you're reading...
daily's blings

Lelaki yang Menangis

Lelaki itu jarang sekali menangis.

Dalam hidupnya yang sudah tiga puluh tahun lebih itu, hanya beberapa kali ia menangis. Tangisan yang tak terhitung dan tak pernah terekam dalam pita rekaman otaknya sendiri adalah ketika ia masih bayi yang baru lahir dari perut Ibunda tercintanya. Lalu tangisan-tangisannya ketika masih balita, berebut botol susu dengan kakak perempuannya..

Lalu tangisan yang meraung-raung ketika si Lelaki kecil itu terjatuh dari sepeda, untuk pertama kalinya… Tangisan-tangisan yang hanya terceritakan oleh mulut orang lain dan membuat senyumnya tercetak begitu lebar di wajah bulatnya, dengan rambut-rambut kasar yang tumbuh rapi di bagian dagunya.

Tangisan yang mulai bisa terkenang dalam isi kepalanya adalah…

Ketika sang Ayah mencecarnya dengan kalimat-kalimat bernada tinggi dan ini baru terjadi untuk pertama kalinya ketika ia menginjak usia awal belasan. Dia menangis… Karena ia tak menyangka bahwa Ayah yang
dipikirnya tidak akan pernah memukul bahkan mengeluarkan kata-kata kasar, malah memukulnya, menceramahinya panjang lebar, dengan mata yang menyala merah!
Tapi ia menangis juga karena ia merasa bersalah… Bersalah kepada adik kecilnya, yang menangis hebat karena ulah nakalnya… Kursi kayu yang tadi menjadi teman bermainnya telah menimpa adik kecilnya sampai terluka… Ia menangis, karena memang ia merasa sangat bersalah…

Ketika si Lelaki bertengkar hebat dengan wanita yang dicintainya, yang menjadi sahabat terdekatnya selama sembilan tahun… ketika mereka memutuskan untuk mengakhiri saja, padahal cinta masih menjadi denyut untuk jantungnya.. Tangisan itu terekam sempurna dalam otaknya. Sama sempurnanya dengan tangisan bahagia ketika ia akhirnya menikahi si Perempuan pujaan yang juga sekaligus sahabatnya itu, setahun kemudian.

Tangisan berikutnya datang mendadak dan begitu cepat.

Ia menangis ketika harus melihat Ibunda tercintanya sedang menghadapi Malaikat Maut yang menjemputnya tiba-tiba, di suatu siang yang sedang panas-panasnya. Di mata kepalanya sendiri, ia melihat sang Ibunda
tersengal-sengal, dengan mata terbelalak, lalu perlahan-lahan.. tubuhnya melemas… dan matanya mengatup sempurna. Nafas itu, hilang sudah.

Saat itu si Lelaki tidak sendirian.
Ada Ayahnya.. Ada Kakak Perempuannya… Juga adik kecilnya yang lalu meraung-raung tanpa henti di sisi tubuh Ibunda yang mendingin.

Sejak saat itu, ia jarang sekali menangis.

Mungkin hanya sedikit menitikkan air mata saja, tapi tidak menangis sambil meluapkan seluruh isi hatinya. Ia hanya menangis, sedikit saja. Tidak seperti tangisan-tangisan sebelumnya.

Bertahun-tahun, ia tidak menangis hebat.

Lelaki itu memang bukan lelaki yang berhati sensitif, sehingga jarang sekali ia menangis. Beda sekali dengan si Adik yang bisa saja menangis hebat hanya karena menonton drama seri di layar televisi kamarnya. Ia bukan Lelaki yang mudah menangis. Ia adalah lelaki yang mungkin (malah) tak ingin menangis.

Tapi ia tetaplah seorang manusia biasa…

Yang memiliki rindu.
Yang memiliki rasa takut akan kehilangan.
Yang memiliki jutaan rasa yang berkecamuk hebat ketika ia marah.

Ia tetaplah manusia yang bisa menangis.

Kala hatinya benar-benar sedih…
Atau benar-benar terluka…
atau benar-benar takut…
akan kehilangan.

Dan benar saja.

Ketika rasa rindunya kepada sang Ayah membuncah dan meluluhlantakkan rasa egonya. Ketika ketakutannya akan kehilangan sosok Ayah untuk selamanya… Ketika ia sangat, sangat ketakutan akan hilangnya kesempatan untuk bertemu kembali dengan sang Ayah yang sudah lama tak terlihat dalam batas pandangnya hanya karena rasa segannya untuk memaafkan… Di suatu siang yang panas…Di awal sebuah bulan yang menjanjikan kembalinya hati menjadi putih bersih…

Ia merangkul Ayahnya.
Lalu ia menangis.

Tangisan pertama, yang tak pernah terlupakan olehnya.
Juga oleh si Kakak perempuan.
Juga oleh si Adik perempuan,
yang ikut menangis bersamanya.. merangkul Ayah mereka.

Dan siang yang terasa panas itu, entah kenapa, malah mengademkan segala panas yang bergelora
di dadanya.

Ya, di dada seorang Lelaki.

Lelaki yang menangis.

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “Lelaki yang Menangis

  1. Ah ini bagus banget …
    Really …
    Sayang buku kamu udah naik cetak ya La …
    Kalo tidak … ini bisa jadi cerita gacoan nih …

    And …
    Yes … saya berkaca-kaca ketika membaca cerita yang satu ini …

    Hai Om…
    Kalo gitu, bilang sama Abang, untuk masukin ini ke buku kedua.. hihihi…
    Oh ya..
    Om butuh tissue buat ngelapin air matanya nggak?
    Atau butuh dipeluk aja? Hihihi.. digampar bolak balik sama Bundanya Yoga! πŸ˜€

    Posted by nh18 | October 9, 2008, 10:04 am
  2. Lala….
    Duh, menyentuh sekali. Lelaki yang menangis
    Dari judulnya udah mengandung makna yang dalam banget,
    apalagi setelah membacanya….
    Saya ikut berkaca-kaca membaca cerita ini.
    Thanks for inspiring me

    Hai Nepho…
    Terimakasih ya..
    Berarti kamu sekarang juga termasuk Lelaki yang Menangis dong?
    Atau.. eh salah, salah..
    Tepatnya..
    Lelaki yang Kedua Matanya Berkaca-kaca… πŸ™‚

    Posted by nkusuma6210 | October 9, 2008, 10:35 am
  3. berhubung judulnya Lelaki yang Menangis…
    ya aku ngga boleh nangis dong hehehe

    hmmm aku kok jadi ingin bercerita ttg seorang lelaki
    yang tidak kusangka akan menangis di depanku ya?

    Emang ada rencana mau menangis? Hihihi…
    Cerita aja Sis..
    Biar kita berdua ini semakin klop aja.. πŸ™‚

    Posted by Ikkyu_san | October 9, 2008, 6:04 pm
  4. gue ikutan nangis..

    apalagi inget anak gue yang demamnya belum hilang juga..tambah sedih…

    Jangan sedih ya, Yes…
    Semoga si Tangguh cepat sembuh dan bisa main-main lagi…
    Kecup sayang buat Tangguh, ya.
    He will be fine..

    Posted by yessymuchtar | October 9, 2008, 9:35 pm
  5. Top,,keren abiez…
    Saya juga ikut berkaca-kaca juga nich…heee

    Bilang-bilang lho, kalau kamu butuh tissue.. πŸ™‚

    Posted by Noval Rifani | October 9, 2008, 11:46 pm
  6. ini tentang kakakmu yang cowok ya LA?CMIIW..

    Tentang kakak saya, Stey?
    Could be..
    Could be not.
    πŸ˜€

    Posted by stey | October 10, 2008, 9:26 pm
  7. Hmm-hmm-hmm…
    Ketika membaca tulisan ini, tiba-tiba aku teringat sesuatu.
    Ehm!

    Tapi di luar soal ingatanku itu,
    tulisanmu sudah mulai menemukan segi nih.

    Teringat sesuatu?
    Apa itu, DM? πŸ™‚

    Kalau tulisan aku sudah ada segi,
    tapi badanku nggak ada segi-seginya sama sekali nih! Hahaha..

    Eh DM, seriously.
    Segi-nya kayak apa, nih?
    Ceritain yaah…

    Posted by Daniel Mahendra | October 11, 2008, 5:20 am
  8. ah lala… tulisanmu sedikit menggoyahkan bongkahan es yg telah lama menggumpal di dada ini (menungguwaktuuntukmeleleh)

    Uda, Uda…
    lelehkan saja..
    Seperti si Lelaki yang saya ceritakan di sini,
    sekarang dia menjadi jauh lebih lega setelah menangis hebat di dada Ayahnya…

    Posted by vizon | October 11, 2008, 8:31 am
  9. Seginya? Badanmu?
    Karung beras!!!

    hus!
    nggak usah teriak-teriak di blog perempuan manis ini dong, DM! πŸ™‚

    Posted by Daniel Mahendra | October 12, 2008, 6:14 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: