you're reading...
daily's blings

The Wedding & I

That night, I was lying in my best friend’s bed.
Just lied there.
And listened.
…iya, deh, iya… mencuri dengar… nggak usah ngotot gitu deh.. hehe)

Dia sedang bercakap-cakap dengan sang Mamah, membicarakan ini itu soal pernikahannya yang akan digelar sebentar lagi. Berapa jumlah tamu yang akan diundang, warna apa yang kelak akan menjadi dress code di gedung, bagaimana tatanan rambut dan jenis kebaya model apa yang akan dikenakan di pelaminan, sampai hal-hal detil seperti isi seserahan yang musti ada: ketan yang katanya sebagai lambang agar pernikahannya lengket terus ...kenapa harus ketan ya? Kalau lem tikus, gimana? (Lala, emang elu mau kalau dikasih seserahan yang isinya lem tikus??? hehe)… pakaian dalam, kosmetik, sepatu… Ya, yang orang Jawa bilang Sak Pengadek alias sekujur tubuh, mulai dari ujung folikel rambut sampai jempol kaki.

Intinya cuman satu: RIBET.

Saya melihat wajah Sahabat yang mulai nano-nano; tidak jelas antara excited juga bingung. Maklum, ini kan pernikahannya yang pertama… err… maksud lo, La??? jadi ya tentu saja ini jauh lebih membingungkan daripada merancang pesta ulang tahun. Every thing has to be perfect. Every single thing…!

…she hopes that it will only happen once in her life time… no revision… no chance to re-do the reception… well, siapa yang tidak?

Pembicaraan Ibu-Anak itu berlangsung cukup alot dan saya bengong saja sendirian di atas kasur, membaca-baca majalah sampai mati gaya. Mau memberikan ide, kok nantinya terkesan saya yang lebih excited daripada dia… hahaha.. namanya juga sudah kebelet, boo… Jadi saya memilih diam… danΒ  ya, masih mati gaya.

Akhirnya pembicaraan itu usai juga karena Sahabat saya bilang, “Udah deh, Ma… nanti aja dipikirin lagi… Aku ngantuk…” Lalu Mamah pun menggeleng-gelengkan kepala sambil berlalu dari kamar Sahabat sambil tersenyum karena puteri cantiknya ini sering bertingkah ajaib menjelang pernikahannya.

“Ribet amat, sih, Mbak…” tanya saya saat Sahabat mulai bersiap untuk tidur, setelah membersihkan wajah dan mencuci kaki di kamar mandi.

“He-eh, nih, Jeung. Ribet. Pusing banget, jadinya,” kata Sahabat sembari menata bantal. “Milih undangan, milih suvenir yang fungsional tapi murah, milih gedung yang bagus dan nggak susah aksesnya, milih cateringnya… Ah, ribet, ribet, ribet…”

“Iya, ya… Waktu Mbak Pit nikah aja, aku juga ikutan ribet, lho.. Apalagi yang mau nikah, ya…”

“Beugh, bener banget, Jeung… amit-amit, deh, ribetnya… Padahal kalau bisa nih, aku pinginnya yang sederhana aja. Nggak usah pesta-pestaan segala. Lamaran, akad nikah, makan-makan sekeluarga… beres.”

“Nah, kenapa nggak gitu aja, Mbak? Aku juga nantinya pingin begitu…”

“Masalahnya, si Mamah dan Papah kan punya banyak relasi, Jeung… Nggak enak juga kalau nggak dirayain di gedung.. Gitu, alesannya…”

Saya manggut-manggut sambil dalam hati mencoba menghitung kira-kira ada berapa orang relasi Papi yang bisa ngasih angpau banyak.. kan lumayan buat modal awal.. hehehe

“Berapa orang sih, Mbak, yang diundang? Bakalan banyak ya, kayaknya… Kan Mamah aktif di organisasi gitu…”

“Mmm… ada kali seribu orang , Jeung…”

…SERIBU??? Orang semua apa pake kucing segala?? “Seribu, Mbak? Banyak bener…”

“Lho, itu sedikit, Jeung. Masih banyak yang belum diundang, tuh. Kalau seandainya punya uang banyak, bakalan ngundang lebih banyak lagi… Segini aja udah habis banyak, apalagi nambah undangan…”

“Memangnya habis berapa, sih, Mbak?”
sambil mengira-ira.. seribu orang dikali beberapa puluh ribu artinya… mmm….

“Kalau catering yang buat di gedung itu habisnya sekitar 60 jutaan deh…”

Ups. ENAM PULUH JUTA??? Buat MAKAN aja???

“Terus… catering buat acara midodareni dan akad nikah… sewa baju pengantin… make-up… undangan… souvenirs…. apa lagi yaa… pokoknya total-total bisa hampir 80 juta deh, Jeung…”

“…Jeung?”

“…lho, Jeung? Kok kamu pingsan sih…..”

Hehe, yang terakhir itu hiperbolis, deng.. Nggak mungkin lah saya pingsan. Saya memiliki rasa PERIKETEMANAN yang cukup boleh dibanggakan sehingga nggak ingin merepotkan dia kalau harus membopong-bopong saya segala πŸ™‚

Yang benar adalah ini:

“Kenapa, Jeung? Kok sampai kayak kehilangan kata-kata gitu, sih?”

Nah… ini yang benar.
Saya memang seperti kehilangan semua perbendaharaan kata-kata saya si Bawel bisa kehilangan kata-kata? Ah, kayaknya obat-nya lupa diminum, deh πŸ™‚ Saya seolah tak bisa berbicara apa-apa lagi dan tak punya kuasa untuk sekedar berkata… “Eighty millions for a wedding ceremony? Eighty dam*ed millions? Come on… It’s a lot of money atau aku-nya aja yang terlalu kere?”

Benar. Lidah saya terasa kelu. Seluruh kata-kata seolah berhenti di leher saja dan tak bisa termuntahkan keluar. Saya hanya bisa bengong memandang wajah Sahabat yang kemudian bilang, “Wanna say something?”

Mmm… “Do you really wanna hear?
Sahabat mengangguk dan saya mulai berbicara…

Buat saya, kemewahan gedung tempat resepsi itu digelar, enaknya makanan yang disajikan, taburan pertama mahal di sepasang cincin kawin, sampai meriahnya acara yang berlangsung… bukanlah bagian yang paling esensi dari sebuah pernikahan.Β  Tidak penting, malah. Semua itu tidak ada korelasi sama sekali terhadap kebahagiaan pernikahan.

kalau makannya sate ayam, pernikahan bakal langgeng sampai dua tahun pertama.
…kalau makan kambing guling… bisa sampai lima tahunan.
Kalau pingin lama, padu padankan sate ayam, kambing guling, dimsum, spageti, dan bistik sirloin..

Darling, I want a marriage.
Not a wedding.

Justru life after wedding party yang sangat penting; bagaimana menjadi Istri yang baik, Ibu yang sempurna buatΒ  Talisha dan Gabriel; dua bidadari saya πŸ™‚ , menjaga keseimbangan antara karir dan kodrat saya sebagai perempuan, menjaga perkawinan agar selalu lekat seperti ketan nggak mau dibilang seperti lem tikus, soalnya biarpun lengket, tapi rasanya kan enak.. Beda kalau lem tikus… (lah, emang lu pernah makan lem tikus ya, La? hihihi)… Dan bukan pesta meriah yang digelar satu malam saja tapi menghabiskan uang yang lebih pantas dijadikan uang muka pembelian rumah..

faktor ke-kere-an saya sangat mendasari pemikiran saya ini… ya, maklum aja, delapan puluh juta duit dari mane? Bantuin pak Suhadak aja cuman pakai doa, kok ini malah nekat bikin pesta segala…

Jujur saja, saya memang pernah bermimpi untuk memiliki pesta pernikahan diΒ  kebun atau pool side, a private party with limited guests, dengan hidangan ala barbecue party, dengan iringan live music yang so jazzy, di mana saya tidak duduk di pelaminan tapi berbaur dengan keluarga dan sahabat, dengan gaun selutut model sederhana bermotif bunga-bunga warna pink dan suami dengan celana jeans+kemeja putih yang digulung sesikut … ah, my picture perfect of a wedding party

Tapi jika itu tidak memungkinkan, saya akan merasa bahagia hanya dengan akad nikah dan makan-makan sederhana di rumah dengan keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Yang terpenting adalah I am marrying my man… my wonderful man… and soon, I will be a great mother for his adorable children… with the hope, that we will be together and stronger in stormy days…

Itu saja.
Bukan pernikahan mahal. Bukan berlian segedhe upil yang harganya jutaan. Bukan ‘menraktir makan’ ribuan orang sampai habis enam puluh jutaan.
Tapi dengan siapa saya akan menikah…
dan juga, untuk apa saya menikah.

And this is simply.. because I think… that kind amount of money…Β  would be more useful for something… mmm… or someone else…

***

Sahabat hanya tersenyum. Dia bilang, “Memang, Jeung… Tapi gimana lagi? Ini sudah permintaan Mamah… Malah kamu tau nggak sih, Jeung… Pas aku nanya Mamah kita punya uang segitu, nggak… Eh, Mamah bilang… Nggak punya. Nah lho… Pusing nggak sih?”

kalau saya bisa pingsan, mungkin saya pingsan deh saat itu…

“Aku sudah bilang Mamah, kalau memang nggak punya uang, ya sudah deh, nggak usah pesta-pestaan segala. Akad nikah cukup. Aku juga bilang, awas aja kalau sampai jual mobilku segala…”

ah… semakin nggak masuk akal…

“Mamah sih cuek-cuek aja. Kata Mamah, kalau niatnya baik, InsyaAllah ada rejeki. Entah, bagaimana caranya…”

…daripada bingung, kenapa harus nekat bikin pesta, ya, Mah?

“Ah udah deh, Jeung. Aku ngantuk banget, nih. Besok kita kan mau ke tempat catering itu… Mau ngincipin set menu…

Saya masih diam saja. Saya melihat Sahabat telah menarik selimutnya dan mulai memejamkan mata, jadi percuma saja saya ngotot ingin bicara panjang lebar kalau dia mengantuk. Dan ya… juga karena apapun yang keluar dari bibir saya itu tidak akan pernah mengubah apa yang sudah Sahabat dan keluarganya putuskan.

The wedding party will be held in February, 2008.
And it’s a deal. Period.

***

Esok paginya, saya ikut Sahabat dan Mamah pergi ke sebuah gedung pernikahan untuk mencicipi masakan catering yang kebetulan tengah menghandle acara di sana. Tidak ada yang berubah; saya masih terbelalak takjub dengan harga yang tertulis begitu jelas di brosur paket pernikahan itu. Masih dengan sinisnya memikirkan sejumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam sekejab hanya untuk sup krim, bistik, dimsum, es krim, kakap asam manis, dan beberapa jenis masakan lagi yang dalam beberapa hari berikutnya sudah hilang di dalam septic tank. meskipun tetap saja, kesinisan ini tidak berpengaruh signifikan terhadap nafsu saya yang membara saat mencicipi semua jenis masakan yang tersaji di sana… hihihihi… Bermenit-menit di sana, saya masih keukeuh dengan pemikiran itu, sampai akhirnya… saya melihat mereka…

The Happy Couple.
Pengantin Perempuan, dengan kebaya warna coklat keemasan, rambut disanggul tinggi, dengan sapuan make up yang membuatnya tampak sangat cantik..
Pengantin Laki-Laki, dengan baju beskap berwarna senada dengan sarung batik dan selop, dan rambut disisir rapi…
Mereka berjalan sedikit tergesa dari ruang rias, di belakang gedung, menuju sebuah mobil sedan mewah yang akan mengantar mereka sampai ke pintu depan gedung… yang sekalipun tergesa, tapi senyum mereka masih mengembang di wajah mereka yang berbinar dengan cerah… as if they live in their own world, where only happiness would stay there.. and nothing else.

Hm…
There was a little something inside my heart…

Melihat pasangan tersebut… The Happy Couple… yang tersenyum gembira…
Melihat wajah Mamah… The Happy Mother… yang begitu bahagia memikirkan pesta pernikahan puteri terakhirnya…
Melihat wajah Sahabat… The (I wish) Happy Bride Wannabe… yang begitu antusias melihat jenis kebaya yang akan dipakainya di pelaminan nanti…
Dan melihat pasangan-pasangan calon pengantin lain, yang datang tidak lama kemudian, untuk mencicipi makanan dan merancang hari bahagia mereka… and yes, they were all smiling….

Lalu saya menyadari…

That I have no idea how it feels to be a woman who will get married with someone she really loves..
That I have no idea how excited is a mother who wants a perfect wedding party, for her perfect daughter..
I really, really have no idea. Not at all.
dan mungkin saja kelak saya akan menjadi calon pengantin perempuan yang paling heboh sedunia! πŸ™‚

Hm…

Jadi sudah.
Diam saja. No more cheap talks or even clever ones.
Saya berhenti bilang, it’s useless. It’s worth for something else. What really matter is the life after marriage, not the wedding.. and bla bla bla.
Because I did only say this, with smile…
“Mbak, abis ini kita jadi nyari baju buat lamaran minggu depan, kan?”

andΒ  you’re right.
Later that day,
I was the happiest and busiest Bridesmaid in the whole universe… πŸ™‚

Hey you, Bride Wannabe!
Doain aku biarΒ  langsingan dikit bulan Februari nanti, ya.. πŸ™‚

About Lala Purwono

Published writer (or used to be, darn!). A wife. A mom. A friend that you can always count on.

Discussion

52 thoughts on “The Wedding & I

  1. ah resepsi itu emang cuma acara orang tua La, bukan acara si pengantennya…
    *been there and done that*

    Banyak yang bilang gitu, Chi… Dan aku inget, waktu Mbak Pit menikah, justru Mami yang heboh, sementara pengantinnya biasa aja.. πŸ™‚ Ah, bener.. bener… nikah itu hajatan ortu, bukan kita-nya ya..

    Posted by chic | December 10, 2008, 4:06 pm
  2. gileeee buat pesta doank ampe 80 jetii mending buat modal entar..
    menurut gue sih.. pernikahan itu intinya bukan dari mewahnya pesta.. tapi.. dari apa yah.. gue juga bingung.. yang pastinya kemewahan pesta engga menjamin…..

    Merinding, ya?
    Samaaaa…. πŸ™‚
    Tapi yaa.. siapa tahu besok dapat undian berhadiah 10 M dan saya bisa bikin pesta sesuai dengan impian saya?
    (amin, amin, amin…) ^_^

    Jangan bingung ah… kita lihat saja nanti.. yuuukkk… πŸ™‚

    Posted by FaNZ | December 10, 2008, 4:09 pm
  3. Di mana-mana pesta itu kehendak orangtua biasanya.
    Pikiran orangtua,”Masa anak kawin nggak dipestain. Nanti malah menimbulkan omongan yang tidak sedap”.
    Kalau ada budget sih nggak masalah, tapi kalau sampe ngutang sih sudah keterlaluan. Pun, angpao dari wedding party biasanya tidak menutup biaya yang keluar, kecuali kalau orangtuanya pejabat teras yang sedang aktif.
    Hidayat Nurwahid aja yang ketua MPR, angpaonya jauh dari nutup.
    Makanya, pikirin mateng2 sebelum buat wedding party.
    Kalkulasi dengan teliti.
    Kalau proyeksi yang ngasih angpao nggak masuk, mending pesta kecil2an di kebon bersama keluarga dekat, atau mungkin di dalam mesjid, biar irit pelaminan…
    Hi hi…

    Lha, kalau Abang dulu gimana yaa? Cerita dong, Bang.. πŸ™‚
    Aku sih tergantung proyek nulis dari Grafindo aja deh… Setelah itu baru aku bisa mulai kalkulasi…

    …hunting calon suami dulu kaleee!!! hehe

    Posted by heryazwan | December 10, 2008, 4:25 pm
  4. ah…. untung orang tuaku ngga cerewet
    untung mertuaku mau “tunduk” pada “perintah” menantunya…
    sehingga pestanya bisa murmer deh.(ssst, tunggu aja postingannya hihihi)
    EM

    Wah..
    beda cerita nih kalau menantu lebih galak daripada mertua.. hehehe….
    Kasih tau tips-tipsnya dong, Sis, gimana caranya bikin pesta pernikahan yang murmer itu.

    … emang elu uda punya calon suami, La? Ntar kalau dikasih tau sekarang juga percuma, bakal lupa jugaaa… hihihihi…

    Posted by Ikkyu_san | December 10, 2008, 4:35 pm
  5. Jadi ikut degdegan nie membacanya, ya namanya juga masih lajang khan pasti ujung2nya pengen kesana juga.Mendebarkan sekaligus mengasikkan kaleee ya πŸ˜€

    Nah lho. Deg-degannya kenapa nih? Karena baca tulisan saya apa karena liat photo yang di kiri atas itu? hihihi…
    Bener.. bener.. Takut, tapi pingin… Ogah, tapi mau… Makanya, dijalanin aja deh… Ntar juga ketauan, sampai sejauh apa kita pingin mengadakan resepsi atau simple wedding saja…

    Posted by departa | December 10, 2008, 4:54 pm
  6. hari yang paling mebahagiakan bagi orang tua mungkin ketika mengantar anak-nya menuju gerbang pernikahan…dimana di gerbang inilah si ayah dan Ibu merelakan anaknya untuk mengarungi hidup dengan seseorang lain bukan mereka, dan pastinya mereka menginginkan yg terbaik sampai disana…so jeung…kapan dirimu ke gerbang itu…jng lupa ngundang ya πŸ˜‰

    Kata si Mamah juga gitu, Ria..
    Ini adalah satu prosesi yang dianggap paling istimewa setelah melahirkan.. πŸ™‚ Rasanya bisa campur aduk; ada sedih, ada senang, ada ketakutan…
    Makanya, banyak orang tua yang mengadakan pesta dengan budget tinggi ini.. Bukan untuk kenapa-kenapa… It’s just because they love their children… πŸ™‚

    Kapan diriku ke gerbang itu?
    Gerbang yang mana?
    Yang ada Mas-Mas jualan batagor itu ya? hihihihi…

    Ah, kalau saya menikah… semua sahabat blogger boleh dateng semua…… dengan catatan: angpaunya bisa buat ongkos honey moon ke London! hehehe…

    Posted by Ria | December 10, 2008, 5:01 pm
  7. ehm…ribet juga ya mo married………

    Beugh, ribet benel.. πŸ™‚
    Tapi kalau pernikahan kita sendiri, kayaknya biar ribet juga doyan banget ngejalaninnya.. hihihi…

    Posted by vie | December 10, 2008, 5:01 pm
  8. mbak La, ribet jg ya mbak mu merit…
    saya jg ngerasaiin ribetnya… msh taon depan sih mbak, insyaallah, tp keluarga udah cas cis cus pengen begini pengen begitu, plus calon saya yg juga ikut2an bawel “ndut, temen2 ortu kita banyak, temen kita jg banyak..masa sih ga diundang..tar pake adat jawa ya..”.
    saya bilang, “bunda, kebayanya satu cukup ya?”
    bunda jawab, “ga bs dong minimal kebayanya 7”.
    ini yg mw merit ibunya apa anaknya ya…saya pengen pernikahan yang sederhana…tp kadang pemikiran keluarga ga sesederhana pemikiran saya.

    aiih..jd curhaat ni mbaaak … πŸ˜€

    He eh, nih. Memang ribet ya? Nggak kebayang deh sampai punya kebaya 7 helai.. Dipakenya kapan aja ya, Ndah… Apa jangan-jangan, Indah mau ngadain pesta resepsi tujuh hari tujuh malem? hihihi…

    Curhat? Nggak apa-apa, Ndah… Malah dianjurkan, soalnya saya jadi dapet ide baru buat nulis.. *kedip-kedip*
    Semoga semuanya lancar ya, Say…

    Posted by INDAH REPHI | December 10, 2008, 5:50 pm
  9. wah 80an jetiiiiiii………..? apa endak bisa lebih murah jeung? dana saya engga sampai segitu…..? halah kok malah saya yang nawar…… hehehehe…..

    hehehe… mending nikahnya biasa saja dan dananya ditabung buat beli rumah….. πŸ˜€

    Hehe…
    Ketauan banget kalau biasa nawar-nawar di pasar.. hehehehe…
    Ditabung buat beli rumah ya…
    Mau dong dibeliin.. hihihi…

    Posted by han han | December 10, 2008, 7:28 pm
  10. Lala…

    PEsta biasanya hajat orangtua.

    karena kita hanya akan menajdi pasangan yang di pajang di pelaminan, menerima salaman dan pasang senyuman.

    bukan masalah di pestanya
    tapi sesudah pesta..

    jeung jeung jeung ….
    Welcome to the real marriage life..heheheh

    Sesudah pesta yang dimaksud tuh yang mana ya, Say..
    tolong lebih spesifik lagi.. hihihi…

    Nggak kebayang deh, betapa capeknya berdiri di pelaminan sampai berjam-jam, terus salam2an.. boleh pake stuntman ga ya.. hehe
    Makanya gua pingin yang konsep pesta kebun itu Say.. biar lebih nyantei.. πŸ™‚

    Posted by yessymuchtar | December 10, 2008, 9:25 pm
  11. Mbak Yessy ada benarnya juga
    yang paling heboh, justru
    setelah pesta pernikahan usai….hmmm:)
    tapi tetap saja menanti
    dan menggelar pesta itu
    tetap butuh persiapan pengantin dan ortu
    tapi….yg pasti pesta pasti berakhir 😦

    Nah ya.. Abang Agus mikir apa tuh.. sampai hmmm-hmmm segala.. hihi..
    Benar, biar pun begitu, tetap saja someday somehow pingin ngerasain juga… πŸ™‚
    Meskipun harus tahu benar, bahwa segala sesuatu itu ada masa kadaluarsanya, termasuk pesta pernikahan.. termasuk gemerlap acara.. termasuk euforia karena akhirnya saya laku juga.. ^_^

    Posted by mikekono | December 10, 2008, 9:49 pm
  12. wow ngak membayangkan duit sebanyak itu buat nikah… hmm fikir2 deh..
    apalagi di sulsel, laki2 harus sedia duit banyak buat ngelamar anak gadis orang… hmm…
    anyway kita jalani apa adanya, kalo ortu punya duit why not.
    jadi berkaca pernikahan sodaraku, yang sediain duit dan sebagianya sodaraku, keluargaku cuman ikut2an, maklum keluarga laki2 sih πŸ˜€ hehehe

    Hehe.. bukan maksudnya untuk menakut-nakuti teman lho… Menikah bisa murah, tergantung bagaimana kita menginginkan bagaimana pesta pernikahan itu sendiri. Dibikin mewah, ya memang harus ada budget ekstra. Tapi dibikin dengan lebih sederhana, juga pasti bisa lah.. πŸ™‚ Memangnya di Sulsel kenapa tuh? Bagi dong ceritanya…

    Dulu Papi saya sempat bilang kalau nanti menikah, budgetnya nggak boleh lebih dari sekian puluh juta…
    Tapi saya bilang, duitnya saya pakai buat uang muka rumah aja deh.. Nggak usah pesta2an segala.. eman-eman…
    Itu dulu.. Saat Papi belum pensiun.. Kalau nanti menikah, paling ya modal sendiri.. hehehe…

    Posted by aRuL | December 11, 2008, 1:28 am
  13. Kadang aku berpikir, ketika kita menikah sebenarnya kita menikahkan orang tua kita karena memestakan mereka.

    Dan ketika kita tua nanti, kita akan menuntut anak kita untuk memestakan kita. Ya! Mereka gantian menikahkan kita πŸ™‚

    Jadi untuk apa menikah ?
    Mending nyate tho ketimbang beli kambingnya! πŸ™‚

    Hihihi…
    Komentarmu, Don.. Komentarmu… πŸ˜€
    Tapi kenapa kamu beli kambingnya dan nggak nyate aja, hayooowww….

    Posted by Donny Verdian | December 11, 2008, 5:33 am
  14. *colek-colek*
    2009 sebentar lagi nih.. rancang dari skr yuuukk wedding party kita La… πŸ˜† hahaha… *cari temen mumpung topiknya ttg acara nikahan*
    taun depan kan ada 09 09 09 nih Jeung… πŸ˜‰ *teteuup ngomporin..* hihi…

    ya dah… didoain bulan februari ntar udah langsing yaa… πŸ˜€
    (maka mulailah mengganti ‘minuman teh’ nya dengan ‘teh hijau’… ) πŸ˜€

    *pulang..*

    Hihihi…
    09 09 09… kalau masih lewat… ya 10 10 10… kalau masih lewat lagi ya 11 11 11…. kalau belum juga nemu jodoh, ya 12 12 12… Nah… itu yang terakhir tuh, soalnya di kalender Masehi cuman sampai bulan 12, lah terus piye, dong… hehehe….

    Aku mau mulai serius mikirin nikah umur 30 aja, ah…
    Tapi kalau udah ada yang mau sama aku dalam waktu dekat, dan maksa pengen jadi suamiku.. (hehe, emang ada gitu La??) ya apa boleh buat.. boleh dah aku nikah sebelum 09 09 09… hehehe….

    *aduh, Yun.. doamu bener2 aku amin-in deh…… makasih banget ya… * πŸ˜€

    Posted by Yuyun | December 11, 2008, 7:08 am
  15. udah banyak yang komentar bagus2, dan nyaris sama, pesta adalah keinginan orang tua, sang pengantin cuma pelakonnya πŸ˜€

    Aku orang Batak, yang terkenal ribet dengan upacara adat pernikahannya, untungnya ortuku demokratis, pernikahan yang simpel pun jadi pilihan πŸ™‚

    Kapan nikah, La ? πŸ˜€ *kabur*

    Wah, sungguh beruntung dirimu, Mbaaakkk… Punya orangtua demokratis memang sungguh-sungguh harus disyukuri πŸ™‚
    Alhamdulillah Papi juga begitu… Mungkin juga karena sudah pensiun kali yaa, jadi duitnya nggak sebanyak dulu.. hehehe…

    Posted by IndahJuli | December 11, 2008, 7:59 am
  16. Apakah ini tanda tandanya… mulai nulis tentang Wedding Party… berati sinyaleman saya benar….?! he..he..he…
    Eits… jangan cemberut dulu dong… nanti “Imutnya” malah hilang…. foto di atas maksud saya… imut banget…

    Tanda-tanda apa sih, Bang…
    Ah, si Abang ini mulai jadi paranormal deh sekarang.. πŸ˜€
    Tenang Bang.. Stok imut-ku masih terlampau banyak… jadi cemberut sebentar nggak akan mengurangi ke-imut-anku dengan signifikan.. hihihi…

    Posted by michaelsiregar | December 11, 2008, 8:17 am
  17. ibunya bcl aza ampe kebelit utang gara2 buat biaya nikah anaknya *inpotenmen mode on*
    Klo memang ada uang berlebih, wajar aza ngerayain besar2an. Toh pernikahan kan sekali seumur hidup..itu yg harus dipegang, jgn ngerayain gede2an lantas berapa tahun kemudian lgsg cerai hehehe
    So, sahabat jeung lala…semoga persiapan nikahnya berjalan lancar
    n happy marriage in advance πŸ™‚

    BCL yang kayaaaaa itu kan??? Sampe ngutang segalaaaa??
    Oalah…
    Bener banget, Pi…
    Daripada masalah hutang kelak malah jadi bahan berantem, mendingan dari awal sederhana aja kali yaa.. Maksudnya nggak usah maksain kalau nggak ada..

    Ntar salamnya aku sampein ya, Pi.. thanks banget…

    Posted by ipi | December 11, 2008, 8:34 am
  18. terlalu panjang postingannya bagi saya yang autis..

    kapan nih pengumuman cerpen gratisnya? atau udah yah?

    Koko…
    Pengumumannya belum… Sebentar lagi… Hari Sabtu/Minggu πŸ™‚

    Posted by akokow | December 11, 2008, 8:44 am
  19. memang kecenderung seperti sering terjadi, mendahulukan sunnahnya daripada yang wajib, kalo saja kita mau merenung sejenak tentang kaidah pemaknaan yang sesungguhnya tanpa harus kehilangan martabat, gengsi dan sebagainya…mungkin bisa lebih bermakna. Tapi, ya itulah…… wiswman say: sometimes we makes a mistakes and realize then…….(kadang kita membuat kesalahan dan baru nyadar kemudian!). manusiawi…..

    Posted by jorumongso | December 11, 2008, 9:30 am
  20. Gue nyadar sekali menikah bukan soal pesta hajatan besar itu……kata orang bijak menikah adalah tahap awal proses spiritual penyempurnaan diri 2 anak manusia.

    Posted by m"Beo | December 11, 2008, 9:37 am
  21. TuL bgt teh… πŸ˜€
    Resepsi pernikahan butuh biaya yang buanyakkk benget…
    27 Dec ini kakak sepupu cowokku juga mau merriage.
    Kakak kandung co Q bulan July 2009 ini…
    Serem banget waktu diminta bantuan cari perbandingan harga…
    Kebayangnya…Duh, aQ besok gemana ya? 😦
    Teh, aQ coba-coba ikut test friend…hik…hasilnya jelek…
    Seru juga…
    Aq ikut-ikut yach…he… πŸ˜‰ thnk’s before…
    cheers..

    Posted by tyan | December 11, 2008, 10:21 am
  22. La, aku aja kalau masih mikirin mau mantu (belum tahu kapan, mungkin masih 3-4 tahun lagi), udah pusing dari sekarang. Dulu, untungnya karena mendadak (Lis cuma punya waktu cuti 3 minggu…dan jika mesti cuti lagi uang lebih terhambur)….pusingnya tujuh keliling, tapi kan cuma 2 minggu, setelah itu selesai….dan kelenger kecapekan.

    Yang menjadi problem adalah gabungan kemauan pasangan pengantin dan kedua ortu…ini kalau disatukan memang jadi repot. Mungkin enaknya kayak zaman dulu, acara di pengantin putri, seminggu lagi di pengantin laki-laki. Urusan pesta terserah masing-masing…tapi anak sekarang kan ga mau cape, maunya sekaligus repotnya.

    Aku dulu, biar ga pusing dan repot (padahal anakku laki-laki), sewa gedung, acara akad nikah dan resepsi di gedung itu…dan untuk memudahkan komunikasi, panitia dijadikan satu tidur di wisma….jadi rumah bersih. Tapi apa yang terjadi? Teman2 si bungsu yang rata2 baru lulus atau mahasiswa terakhir ITB, malah keluyuran, nonton film sampai malam…akibatnya saat perias datang, saya (yang ibu pengantin), malah nggedori masing2 kamar membangunkan mereka…entah akhirnya mereka pake mandi apa tidak. Lha cowoknya didandani pake beskap (kalau lihat fotonya lucu..mereka ketawa melulu, dan kayaknya seneng banget), dan ceweknya pakai kebaya dan kain panjang yang di lilit sesuai dengan peran masing-masing (padahal aku ga tahu arti kainnya)….busyet deh.

    Tenang..si bungsu udah membisiki…”Aku nanti sederhana aja bu, mendingan uangnya untuk beli lapie dan kontrak rumah….”

    Posted by edratna | December 11, 2008, 10:45 am
  23. Ayo ndang nikah… ngapain mikirnya nunggu umur 30-an.
    (kompornyala.com)

    Yah terkadang memang keterlaluan yang bikin pesta pernikahan itu.
    Nggak inget orang di luar sana pada kelaparan, kedinginan, jumpalitan nyari rejeki.

    (Eh mbak…mbak tu siapa? Lha wong ini pesta-pesta saya…mbak kok ikut-ikutan…..iri ya???)

    *kabuuur*

    Posted by irna | December 11, 2008, 11:10 am
  24. Mmmm jadi inget bagaimana ribetnya aku dulu
    mempersiapkan
    acara pernikahanku, apalagi ini acara mantu pertama bagi bapakku πŸ™‚ dan bapak orangnya perfect banget jadi semuanya bapak yang atur sampai detilnya πŸ™‚ aku hanya menentukan vendor mana yang aku pilih dan bapak yang seleksi πŸ™‚
    Dan pada

    hari
    pelaksanaannya aku bisa bilang “akhirnya selesai juga”
    Seperti yang udah pernah aku ceritakan kemarin di Murasaki, pada awalnya bokap setuju dengan pesta sederhana tapi…. mmmm beruntung dech sihirku merasuk ke mas bayu jadinya ya semua yang nanggung biaya semua mas bayu πŸ˜€
    AYO kurusin badanmu aunty!!! Tapi JANGAN MINUM OBAT PELANGSING YA!!!AWAS!!!
    Kalo mau kurus mikirin aku aja dech! πŸ™‚
    *lariiiiiii*
    eits balik lagi….
    Mana potonya aunty?? aku tunggu di emailku ya πŸ™‚

    Posted by retie | December 11, 2008, 11:33 am
  25. La …
    Memang urusan beginian rada susah-sudah gampang …
    Besar kecil acara memang bukan ukuran …

    Aku justru ingin menyoroti masalah … undangan …
    ini kalau tidak “careful” bisa menimbulkan masalah …
    Maunya kita berbagi kebahagiaan dengan kerabat sanak saudara dan seluruh handai taulan … akibatnya yang mulanya kita set undangan say untuk 100 orang … tapi ada perasaan gak enak …
    Si Anu diundang masak si Inu tidak diundang …
    Jika si Inu diundang … nanti si Ana juga harus diundang juga ….
    Karena kalau tidak diundang akan tercetus kata-kata “minor” dari yang tidak diundang
    Dan orang tua biasanya meminimalisir … reaksi negatif tersebut untuk menjaga perasaan anak nya …
    Ya pokoknya serba ndak enak gitu …

    Akhirnya jadilah perhelatannya membesar-dan membesar …
    Sehingga perlu Gedung yang besar …
    Perlu hidangan yang banyak pula kan …
    dan ini semua berbanding lurus dengan biaya tentunya …

    So jadi begitulah …
    Langkah pertama we got to be careful untuk menentukan … “Siapa saja yang akan kita undang …”

    Salam saya

    Posted by nh18 | December 11, 2008, 12:40 pm
  26. duh, puyeng palaQ bacanya jeung..hahaha
    setengahnya bkn iri aj..hehe…
    truz..kapan jeung jg ribet2an kayak gitu alias ngurus pernikahan? :mrgreen:
    Smeoga acaranya berjalan sukses…mmmhhh…
    *pengen mode on*

    Posted by sarahtidaksendiri | December 11, 2008, 12:46 pm
  27. Hmmm… emang sering bgt deh kayak gini… kadang ortu suka pake keinginan yang berlebih untuk wedding party anaknya… waktu pesta abang saya, malahan papa sempet bilang inilah saatnya adu gengsi keluarga!!! Sambil bercanda seh, karena begitu ribetnya keluarga besar saya. Tapi gaung kalimat papa begitu nyata!!
    emang selalu begitu kan?? Ortu jadi pada adu gengsi!!! padahal selepas hari itu, kedua keluarga akan jadi ssatu juga!!

    eh.. baca tulisan jeunglala, saya jadi kepikiran novel Marriagable, udah baca belom???

    Posted by ayawjeweltz | December 11, 2008, 1:07 pm
  28. Untung dulu waktu aku nikah nggak ribet banget. Maklum modalnya juga cuma dari royalti yang nggak seberapa… hahaha….! Pestanya juga cuma dari jam 11.00 ampe jam 14.00.
    Jangan-jangan keribetan kayak gini yang bikin sahabatku DM belum juga menikah? (tabik kang :D)

    Posted by Qizink | December 11, 2008, 1:54 pm
  29. kena wedding bisa sampe lebih dari 1 kali ya?

    Posted by Huang | December 11, 2008, 2:03 pm
  30. dri sini ada hal kecil yang bisa kita ambil kesimpulan, kayak na mewah mewah an cenderung di ada in karena ada gengsi yang besar nee.

    segetuw banyak mending di tabung buat modal ntar kalo dah nikah, more usefull is it??

    Posted by dindacute | December 11, 2008, 2:20 pm
  31. upsss….ternyata dimana2 sama ya mbak. Bikin pesta pernikahan itu ribet pfiuhh…

    Posted by cahayadihati | December 11, 2008, 2:44 pm
  32. Hm… banyak hal yang irrasional bisa terjadi dalam urusan begini. Dan konyolnya, menjelang hari H orang2 pada kena Penyakit Darah Tinggi semua, senritif dan gampang konslet..

    Kalo liat anak konglomerat menikah, lebih bingung dan geleng2 kepala.. πŸ™‚

    Tapi sudahlah, menurut saya sih harus ada compromise point yang mempertemukan semua kepentingan. Tapi ottom line nya asal jangan terlalu maksa (mungkin maksa dikit masih tolerable). Jangan sampai buat masalah apalagi sampai berhutang dengan dalih kebahagiaan si anak, apalagi sekedar gengsi orang tua. Itu sih sudah rada keluar jalur… (kalo masih pake pola pikir rasional sih..) πŸ™‚

    Posted by Nug | December 11, 2008, 4:19 pm
  33. Hoahh.. seribet itukah? apa itu karena mencoba menjadikan momen terbaik karena mencoba 1 kali dalam hidup?

    maav gw gak tau menau soal merittt… he..he..

    He eh, nih. Nggak nyangka bakal seribet itu! Pantesan banyak calon pengantin yang stress menjelang pernikahannya.. hehehe…

    Posted by Masenchipz | December 11, 2008, 5:55 pm
  34. jadi keingetan
    dulu pas merit ga modal sedikitpun…
    oiya cuma mas kawin Rp. 12.345,-

    angkanya sih bagus, itu juga menurut saya
    tapi jumlahnya… teuteup
    bikin malu…

    Buat orang Jawa seperti aku, Mas… modalnya memang dari pihak perempuan, ya… Jadi si calon pengantin laki-laki paling hanya menyumbang beberapa saja.. Itupun suka rela.. (tapi kalau kelak aku menikah, aku bakal maksa dia supaya ngasih duit! hihihi)
    Eh, bagus banget ya nominal mas kawinnya..
    Kalau malu, kenapa nggak dilanjutin aja… Rp. 123.456.789… bener deh. kalau yang ini pasti nggak bakal malu.. hahaha….

    Posted by tren di bandung | December 11, 2008, 7:05 pm
  35. hehehe pikiran kita sama La, akad nikah aja sbnrnya udah cukup, yg penting sah-nya, drpd ngambur2in uang..

    masalahnya adalah, ortu dan sanak sodara kita pd protes kl ga dirayain, yaaa gmn ya, aneh aja gitu.. pfffuuhh..

    oh iya La, ada satu cara lg biar ga pusing, nyari suami yg kaya jd kt ga usah urunan keluar uang hahaha *halah dasar matre! :mrgreen:

    He eh, Da. Sepertinya hampir semua calon pengantin bakal mikir gitu deh…
    Tapi saran kamu bener banget, Da..
    Mari cari suami yang kaya raya… hahahaha… (kalau dia kaya, La.. bakal kawinin super model bukan sama bocah sinting kayak elu! hihihi)

    Posted by idawy | December 11, 2008, 7:44 pm
  36. [Saya memiliki rasa PERIKETEMANAN yang cukup boleh dibanggakan sehingga nggak ingin merepotkan dia kalau harus membopong-bopong saya segala…]
    eh, emang ada temanmu yang kuat mbopong kamu, La ? πŸ˜€
    itu ‘baru’ 80 jeti….terus apa komentarmu untuk para seleb yg ngabisin ratusan bahkan milyaran buat wedding mereka ?
    kalo komentarku sih….’asem tenan ! kene golek duit gulung koming, kana malah mbuak duit sa’enak udhel’e…’
    *sekarang giliran kunir asem anget segelas jembung πŸ˜€ *

    Itu dia, Mas Goen…. Karena aku yakin temenku nggak ada yang kuat mbopong aku, makanya aku nggak pingsan.. hehehe…
    Komentarku buat yang habis ratusan juta bahkan miliaran rupiah buat wedding mereka?
    Ya nggak apa-apa….
    Kalau aku sampai nekat bikin dengan budget segitu, itu baru sinting! hehehe…

    Asem tenan?
    Iku mergo ngombe kunir asem Mas.. hahaha…

    Posted by goenoeng | December 11, 2008, 8:48 pm
  37. jadi mbak ku ini kapan nyusul???

    Nyusul kemana, Say? hehehe…
    InsyaAllah, tahun depan… πŸ™‚ *emang ada calonnya, ya? hehe*

    Posted by Myryani | December 11, 2008, 11:18 pm
  38. Hai Lala…nggabung yah…
    mm…Perkawinan itu kan kalo bisa satu kali seumur hidup, makanya biasanya kita berusaha memaknainya…
    buat Orang Tua pesta perkawinan anak-anaknya itu merupakan tanggung jawab terakhir yang dipikul sbg orang tua, wajar jika orang tua inginkan yang terbaik.

    Mbakku yang cantik… Silahkan bergabung.. Akhirnya Datang Juga… (kayak acara di TV ya? hehe)
    Benar sekali, dengan niatan yang hanya sekali seumur hidup, memang banyak cara untuk memaknainya, termasuk menghelat pesta yang paling baik untuk putra putrinya. Yaa… tadinya saya memang sinis, Mbak.. tapi setelah melihat senyum dan binar-binar di wajah Mamah, saya segera teringat bahwa mungkin saja saya juga akan merasa begitu ketika akan menikahkan anak-anak saya kelak… πŸ™‚

    Suwun Mbak…
    Besok kita lanjutkan cekakak cekikik di PTC ya.. πŸ™‚

    Posted by prameswari | December 11, 2008, 11:43 pm
  39. Sepertinya memang pesta pernikahan adalah hajatan orang tua dan biasanya pasangan pengantin akan berfikir seperti Jeung Lala. Sepertinya jika pestanya meriah dan para tamu juga hadir akan membuat semua keluarga bahagia. Semoga pesta pernikahan teman jeung Lala sukses. Thanks

    He eh, Mbak Yulis. Kemarin sempat ngobrol dengan teman, kalau itu sama halnya seperti menjamu seorang tamu istimewa yang hadir ke rumah… Pastinya kita pingin memberikan yang terbaik juga… Makasih ya, Mbak Yulis buat doanya…

    Posted by yulism | December 11, 2008, 11:46 pm
  40. Yang penting adalah akad nya dan hidup setelah itu.
    tapi emang kita pinginnya bikin yang wow kan, secara cuma sekali seumur hidup.
    sekarang gimana bikin our wedding day jadi berkesan, tanpa harus menghambur-hamburkan banyak uang disaat banyak orang yang kelaparan kan? πŸ˜‰

    diet!! πŸ˜›

    Sip deh..
    Musti kreatif dan pinter-pinter cari referensi ya, Bek… πŸ™‚

    Posted by deordinaryone | December 12, 2008, 8:47 am
  41. bikijn 2 kali pesta aja La..

    yang itu khan buat ortu, yang ide kamu itu untuk temen2 blogger..

    jadi namanya ” Pesta Lala Blogger ”

    halahhh maksa banget sihhh

    ^_^

    Pesta blogger, ya? hihihi…. apa nggak seharusnya temen-temen blogger yang ngadain pesta nikah buat aku, Ndah? hehehehe…

    Posted by Indah Sitepu | December 12, 2008, 9:54 am
  42. saya kalo bisa pesta di rumah aja, pake t shirt dan jeans, ngundang sodara, teman, temanya casual lah udah oke….

    tapi orangtua belum tentu oke….

    Wah that’s my idea! hehehe…
    Cuman tempatnya aku di kebun, bukan di rumah… πŸ™‚

    Posted by geRrilyawan | December 12, 2008, 10:56 am
  43. waaaa… ceritanya seruu.. menarik.. eh kalo butuh info seputar wedding, dsini mungkin bisa banyak membantu http://wedding-guide.cn
    terima kasih πŸ˜‰

    Wah..
    terimakasih yaa…
    Ntar kalau saya prepare wedding saya sendiri, coba maen-maen ke situ ah.. siapa tahu dengan budget ringan, tapi hasilnya bagus.. πŸ™‚
    thanks alot for dropping by! πŸ™‚

    Posted by fhiana | December 12, 2008, 1:18 pm
  44. waduh..
    kebayang ribetnya nih ntar.. suatu saat kalo bocah2 dirumah sudah dewasa…
    tenang.. ada jeunglala yg ilmu Wedding-nya keren..

    Posted by trijokobs | December 13, 2008, 3:20 pm
  45. Dalam diammu kan kamu berpikir. Dan dalam berpikir pada hakekatnya kamu kan menyimpan kekuatan.

    Ayoh! Kejar pangeranmu! Jangan menunggu di atas menara. Turun. Dia tak menggunakan kuda putih πŸ˜‰

    Kekuatan apa, ya, De Em? πŸ™‚
    Kejar Pangeran-ku?
    Aku nggak nunggu di atas menara, kok..
    Dia aja yang semakin dikejar semakin lari.. Wong tinggal dikit lagi nyampe Surabaya, tapi balik kucing lagi ke kota asalnya! πŸ™‚

    Posted by Daniel Mahendra | December 15, 2008, 12:47 am
  46. oke…
    mudah-mudahan jeungLala langsing pada bulan februari…

    btw, masih suka minum kopi…?

    -gbaiq-
    [senyum] πŸ™‚

    Amin, amin.. mudah-mudahan ya, Mas.. πŸ™‚
    Masih suka minum kopi?
    hihihi… MASIH BANGET!!! huaaa

    Posted by gbaiquni | December 15, 2008, 10:41 am
  47. pesta nikah gw balik modal lho.. malah ada sisa buat deposito hahahhaa.. makanya undanglah tamu-tamu yang pasti kasih angpau geude geude..hahahaha…

    Posted by hawe69 | December 15, 2008, 2:52 pm
  48. mbak Lala, aku juga heran kenapa ya orang mau2nya keluar duit jutaan. doh! 😦 dan yg lebih ribet lagi tuh kalau ada temen2nya ortu yg mendadak sakit hati karena tidak diundang pas ortu punya hajatan mantu. kenapa sakit hati ya? karena merasa tidak dianggap teman? lha kok kesannya kaya anak SD yg nggak diajak ikut maen lompat tali ya? trus ngambek berhari2, gak mau diajak ngomong. dan pada dasarnya semua orang nggak ingin dianggap “beda” oleh org2 di sekelilingnya. jadi pesta pernikahan itu ya begitu itu… mesti puluhan juta yang harus digelontorkan, mesti ngundang ratusan bahkan ribuan orang, mesti ada ketan dan jenang utk simbol “perekat”… itu semua kan biar kita nggak dibilang “aneh”. dan harga untuk menghindari julukan “aneh” ya, puluhan juta mbak…

    Haha… ada nada-nada bete di komentar kamu, Krismariana… πŸ™‚ Tapi emang bener, sih.. aku juga bete banget kalau terlalu mendewakan sebuah pesta yang selesai dalam satu malam, tapi biayanya aduhai rupawan.. πŸ˜€ Kecuali memang benar-benar mampu, ya sudahlah, silahkan… Tapi kalau memaksa? Oh my… Cuman, ketika aku ada di sana dan melihat semua kegembiraan itu, aku langsung berpikir, “Ya sudahlah… I’ve never been in their shoes… Aku bahkan bisa jadi perempuan yang jauh lebih heboh nantinya…”

    Posted by krismariana | February 10, 2009, 9:56 am
  49. Betul bgt resepsi adalah acara orangtua, yg memang lebih ke untuk menyenangkan hati mereka aja, kalo saya sih ngerasanya bodor, diem didepan pamer gigi (moe huntu) πŸ˜€ sambil salam2an, kalo dipikirin kan buat apa ya? kl ngasih selamat lewat sms dan telpon juga bisa hehehe….
    tp percaya deh kalo jeung lala sudah mengalaminya, semua itu sangat-sangat worth it dgn kebahagiaan yg kita dapet hehehe…. asal jgn abis resepsi banyak utang hohoho….

    Posted by Delcrit | June 18, 2009, 3:56 pm
  50. aah, ngomongin nikah jadi inget gimana pusingnya nyiapin pernikahanku setahun lalu.. temen2 heboh suruh ini itu, tapi aku dan calon suami waktu itu sepakat dan kayanya kita sehati untuk ngadain pesta yang sederhana dan cuma diselenggarakan di rumah. rasanya beda banget.. nikah di gedung, ketemu tamu cuma pas salaman, malah kadang yang disalamin itu gak tau siapa.. aku sama calon suami prefer bikin resepsi sederhana dan tamu yang diundang memang kerabat dan teman-teman yang kita kenal.

    aku bahkan sempet “marahan” sama seorang teman dekat, yang sibuk cuap-cuap, mencoba meyakinkan aku bahwa nikah itu sekali seumur hidup oleh karena itu harus digelar besar-besaran, heboh, dll… dan dia bilang acara nikahan itu ajang hajat ortu “memamerkan” anaknya.. duh, duh, duh… pesta abis 300 juta gak jamin hidup bahagia kan ya padahal??

    emang waktu mau nikah cobaan itu banyak banget.. mulai dari ribut sama ortu, adek sendiri, smp “digerecokin” mantan pacarnya calon suami.. tapi ya itu, karena cinta dan keyakinan untuk kami untuk bersatu, segala rintangan bisa dilewati..

    seperti aku bilang di twitter ke Mbak Lala tadi, nikah dengan tahu kekurangan masing2 jauh lebih baik daripada nikah yang cuma tau kelebihan masing2.. setelah adanya ajakan nikah dari calon suamin, justru aku dan calon suami saat itu menceritakan masa lalu masing-masing smp ke yang”busuk2″ nya deh, saling jujur, menerima kekurangan… and now? we’re happy couple and waiting for our first baby… *curcol* hehehe..

    buat Mbak Lala yang mau nikah sebentar lagi, semangaaaattt.. *kaya mau lomba 17 agustus*
    semoga menjadi pasangan yang berbahagia dan bisa mewujudkan pernikahan yang seperti maunya..

    Posted by Meida | December 12, 2012, 2:42 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: time to exhale, eh? « the blings of my life - February 10, 2009

  2. Pingback: Gantengnya Pacarku! | The Blings Of My Life - May 2, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2008
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: