you're reading...
Thoughts to Share

twelve hours ride

Sudah tiga kali kunjungan ke Jakarta, saya memilih untuk naik kereta api daripada naik pesawat terbang. Selain karena harga tiket pesawat yang sekarang sedang mahal-mahalnya, saya sedang mengalami sindroma takut jatuh dari pesawat terbang. Istilah kerennya: phobia, yang mungkin karena ketakutan-ketakutan yang mustinya tidak penting karena kematian bisa terjadi kapan saja, tidak harus menunggu saat saya terbang melayang di udara, di dalam sebuah tabung besi bersayap dengan teknologi canggih itu.

…atau, kemungkinan besar memang karena saya takut mati saja.. karena banyak sekali dosa-dosa yang saya lakukan selama ini.. tobat, tobat…πŸ™‚

Itulah kenapa, ketika mendapat sebuah undangan dari penerbit yang cukup nekat menerbitkan naskah saya, Grafindo, untuk menghadiri launching buku yang sengaja dibikin khusus untuk saya… well, saya segera saja memesan tiket kereta api eksekutif Argo Bromo Anggrek, yang akan membawa saya ke Jakarta dalam tempo waktu tidak kurang dari 10 jam (dan biasanya selalu molor sampai dua jam berikutnya). Buat saya, biar lama, yang penting saya bisa melihat daratan di samping saya. Daripada harus terbang dan tidak ketemu siapa-siapa selain Gatot Kaca atau Superman yang kebetulan satu jurusan di langit sana… hehe..

KA Argo Bromo Anggrek

KA Argo Bromo Anggrek

Tapi sepuluh jam di dalam kereta, sendirian pula (okay, okay… tidak sendirian… memangnya saya pesan tiket sekaligus lima puluh biar dapet gerbong pribadi? Maksudnya, saya berangkat sendiri..), tentu akan membuat saya mati gaya. Membaca buku, ber-YM-an ria via henpon yang musti diskonek melulu karena sinyal yang mbrebet, ngobrol dengan orang yang duduk di sebelah, atau tidur saja, adalah pilihan-pilihan yang ada. Oh ya, setelah beli henpon china yang ada teve-nya, saya punya satu pilihan baru… hehehe… Cuman ya itu tadi, tetap saja sepuluh jam (bahkan lebih!) itu benar-benar bisa membuat saya mati kutu…

Kalau kebetulan duduk di sebelah orang yang supel dan enak diajak ngobrol (seperti perjalanan menuju ke Jakarta kemarin, yang meskipun saya musti berganti-ganti pasangan — yang pertama turun di Semarang dan yang berikutnya baru naik dari Pekalongan — tapi kedua lelaki itu sangat menyenangkan untuk diajak berdiskusi tentang apa saja), tentu sepuluh jam tadi tidak terlalu terasa. Tapi, coba bayangkan kalau saya musti duduk bersebelahan dengan orang yang berwajah galak, susah senyum, dan malas diajak basa-basi? Haduhh.. benar-benar bikin saya kepingin tuker tempat aja! maksudnya.. saya nyari tempat duduk di sebelah cowok ganteng dan manis yang sekiranya bisa diajakin tukeran nomor telepon.. hihi…

Alhamdulillah, selama ini, saya tidak pernah mati gaya. Mungkin karena saya bawel setengah mati dan berwajah sangat manis sehingga penumpang di sebelah saya menjadi terbawa ekspresif dan nyerocos panjang lebar.. Dan.. voila…! Sepuluh jam di atas kereta tidak membuat saya stress karena tidak segera sampai ke tempat tujuan..

Namun sayangnya.. yang saya maksud selama ini itu tidak termasuk dengan perjalanan pulang saya yang kemarin…

Mbak Ika, si kecil Aca, dan Mbak Neph (tiga manusia yang bikin hari-hari di Jakarta sungguh menyenangkan!)

Mbak Ika, si kecil Aca, dan Mbak Neph (tiga manusia yang bikin hari-hari di Jakarta sungguh menyenangkan!)

Dari awal tiba di Stasiun Gambir, diantar oleh Mbak Neph, Mbak Ika (sang Kakak) dan Mas Aca (keponakannya yang super lucu!), saya sudah bete karena perempuan yang duduk di sebelah saya dengan aksi premannya mengusir saya yang tengah menaruh barang-barang bawaan. Ditambah dengan lagaknya yang memindahkan tas saya karena dia musti memasukkan kopernya di bawah kakinya tapi kemudian membuat tas saya berada persis di tengah-tengah lorong kereta (tanpa mengembalikannya ke tempat semula! saat itu saya sedang berjalan ke luar dari gerbong karena suasana yang sumpek dan kasihan dengan si kecil Aca yang berkeringat). Ih!!! Apa sih, maksudnya??!! Apalagi setelah kereta melaju, si perempuan pura-pura tidak mendengar ketika saya coba berbasa-basi… aaahhh… masa sih Mbak nggak dengerin saya….

Ya sudah. Kalem… Kalemm…

Perjalanan semakin menyebalkan ketika seorang bocah berumur kurang dari tiga tahun yang duduk bersebelahan dengan Ibunya di bangku belakang saya, dari awal perjalanan sampai berhenti di Stasiun Pasar Turi Surabaya, tidak pernah berhenti ngoceh, nangis, dan main tembak-tembakan yang bunyinya super kenceng! Haduuuhhh… berisik banget, deh, pokoknya… Sampai mikir, apa sekolah etika John Robert Power sudah buka kelas untuk anak-anak berusia lima tahun ke bawah ya? hehe…

Oh ya, ditambah satu hal lagi. Telepon berisik dari seorang Bapak-Bapak berusia di atas lima puluh, yang ngobrol dengan volume suara paling pol, dan tidak berhenti-berhenti karena provider yang membuat komunikasi semakin murah! Uuuggghhhh

Dan perjalanan itu semakin lengkap…
Kereta tertahan di Stasiun Cirebon, karena menunggu kereta lain lewat… apes tenan nasibku… huhu

Banyak cara yang saya lakukan untuk mendistraksi pikiran saya supaya tidak bete surete semelekete. Misalnya: mulai membaca buku-nya Gola Gong yang berjudul Aku, Anak Matahari. Lalu bertelepon ria. Lalu mulai ceting via henpon. Lalu baca buku sendiri sambil mengagumi karya sendiri, pastinya.. hihi. Dan nonton televisi di henpon… sambil nyemil keripik yang tadinya buat oleh-oleh orang rumah! hehe…

But still… it was so da*n frustrating.
Twelve hours ride, without cute and handsome buddy next to me
(ngarep mulu, La!), with the noisy kid, and another noisy man in my side… gggrrrhhhh…. you have no idea how frustrating it was…! Dan jalan terakhir, yaitu merem saja, tidak bisa saya lakukan karena terlalu berisik… Oh, how I blamed my self for not bringing my ear phone…

Rasa tidak nyaman ini terus menerus membuat saya frustrasi… okay, a bit hiperbolic, tapi memang saya benar-benar nggak tahu musti melakukan apa..

Sampai akhirnya, ketika saya semakin frustrasi.. ketika saya semakin nggak tahu harus melakukan apa.. saya pun memutuskan untuk menikmati saja. I took a look at the people… every where… Manusia-manusia dengan beragam karakter yang duduk saling bersisihan… Yang mungkin tidak kenal sama sekali, tapi memiliki tujuan yang sama… yaitu ke Surabaya, Semarang, atau Pekalongan.

Ketika saya mulai memutuskan untuk melihat sekeliling saya… ternyata saya menemukan banyak hal.

Ada seorang laki-laki… tua… duduk bersama istrinya…
Beliau berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Istrinya yang melihat suaminya pergi, segera tidur dengan posisi meringkuk, dengan kepala bertumpu di lengan kursi si suami dan kaki ditekuk menyentuh lengan kursinya sendiri… Ketika suami kembali dan mendapati istrinya tertidur nyenyak di sana, dia tidak segera membangunkan sang Istri. Dia hanya tersenyum memandang istrinya yang lelap, mengelus rambutnya, dan berdiri di sampingnya! Sampai istrinya terbangun sendiri…. setengah jam kemudian…

Lelaki tua itu mengajari saya tentang cinta kasih yang kini sudah sangat jarang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri…
(kalau kelak saya begitu, mungkin suami saya langsung bilang, “Eh, Bunda… plis deh.. kok tempatku kamu tidurin sih.. Ayah duduk di sebelah mana??? hehehe)

Seorang bocah kecil yang ributnya setengah mati itu… ternyata sangat pintar…!
Dari bangku depannya, saya bisa mendengar dia mengoceh tentang hal-hal yang sesungguhnya terlalu hebat untuk diucapkan oleh anak seumur dia. Dia bertanya-tanya, mulai dari hal kecil sampai hal besar yang membuat sang Ibu kebingungan lalu tertawa-tawa sendiri. Saat saya menoleh, saya melihat si Ibu begitu sayang dengan si Anak yang meskipun bandel, tapi saya tahu persis, dia adalah kebanggaan keluarga…
Ah, lagipula dia juga masih anak kecil…

Dan Ibu muda itu mengajari saya tentang kesabaran menghadapi seorang Anak… Suatu hal yang mungkin kelak akan menjadi urusan saya juga… Berarti saya musti betah-betahin telinga saya mulai dari sekarang supaya kelak sudah terbiasa… πŸ˜€

Dan perempuan yang saya pikir jutek itu…
Ternyata dia sedang resah memikirkan sesuatu. Bolak balik dia membaca buku rumus-rumus ekonomi yang saya intip hati-hati lewat sudut mata. Dan dia komat-kamit menghafalkan sesuatu. Mungkin dia akan menempuh ujian yang tidak mudah…

Perempuan yang semula saya pikir jutek itu, mengajari bahwa saya tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang lain… Kita tidak pernah tahu apa yang sedang bergumul di benak orang lain. Bisa jadi, orang tersebut tidak bermaksud melakukan hal demikian… Bisa jadi, dia memang sedang banyak pikiran sehingga tidak menyadari bahwa dia telah membuat orang lain merasa sebal padanya…
Dan kemungkinan besar, saya pun sering melakukan hal yang sama!

Ya.

Hampir dua belas jam saya di kereta.
Memang, sebuah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan…
Namun ketika saya mencoba untuk menikmatinya, ternyata saya ketagihan untuk belajar lagi tentang banyak hal yang semula tidak pernah terlintas di dalam isi kepala saya…

It was twelve hours ride.
And I got three precious lessons to learn.

Ah… kapan saya ke Jakarta lagi yaa…πŸ™‚


About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

44 thoughts on “twelve hours ride

  1. Duh. Kisah yang menarik sekali, jeung. BTW… kok kita samaan ya mbak… Daripada naik pesawat terbang, dibela2xin deh naik kereta api dengan segala resikonya… Sayang nggak ada kereta api ekspress dari Oslo sini sampe ke Jakarta…. Selamat buat bukunya, sukses selalu!

    Hehehe…
    dari Oslo sampe ke Jakarta, pakai kereta???
    kira-kira, bentuk pant*tnya bakal jadi seperti apa yaa… hehehehe…

    Posted by Felicity | November 18, 2008, 1:14 am
  2. Yah la…kalo kamu ngga bisa naik pesawat terbang, gimana bisa sampe LONGDONG dong!!!. Gimana bisa sampe TOKIO dong!!! . Aku pikir kamu ngga mau naik pesawat cuman gara-gara duit aja. Tau tau ….huh (Untung wkt kamu ke jkt agustus lalu aku ngga nekat beli tiket pesawat utk kamu ya hihihihi)

    Awas ntar aku jemput kamu, dan kita naik pesawat bersama ke JAKARTA.. (sambil nyanyi lagunya kusplus) Tunggu aja tanggal mainnya. (siap-siap punggung bungkuk dulu baru si gajah datang jemput)..

    But memang aku juga suka naik kereta. Banyak yang bisa kita lihat (kecuali waktu aku naik kereta ke Yogya 10 jam kedinginan brrrr )

    Gini deh La, kamu ke Tokyo, trus kita naik Twilight Express sama-sama yuuk heheheh.

    EM (yang lagi ngantuk tapi ngga bisa tidur)

    Kalau ke London sih… nekat ajaaahhhhhh!!
    London gituuuhh..πŸ™‚

    Waktu pulang ke Surabaya, keretanya super adem, Sis. Padahal pas berangkat ke Jakarta, misuh-misuh nggak karuan gara-gara itu kereta pelit AC banget!!! Eh, kena karma kayaknya… Pulangnya dihajar sama ac yang adem pol!πŸ˜€

    Pesta Blogger di Bali… kita berangkat bareng ya, Sis!πŸ˜€

    Posted by Ikkyu_san | November 18, 2008, 2:03 am
  3. mantap.. semoga bukunya sukses jeungπŸ™‚
    wah kisah2 hidup yang didapati sungguh luar biasa jeung:)

    makasih….
    makasih banget yaa…
    kebetulan saya bisa menulis dan bercerita, padahal sejatinya, banyak orang lain yang memiliki pengalaman hidup jauh lebih menghebohkan daripada saya…πŸ˜€

    Posted by aRuL | November 18, 2008, 2:07 am
  4. Pelajaran bisa didapat dimana saya Jeung Lala ya, tidak harus di bangku sekolah. Justru di universitas kehidupan ini lebih banyak ilmu yang bermanfaat. Tapi tidak mudah juga sih bisa mengambil pelajaran seperti yang jeung Lala lakukan. Thanks sudah share. Selamat datang kembali di Sby. thanks

    Saya sendiri sebetulnya cuman ingin berpikiran positif aja, Mbak Yulis.
    Dan ketika berpikiran positif itu malah membuat saya menemukan banyak hal yang tersembunyi di balik uring-uringan saya, ternyata saya adalah orang yang sangat beruntung….

    Makasih yaa…
    Salam buat suami tercinta…

    Posted by yulism | November 18, 2008, 2:49 am
  5. Ke Bandung aja.. ke Bandung… jangan berhenti di Kiara Condong karena seorang pria yang meski tak terlalu muda tapi sangatlah tampan nan rupawan menantimu di Stasiun Bandung KotaπŸ™‚

    Btw, congrat Lala untuk buku barumu, terus berkarya.. aku mengamati dari sini dengan bangga!

    Dia menanti aku di sana, Don?
    Sejak kapan dia kerja di stasiun? hehehehe…. *ah, sepertinya dia memang sangatlah tampan, Don… seperti seorang Ibu yang bilang sama aku seminggu yang lalu tentang ketampanannya… hihihi*

    Makasih ya, Don…
    Sukses buat kerjanya di sana!πŸ™‚

    Posted by Donny Verdian | November 18, 2008, 5:29 am
  6. wah sukses buat bukunya… salam kenal juga mbak…wkwwkkw

    Makasih, makasih…
    btw, blognya udah dibenerin ya? kapan hari berkunjung ke sana, katanya under renovations gitu..πŸ™‚

    Posted by nico kurnianto | November 18, 2008, 7:49 am
  7. Justru karena lama di perjalanan, jadi banyak yang dilihat, dan banyak yang bisa diambil pelajaran untuk bahan tulisan.
    Coba kalau naik pesawat 1 jam, pasti lebih sedikit yang bisa dilihat. Halah…ngeles banget ya gue…

    Bener banget Bang..
    Kalau naik pesawat, saya malah lebih khusuk berdoa…
    Ini hikmah juga, ya?πŸ™‚

    Posted by Hery Azwan | November 18, 2008, 8:01 am
  8. Kapan ke Jakarta lagi La?
    Atau… kapan aku ke Surabaya… ntar kita ketemu di Surabaya aja deh La..:D

    Btw, dengan tulisanmu aku jadi belajar sesuatu. Thanks.

    Aku ke Jakarta bulan Februari nanti, Mbak…
    Tapi kalau Mbak Yoga mau ke Surabaya, aku temeniiinnn!!πŸ™‚
    Alhamdulillah kalau Mbak bisa menarik kesimpulan di sini…πŸ™‚

    Posted by Yoga | November 18, 2008, 8:02 am
  9. Pelajaran yg sangat berharga … BTW, berapa SKS itu yah ??? hehehe

    Hehehe…
    SKSnya banyak banget Pak… Dosennya cakep… hehehe…

    Posted by Oemar Bakrie | November 18, 2008, 8:22 am
  10. hanya orang2 istimewa yg bisa mengambil pelajaran dari apa yg dia lihat, dan lala adalah salah satunya… good!
    ibu saya pernah bilang: “untuk mengetahui aslinya seseorang, lihatlah sikapnya dalam perjalanan”, dan lagi2 lala menunjukkan itu…πŸ™‚

    Aduh Uda..
    bikin saya ge-er mulu ahh..πŸ™‚
    Makasih..

    Memang benar.
    Saya keliatan aslinya banget saat di perjalanan… *maksudnya saya selalu malas ber-makeup kalau sedang berpergian jauh.. hehehehe* Becanda Uda..πŸ™‚

    Posted by vizon | November 18, 2008, 8:26 am
  11. Hi Lala..
    Ternyata saya ketinggalan banyak hal dari blog ini (sorry)
    Congrats dulu ya..untuk kesuksesannya.
    *two thumbs*πŸ™‚

    No probs, Chil. Makasih…
    How are you?

    Posted by chilonic | November 18, 2008, 9:22 am
  12. Lala emang genius. Soal kereta aja bisa nulis sepanjang ini…

    ck ck ck…

    Huaa..
    dipuji sama seorang Melvi Yendra yang so very genius???
    ugghh… ndak bisa tidur!πŸ™‚

    Posted by Melvi | November 18, 2008, 9:50 am
  13. itulah blogger sejati apapun bisa jadi cerita dan bisa dinikmatin lagi bacanya salut deh mba yang satu ini

    hehehe.. makasih, makasih..
    setiap orang punya cara sendiri untuk mengeluarkan isi hatinya…
    kalau saya, ya dengan cara menulis..πŸ™‚

    Posted by omiyan | November 18, 2008, 10:03 am
  14. LA…

    kebayang kalo kita 10 jam ada di ketera yang sama…

    dari ngobrol gak ada habisnya..

    gosipin cowok cowok

    ikut melotot kalo ada penumpang yang keberisikan sama kita

    Makan gak berhenti…

    Dan lagi..gosippppppppp

    hahahahha

    *gue rasa gak nyampe 2 jam kita udah di tendang dari kereta itu secara berisik banget*

    hihihi..
    mungkin malah sebelum kita naik kereta, Yes..
    udah diusir dari stasiun! hehehehe…

    Posted by yessymuchtar | November 18, 2008, 10:05 am
  15. La …
    Bungkus satu lagi …
    Buat your second book …
    Ok …??
    Ok …??

    Next … ?

    Sip, Om..πŸ™‚

    Posted by nh18 | November 18, 2008, 10:18 am
  16. beuuuhh…paling gak suka ama yang namanya perjalanan..entah itu naek mobil, naek bus, naek kereta, naek pesawat…apalagi kalo sampe berjam2!!

    Terus kamu nggak bisa kemana-mana dong, Ndre??

    Posted by Andre | November 18, 2008, 10:19 am
  17. Ha ha ha haπŸ™‚ jadi inget dulu awal masa pacaran ma mas Bayu, kalo ke jakarta selalu naik kreta argo anggrek, aku pasti sebel kalo ga dapet kursi yang sendiri. Tapi kadang ada enaknya juga kalo di sebelah ada temennya… Tapi kalo dapet yang jutek ya kadang bete juga ya apalagi 12 jam. Tapi yang ga bisa aku lupain, aku pernah sebelahan ma cowok capek & baik.(ssstttt jangan bilang mas Bayu ya kalo aku pernah selingkuh juga ma tuch cowok ha ha ha haπŸ™‚ )

    Eh aunty, ada hikmahnya juga kali dengan sebelahan ma ibu yang jutek. Coba kalo disebelah aunty cowok cakep ga bakalan dech aunty ngeliatin si bapak yang ngelus kepala istrinya & aunty ga bakalan ngiliatin si ibu muda yang begitu sayang ma anaknya….

    halah! sempet selingkuhan juga tho???
    Sekarang udah nggak boleh…. udah jadi Nyonya Bayu!πŸ™‚
    Bener, Ret…
    semua ada hikmahnya.. Bahkan lewat seorang Ibu-Ibu jutek itu..πŸ™‚

    Posted by retie | November 18, 2008, 11:06 am
  18. Naik kereta ? Fun tuh…
    Bahkan 27 tahun yang lalu dalam perjalanan KA Madiun-Bandung duduk di sebelah saya seorang cewek, yang belum saya kenal sama sekali, kenalan sebentar, belum 100 hari udah ngajak tunangan. Dan hari ini kami sudah menikah 26 tahun, 1 bulan dan 16 hari…πŸ˜‰

    wah…
    100 hari ya?
    Express!!!πŸ™‚

    Pak Tridjoko, ceritain dong… Sambil mengenang masa lalu yang pastinya bakal bikin Bapak tersenyum-senyum bahagia… Saya tunggu ya…

    Posted by tridjoko | November 18, 2008, 12:28 pm
  19. @DV
    Siapakah pria tak terlalu muda tapi tampan itu?
    Hehehe…..
    mulai menggosip…

    Mungkin Lala terlalu lelah, sehingga awalnya mudah kesal…tapi setelah dinikmati sebetulnya ya seperti itulah naik kereta rakyat.
    Jangan dikira naik pesawat ga ngalami seperti itu…kecuali jika naik nya Garuda. Naik Lion Air, membuatku kapok..pok…lha pesawat kok baunya macam-macam, masing2 penumpang bawa bungkusan yang aneka macam baunya, lha mbok ya ditaruh di bagasi.
    Belum saat check ini, saling nyeruduk……
    Jadi dimana-mana sama, kecuali mungkin jika kita berada dinegara yang maju, yang budaya antrinya telah tinggi.

    Hehehe…
    si ganteng yang sudah tidak terlalu muda itu sepertinya sekarang sedang terkapar, Bu Enny… kasihan sekali, harusnya dia segera kawin sama si cantik dari Benua Kangguru itu.. biar ada sekalian dokter yang merawat… *ngelanjutin gosip ah.. hehehehe*

    Wah, sudah lama sekali nggak naik pesawat… terakhir Des 18, 2006 deh, Bu…
    Sudah lupa saat itu tercium bau apa saja di lambung pesawat Lion Air. Yang jelas, saya bukan termasuk orang yang mau repot bawa barangan bawaan sampai ke kabin.. Biasanya sih saya taruh di bagasi aja… Biar tinggal melenggang aja saat naik turun pesawat…

    Budaya antri di Indonesia memang super aduhai Bu!
    Kapan2 saya cerita deh pengalaman antri saya, yang kemudian semakin meyakinkan saya bahwa ternyata saya memang berjiwa-jiwa preman… hihihihi

    Posted by edratna | November 18, 2008, 1:25 pm
  20. Selalu menrik memang melihat serita setiap orang dari raut-raut wajahnya yang berbeda-beda, hal tersebut yang membuat perjalanan dengan transportasi publik menyenangkan. apalagi kalo sampai bisa mengambil hikmah seperti mba lala. wah jadi pengalaman berharga sekali ya? salam -japs-

    Iya, Mas.
    Ketika mulai mencoba untuk menikmati apa yang kita hadapi, di situlah kita akan lebih aware bahwa kita berada di sana untuk sebuah maksud.
    Sangat berharga… sangat, sangat berharga…

    Posted by japspress | November 18, 2008, 1:44 pm
  21. salam kenal (_ _)

    sama, sama…

    Posted by didta | November 18, 2008, 1:49 pm
  22. klo jeunglala ngaku berwajah sangat manis
    saya akan berada di garda terdepan
    untuk mendendangkan koor setuju….!
    btw, memang sejak booming perusahaan
    penerbangan di negeri ini bbrp tahun lalu
    plus amburadulnya kualitas pesawat, bnyk yg phobia
    naik pesawat skrng….tapi wlpn
    ketar ketir, klo mau ke Jkrt
    sy tak pny pilihan lain, mesti naik pswt jg
    *dasar penulis jempolan, perjalanan naik KA sj,
    bisa diulas menjadi tulisan yg
    memukau dan membuatku seperti
    seorang pemula sekaligus melahirkan kekaguman
    pd seseorang bernama Lala Purwono,
    yang tak bnyk dosa, tapi berniat
    tuk bertobat…saluut sista

    Saya sebenarnya memang takut ketinggian…
    Juga takut tempat yang sempit…
    Dimana saya seperti nggak bisa melakukan apa-apa di sana. Apalagi kalau tempatnya gelap. Aduh, bisa sesak nafas…!
    Semakin ngeri setelah peristiwa Adam Air itu. Sejak saat itu, saya berhenti naik pesawat. Saya pilih lajur darat aja… Walaupun kematian bukan urusan saya, tapi tetap saja saya bersugesti kalau naik kereta relatif lebih aman…πŸ™‚
    Makasih Abang…
    Setiap kita ini adalah pendosa, kan?
    Dosa apa? Yang itu sih beda-beda… hehehe…

    Posted by mikekono | November 18, 2008, 2:24 pm
  23. Saya senyum-senyum baca komentarnya Pak Tridjoko, program 100 hari-nya mantab sekali …

    hehehe..
    keren ya, Pak?
    Kalau cerita Pak Grandis sendiri, gimana?

    Posted by Oemar Bakrie | November 18, 2008, 2:29 pm
  24. Weleeehhh memang ya banyak hal yang bisa kita dapatkan kalo kita bertraveling……

    10 jam…hmmm emang lama bener yaaahh……untung pas akhir2 bisa menemukan hikmah nya

    tetep semangat jeng LalaπŸ˜€

    Sumpah, emang bener-bener terasa lamaaaaaaaaaaaaaa sekali.
    Sebetulnya saya juga suka traveling, backpacking gitu deh. Cuman masih belum bisa karena waktu yang terbatas… Seandainya suatu saat saya bisa jadi penulis saja dan meninggalkan pekerjaan di kantor, saya kepingin traveling… melihat-lihat sekitar… mencuri pelajaran… dan menuliskannya buat saya dan orang lain… cita-cita yang mulia ya? hehehe…

    Posted by Dini | November 18, 2008, 2:47 pm
  25. dah lama ga naek kereta
    lam kenal ya mbakπŸ™‚

    naik lah…πŸ™‚
    Salam kenal juga, Ade…

    Posted by Ade | November 18, 2008, 3:01 pm
  26. hiks.. ga ketemu sama aku😦

    hiks…
    kenapa ya Chi ga sempet tukeran no hape…😦

    Posted by chic | November 18, 2008, 4:39 pm
  27. Nah, dengan kacamata kayaknya lebih oke tuh La…

    …langsung beli kacamata satu lusin.. hihihi
    thanks Bang!

    Posted by Hery Azwan | November 18, 2008, 4:54 pm
  28. perjalanan yang memberi makna ya, mbakπŸ˜€

    lain kali coba naik pesawat aja…biar lebih cepat nyampe
    jadinya gak mati gayaπŸ˜›

    tuh mbak, saya komen juga…πŸ˜€
    tadinya kan setia sama profesi, silent reader hehe…πŸ˜›

    Tunggu pengakuan dosa dulu, baru naik pesawat.. hehehe.. segitunya deh La.. lu dosa apaan sih?? hehehe

    Bagus deh udah nggak jadi silent reader… Banyak temen banyak rejeki…πŸ™‚

    Posted by Regina Edith | November 18, 2008, 5:41 pm
  29. dan dari blog jeung lala ini saya belajar bagaimana memanfaatkan waktu untuk mengolah rasa dan feeling untuk menemukan tema tulisan dari kondisi sesulit apapun, sejenuh apapun, sesuntuk apapun, sebosan apapun, selama apapun.

    dan dari blog jeung lala ini saya belajar berkomen untuk banyak sekali pelajaran hidup yang dipungut dari cerita yang menurut kebanyakan orang sih biasa saja. tapi muncul menjadi inspirasi buat hidup kita.

    dan dari blog jeung lala ini saya tetap menunggu pengumuman lomba itu tuh…
    *sudah diumumin belum sih???*

    Mas, Mas…
    Pengumumannya kan udah dari hari senin kemarin.. coba intip di pojok kanan atas.. click aja…πŸ™‚

    Posted by tren di bandung | November 18, 2008, 5:52 pm
  30. @Hery Azwan,
    Iya betul…Lala kelihatan lebih cantik pakai kacamata.

    Kebalikan denganku ya la?…:P

    tapi efek kaca mata memang beda untuk tiap orang ya, Bu..
    meskipun banyak yang bilang, “La, kalau kamu pake kacamata, keliatan judes!!”
    …padahal saya emang judes, sih.. hehehe…

    Ibu sih tinggal senyum aja, ilang deh efek galaknya…
    *ayo, ndang diganti Avatarnya, Bu… hehehe*

    Posted by edratna | November 18, 2008, 6:39 pm
  31. ceritamu memang hebat sahabat
    layak dituangkan ke dalam bukuπŸ™‚

    alhamdulillah.. makasih ya, Kang Achoey…

    Posted by achoey | November 18, 2008, 6:50 pm
  32. Sama Mbak, aku juga seneng banget menikmati perjalanan dengan memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar. Dan memang, kita selalu bisa belajar banyak hal dari mereka, itu kalo kita mau “membaca”.
    Hei, sukses buat bukunya yah!! Aku mo nyari di Gramedia ahh, soalnya udah ketinggalan contest2annya sih… heuheuheu…

    Nita… Nita… Nita…
    apalaagi kalau membaca SMS dari si Ganteng itu yaa… hehehe….

    Posted by gendhismanis | November 18, 2008, 6:56 pm
  33. Haha kok sama, suka phobia kl naik pesawat (kebanyakan dosa sih saya hehehe)

    Congrats to the book ya La, semoga banyak yg suka, dilirik sm produser trus dibikin film trus saya kebagian tiket nonton gratisnya *ngarep.com:mrgreen:

    hehehehehe…
    sudah ada dua pendosa yang ngaku di blog ini.. siapa mau nyusul??πŸ˜€
    Dibikin film?
    Ah iyaaa… berarti Luna Maya musti siap-siap jadi saya di film itu… hihihi…

    Posted by idawy | November 18, 2008, 7:04 pm
  34. justru aku malah senang naik pesawat but itu juga kalu ke pepet. salam hangat selalu
    oya semoga kesuksesan itulah yang akn selalu kau raih,jeung.

    Kalau nggak kepepet, naik apa, Blue?

    Posted by bluethunderheart | November 18, 2008, 7:47 pm
  35. Iya La, buatku juga setiap perjalanan pasti punya cerita, dari sana kita bisa belajar banyak hal. Kalo perjalanannya 12 jam gini, no wonder bisa dapat banyak cerita yah…hihihi..

    Eniwei,
    aku banyak ketinggalan cerita2 setelah lama tidak berkunjung nih..
    Dear Lala, congratz yah atas peluncuran bukunya, rasanya aku turut senaaang dan bangga :)… Nah, ini suatu langkah awal yang sangat berarti… Go girl, get your dreams, get your best achievement !!πŸ™‚πŸ™‚

    Perjalanannya memang 12 jam, Mbak Tanti.
    Tapi pelajarannya baru diambil beberapa jam sebelum perjalanan berakhir… Coba kalau dari awal hatinya udah beres, mungkin posting kali ini bisa bersambung… hehehe…

    Makasih, Mbak Tanti.
    This is really a dream comes true.
    Mudah-mudahan ini akan membuka pintu-pintu yang lain, di kemudian hari….
    Thanks a lot!

    Posted by tanti | November 18, 2008, 9:57 pm
  36. kita tampilnya………
    ‘penampakan’ baru Lala….πŸ˜€

    ketika membaca ‘penampakan’, entah kenapa yang terbayang malah setan.. hihihi…

    Posted by goenoeng | November 18, 2008, 10:29 pm
  37. great…!
    and nice point of view…,
    [ikut belajar dari JeungLala…πŸ™‚ ]

    see the unseen…!
    [kalo ini mah bisa gawat juga kalo ditafsirin sembarangan…hehehe:mrgreen: ]

    [senyum]πŸ™‚

    hahahaha…
    the unseen of me??
    uhuiiii….πŸ™‚

    Posted by gbaiquni | November 19, 2008, 6:14 am
  38. Ah… seandainya saya pemuda yang duduk disebelahmu… akan kusahakan bersikap semanis mungkin… namanya juga usaha…?! he..he..he…. BTW selamat ya untuk Bukunya… sukses selalu.

    hehehehe…
    usaha apa nih, Bang? bukan mau tawarin produk kecantikan, kan? hehe…
    Makasih ya, Bang…
    Sudah nggak sedih atau masih mendung nih?
    Cheer up, Bang!πŸ™‚

    Posted by michaelsiregar | November 19, 2008, 9:29 am
  39. hehehhe jeung saya malah kebalikannya
    saya paling seneng naik pesawat, paling suka sewaktu take off -nya itu, kenceng… dan zzeeeettt rasanya gimana gitu ada sensasi berbeda *halllaaahhhh*πŸ˜›

    pengennya sih bisa ngerasain pesawat tempur, pasti lebih dasyat lagi.

    btw ayoo kapan ke Jakarta lagi… ?

    ^_^

    padahal banyak yang merinding dangdut pas lagi take off, Ndah.
    Tapi emang yaa… orang itu punya keinginan yang macem-macem.
    Saya nggak pernah kepikiran naik pesawat tempur. Tapi malah kepingin naik balon gas… hehehehe… padahal sama-sama terbang, tapi entah kenapa, seneng aja…

    Ke Jakarta lagi?
    Februari, Say…πŸ™‚

    Posted by Indah Sitepu | November 19, 2008, 9:35 am
  40. Melihat sekitar selalu memberi kita pelajaran, banyak hal yang tidak didapat dibangku sekolah……inilah sekolah hidupπŸ˜€ …. karena itu jangan pernah lupa menoleh sekitarmu, karena kita tak pernah tau pasti apa yang bisa kita dapat atau lakukan dengan melakukan hal sederhana tersebutπŸ™‚ … thanks for sharing the story

    iya, In..
    karena hidup ini adalah semata-mata tentang pembelajaran…πŸ™‚
    thanks for dropping by, In.
    Apa kabar?

    *eh, bukunya udah aku kirim kemarin…πŸ™‚ *

    Posted by 1nd1r4 | November 19, 2008, 11:53 am
  41. Oooh…, jadi seorang Lala, takut naek pesawat terbang ya…?? Takut jatuh ya pesawatnya, ngangkut kamu & Lin…???πŸ˜€

    Memang, banyak kejadian di dunia ini yang dapat kita ambil hikmahnya, asalkan kita mau berfikiran positif, dan menganggap semua itu adalah pelajaran, yang sedang diberikan oleh Tuhan kepada kita.πŸ™‚

    benernya sih, Man..
    takut kamu ngiri sama akkyuuuuuhhh…. emang kamu tahu bentuknya pesawat kayak apa???πŸ˜€

    serious part:
    iya, Man.
    Ketika berpikiran positif, kita akan tahu kalau kita sedang belajar… setiap harinya…πŸ™‚ *tumben ini bocah pinter banget.. hihihi*

    Posted by hilman | November 19, 2008, 12:43 pm
  42. wah… sama mba’ saya kalo ke Jakarta sukanya naek kereta…
    tapi dari malang, jadi lewatnya jalur selatan…

    suka pas berhenti di madiun… beli pecel hahaha

    dan kalo dah borring biasanya TIDUR… bawa selimut yg panjang trus krukupan dech… hehehe
    **dasarnya yg tukang molor… jadi walo rame kadang ya ketiduran aja… asal kepala ketutup ma selimut hahaha**

    -salam kenal-

    Hehehe..
    saya paling nggak bisa turun-turun beli makanan saat singgah di stasiun… soalnya yang ada malah takut ketinggalan… hehehe…
    Biasanya juga krukupan gitu, Nge.. tapi kemarin senjatanya ketinggalan semuah..😦

    Posted by inge | November 19, 2008, 2:09 pm
  43. Kalau sedang ingin melakukan perjalanan, perjalanan karena ingin bepergian, aku lebih memilih kereta. Tidak bisa tidak. Ada atmosfir tersendiri karena ia bisa berhenti serta melalui kota demi kota.

    Ada banyak hal yang bisa dilihat. Ada banyak hal bisa didengar. Ada banyak hal yang bisa dirasakan. Lebih dari itu: ada banyak hal yang bisa dicatat.

    Dan kamu tahu, berapa jarak antara Jakarta-Bandung? Sepelemparan tombak, Gembul!!

    Posted by Daniel Mahendra | November 20, 2008, 4:09 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Saya Memang Aneh! | The Blings Of My Life - May 14, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: