you're reading...
Fiktif

(Gue) It’s our stolen moment. Hanya itu saja…

stolen moments... hanya itu saja

stolen moments... hanya itu saja

baca juga tentang saya dan gua

Time’s ticking…
Time’s flying…
It’s drawing near…
!

Ah, bisakah?
Bisakah gue menghadapi kenyataan di mana dia harus kembali pulang ke pelukan seseorang yang di salah satu jemarinya melingkar manis satu cincin emas putih bermata berlian mungil tanda dia begitu mencintai wanitanya?

Gue pernah melihat wajah perempuan itu.
Dari balik kaca mobil yang gelap, gue bisa melihat dengan jelas wajah manis perempuan itu. Dia sedang melambaikan tangannya dan melemparkan senyumnya.

Manis. Tapi menyebalkan!
Karena gue benci perempuan itu… Karena gue benci melihat betapa lembutnya dia.. betapa hebatnya dia.. betapa sempurnanya dia di mata semua orang yang memandangnya.

Gue bukan perempuan seperti dia.
Memakai baju berenda dan sepatu bertali manis.
Memakai gincu warna pink tipis dan sapuan blush on yang semakin terlihat ketika bibir lelaki itu mencium keningnya hangat setiap berpisah.

Gue cuman perempuan yang menganggap rokok adalah makanan yang biasa gue kunyah setiap hari. Juga alkohol adalah teman sejati setiap gue merasa ingin berlari sejenak dari kukungan realitas yang musti gue lihat dan hadapi setiap mata gue melek… every day…

Dan kopi.
Ya, kopi. Bercangkir-cangkir kopi. Hitam. Dengan satu sendok kecil gula dan air dalam jumlah sedikit. Kopi hitam dan kental, yang bisa gue habiskan dalam beberapa kali tegukan yang dalam.

…I could never be like her. A girl with white dress who would never spoil her dress with coffee, nicotine, or alcohol…

Gue perempuan aneh.
Seaneh seorang lelaki satu itu. Yang menganggap gue bidadari padahal gue adalah penjelmaan iblis. Yang menganggap gue bidadari, padahal dia sesungguhnya tahu kalau perempuan yang akan ia kecup setiap hari itu adalah bidadari yang sejati!

Ya.
Seaneh lelaki satu itu…
Yang kini sedang berjalan mendekati gue… Dengan wajah yang bercahaya… Dengan senyum yang tak mungkin bisa gue lupakan…

Selamanya.

***

We’ll do it all
Everything
On our own
We don’t need
Anything
Or anyone
If I lay here
If I just lay here
Would you lie with me and just forget the world?

(Chasing Cars, Snow Patrol)

Could we just lie here, in this moment?” Dia menyandarkan kepalanya di dada gue. Membuat gue sesak nafas karena harum rambutnya dan wangi tubuhnya yang maskulin. Campuran cologne dan after shave, serta tembakau yang terbakar.

Gue selalu bingung bagaimana menjawabnya. Itu adalah pertanyaan yang retoris. Dia tahu sekali kalau pertanyaan semacam itu bukan pertanyaan yang pantas keluar dari bibirnya yang ingin gue ciumi setiap hari… every time.. every minute. Dia tahu, cuman ada dia. Dia tahu, gue miliknya.

Could we?” Dan dia nggak akan pernah bosan mempertanyakannya!

Ah, Sayang… Aku cinta sekali sama kamuuuuu!!

But could you?”

“Apa?”

Could you leave her?

Dia mengangkat tubuhnya. Lalu duduk. Di sebelah gue. Memandang gue. “Meninggalkan dia?”
C’mon, Boy… Didn’t I say it loud and clear? Leave her! Leave her! Could you? Would you?

Gue mengangguk.

“Dia nggak salah…”

Perempuan itu memang tidak berdosa. Lugu. Tidak memiliki prasangka yang buruk ketika lelaki tercintanya itu sering tak bisa dihubungi ketika weekend. Lelaki yang lebih memilih menghabiskan waktunya bersama gue, a total bitch yang tidak sebanding dengannya. Lelaki yang lebih memilih menyisip kopi pagi-pagi dan membuatkan pancake bersemirkan mentega lembut untuk gue, di dalam sebuah vila keluarganya, jauh dari kotanya. Lelaki yang lebih memilih untuk menggelitik pinggang gue dan kami berkejaran diΒ  halaman vilanya yang luas seperti adegan film India yang gue benci.

Perempuan itu tidak berdosa.
Dia tidak tahu sebejat apa lelaki yang dicintainya. Dia tidak tahu kalau ratusan kali telepon darinya untuk si lelaki selalu kami abaikan ketika kami sedang asyik ngobrol berdua di balkon apartemennya.

Perempuan cantik itu Bidadari.
Dan gue cuman perempuan hina yang baru kali ini tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, tapi gobloknya… dengan lelaki yang salah!

“Hey… kenapa kita musti bertengkar, sih?” tanyanya dengan senyum dikulum.

“Karena kamu mulai nanya-nanya yang nggak penting,” kata gue, sedih.

Lalu dia meraih jari-jemari gue. Mengusapnya lembut sebentar. Mengecupnya sekilas. Lalu membawanya ke atas dadanya.

“Aku sayang sama kamu…”
I know you do…

“Aku nggak bisa kehilangan kamu…”
Me neither… I could never lose you!

“Aku ingin selamanya di sini. Sama kamu. Hanya sama kamu…”
Then stay here, please. Stay.. With me. Just me…. Please…

“Tapi kamu tahu, kita nggak bisa…”

“Bisakah kita nikmati saja, hm? Bisakah ini kita kunyah saja?”
…but it’s hurting us…

“Kita nggak akan bisa lebih dari ini…”
…but I want more…

It’s our stolen moment. Sudah. Hanya itu saja.”

Dan gue pun menangis.
Di dalam sebuah coffee shop, di lantai dasar sebuah mal.
Ditemani beberapa cangkir kopi.
Lusinan puntung rokok.
Laptop yang menyala.
Dan seorang laki-laki.

Ya.
Laki-laki yang tak pernah bisa gue miliki…


I don’t quite know
How to say
How I feel
Those three words
Are said too much
They’re not enough

If I lay here
If I just lay here
Would you lie with me and just forget the world?

Forget what we’re told
Before we get too old
Show me a garden that’s bursting into life
Let’s waste time
Chasing cars
Around our heads
I need your grace
To remind me
To find my own

All that I am
All that I ever was
Is here in your perfect eyes, they’re all I can see
I don’t know where
Confused about how as well
Just know that these things will never change for us at all

If I lay here
If I just lay here
Would you lie with me and just forget the world?

(Chasing Cars, Snow Patrol)

bersambung…

About Lala Purwono

Published writer (or used to be, darn!). A wife. A mom. A friend that you can always count on.

Discussion

27 thoughts on “(Gue) It’s our stolen moment. Hanya itu saja…

  1. Thank’s yuph dah nganggep aQ adek…he…
    Btw, hik’s menyedihkan….Kenapa dia masih ngelanjutin kehidupan spt itu…(ups…sbg simpanan?!)(can you told me why??)
    Selain ngerusak kehidupan harmonis suatu keluarga, apa dia ga dihantui rasa bersalah terus?!…
    Yang jelas kesalahan bukan hanya di pihak dia (wanita simpanan) tapi juga suami yang melupakan janji pernikahan dg sang istri….hiks…

    Posted by tyanjogjack | November 26, 2008, 10:22 am
  2. (Saya)
    (Gua)
    (Gue)

    hhmmm … ada apa ini …
    Bikin penasaran aja nih …

    Next …???

    Posted by nh18 | November 26, 2008, 10:40 am
  3. duh bersambung ya …. kayak film india aja pas lagi seruΒ²nya malah bersambung … xixixi

    Posted by aRai | November 26, 2008, 10:49 am
  4. hmmmm…..

    Posted by Dias | November 26, 2008, 11:06 am
  5. seru .. penasaran nunggu lanjutannya …

    -setiaji-
    http://www.kodokijo.net

    Posted by kodokijo | November 26, 2008, 11:48 am
  6. Hidup ini sebuah pilihan kan, mau kemana kita membawa diri kita…it’s entirely up to us. It’ll hurt us sometimes…no..no..no…often….but once again every decision will have its own consequences that we’ve to deal with…..
    penasaran la, ditunggu lanjutannya πŸ™‚

    Posted by 1nd1r4 | November 26, 2008, 12:15 pm
  7. aku komentarnya kalo ceritanya udah abis aja ya la…
    heheheh (paling ngga suka cerita putus-putus)

    EM

    Posted by Ikkyu_san | November 26, 2008, 12:18 pm
  8. keren.. cerita nyata yang banyak dialami oleh perempuan2 lain…

    Posted by easy | November 26, 2008, 12:31 pm
  9. Sebentar saja gak ke sini, sudah banyak ide mengalir deras sampai saya kepontal-pontal mengikutinya.. he.. he.. Oleh sebab itulah, Jeung Lala mendapat award. Tapi bawanya berat, jadi saya tinggal di rumah :mrgreen:

    Posted by Hejis | November 26, 2008, 1:08 pm
  10. Ditiliki dulu ya Jeung. Semoga berkenan. Terima kasih πŸ˜€

    Posted by Hejis | November 26, 2008, 1:10 pm
  11. Rasa itu datang tanpa kita mengerti,tak peduli untuk siapa dan pada siapa.Ada senyum,tawa ia bawa namun terasa sakit bila semua harus pergi,Tapi Yang pasti??????? KIta Intip kelanjutannya YUKKKKK… heheheheh, ceritanya seru πŸ˜€

    Posted by departa | November 26, 2008, 1:15 pm
  12. kayaknya gue udah bisa liat benang merahnya deh say πŸ™‚

    Posted by yessymuchtar | November 26, 2008, 2:41 pm
  13. belum bisa komen…
    ceritanya nanggung…

    Posted by heryazwan | November 26, 2008, 3:00 pm
  14. Akhirnya gimana ya la?.. Saya nunggu ending nya saja. The happy one.

    Posted by chilonic | November 26, 2008, 3:11 pm
  15. Jadi inget lagu jadul … Cinta memang tak harus selalu berarti memliki …

    Posted by Oemar Bakrie | November 26, 2008, 3:14 pm
  16. gue itu bukan kamu
    sebab kamu itu bukan gue
    Lala tuh…..hmmm
    sorry, agak OOT nih
    soalnya postingannya dalem banget πŸ˜₯

    Posted by mikekono | November 26, 2008, 3:55 pm
  17. mengingatkan saya tentang sesuatu…

    what’s next?

    Posted by *hari | November 26, 2008, 4:37 pm
  18. saya makin bingung nih… πŸ˜•

    tunggu sampe selesai aja dulu ah…
    daripada salah komen…

    bukunya udah sampe tadi siang mba…
    makaciii….

    [senyum] πŸ™‚

    Posted by gbaiquni | November 26, 2008, 5:39 pm
  19. La…kenapa nggak pake nama sih…
    Saya…gua…terus gue….
    Jadi bingung…tapi asyik kok

    Posted by edratna | November 27, 2008, 7:25 am
  20. Asyik ceritanya bikin penasaran… dilanjut ya….

    Posted by michaelsiregar | November 27, 2008, 10:45 am
  21. Hmmm… rumput tetangga emang selalu lebih ijo, apalagi klo tetangganya punya lapangan golf

    Posted by yande | November 27, 2008, 11:46 am
  22. ..hmmm…

    *bertopang dagu, kepala miring ke kiri*

    Posted by tanti | November 27, 2008, 1:07 pm
  23. ic, ic… ngerti deh *manggut2*.. tokoh (saya), (gue) , (gua) dan (aku)..individu story tapi semua gabung karena love… seperti film Crash yah… ato itu film indo yang main almarhum Sophan Sopian..duh! gw lupa judulnya…

    Posted by hawe69 | November 27, 2008, 1:19 pm
  24. ada perempuan, ada bercangkir2 kopi….jangan2 ini kisah nyata yg difiksikan…
    jangan-jangan……

    Posted by goenoeng | November 27, 2008, 3:22 pm
  25. La,
    aku bingung dengan paragraf yang ini:-

    Gue perempuan aneh.
    Seaneh seorang lelaki satu itu. Yang menganggap gue bidadari padahal gue adalah penjelmaan iblis. Yang menganggap gue bidadari, padahal dia sesungguhnya tahu kalau perempuan yang akan ia kecup setiap hari itu adalah bidadari yang sejati!

    Hehe…
    Si Mbak…

    Jangan bingung. Baca pelan-pelan paragraf awal. Ada beberapa clues yang jelas.
    Perempuan bergincu pink…
    Dengan karakter bertolak belakang…
    dan satu lagi…something about the ring and ticking times!
    kayaknya sekarang udah bisa ngerti deh.. πŸ™‚

    Posted by agoyyoga | December 2, 2008, 6:30 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: (Aku) sayap yang tercerabut « the blings of my life - November 27, 2008

  2. Pingback: …and this is all about « the blings of my life - February 4, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: