blue, when I’m lonely, apakah semua orang musti begitu? Toh sahabat-sahabat banyak yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing.. Toh banyak teman-teman juga lagi asyik dengan kerjaan mereka… Dan ya, meskipun ada juga yang tiba-tiba terjangkit sindroma akhir tahun yang bikin mood anjlok dan males ngapa-ngapain, tapi bukan berarti saya berharap ada yang begitu peduli dan bersedia ditelepon 24 jam dan 7 hari dalam seminggu kan?

Sudah deh, La.
You’re grown enough to manage your own mood, heart, and emotion. Take control of yourself and don’t let it controls you!

Ahhh..
Cuci baju dulu deh, siapa tahu dapet inspirasi pas lagi ngucek-ngucek di kamar mandi belakang.. hehehe…

Good afternoon, everyone!

You… Complete Me

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Bruce%20Springteen&title=Secret%20Garden&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/2553_15032565.mp3&song_info=14+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

Sebuah percakapan di film romantis pemenang Oscar; Jerry Maguire, saya dengar di sebuah lagu berjudul Secret Garden, by Bruce Springsteen, semalam tadi.


Jerry Maguire
: I love you. You… you complete me. And I just…
Dorothy: Shut up, just shut up. You had me at “hello”.

Dan kemudian, saya benar-benar merasa seekor kupu-kupu terbang melayang di atas perut saya, membuat saya nggak bisa berkata-kata.. kehilangan seluruh kosa kata…

Entah kenapa saya bergetar.
Entah kenapa saya merasa kehilangan semua daya.
Entah kenapa saya seolah ingin menumpahkan air mata.

Tapi saya tahu kenapa saya melakukan ini:
memutar ulang lagu tersebut, over and over again… Menikmati lagu ini, percakapan-percakapan itu, serta kenangan-kenangan yang membuat hati saya bergetar… Seperti seorang masochist sejati, yang menyakiti diri sendiri tapi menyukainya…

Ah,
kapan saya mendengar seseorang bilang sama saya, “You… complete me.”
Atau..
kapan saya bisa bilang pada seseorang, “You… complete me.”

Hm, kenapa manusia itu belum juga nampak di depan mata saya, ya?

*ditulis sambil mendengarkan lagu Secret Garden dan seolah tak ingin berhenti*

Catatan Harian

December 2008
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono