archives

Archive for

twelve hours ride

Sudah tiga kali kunjungan ke Jakarta, saya memilih untuk naik kereta api daripada naik pesawat terbang. Selain karena harga tiket pesawat yang sekarang sedang mahal-mahalnya, saya sedang mengalami sindroma takut jatuh dari pesawat terbang. Istilah kerennya: phobia, yang mungkin karena ketakutan-ketakutan yang mustinya tidak penting karena kematian bisa terjadi kapan saja, tidak harus menunggu saat saya terbang melayang di udara, di dalam sebuah tabung besi bersayap dengan teknologi canggih itu.

…atau, kemungkinan besar memang karena saya takut mati saja.. karena banyak sekali dosa-dosa yang saya lakukan selama ini.. tobat, tobat… πŸ™‚

Itulah kenapa, ketika mendapat sebuah undangan dari penerbit yang cukup nekat menerbitkan naskah saya, Grafindo, untuk menghadiri launching buku yang sengaja dibikin khusus untuk saya… well, saya segera saja memesan tiket kereta api eksekutif Argo Bromo Anggrek, yang akan membawa saya ke Jakarta dalam tempo waktu tidak kurang dari 10 jam (dan biasanya selalu molor sampai dua jam berikutnya). Buat saya, biar lama, yang penting saya bisa melihat daratan di samping saya. Daripada harus terbang dan tidak ketemu siapa-siapa selain Gatot Kaca atau Superman yang kebetulan satu jurusan di langit sana… hehe..

KA Argo Bromo Anggrek

KA Argo Bromo Anggrek

Tapi sepuluh jam di dalam kereta, sendirian pula (okay, okay… tidak sendirian… memangnya saya pesan tiket sekaligus lima puluh biar dapet gerbong pribadi? Maksudnya, saya berangkat sendiri..), tentu akan membuat saya mati gaya. Membaca buku, ber-YM-an ria via henpon yang musti diskonek melulu karena sinyal yang mbrebet, ngobrol dengan orang yang duduk di sebelah, atau tidur saja, adalah pilihan-pilihan yang ada. Oh ya, setelah beli henpon china yang ada teve-nya, saya punya satu pilihan baru… hehehe… Cuman ya itu tadi, tetap saja sepuluh jam (bahkan lebih!) itu benar-benar bisa membuat saya mati kutu…

Kalau kebetulan duduk di sebelah orang yang supel dan enak diajak ngobrol (seperti perjalanan menuju ke Jakarta kemarin, yang meskipun saya musti berganti-ganti pasangan — yang pertama turun di Semarang dan yang berikutnya baru naik dari Pekalongan — tapi kedua lelaki itu sangat menyenangkan untuk diajak berdiskusi tentang apa saja), tentu sepuluh jam tadi tidak terlalu terasa. Tapi, coba bayangkan kalau saya musti duduk bersebelahan dengan orang yang berwajah galak, susah senyum, dan malas diajak basa-basi? Haduhh.. benar-benar bikin saya kepingin tuker tempat aja! maksudnya.. saya nyari tempat duduk di sebelah cowok ganteng dan manis yang sekiranya bisa diajakin tukeran nomor telepon.. hihi…

Alhamdulillah, selama ini, saya tidak pernah mati gaya. Mungkin karena saya bawel setengah mati dan berwajah sangat manis sehingga penumpang di sebelah saya menjadi terbawa ekspresif dan nyerocos panjang lebar.. Dan.. voila…! Sepuluh jam di atas kereta tidak membuat saya stress karena tidak segera sampai ke tempat tujuan..

Namun sayangnya.. yang saya maksud selama ini itu tidak termasuk dengan perjalanan pulang saya yang kemarin… Continue reading

Catatan Harian

November 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Celotehan Lala Purwono