you're reading...
daily's blings

…it’s just something that I have to do

America has fallen down.
Global Crisis is coming to town.

Berita ini memang sudah terlalu basi untuk dibahas; kegelisahan serta kehebohan yang terjadi dalam skala dunia itu sudah banyak terekam dalam pita rekaman kamera televisi atau bidikan-bidikan kamera photographer media cetak, sehingga sepertinya akan terlalu basi jika ini saya bahas lagi di blog. Bahkan, kalau masih saja dibahas, mungkin saya akan segera dicap sebagai bloggeryang cantik, baik, penuh kelembutan, penyayang binatang, suka menolong, rajin, lagipula pandai ini.. hihihi… yang ketinggalan jaman.

“Kemane aje lu?”
Kemane aje? Gua baru pulang dari Paris, buat nukerin celana dalem gua yang motifnya macan tutul! Emang kenape? πŸ™‚

Saya tidak kemana-mana. Bohong banget kalau saya nggak ngeh dengan kondisi perekonomian yang akhirnya menjadi acak-acakan seperti rambut saya setelah bangun tidur …wajah sih tetep cakep, rambutnya yang musti disisir dulu… hehehe. Percakapan saya dan Bro menjadi lebih berkualitas sejak gonjang-ganjing krisis ekonomi yang mendunia ini. Ya, sejak kiris global, Bro mulai bisa mengarahkan adik gembulnya ini untuk ngomong yang sedikit bermanfaat daripada curhat soal cowok atau cinta-cintaan melulu… πŸ™‚

Jadi saya tahu persis kalau negeri tercinta yang saya tinggali sekarang ini …bukan kampung halaman saya alias Amerika itu, lho… tapi Indonesia… iya, Indonesia, kok… sedang mengalami kegelisahan-kegelisahan yang berawal dari kejatuhan ekonomi di Amerika. Saya juga tahu kalau dampak dari peristiwa itu adalah banyaknya karyawan yang patah hati karena diputusin sama Bos-nya. Hey, let’s say that I’m too beautiful, but I’m not stupid… hayah! πŸ˜€

Meskipun saya lebih tahu detil mengenai penangkapan artis Marcella karena telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan …kalau bantu ngupilin idung orang lain termasuk menyenangkan apa nggak yah? *mikir* … tapi saya cukup ngeh, kok.

Hanya saja, bodohnya, saya tidak pernah ngeh kalau kegelisahan ini sampai menyentuh perusahaan yang sedang menaungi saya sampai hari ini. Bahwa krisis ekonomi juga telah menyentuh roda perekonomian perusahaan tempat saya bekerja. Bahwa meskipun perusahaan milik orang Taiwan ini adalah, alhamdulillah, termasuk tebal dompetnya dan sangat menggurita sampai skala dunia, tetap saja, krisis ekonomi terlalu ganjen untuk tidak mengelus-elus perusahaan ini. Iya, perusahaan yang sudah menggaji saya setiap bulannya sampai empat tahun lebih dua bulan ini. Hm, mungkin Perusahaan saya …saya??? Saya???? Sejak kapan lu kaya, La??? hihihi… ini dulunya tidak pernah pergi ke Posyandu untuk diimunisasi ketika usianya masih balitaΒ  sehingga tidak kebal dengan yang disebut virus Krisis… πŸ™‚

Sekarang saya ngeh. Saya sadar.
Kini saya tahu, krisis ekonomi telah demikian hebatnya mengubah Perusahaan Kaya menjadi Sangat Pelit, mengubah Pengusaha menjadi Tegas dan Jahat untuk kelangsungan hidupnya, mengubah gaya hidup Miss Shopaholic …iya, saya! huhuhu… menjadi perempuan yang mikir-mikir kalau membelanjakan uangnya…

…termasuk mengubah teman-teman saya; orang-orang yang setiap hari saya jumpai di kantor, orang-orang yang saking akrabnya sehingga saya selalu menganggap mereka sebagai saudara, orang-orang yang tiap hari bercanda-canda seolah cadangan humor kami masih sekoper penuh… menjadi orang-orang yang melukai hati saya…

***

Menjadi seorang staf Personalia yang merangkap sebagai junior secretary seperti saya ini memang berat. Hey, saya tidak bicara soal bobot tubuh …yang memang super aduhai dan menggemaskan ini.. hehe… tapi saya bicara soal beban pekerjaan saya, khususnya belakangan ini.

I always say how lucky I am.
Bekerja dengan santai, beban pekerjaan yang ringan, seringkali punya kelebihan waktu untuk melakukan hal-hal yang saya cintai, dan digaji pula. What a dream job! Saya percaya, akan banyak sekali yang ingin bertukar tempat dengan saya. Saya sangat percaya kalau banyak yang bilang, “Hidih, Lala… Kok enak banget, sih, bisa blogging nggak penting di jam kantor…” Tapi saya percaya, setelah tahu bagaimana rasanya memakai sepatu saya, kamu bahkan nggak akan ingin dekat-dekat dengan sepatu saya.

Because you know what?
Being a personnel staff is something that I really hate right now.
Staff personalia adalah seseorang yang berdiri di antara teman-temannya dan Manajemen Perusahaan. Staff Personalia adalah seseorang yang berusaha merangkum aspirasi teman-teman kerjanya tapi tunduk pada peraturan yang dibuat oleh Manajemen Perusahaan. Staff Personalia adalah corong Manajemen Perusahaan dalam menyampaikan segala regulasi yang harus dipatuhi oleh semua teman-temannya.

Dan ya, karena saya seorang staff Personalia, saya telah dianggap sebagai pain in the a*s oleh sebagian besar teman-teman saya. And it is so very painful!

Atas nama krisis ekonomi dan segala dampaknya pada roda perekonomian kantor, Manajemen telah menjadi sangat pelit dalam mengeluarkan setiap lembaran Rupiahnya. Saya tidak heran. Jika dianalogikan, ini seperti Orang Tua yang sedang berhati-hati dalam membelanjakan uangnya dan bilang sama anak-anaknya, “Nak, mulai sekarang, kalau pakai telepon seperlunya aja, ya… Dan oh ya, kalau memang sudah ngantuk, televisi-nya dimatikan dulu ya? Nanti bayar listriknya mahal…”

Dan anak yang patuh akan bilang, “Iya, Bunda…”
Bukannya, “Ih Bunda.. Pelit amat, sih! Telepon itu penting, kaleee… Buat pacarannn… Adek juga nggak bisa tidur kalau nggak dengerin suara televisi…”

Kalau Manajemen Perusahaan adalah sepasang Orang Tua dan karyawan kantor adalah Anak-Anak Mereka, siapakah saya? …apa?? Luna Maya??? πŸ™‚
Hm…
Saya adalah seorang Babysitter, pengawas mereka, yang hanya bertugas untuk menyampaikan pada mereka segala perintah orang tuanya ketika sedang tidak bisa mengawasi langsung, dan punya kuasa penuh untuk menghukum kalau mereka tidak menurut. Isn’t that what babysitters do?

Tapi apa yang terjadi?
They hate me. Accused me. Said bad things about me.

Ketika saya menyampaikan satu berita ke teman-teman, “Mulai tahun depan, jatah mobil kantor akan dikurangi sampai separuh…”
Seorang terman berteriak, “Lha terus aku naik mobil apa, La? Kalau aku sih nggak masalah, tapi nanti anak istriku gimana?”
hey, you! Manajemen nggak pernah bilang itu mobil pribadi, kan?? Jadi ada urusan kepentingan apa dengan anak dan istri kamu??
Saya hanya bilang, “Maaf, Pak. Mulai tahun depan akan diganti dengan uang transpor harian…”
Dia berteriak lagi, “Uang transpor yang sedikit itu?” …asal tahu saja ya, Pak… uang yang kamu bilang sedikit itulah yang setiap hari mengongkosi saya dan teman-teman yang tidak pernah dapat fasilitas mobil seperti kamu untuk ke kantor! “Mana cukup???? Antar jemput anak saya sudah berapa??”

Oh God…
I just wish that I could yell him back, “Are you crazy??!!” It wasn’t your car. It was a facility for you, to support your daily activities… DURING THE OFFICE HOUR.

But I couldn’t say anything. He is a good friend of mine; yang kemudian berubah menjadi seseorang yang sama sekali lain…

Bukan itu saja.
Satu demi satu kebijakan baru bermunculan dan akan diberlakukan secara efektif mulai tahun depan. Tentang berhenti boros menggunakan kertas… to save cost and also for the sake of Global Warming matter… tentang pengaturan jam-jam lembur yang sepertinya dijadikan ajang untuk mendulang tambahan rejeki sebanyak-banyaknya, tentang penghapusan petrol allowance untuk teman-teman yang tadinya mendapat fasilitas kendaraan kantor, dan banyak lagi kebijaksanaan lain yang saya anggap tidak sepatutnya menjadi ancaman buat mereka.

siapa yang melarang lembur? Kalau memang pekerjaan belum selesai karena overloaded, ya silahkan lembur. Semudah itu.

…mobil kantor memang berkurang. Tidak ada yang berubah selain mulai Januari nanti kalian tidak lagi berangkat dengan mobil kantor tapi tetap bisa memakainya kalau perlu… BENSIN GRATIS!

Jujur, saya sangat lelah sekali mendengarkan gerutuan-gerutuan yang dialamatkan pada saya. Kenapa harus marah pada saya? I’m just a babysitter and their parents told me everything that they need to know. Don’t blame me. Blame the parents!

Ah…
Untung saja selalu ada Bunda di samping saya; seorang Sekretaris senior yang menjadi tandem partner saya setiap hari. Yang selalu berhasil menenangkan amukan badai di hati saya. Yang dengan sabarnya berkata, “Ah, Dek… Memang begini ini resiko menjadi Personalia. Mereka nggak bisa marah dengan Manajemen tapi mereka harus menyalurkan emosi kemarahan mereka. Ujung-ujungnya, mereka hanya bisa marah ke kamu, ke aku… Jadi sudah, lah… Nggak usah dipikirin… Toh ini masalah adjustment aja. Dengan berjalannya waktu, mereka akan terbiasa…”

Kalau tidak ada Bunda, entah apa yang akan terjadi. Saya memang bukan orang yang pemarah, tapi saya bisa menjadi monster yang sangat mengerikan …lah bukannya udah? hihihi… kalau memang tak lagi bisa membendung emosi yang meledak-ledak. Percayalah, the pinky girl …iya, maksudnya saya, bukan Aming! will be disappear. Kalau Bunda tidak menasehati saya, mungkin saja sekarang wajah saya lebam-lebam karena berantem di ruang meeting… πŸ™‚

Saya bertahan, karena Bunda.
Saya ingat dengan posisi saya, karena diingatkan oleh Bunda.
Bunda sudah menjadi jaket pelindung buat saya.

Dan kalau kamu jadi saya, apa yang akan kamu lakukan ketika orang yang kamu anggap sebagai jaket pelindung itu, sore ini, duduk di hadapan kamu, dengan mata berkaca-kaca, dan berkata, “Dek, kata SI ITU …the man who screamed like crazy about his wife and kids.. tadi bilang kalau aku udah bikin anaknya sakit dan nyusahin hidupnya…”

karena mulai beberapa hari yang lalu, dia tidak lagi duduk nyaman di balik kemudi sebuah kendaraan beroda empat, tapi di balik setir sepeda motor yang memang tak nyaman ketika musim penghujan tiba…

“Kok jadi aku yang seolah-olah bikin anaknya sakit, sih, Dek… Kok dia bilang aku yang nyusahin hidupnya… Memangnya salah aku apa, sih… Aku kan cuman menjalankan prosedur…”

And then, she’s crying.
Your ‘Safety Jacket’, the one who always calms your thunders, is crying.
Di depan kedua mata kamu.

What will you do?

Saya tidak melakukan apa-apa, selain hanya mengelus punggungnya dengan air mata yang mengalir tanpa bisa saya bendung lagi. Berulangkali saya menghela nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa marah saya.

ah Bunda… kenapa sih aku nggak boleh turun saja ke lantai dua… lalu bilang sama ORANG ITU, bahwa ini tidak ada hubungannya dengan Bunda atau aku. It’s just something that I have to do… We HAVE TO DO. Will you please behave as a man in your age instead of acting like a spoiled child?

But, yeah..
There’s always something to learn, this afternoon.
About the fact that everybody still needs somebody, some times.

Exactly like
Bunda, who happens to be my safety jacket, but in any other different thunders, I am a safety jacket for her…

Saya mengelus punggungnya.
Tanpa berkata-kata.
Yeah.
It’s just something that I have to do…
Calming her thunders…

bundalala-191208-1Bunda dan Lala, sebelum nangis πŸ™‚
Kok ya ada yang tega bikin nangis perempuan2 cantik kayak kita, ya… hehehe…
*numpangnarsis.com* ^_^


Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

32 thoughts on “…it’s just something that I have to do

  1. perta MAX!!!

    Posted by tren di bandung | December 19, 2008, 8:42 pm
  2. Apa bedanya arloji merek Blaunpunc dan Swatch?

    yang satu kemewahan, yang satu ‘gaya hidup’
    yang satu berlapis emas dan dibuat hand made dalam jumlah sedikit.
    yang satu dibalut plastik dan dibuat secara masinal dalam jumlah banyak.

    tapi apa persamaan dari kedua itu?

    untuk sekarang sama-sama jangan dibeli!
    hehehe…

    Posted by tren di bandung | December 19, 2008, 8:56 pm
  3. sekarang saatnya waspada dan kreatif,
    ya ngga jeung…

    dan sekarang saatnya hatrick!!!
    hahaha

    Posted by tren di bandung | December 19, 2008, 9:08 pm
  4. hmmm… πŸ˜•

    JeungLala is nice babysitter

    menurut saya JeungLala hebat…, mampu bersikap objektif…
    memang ga gampang klo sudah mengurusi orang…, apalagi jika mereka membawa agenda subjektif mereka sendiri… πŸ™‚

    salam buat Bunda yagh…,
    she is a guardian angel for you…
    [mohon maaf jika bahasa inggrisnya blepotan….]

    -gbaiq-
    [senyum] πŸ™‚

    Posted by gbaiquni | December 19, 2008, 9:47 pm
  5. hehhehe
    dan inget satu kata

    UDEL

    huehueheuehu

    love u sis
    EM

    Posted by Ikkyu_san | December 19, 2008, 9:54 pm
  6. iya ya susah juga di bagian personalia
    pekerjaan yang mulia sekaligus menyiksa
    hehehe

    Posted by wennyaulia | December 19, 2008, 11:34 pm
  7. Salam untuk Bunda ya aunty.
    Aunty marah???? GA PERCAYA!!!!!!

    Lemon tea aja kerasa ga enak aja, aunty bisa complain dengan penuh senyuman

    Posted by retie | December 19, 2008, 11:38 pm
  8. Hei, berisi sekali postinganmu ini. Dalam!
    Meski tetap dibalut dengan ciri khasmu dalam menulis, tapi tetap terasa kuat yang coba kamu sodorkan.

    Memakai sepatu kamu? Nggak deh, La. Selain nggak cukup, kondisi di mana aku bisa bebas melakukan apa pun yang ingin kulakukan di tempat kerja adalah sesuatu yang sebisa mungkin kuhindari, meski aku bisa. Bukan apa-apa: melenakan… πŸ˜‰

    Posted by Daniel Mahendra | December 20, 2008, 1:55 am
  9. Buat orang Indonesia, krisis itu sepertinya ga ngaruh. Buktinya, ratusan ribu muslim Indonesia pergi ke Tanah Suci, Mekah. Para pencari Tuhan yang berada di Tanah Suci pun – yang menghabiskan biaya ribuan dollar per kepala -, mungkin tidak berpikir atau bahkan tidak tahu mana itu Zimbabwe yang inflasi 200 juta persen, dan kehebatan wabah koleranya.

    Salam kenal.

    Posted by Ullyanov | December 20, 2008, 3:33 am
  10. Saat lagi kepepet, orang lebih suka untuk cari kambing hitam bukan, sist? [padahal kamu ma bunda, ga masuk item, kuning langsat kan? hehehe πŸ˜› ]

    Udah ga usa terlalu dipikirin yah. Sekarang saatnya kamu yang jadi jaket pelindung buat Bunda, yah. Mereka masih dalam kondisi kaget dan shock ajah. Belum beradaptasi. Nanti pelan-pelan kamu ajak mereka ngobrol dengan cara yang persuasif [taw artinya kan? hehehe πŸ˜› ], ntar mereka juga ngerti kok πŸ˜‰

    nb : aku dapet panggilan interview yang kemarin aku cerita sist πŸ˜‰ di Malang, selasa depan ^^

    Posted by Bebek | December 20, 2008, 5:50 am
  11. nice blog n rame..

    salam kenal ia πŸ˜‰

    Posted by anggi | December 20, 2008, 7:57 am
  12. Lala…

    gue rasa gue juga pernah mengalami hal seperti elo πŸ™‚

    Karena gue cuma suruhan…yang berdiri di bawah boss tapi juga merapat pada teman teman ..

    and i know exactly how your feel…..banget La…

    Gue gak punya kata kata yang bagus untuk menghibur bunda yang sedang menangis….

    Buy hey..this is me….Yessy the Office bitch that we are talking about!!!

    Kalo gue…

    Tanpa pake ijin…

    Gua akan ngomong langsung sama orang yang bermasalah sama gue..

    Takut apa gue??

    Takut dimusuhin??

    Halah orang orang kayak gitu akan sedemikian cepatnya ketakutan kalo di samperin

    *Heehehe..sering banget berarti kejadian sama gue*

    Anyway…

    Kantor gue juga menjadi super duper pelit setelah krisis ini La…

    Awalnya memang banyak yang ribut…

    tapi gue tinggal bilang gini..

    “Gak suka di sini???..Keluarrrrrr!!…susah amat!?!?!…BElum dapat yah baru!?!?!…ya bertahannnn…dan jaga tuh mulut!?!?….udah syukur lo gak kena pecat!!!”

    Dan biasanya…..

    Sukses membungkam mereka…hehehehh

    Pagi La….

    Mau kemana sabtu pagi ini???

    Super mall??

    Ayuuukkksssss

    Posted by yessymuchtar | December 20, 2008, 8:34 am
  13. yang jadi kesamaan antar mbak lala dengan ibunya apa?

    Posted by Huang | December 20, 2008, 9:52 am
  14. jeung, ngga enak ya di posisi kejepit gitu.
    kita mesti ngertiin kesulitan perusahaan.
    juga mesti ngertiin bagaimana suara hati di bawah.

    jeung sejak tahun 2000 saya bergelut dibidang beginian.
    mudah2an tulisan saya bermanfaat…

    http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/06/lebih-baik-tetap-bekerja-agar-masa-depan-tetap-lebih-baik/

    http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/08/resiko-besar-rezeki-besar/

    Posted by tren di bandung | December 20, 2008, 11:24 am
  15. teh, thank yuph dah bela-belain telpon…
    Ga nyangka dech…
    Btw, jgn lupa ya kabarin kalo dah di jkt…
    Mudah-mudahan bisa ketemuan… πŸ™‚
    Duh, cantik ya ibuna, teh… πŸ˜†

    Posted by tyan | December 20, 2008, 12:28 pm
  16. La, kaya’nya aku nggak mau coba pakai sepatumu, bagus sih tapi pasti kebesaran deh… hihi…
    Eh, tapi baru tiga hari yang lalu aku mengalami kejadian yang mirip lho. Seorang rekan kerjaku menangis karena suatu masalah dalam pekerjaan kami yang berhubungan dengan orang lain dan birokrasi.

    Adanya masalah hubungan dengan orang lain dalam pekerjaan, birokrasi, sering membuat frustasi apalagi kalau tidak sejalan dengan irama kerja kita. Masalah akan selalu ada, menganggapnya sebagai suatu ‘challenge’ yang menantang untuk dihadapi dan diatasi akan terasa lebih seru daripada sekedar merasa terbebani. Tapi manusia tetaplah punya keterbatasan, saat emosi tak tertahankan inilah gunanya teman, untuk saling berbagi dan menguatkan.

    You did it right, Sis !
    Nah, sekarang anggap saja kita lagi ikutan “Fear Factor”
    hadapi dan berani terima tantangan.

    Posted by tanti | December 20, 2008, 12:41 pm
  17. Ya..La..semua jadi prihatin atas kondisi ekonomi sekarang. Semua menjadi sensitif dan untuk semua perusahaan personalialah yang punya tugas ‘psikologi’ untuk menghadapi para karyawan. Bukan atasan.
    Semangat..!

    Posted by p u a k | December 20, 2008, 1:30 pm
  18. emang suse jadi seorang pegawai, biasa di gencet atasan.
    kayaknya dimanapun bagian manajemen/ HRD ditakdirkan jadi musuh oleh karyawan kebanyakan.
    mereka seolah gak mau tau, persoalan sebenarnya.
    karena terancam kenyamanan-nya selama ini, jadi mereka
    membabi buta menumpahkan kekesalan.
    sabar ya Jeung, badai pasti berlalu. *soktahu.com*

    SENYUM-SENYUM πŸ™‚

    Posted by septarius | December 20, 2008, 2:39 pm
  19. hmm…….photonya cantik ,jeung.
    senang rasanya memiliki sahabat yang selalu merespon penampilannya sendiri.
    salam hangat selalu
    katakan pada mamah jeunglala.Met hari ibu,ya

    Posted by bluethunderheart | December 20, 2008, 2:40 pm
  20. La, kok sempat-sempatnya sebelum menangis foto dulu?
    *heran?.. masih heran… tetap heran*

    ##

    Lala, apakah pihak manajemen perusahaan/pimpinan di kantor Lala tidak menyampaikan langsung secara terbuka pada karyawan? Sebab perubahan dalam menghadapi krisis ini sangat sensitif dan perlu dikomunikasikan dengan baik.

    Maaf, bertanya demikian, karena jika pimpinan yang menyampaikan langsung, maka beban yang Lala hadapi ini tak perlu terjadi.

    Tetap semangat La.

    # Mbak, maksudnya, photo itu diambil pas pagi-pagi… dan kejadian Bunda nangis itu jam lima lebih, menjelang jam pulang kantor di mana kami berdua harus mengurusi satu mobil yang akhirnya bermasalah… Bukan sempet-sempetin photo dulu sebelum nangis.. itu sih aku juga bakal heran.. narsisnya akut bener.. hehehehe….

    # Bos sudah melakukan apa yang beliau bisa lakukan. Sudah dibahas di meeting bahkan personal approach. Tapi tetap saja, mereka lebih leluasa untuk marah pada aku dan Bunda. Sampai kemarin itu, kami berdua masih pingin meng-handle sendiri. Entah kalau sudah semakin parah; memang nggak ada jalan lain selain bilang sama Bos kalau kami butuh bantuannya… πŸ™‚
    Thanks for the concern, Mbak…

    Posted by Yoga | December 20, 2008, 3:59 pm
  21. Jeung…biasanya kalo mama lagi nangis diriku cuman dateng and meluk beliau dalam diam…habis itu mama akan senyum lagi sama aku dan bilang….sana mandi gak malu apa meluk mama tapi blom mandi….huhehehehehe *kebetulan memang blom mandi pas meluknya* hihihihihihi…

    salam sayang buat mama kamu ya…cantik bgt deh la, kok lebih cantik mamanya daripada anaknya…*Kabur sebelum dicubit lala* huhehehehehe

    Posted by Ria | December 20, 2008, 4:08 pm
  22. uah .. itu poto mamanya yay .. hhu
    sama cantiknya πŸ™‚

    Posted by agunk agriza | December 20, 2008, 9:15 pm
  23. Akupun jadi merenung juga. Di kantin hampir tiap hari ada pembicaraan yang kalau aku mendekat , diskusinya jadi bubar. Tapi ada enam pejabat kepala seksi dan kepala sub-bagian, dan ada dua belas pejabat kepala sub-seksi dan kepala urusan, empat puluh koordinator dan staf senior/sarjana, delapan belas staf biasa, dua hansip dan dua pesuruh, masak semua mempergunjingkan aku ? Apalagi kalau kebijakan yang dijalankan bukan mau-mauku, itu kan amanat undang-undang ? Apapun dia jalankan saja, asal dasarnya niat baik. Ingat, niat baik bagi kebenaran.

    Posted by sonyssk | December 20, 2008, 11:05 pm
  24. hai,sist…..perlu bantuan dariku buat ngasih ‘seminar’ buat si itu ? πŸ˜€

    Posted by goenoeng | December 20, 2008, 11:09 pm
  25. it nerely a plain ungratefull soul and that about it. They get carry away n fail to notice nor realise that the survival of the business is crucial in this turbulance and global econoy meltdown…else their sorry else would went kaput as well.
    You make hem aware of this.A lot of people lost the jobs due to the shrinking demand from the US and the Europe.

    Posted by ipv6 | December 21, 2008, 5:18 am
  26. ah, menyentuh sekali… salam hangat untuk Bunda sang jaket pelindungmu, Mba…

    kalian berdua beruntung bisa bersama di kantor tersebut πŸ™‚
    berjuang terus Mba Lala… wish u both all the best -japs-

    Posted by japspress | December 21, 2008, 9:33 am
  27. Tergantung kita berdirinya dimana… kalo di cina mereka adem ayem aja tuh, soalnya mereka udah over produktip, hingga mesti ngekspor melulu, jadi gak butuh kebutuhan amerika… Mindset kerajaan Cina itu bagus… Independen… haha

    Posted by Raffaell | December 21, 2008, 5:16 pm
  28. emg susye klo cuma menjadi penyambung mulut dr pihak manajemen perusahaan, tp salut buat jeunglala. Klo ak di posisi jeung, ak bakal speak up apa yg ada di pikiran jeunglala itu lho. walopun nyakitin tp itu kenyataan yg hrs dihadapi “org itu”

    Posted by ipi | December 21, 2008, 7:22 pm
  29. mbakku,,,,,,,,,,
    thx ya…

    Posted by Myryani | December 22, 2008, 12:40 am
  30. Petuah dari Yessy itu betul, La…
    Boleh di-copy paste.
    Intinya, dalam krisis saat ini, bukan saatnya untuk memuaskan ego. Masih untung mereka nggak dipecat. Kalo sekedar fasilitas turun, ya risiko hidup.
    Dan memang susah jadi bember atau baby sitter.
    Aku juga pernah mengalaminya.
    Yang nggak enak pastinya adalah saat kita harus meneruskan surat sakti kepada mereka.
    ‘Jangan terlalu diambil hati. Kita kan hanya menjalankan tugas”.

    Posted by heryazwan | December 22, 2008, 9:00 am
  31. lucu dan kreatif banget tulisannya.. aku suka.. baru pertama mampir kesini, pasti bakal sering mampir.. ^^

    Posted by Gabby | December 22, 2008, 11:41 pm
  32. iya ni mbak..masa2 krisis begini, semuwa pada deg2an, mikir2 kapan waktunya kena PHK. apa lagi pekerja lepas seperti saya ini mbak.. untung saya punya atasan yang baik hati yg siap bantuin saya kalo alarm PHK udah teriak2 ditelinga saya ^_^
    apa apa aja ya..apa2 aja yg ada dan terjadi disekitar mbak lala pasti bisa jadi tulisan yang sangat luar biasa ^_^

    Posted by INDAH REPHI | December 23, 2008, 7:12 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: