archives

Archive for

Silly, Stupid, but Beautiful Mistake

“La?”
“Hm?”
“Kalau seandainya gue bisa memutar waktu…”
“Kenapa?”
“Dan gue ada di tahun 2007… tahun kemarin..”
“Hmm…”
“Pas gue lagi deket-deketnya sama Bapak Satu Itu…”
“Ya? Kenapa?”
“Mmm… gue bakal ngulangin lagi kesalahan gue, La…”
“…”
“Karena sekalipun ujung-ujungnya gue sama dia musti pisahan dan akhirnya dia nikah sama cewek lain… at least, saat itu… gue bener-bener bahagia bisa ketawaan sama dia, bisa ngabisin waktu sama dia, bisa jadi orang gila barengan…”
“Hm, kok gitu? Bukannya malah bakal nyakitin?”
“Hah? Nyakitin? Hmm.. iya… I know…”
“So?”

Dia diam. Menarik napas. Saya tahu, ada bayangan si Bapak Satu Itu (yang selalu saya sebut sebagai Bajingan Kampret saking sebelnya saya dengan laki-laki sinting itu!) sedang bermain-main di dalam pikiran sahabat saya. Menyakitkan sekali setiap ingat ketika dia menangisi lelaki gebleg itu. Tapi saya sadar.. saya juga ingat… sahabat saya pernah merasa benar-benar bahagia ketika menghabiskan waktunya dengan laki-laki yang sekarang sudah menikah dan punya satu bayi mungil, beberapa minggu yang lalu.

“Hey.. udah tahu nyakitin, kenapa lu nekat?” tanya saya lagi.

Dia memandang saya. “Lo tau lah, apa jawabannya…”

Dan sumpah, saya diam.
…iya, saya tahu.
Menghabiskan waktu dengan seseorang yang kita cintai adalah sangat menyenangkan. Kalau kemudian ada kesempatan untuk melakukan hal yang sama… masa-masa ketika hanya ada bahagia saja… masa-masa minus air mata meleleh… doesn’t it sound really interesting?

Dan orang lain boleh bilang kalau ini adalah goblog, tolol, bodoh, sinting, gebleg, dan segala macam kata lain untuk mengungkapkan ketidakwarasan teman saya… atau saya sendiri.

Hm, I tell you one thing.
Sometimes, when it comes about love.. We put our logical aside and use our heart.
Kalau kemudian saya sakit sakit hati..
saya nangis-nangis darah lagi.. well… it’s maybe stupid. It’s maybe silly. It’s maybe a huge mistake.

But honey…
It’s my Huge but Beautiful Mistake.

Sore tadi saya melihat kedua matanya seolah bercahaya ketika membayangkan Bajingan Kampret itu. Dan di sore yang sama, saya sadar… if it’s gonna be her stupid, silly, and huge mistake… I simply just hope.. that she would learn something…

(and I won’t be the one who’s gonna say, “I told you so…” tapi akan merangkul bahu elu kalau elu nangis-nangis bombai kayak tahun kemaren…)

Fashion Kills

A girl put stilettos in her feet.
Yeah, she looked adorable.
Yeah, she looked so damn gorgeous.
Tapi kemudian dia bilang sama saya, “La, duduk bentar yuk?”

“Kenapa?” tanya saya sambil melihat wajahnya yang meringis nggak jelas.
“Kaki gue…”
“Kenapa kaki lo?”
“Sakit…”
“Hah?”
“Capek juga..”
“Hah?”
“Hah, heh, hah, heh.” That girl seemed too upset. Haha, salah saya juga sih. Menggoda dia seolah saya tuh bloon *hayah! saya emang bloon kalee.. hihihi* Sementara saya tau banget kalau nekat pake stiletto padahal kita lagi mau ngobrak-ngabrik *kenapa jadi kayak satpol ya? hehe* mal dan window shopping sampai waktu yang nggak bisa ditentukan! “Lo nggak liat sepatu gue??”

..her another pair of stilettos, keajaiban fashion yang bikin seorang perempuan keliatan lebih cantik dan anggun.

“Anjrit, sakit bener, La.. Istirahat dulu yuk…” pintanya sambil menyeret saya ke food court di lantai lima.

Okay. Stiletto memang bikin cewek keliatan cakep.
Kakinya terlihat lebih jenjang.
Dan ya, wanita-wanita ajaib kayak saya ini, yang gendut tapi ogah dibilang gendut tapi lebih memilih dibilang chubby dan menggemaskan *hidih!*, sangat terbantu dengan stiletto yang bekerja secara ajaib menjadikan kami jadi lebih kurusan *tinggian, maksudnya! hehe*

But still…
stiletto tetap stiletto.
Bukan sandal jepit.
Bukan sandal teplek.
Bukan pula sandal ala gladiator *yang sumpah demi George Clooney, saya kepingin punya satu pasang aja tapi nggak pernah sempet (apa ga punya duit, heh? hehe) beli*

No matter how magic Stiletto can be,
tetap aja stiletto bukan fashion item yang bisa jadi teman menyenangkan saat shopping, beredar di mal sekedar untuk cuci mata, apalagi buat lari marathon! 😀

So, ladies..
keep your stilettos at home kalau kamu masih sayang sama temen kamu, ya..
soalnya belum tentu temen-temen kamu bisa sebaik saya yang ho oh-ho oh aja kalau diajakin ke food court buat istirahat..

…hey! Bukan karena akhirnya saya ditraktir ya?
tapi memang karena temen saya itu jadi kasihan melihat saya bengong sendiri dan memutuskan untuk membeli cemilan dan es teh manis..

hahaha!

Fashion maybe kills,
but it’s also a blessing in disguise…

ya, ya, ya..
buat saya! 🙂

It’s Anonymous…

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=malique&d'essentials&title=Hanyakaudihatiku&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1495_15001039.mp3&song_info=18+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

“Tapi kamu nggak tahu soal aku…”

“Iya…”

“Kamu jangan melihat aku dari luarnya aja….”

“Iya…”

“Kita belum pernah ketemu…”

“Iya, aku tahu…”

“Kamu belum tahu aku… Belum pernah bertemu lalu ngobrol denganku…”

“…”

“Bagaimana bisa kamu yakin dengan perasaan kamu?”

“…”

I don’t know.
I really don’t know.
And I’m sorry I can’t describe what I feel inside.

Because, it maybe doesn’t have any names.
It’s maybe just anonymous.

But all I know is…
It’s something that makes me so jealous when you’re with someone else…

*dan sumpah… it kills me… kills me…*

delete or not delete

Teman saya sedang putus cinta.
Saya tahu cerita ini dari postingan terakhir di blognya. Kesedihan itu dia tuangkan dalam beberapa baris kalimat saja lalu diakhiri dengan permintaan dukungan dari kami, teman-teman blogger-nya, yang saling setia berkunjung untuk menyapa … (atau mencela, barangkali? hehe).

Hus, ga boleh becanda.

(serius mode: ON)

Di situ dia bilang, haruskah dia menghapus semua cerita-cerita tentang kekasihnya, ketika mereka masih bersama? Kenangan-kenangan yang terjalin ketika mereka masih ketawa ketiwi, haha hehe bareng-bareng, sampai photo-photo mesra yang mereka abadikan saat mereka jalan-jalan berdua? Tulisan-tulisan yang isinya I LAP YU SO MACH. Tulisan-tulisan yang saya yakin sekali bakal bikin hati teman saya itu makin berdarah-darah setiap membaca ulang satu persatu…

*Duhai para lelaki di dunia.. kenapa kalian sejahat itu sama kami, sih!* 🙂

Ketika dia bertanya, apakah dia harus menghapus semua kenangan itu dengan cara menghilangkan segala posting penuh cinta dari isi blognya, I couldn’t help but wonder: apakah bisa segala kenangan itu akan otomatis hilang ketika kita menghapus sesuatu dalam satu click mouse saja? Bisakah semua keindahan yang pernah terangkai itu dapat hilang tak berbekas hanya bermodal satu click mouse?
…dan semuanya bekerja seperti magic? Sihir? Ajaib?

Buat saya… jangan berharap segala keindahan bisa hilang dalam satu kedipan mata, dalam satu click mouse. Lain dengan prinsip mencabut cepat-cepat plester yang melekat di luka supaya sakitnya hanya terasa di awal tapi kemudian tidak lagi sakit, buat saya, melupakan seseorang tidak harus dalam waktu yang instan.

Deal with it, everyday.
Lupa, kalau memang lupa.
Karena kalau kamu memaksa untuk melupakan seseorang, it’s like keeping an old shirt in our cupboard. Ditumpuk sedemikian rupa dengan pakaian-pakaian yang baru… mencoba untuk tidak dipakai lagi…

until someday you realize..
that shirt… is still there.

So,
delete?
or not delete?

Hmm..
Sweetheart..
why don’t you just… deal with it?
Pelan-pelan saja..
Because no one asks you to get rid of him in a blink of an eye…

Love ya.
Kiss kiss. Hug hug.

Catatan Harian

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono