you're reading...
daily's blings

Pecinta Hujan

It's raining.... Saya adalah Pecinta Hujan.

Saya mencintai  hujan dan bau tanah basah sesudahnya. Entah bagaimana awalnya atau  kapan saya memulainya, tapi rasa cinta saya pada hujan sungguh membuat saya begitu merindukannya ketika Matahari di belahan kota Surabaya begitu garangnya bersinar dari atas sana.

Saya jarang sekali mencintai Matahari, biarpun dia bisa mengeringkan pakaian-pakaian yang saya jemur di loteng rumah.

Walaupun saya butuh juga energinya untuk membantu proses fotosintesis tanaman-tanaman di dalam pot-pot yang tertata di halaman depan rumah saya.

Oh tentu, saya membutuhkan matahari dan segala manfaatnya.

Tapi apakah salah kalau saya lebih mencintai hujan? Ya, hujan yang turun perlahan, dengan hujamannya yang menusuk ke tanah dengan kecepatan lambat lalu membasahi rambut saya, wajah saya, dan ya, tubuh montog saya ini (haha)… lalu tanah. Ya, tanah. Tanah yang kemudian menarik masuk air hujan ke dalam pori-porinya, lalu mengeluarkan bau harum yang luar biasa! Ah! I love the smell… really do…

Sudah lama sekali saya tidak mencium harum tanah basah yang membasah karena hujan.

Entahlah, terasa berbeda sekali kalau bau yang keluar adalah karena siraman air yang keluar dari pipa-pipa air atau semprotan selang dari keran.

Mungkinkah ini karena saya masih menikmati langit yang mendung saat mencium baunya?

Ataukah mungkin karena saya membiarkan angan-angan saya mengembara jauh, berkhayal tentang keindahan-keindahan duniawi yang pernah terjadi bertahun-tahun di belakang, ketika saya dan orang-orang tercinta beramai-ramai memilih untuk duduk di kursi teras, dan menikmati titik-titik air itu jatuh dan terkadang membasahi kami yang asyik tertawa dan bercanda?

Ah..

Sungguh, saya tak tahu mengapa saya mencintai hujan dan harum tanah basah sesudahnya..

Sungguh, saya juga tak mengerti kenapa baunya terasa begitu sempurna di hidung saya…

Juga mengapa saya lebih memilih untuk berhujan-hujan saja ketimbang meminggirkan kendaraan lalu berteduh bersama banyak orang.

Sungguh.
Saya benar-benar tak tahu.

Tapi yang pasti…

Ketika hujan turun kemarin malam… dan menyambut langkah kaki saya yang baru saja menuntaskan kekangenan saya pada salah satu sahabat saya, dengan nonton bersama dan minum kopi sambil bercanda-canda… I just know, that I’m still in love with it

Ya, hujan.
Saya sangat mencintai kamu…

I’m singing in the rain
Just singing in the rain
What a glorious feelin’
I’m happy again
I’m laughing at clouds
So dark up above
The sun’s in my heart
And I’m ready for love
Let the stormy clouds chase
Everyone from the place
Come on with the rain
I’ve a smile on my face
I walk down the lane
With a happy refrain
Just singin’,
Singin’ in the rain

(Singin’ in the Rain, Gene Kelly)

Psssttt…

Tapi jangan bawa semua pasukanmu untuk membasahi bumi ini, ya? Saya takut kebanjiran, nih! hihi..

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

13 thoughts on “Pecinta Hujan

  1. Aku pernah nemu blog pecinta hujan juga …
    di sini … http://afraafifah.wordpress.com/

    Sudah ke sana Om…
    dan dia ternyata pandai berpuisi!

    Posted by nh18 | October 9, 2008, 9:10 am
  2. aaahhh aku juga cinta sekali pada hujan!!! hujan yang bagaimanapun!!! hujan gerimis, hujan badai, hujan berangin, hujan es, hujan duit… terutama hujan cinta!!!😀

    jadi inget pernah menulis tentang hujan ini juga huhuhuhu

    Hujan badai?
    aku nggak mau, Nat.. seyem ahhh…
    hujan duit??? aduhhh… aku nggak sempat liat ramalan cuaca.. ntar kamu kasih tau ya Nat!😀

    Ayo, ayo.. menulislah…
    jangan nulis soal si mantan pacar trus bikin lelaki kecilmu marah dan kamu akhirnya menghapus ‘masterpiece’mu itu! hahaha.. dasar ibu!

    Posted by natazya | October 9, 2008, 5:01 pm
  3. saya mencintai hujan
    dan bau tanah sesudahnya la

    tapi di tokyo, tidak ada tanah
    semua sudah dipavement
    karena itu kalau aku pulang ke jakarta
    aku menikmati hujan
    dan bau tanah itu

    aku kehilangan itu di sini
    mungkin memang aku harus pindah dr tokyo
    dan beli rumah di suatu desa
    yang tidak ada pavementnya
    yang masih ber-tanah
    sehingga bisa menikmati aroma therapy
    dan menangis dalam gelap

    You told me once about this, Sis..
    Pasti nggak enak banget ya, nggak bisa mencium harum tanah basah…

    Ah, someday.. aku pun pingin pindah ke sebuah rumah yang di pedesaan Sis..
    Rumah berhalaman luas…
    Penuh dengan tumbuhan…
    Ntar silahkan datang ke rumahku…
    Dan kita ngegosip di teras depan sambil menyisip kopi tubruk!😀

    Posted by Ikkyu_san | October 9, 2008, 6:18 pm
  4. Yes, I rally lu the smell, sist…..

    ketika harus tanah basah itu mulai merasuki hidung…
    it feels so great🙂

    so you’re agree, huh?

    Posted by OutOfTheMind | October 10, 2008, 10:00 am
  5. wah..hujan itu peristiwa alam yang aq paling suka lho La..dan ya..bau tanah basah emang bener2 enak..hujan dan semua yang ada didalamnya..

    Aih, aih..
    Kamu sama saya emang nggak jauh beda ya, Stey!
    Pernah nggak, kamu duduk di depan teras rumah dan diam saja di sana sambil berkhayal nggak jelas? Kalau pernah, berarti kita semakin mirip saja!😀

    Posted by stey | October 10, 2008, 9:33 pm
  6. “Tapi apakah salah kalau saya lebih mencintai hujan?”

    Tidak, Lala, tidak. Sama sekali tidak salah. Percayalah.
    Kamu tidak salah mencintai hujan.
    Tapi,
    hujannya yang merasa bersalah, dicintai manusia:
    seperti kamu!
    Hihihi…

    Ya..
    tapi dia lebih beruntung,
    daripada dia dicintai sama kamu! Ya, Kamu, DM!!! Laki-laki paling jahil yang pernah hidup di muka bumi ini dan kebetulan saya kenal!!😀

    Posted by Daniel Mahendra | October 11, 2008, 5:17 am
  7. suka hujan juga ya ….
    Kalo saya menyukai hujan saat saya di salam kereta. Melihat tiap tetes air di balik kaca jendela.

    Aih..
    Romantis sekali yaa…
    Sayangnya, selama naik kereta, saya jarang melihat tetesan hujan di balik jendela.
    Dan biasanya..
    saya sering ketiduran! hihi…

    Kapan-kapan deh…

    Posted by BanNyu | October 11, 2008, 11:29 am
  8. Sejak tinggal di Jakarta, saya jadi rindu banget sama hujan dan bau tanah. Kontras sama Bogor dengan hujan angin dan kilatnya mampu menumbangkan pohon-pohon tua di kampus, istana, botanical garden dan jalanan.

    Saya suka hujan…
    tapi bukan hujan yang serem dan lengkap dengan kilat yang menyambar-nyambar…
    kalau sudah begitu, saya jadi setengah hati rasa cintanya..😀
    Dulu pernah kena mogok sih, gara-gara banjir!

    Posted by Mang Kumlod | October 11, 2008, 10:07 pm
  9. Aahh, gua juga suka nyium wangi tanah setelah diguyur hujan😀

    Posted by Indah | December 23, 2008, 1:02 pm
  10. i was here… ~_^

    Posted by Lygia Nostalina | April 8, 2009, 8:33 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Sebuah Cerita Hujan « the blings of my life - November 10, 2008

  2. Pingback: it’s got a hell sense of a humour | The Blings Of My Life - March 14, 2009

  3. Pingback: Menikmati Pelangi « the blings of my life - November 12, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: