you're reading...
Thoughts to Share

a lesson from a book store

Semalam, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mampir ke sebuah Toko Buku untuk membeli buku rectoverso-nya Dee alias Dewi Lestari. Buku cantik berwarna hijau dengan gambar sampul yang minimalis dan hard cover itu akhirnya terbeli juga karena selama ini saya selalu amnesia’ ketika sedang berada di toko buku (maksudnya saya selalu lupa kalau saya kepingin beli buku ini), padahal minggu kemarin saya dan GangGila sempat kencan sebentar di Gramedia, Tunjungan Plaza.

Hm,

Kalau kamu mengira saya akan bicara soal buku ini… well… you’re wrong. Karena apa? Karena saya memang belum membacanya sampai tuntas.

Lantas, cerita apa yang ingin saya bagi pagi ini?

Okay.

Cerita saya cukup sederhana.

Kalau urusan membeli buku, saya memang paling senang hunting buku di toko buku ini. Selain karena faktor murah (berani memberi diskon sampai dua puluh persen), di sana juga menyediakan fasilitas menyampul buku, yang walaupun tidak gratis, tapi sangat murah. Dilihat dari manfaatnya, seribu rupiah sangat murah, kan?

Dan kebiasaan saya setiap membeli buku di sana adalah meminta pegawainya untuk menyampulkan buku-buku yang saya beli, seperti yang saya lakukan semalam.

Counter penyampulan buku ada di bagian luar, persis di samping kanan pintu masuk. Saya dilayani dengan seorang laki-laki muda yang tidak memakai seragam, tidak seperti yang lain-lain. Tingkah lakunya terlihat grogi saat menyampul buku saya. Ah, tadinya saya berpikir, “Jangan-jangan karena gua cantik, ya?” (haha) dan akhirnya saya ketawa sendiri ketika saya mengetahui alasan yang sebenarnya. Apa itu? Oh, dia adalah newbie. Pegawai baru di bagian penyampulan buku. Pantas saja dia terlihat sangat berhati-hati.

Karena terburu waktu, saya merasa gemas. Aduh… agak cepet sedikit dong, Mas…

Dan rupanya bukan saya saja yang gemas, tapi seorang pegawai, yang saya tebak, senior. Laki-laki juga. Dia berdiri di samping saya, lalu mulai mengompor-ngompori si newbie.

“Wis tha.. nggak usah grogi…” katanya. Si Newbie mesam-mesem, sambi terus melanjutkan pekerjaan, dengan kecepatan yang tidak berubah.

“Pinggir’e dhisik sing digunting… Sing tengah iku keri ae (bagian pinggirnya dulu yang digunting, yang di tengah itu terakhir aja)…” si Senior melanjutkan instruksinya.

Si Newbie manggut-manggut manut.

“Wis, lem-e ojo kakehan… tithik ae… lah, lah… ojo mblobor ngono (Lemnya jangan kebanyakan… sedikit saja… lah, jangan sampai meluber begitu)…”

Lalu, si Senior yang mengambil alih pekerjaannya.

Dengan kecepatan kilat dan sangat profesional, si Senior mengerjakan sisa-sisa proses penyampulan yaitu me-lem plastik di bagian tepi atas bawah, menggunting bagian plastik yang tidak penting, danΒ  berusaha merapikan plastik agar tidak ada gelembung udara yang membuat tampilannya kurang mulus.

Seperti yang sudah saya ekspektasi sebelumnya, dalam waktu kurang dari satu menit, buku itu sudah berpindah tangan ke saya, dibarengi dengan senyum lebar si Senior. “Ini, Mbak…” katanya.

Saya tersenyum-senyum senang. Akhirnya buku itu sudah bisa berjajar di koleksi buku-buku di kamar saya… aih, senangnya!

Tapi senyum lebar itu langsung menghilang ketika sampai di rumah, saya langsung kecewa.

Kecewa? Karena tulisan Dee jelek? Oh, tidak. She did a great, great job. Lantas kecewa karena apa?

Hm… saya kecewanya.. karena melihat ini…

rectoverso, by Dee

rectoverso, by Dee

Penyampulan plastik bukunya sangat menyedihkan! Bikin saya sedikit ilang feeling. Apalagi itu di bagian cover yang depan! Yap. Cover depan. Yang terpampang di paling depan kalau saya iseng meletakkannya di atas meja. Lem yang meluber sampai ke kulit muka… belum lagi udara yang masih tersisa sehingga menggelembung di bagian bawah…Β  aarrrggghhhh

Dan tahukah kalian, siapa yang mengerjakan bagian cover depan?

Yap.

The Senior!

Hm…

Then I got this thinking (while still screwing in my heart… haha!).

Belum tentu seorang newbie akan menghasilkan karya yang tidak lebih baik daripada seorang senior. Bisa jadi, karena faktor kerendahan hati, hasil pekerjaannya malah jauh lebih bagus dibandingkan seorang senior, yang menganggap bahwa ini adalah pekerjaan enteng, yang mungkin bisa dilakukan dengan mata terpejam, dan secepat kilat.

Tidak. Belum tentu begitu.

Ketinggian hati akan membuat kita menganggap enteng apa yang kita lakukan. Dan akibatnya? Pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan lebih baik, malah jauh lebih buruk dari para newbies…

Dan ketika pagi ini saya mulai membaca-baca lagi buku rectoverso itu, yang teringat adalah satu hal penting ini.

Never too proud of yourself.

Jangan sombong dan merasa kamu-lah yang paling jago.

Hmm…

Okay deh… ^_^

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

15 thoughts on “a lesson from a book store

  1. Pagi ini …
    Satu lagi pembelajaran penting telah kamu tulis dengan Paten …
    Cara khas seorang Dynamite …
    Cara khas seorang Lala …

    My Comments …
    Ini bener banget … !!!

    Thanks La …
    Have a nice day ..

    (and yes … ike pertamax sajae … weiceh …)

    hai, Om!
    I am your sweet dynamite kan? Seperti yang pernah kamu tulis waktu itu… πŸ™‚
    Makasih Om..
    You’re the one who trusted me from the very first beginning.
    I could never thank you enough.

    I had a great day, yesterday.
    Dan hari ini…
    dan semoga besok-besoknya.
    Wish you the same thing! πŸ™‚

    Posted by nh18 | October 17, 2008, 10:37 am
  2. siiip
    bagus la…
    jam terbang tidak menunjukkan “super”
    sedangkan yang superman bisa aja jatuh….
    (apalagi wonderwoman la….. bisa jatuh….cinta hahahaha)

    emiko lagi mabok

    Kalau Wonder Woman sih emang bisa banget jatuh cinta…
    Sensitif pula. hihihi….

    Jam terbang memang tidak menunjukkan super.
    Tapi ya… dia membuktikan kalau dia bekerja lebih dulu πŸ™‚

    Posted by Ikkyu_san | October 17, 2008, 11:01 am
  3. Masih berjuang untuk memahami esensi tulisan Lala yang berbeda dari biasanya secara berturut-turut ….

    *manggut-manggut*

    Hehehe…
    yang namanya Lala emang begini, Bisaku.
    Tulisannya mengikuti mood.
    Dan tulisan yang baru kamu baca ini, adalah tulisan saat saya lagi kepingin keliatan pinter.. hihihi

    Posted by bisaku | October 17, 2008, 11:02 am
  4. Setuju, bekerja lebih lama belum tentu lebih baik ataupun lebih berpengalaman dengan yg baru. dan walaupun ‘senior’ jangan pernah malu untuk belajar atau bebagi ilmu dengan si ‘junior’ πŸ™‚ .. salam,

    In,
    setuju banget.
    Selama ini selalu aja si Junior yang dipaksa-paksa untuk belajar dari Senior-nya. Padahal, untuk beberapa hal, ada yang bisa dipelajari oleh Senior dari Juniornya. Belum tentu Junior lebih bodoh. Tapi yang pasti, Senior memang datang lebih dulu.. yah.. namanya juga senior.. πŸ™‚
    Apapun itu.
    Belajar nggak boleh pandang bulu.
    Kalau emang pantas untuk dipelajari, ya belajar ajalah… Gimana, Bu? Setuju Bu? πŸ˜€ (maksa.com)

    Posted by 1nd1r4 | October 17, 2008, 11:02 am
  5. Ahhhh..

    sama kayak di sini ya La…

    Kalo sales yang yang lama…biasanya lebih belagu..lebih judes sama customer…tapi tetep profesional si..

    kalo Sales baru..huwaaaa
    jawabnya cuma..ya bu ya bu..ya pak ya pak..

    kekekke

    but intinya…

    lo bener..
    bukan berarti dia anak baru ..perkerjaannya jadi lebih jelek dari yang yang senior:)

    Dan pertanyaan gua…
    Lu di sana 4 taun kan Yes.
    Itu termasuk yang Senior ya, Yes?

    Berarti elu…
    termasuk….
    yang…

    Hmmm!!! πŸ™‚

    Posted by yessymuchtar | October 17, 2008, 11:07 am
  6. Pelajaran yang penting lagi, seorang senior harus sabar menunggu newbie menguasai pekerjaannya….ini akan membuat regenerasi berjalan baik.
    Tapi (lihat dari positifnya), mungkin senior kawatir pelanggan lari, melihat newbie lambat…kalau orang yang pengalaman akan melihat wajah Lala, yang udah pengin kabur…akhirnya dia (senior) bertindak…..ternyata malah fatal…

    Kalau di Gramed Jakarta, ada nggak ya bagian menyampul buku ini….kok saya tak pernah lihat? Pengin juga bukuku rapih…

    Selalu ada sisi yang positif ya, Bu?
    Ah, benar juga… Mungkin dia memang melakukan itu semua karena dia ngeliat saya udah keliatan nggak sabar dan pingin segera pulang aja.. (malah kepingin nyampul sendiri.. hihi…)

    Sepertinya di Gramed nggak ada, Bu…
    Kata si Om, kalau di kios buku Batubara ada tuh… (tapi entah itu dimana.. hihi)

    Posted by edratna | October 17, 2008, 11:13 am
  7. beruntung kau gemar membaca, sobat πŸ™‚

    Hai..
    makasih…

    Eh, kok ada blog laen yaa?
    Maen ah…

    Posted by kangharis | October 17, 2008, 11:44 am
  8. Saya rasa dia sengaja lama nyampul buku itu lho mbak.
    Abis yang nunggu cantik siiih. Hehe
    Emang nunggunya sudah berapa lama mbak?
    Saya juga pernah sempat kecewa pada pegawai Gramedia di Surabaya (juga).
    Di kasir, ketika saya tanya, apakah membungkus kado akan dikenakan biaya lagi. Kasir menjawab, tidak.
    Ternyata ketika kado telah terbungkus (rapi sih), saya dikenai biaya yang lumayanlah bila dibandingkan harga kado itu. Hehe

    Memang salah saya, kenapa tidak bertanya lagi di bagian pembungkusan itu.
    Dan memang salah saya juga …. karena saya saat itu lagi males bungkus-bungkus kado.
    πŸ™‚

    Emang di Gramedia bisa bungkusin kado?
    Setahu saya, di Matahari yang bisa… Murah. Cuman beli kertas kadonya doang… Ada yang 5rebu aja. Udah cantik!
    Eh, kalo di situ berapa sih?
    (sambil ngira-ngira, berapa harga kadonya! hahaha)

    Soal dia sengaja berlama-lama?
    Ahhh… saat itu saya lagi nggak banget, Ir!
    Cuman pake celana pendek, kaos, dan sandal jepit…
    (apa dengan begitu aja, saya udah keliatan cantik yaa?? WAKAKAKAKA)

    Posted by Irna | October 17, 2008, 2:32 pm
  9. aku paling senang nyampul buku πŸ™‚
    maklum kerjaan ibu dua anak yang udah sekolah ngak jauh dari urusan sampul menyampul.
    Saking senengnya nyampul, pernah teman anakku minta disampulin bukunya :))

    Betul sekali La, diatas langit masih ada langit. Orang sombong gak ada gunanya πŸ˜€

    Haha…
    Dibikin bisnis sampul buku aja Mbak.
    Lumayan kan… (eh, apa jangan2 udah, ya? haha)

    Masih ada langit di atas langit.
    Bener banget, Mbak.
    Sombong itu malah bikin kacau. Kalau terlalu sombong, begitu kita salah sedikiiiittt aja, pasti diomonginnya panjang lebar… πŸ˜€

    Posted by IndahJuli | October 17, 2008, 3:11 pm
  10. Oh gitu ya La … wah saya juga harus lebih banyak sabar nih, soalnya saya juga sering kurang sabaran sama mahasiswa(hihihi … ngaku)

    Hahaha…
    Pak Grandis bikin pengakuan terbuka nih!
    Emang nggak sabarannya kenapa, ya, Pak?
    Bandel-bandel yaa?
    Bandel mana sama Bapak Dosennya? hihi…..

    Posted by Oemar Bakrie | October 17, 2008, 3:25 pm
  11. Sepertinya aku tahu toko buku itu… hmmm… U…?
    πŸ˜‰

    hihihi…
    emang ada selain toko buku itu yang punya fasilitas penyampulan buku? πŸ˜‰

    Posted by Yoga | October 17, 2008, 3:39 pm
  12. wong sabar kekasihe Gusti πŸ™‚

    bener banget.. setujuuuuuu…

    Posted by dafhy | October 17, 2008, 3:41 pm
  13. jadi malu sendiri … (*kesentil nih)
    abis kalo di pabrik kalo ngga cergas, cepat , tanggap .. yaa keburu bubar prosesnya …
    btw, setuju deh setuju ..

    Padahal saya nggak bermaksud menyentil Mas lho ya…
    Bukan muhrim, soalnya.. hihihi…
    ENiwei,
    bener tuh. Kalau udah soal proses seperti ban berjalan begitu, ya emang harus cergas, cepat, dan tanggap…

    Setuju sama saya?
    Aduh, makasih…

    Posted by mascayo | October 19, 2008, 12:04 am
  14. di jakarta ada nggak ya toko buku yg nyediain fasilitas menyampul buku? tapi kenapa harus pake lem, jeung? kenapa bukan selotip ato doubletape?

    lemnya tuh, kalau dipakai dengan proporsi yang pas, nanti akan tembus pandang… jadi nggak ketebelan gitu, maksudnya… kalau pake double tape, repot banget, nih… (biasanya sering nyampul sendiri, khususnya buat buku-buku yang lama dan nggak beli di toko buku itu)

    Posted by pibel | October 19, 2008, 10:10 am
  15. Kalau di Jakarta yang ada hanya di toko buku Batubara yang terletak di Kompleks Dosen UIN, Ciputat, dekat rumahnya Bos Nh18.
    Kalau di Medan, dulu ada toko buku namanya Ulamsari yang letaknya dekat pajak Simpan Limun.

    Mungkin kalau dekat sama kampus, selalu ada fasilitas begitu kali ya Bang…
    Soalnya toko buku yang aku ceritain ini juga dekat sama kampus…

    Posted by Hery Azwan | October 20, 2008, 2:54 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: