archives

Archive for

(Aku) sayap yang tercerabut

sayap yang tercerabut

sayap yang tercerabut

baca tentang saya, gua, dan gue, baru ini

Seperti melayang.

Setiap langkahku menuju rumahnya, seperti seorang pelari cepat yang bermodalkan suntikan dopping. Atau sepertinya, setiap malaikat berbondong-bondong datang mengetuk pintu dan meminjamkan sayap mereka, supaya aku lekas terbang menujunya. Menuju rumahnya. Untuk menciumnya. Untuk memeluknya. Untuk mendengarkan degup jantungnya. Untuk melewatkan menit-menit waktu yang, entah kenapa, terasa bergulir terlalu cepat daripada biasanya.

Apalagi ketika aku lama berjauhan darinya.
Apalagi ketika aku harus menghabiskan waktu yang cukup lama tanpa kehadirannya.
Apalagi ketika aku musti menahan rindu dan melampiaskannya lewat telepon-telepon kangen yang seperti tak pernah mengenal kondisi ketebalan dompet.

He’s just so priceless.
Dan aku tidak akan berhitung-hitungan hanya karena tagihan telepon dan internetku membengkak sampai seorang teman baruku bilang, “You really, really love him… Don’t you?”

Aku hanya bisa bilang pada dia, “I do. Very much.”

Dan biasanya, dia lalu tersenyum tipis. Sedikit getir. Sedikit resah. Dan lalu memegang bahuku sambil berkata, “Hmm… is it going anywhere?” tanyanya hati-hati. Si Perempuan Manis itu memang tak pernah bilang kalau aku salah, kalau aku benar. Dia hanya bertanya tentang isi hatiku; dan jarang sekali ada yang bisa mengerti perasaanku, kecuali si perempuan ini… dan si lelaki itu.

I have no idea.

You have no idea? How? Why? I mean…” Perempuan itu kehilangan kata-katanya. Perempuan pintar yangΒ  belakangan ini selalu menjadi dewi penolong ketika aku gelisah dan butuh saran serta nasehat itu tiba-tiba kehabisan kata-kata. For a talented woman like her, kehabisan kata-kata adalah satu hal yang tak tercantum dalam kamus hidupnya. Tapi entah kenapa, setiap berada di dekatku, setiap kami bercengkerama dan meluangkan waktu bersama… she barely says anything.

“Hey, hey… Sudah. Kamu nggak usah ikut mikirin. Kamu pikirin aja kerjaanmu yang belum kelar juga itu!” Aku menyentuh pipinya dengan ujung jariku.

Dia hanya diam.

“Yang pasti…” kataku sambil memandang wajahnya yang cantik dan bergincu pink lembut. “Eventhough I have no idea where it’s going… all that matter is… I’m so excited on taking each step of it…

Karena memang, aku tidak butuh orang lain untuk mengerti.
Aku tak butuh orang lain untuk memahami.
Biarlah ini menjadi urusanku dan orang yang aku cintai.

Because, I love him.
Because, I really need him.

Dan keinginan itu seolah menumbuhkan sepasang sayap lagi di punggungku.
Sayap yang kemudian membawaku terbang… melayang… menuju kekasihku… Continue reading

(Gue) It’s our stolen moment. Hanya itu saja…

stolen moments... hanya itu saja

stolen moments... hanya itu saja

baca juga tentang saya dan gua

Time’s ticking…
Time’s flying…
It’s drawing near…
!

Ah, bisakah?
Bisakah gue menghadapi kenyataan di mana dia harus kembali pulang ke pelukan seseorang yang di salah satu jemarinya melingkar manis satu cincin emas putih bermata berlian mungil tanda dia begitu mencintai wanitanya?

Gue pernah melihat wajah perempuan itu.
Dari balik kaca mobil yang gelap, gue bisa melihat dengan jelas wajah manis perempuan itu. Dia sedang melambaikan tangannya dan melemparkan senyumnya.

Manis. Tapi menyebalkan!
Karena gue benci perempuan itu… Karena gue benci melihat betapa lembutnya dia.. betapa hebatnya dia.. betapa sempurnanya dia di mata semua orang yang memandangnya.

Gue bukan perempuan seperti dia.
Memakai baju berenda dan sepatu bertali manis.
Memakai gincu warna pink tipis dan sapuan blush on yang semakin terlihat ketika bibir lelaki itu mencium keningnya hangat setiap berpisah.

Gue cuman perempuan yang menganggap rokok adalah makanan yang biasa gue kunyah setiap hari. Juga alkohol adalah teman sejati setiap gue merasa ingin berlari sejenak dari kukungan realitas yang musti gue lihat dan hadapi setiap mata gue melek… every day…

Dan kopi.
Ya, kopi. Bercangkir-cangkir kopi. Hitam. Dengan satu sendok kecil gula dan air dalam jumlah sedikit. Kopi hitam dan kental, yang bisa gue habiskan dalam beberapa kali tegukan yang dalam.

…I could never be like her. A girl with white dress who would never spoil her dress with coffee, nicotine, or alcohol…

Gue perempuan aneh.
Seaneh seorang lelaki satu itu. Yang menganggap gue bidadari padahal gue adalah penjelmaan iblis. Yang menganggap gue bidadari, padahal dia sesungguhnya tahu kalau perempuan yang akan ia kecup setiap hari itu adalah bidadari yang sejati!

Ya.
Seaneh lelaki satu itu…
Yang kini sedang berjalan mendekati gue… Dengan wajah yang bercahaya… Dengan senyum yang tak mungkin bisa gue lupakan…

Selamanya. Continue reading

Catatan Harian

November 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Celotehan Lala Purwono