you're reading...
Thoughts to Share

Girl in the Mirror

Pernah nggak sih, kamu duduk di depan cermin, terus melihat refleksi wajah kamu di sana, tapi yang kamu rasakan cuman kehampaan?

Ya.

Bukan perasaan-perasaan narsis macam… “Ih, ternyata gua cantik/ganteng banget ya…” atau “Uh, I’m a model, honey!” πŸ™‚

Bukan pula, perasaan-perasaan sedih seperti ini… “Buset deh! Itu perut apa ban serep?” atau “Gila, idung gua pesek banget, muka gua jerawatan, kulit gua kayak pantat panci… Jelek amat sih gua!”

Nope.

Bukan perasaan-perasaan itu.

Tapi perasaan yang campur aduk, yang memunculkan pertanyaan ini di isi kepala kamu, “Hey, you in the mirror.. Who the hell are you?”

Karena yang kita lihat di sana bukanlah sosok yang kita tahu… Sosok yang kita kenal… (ah, ini bukan posting horor, kok! Trust me! πŸ™‚ ) Sosok yang sama sekali lain… dalam wujud seorang kamu, tapi bukan seperti yang kamu inginkan…

Sampai di sini, saya tanya lagi sama kamu.

Pernah?

Atau selalu?

OK. Kalau kamu masih bingung menjawab pertanyaan saya, ada baiknya saya lempar pertanyaan itu ke diri saya sendiri.

“Lala, kamu pernah nggak, bertanya-tanya siapa sosok yang ada di cermin itu? Yang seperti kamu, tapi bukan kamu? Yang memang kamu, tapi tidak seperti yang kamu inginkan? Pernah nggak, La?”

Dan jawabannya….

Ya.

Pernah.

Hampir selalu.

Dahulu.

**

Saya adalah perempuan yang nggak bisa diam di satu tempat. Sukanya berpindah-pindah. Nggak nyaman dengan suatu keadaan yang statis, yang begitu-begitu saja, dan minim tantangan. Saya memang bukan traveler sejati, tapi bukan berarti, I love just being right here and do nothing.

Bekerja di belakang meja adalah jauh dari cita-cita. Jauuuh sekali. Tak pernah ada keinginan untuk menjadi seorang Sekretaris seperti sekarang, yang duduk di belakang meja saja, yang hanya repot-repot pada saat-saat tertentu saja, yang jarang sekali bertatap muka dengan orang-orang yang baru..

…karena yang saya lihat hanya wajah si Boss…

…rekan kerja yang duduk di sebelah…

and that’s all.

Dari dulu, saya selalu ingin menjadi seorang yang bisa begitu mobile… memiliki mobilitas yang tinggi… Rasanya seru sekali bisa berpindah-pindah ke tempat yang satu ke tempat yang lain. Pekerjaan menjadi Public Relations dan Sales Marketing Hotel, adalahΒ dua pekerjaan ideal yang saya inginkan ketika menjelang lulus kuliah, lima tahun yang lalu. Oh, oh. Jangan tanya soal pekerjaan menjadi Penulis. At that time, being a writer is not a job. It was only a dream which now has already came true! Bagi saya, menulis masih merupakan hobi dan bukan pekerjaan. At least, until today (which somehow, someway, I hope… it will be my job).

Apa yang terjadi ketika saya lulus kuliah?

Tawaran yang datang adalah menjadi Staff Administrasi yang akhirnya naik tingkat menjadi sekretaris Bos. Sempat bingung juga. Saya bukan orang yang betah duduk di belakang meja. Apalagi, saya duduk di lantai dua, persis di samping kanan ruang Bos yang berkaca tembus pandang. Yang saya lihat setiap hari ya.. dia lagi, dia lagi.

Bisa terbayang, kan, betapa seramnya memiliki imajinasi seperti itu?

Imajinasi yang cukup membuat ngeri seorang Lala, yang sepasang kakinya ini doyan jalan, mulut yang bawel dan suka ngerumpi, dan seneng sekali untuk memulai pertemanan dengan orang baru…

and I was living my nightmare for four months before I decided to quit!

Tapi bodohnya….

Bukannya mencari-cari kerja sesuai dengan keinginan, malah ‘terjerumus’ lagi di pekerjaan yang sama. Seorang teman merekomendasikan saya untuk bergabung di sebuah perusahan pelayaran internasional… as a secretary. Kenapa tadi saya bilang ‘bodohnya’? Ya karena….. SAYA MEMUTUSKAN UNTUK BERGABUNG DI SANA! Gila, kan?

Dan ya.

Saya memang gila. Lebih tepatnya, menjadi gila πŸ™‚

Menjadi seorang Sekretaris/Personalia yang duduk di belakang meja, ribet dengan angka gajian, uang THR, kalkulasi uang kesehatan, mencatat overtime, dll dsb, benar-benar memasung kaki-kaki saya! I can’t go anywhere! Segala pekerjaan bisa ditangani tanpa harus angkat bokong! Ya… sampai segitunya! Kalaupun harus berjalan-jalan, paling hanya ke kamar mandi, ruang IT, ruangan si Boss (TPE dan Indonesia), ruang meeting, atau beredar sekali-kali ke lantai 1 dan 2 untuk mengumpulkan informasi tentang kesejahteraan karyawan.

I wanted more!

Saya pingin bertemu dengan clients…

Memprospek bisnis dengan mereka…

Bikin presentasi di mana, dengan siapa…

Janji lunch dengan respected customer lalu bikin kesepakatan di sana…

Anything but stand still!

Dan mulailah saya merasa bosan… Dan mulailah saya ngerasa “What the hell I’m doing here?” … Dan makin merasa aneh dengan diri sendiri… Lalu berkaca… dan melihat… the girl in the mirror… wasn’t me.

**

Itu dulu.

Ya. Dulu. Beberapa tahun pertama di kantor yang sekarang, ketika saya sedang berjuang untuk menemukan diri saya sendiri di dalam sebuah profesi yang jauh dari impian. Menemukan definisi bahagia dari sebuah pekerjaan yang sungguh monoton.

Dan, ya…

I found it… Dari seorang Kakak yang bilang, “Hey, siapa bilang jadi marketing hotel itu enak? Kamu nggak tau sih, betapa nggak enaknya harus duty sampai jam sebelas malam padahal dari pagi aku nggak ketemu anak-anakku…”

Padahal dia memiliki pekerjaan yang sungguh saya idam-idamkan…

Hm.

Kenyataan itu telah mengubah pandangan saya tentang konsep kebahagiaan itu sendiri. Bahwa mungkin saja ada orang yang lain yang menginginkan untuk berada di alas kaki-kaki saya. Ingin melangkah, seperti saya. Ingin berdiri, seperti saya. Dan saya seharusnya mencintai apa yang saya kerjakan, kalau saya terlalu malas untuk mencari pekerjaan yang saya cintai.

Buat apa ngomel kalau nggak melakukan apa-apa?

Buat apa susah-susah bersedih hati kalau kamu diam saja tak bersuara?

Deal with it. Love it. At least.. try to love what you’re doing…

Ketika saya mulai mencoba untuk menikmati pekerjaan, mengalun mengikuti iramanya… dan akhirnya dari segala kebengongan saya tiap hari yang mengantarkan saya pada dunia tulis-menulis dan blog… Saya tahu, saya telah menemukan orang yang saya inginkan ketika sedang berkaca setiap pagi di depan cermin sambil menyapukan bedak di permukaan kulit wajah saya.

Ya.

That girl… in the mirror…

Seorang Sekretaris yang bawel, yang doyan maen games, yang rajin ngeblog, dan pantatnya jarang diajak pergi kemana-mana (kecuali di luar jam kantor ya! karena Mall is my second home! haha) itu…

Memang seorang Lala.

Ya. Lala saja, bukan siapa-siapa.

Bukan orang lain.

(pssttt… ditambah dengan satu kalimat narsis tiap pagi, usai dandan… “Buset, tambah cantik amat dirikuh…” HAHAHA)

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

16 thoughts on “Girl in the Mirror

  1. Narok Tas dulu …
    (amankan posisi)

    Posted by nh18 | September 19, 2008, 4:54 pm
  2. huh si mas curang
    aku heran mas bisa baca cepet hahahha

    Posted by Ikkyu_san | September 19, 2008, 4:59 pm
  3. La berbahagialah kamu saat ini karena you know what yoa are doing…
    hebat adikku ini…

    kalau aku?
    aku ingin bisa berwajah seribu
    or sepuluh aja deh
    jadi dasamuka hihihi

    Posted by Ikkyu_san | September 19, 2008, 5:00 pm
  4. Hehehe … gak bisa diem … disuruh duduk … from 8 to 5 di kursi …
    tak terbayangkan .. pasti seperti cacing kepanasan …

    I have an Idea … yang kamu jabarkan diatas itu semua kan bersifat Fisik … jalan , presentasi , ketemu client dsb

    Gimana kalau ke”dinamisan” kamu itu kamu ejawantahkan dalam pemikiran … nulis … ide … brainstorm dsb …

    Emang secara fisik kamu diam … namun your mind is merambah kemana-mana …
    mencari wisdom-wisdom … Knowledge – feel – mood dsb …
    It’s good for your writing energy …

    Posted by nh18 | September 19, 2008, 5:01 pm
  5. (hah )
    What did I write …

    Posted by nh18 | September 19, 2008, 5:05 pm
  6. La… ada job di sini la. badly needed.
    (aku pengeeen bgt tapi anak-anak mau dikemanain hihihi)

    Tour guiding or/and interpreter.
    Aku kasih tour guidingnya ke kamu aja. bisa jalan ke mana2 loh.
    1 hari dapat 20.000 yen tuh
    tapi syaratnya kudu bisa bahasa Jepang.
    2 tahun la…mastering bahasa Jepang. Berani ngga?
    (kayaknya ngga sih hihihi)

    Posted by Ikkyu_san | September 19, 2008, 5:07 pm
  7. Hah …
    Ini judule EM & NH kejer-kejeran komen …
    hihiihihih

    Posted by nh18 | September 19, 2008, 5:14 pm
  8. aku komen supaya EM dan NH gak kejer2an ya La….hehehe…

    Posted by rhainy | September 19, 2008, 7:45 pm
  9. EM nya udah capek dan NH nya udah pulang soalnya rhainy.
    met kenal ya…. terima kasih sudah menghentikan pertandingan komentar ini hihihi

    EM

    Posted by Ikkyu_san | September 19, 2008, 9:07 pm
  10. Apa yang kau pikirikan juga sering jadi pemikiranku La.
    Apakah aku sudah bekerja pada tempat yang tepat?
    Tidakkah potensiku masih banyak yang belum bisa dieksplor?
    Jadi teringat buku Thomas Sugiarto yang menginspirasi Eko Ramaditya tentang cerita dua orang teman lama yang bertemu di sebuah restoran All You Can Eat. Si Joko, sebut saja begitu, sudah sukses di kota tersebut sebagai pengusaha, sementara si Johny, baru datang ke kota tersebut untuk mencoba peruntungan. Ketika mereka mulai makan, si Joko mendapat panggilan telepon sehingga dia sibuk bertelepon ria hingga hampir satu jam. Melihat Joko menelepon, si Johny tidak berani makan apa2, dia hanya makan nasi dan air putih…Setelah Joko selesai bertelepon, dia heran mengapa Johny hanya makan nasi putih. Johny menjawab,”Aku nggak berani makan yang lain. Kan kamu yang mengundang. Jadi kamu yang berhak menentukan apa yang harus aku makan. Nanti kalau aku makan secara bebas, kamu bayarnya mahal.”

    Moral ceritanya, jangan2 kita seperti Johny yang belum mengetahui potensi kita sebenarnya…
    Alangkah sedihnya kalau di restoran All You Can Eat kita hanya makan nasi dan air putih…

    Maju terus La…
    Btw, cover bukumu udah jadi…
    minta dikirimin aja ke Sulaiman biar bisa kau letakkan di blog ini. Itung2 sebagai promosi….
    Sering2 berkunjung ke blog lain ya…
    Biar pada ngeh…

    Posted by heryazwan | September 20, 2008, 9:29 am
  11. hmmmm udah lama ga ngaca dan mikir mikir bu heuehuehu biasanya ngaca cuma dalam kurang dari 5 menit sebelum berangkat karena udah telat mao kemanamana sebagai nona yang doyanannya ngaret sepanjang masa πŸ˜†

    love what you’re doing

    love the one you’re with

    yang gitu gitu harusnya sih bisa yah… tapi kadang kadang suka lupa ajah…

    huhu manusia!

    Itullah, Nat… sederhana, tapi terasa berat banget buat dilakukan…
    Kadang nih, kita sering bersembunyi di balik label ‘manusia’ kita, padahal.. justru karena kita manusia, harusnya kita bisa doing more! πŸ™‚

    Aih, aih, lala…
    elu juga masih sering lupa dan mengkambinghitamkan kemanusiaan kamu aja, pake nasehatin orang… HAHAHAHA.. payah lu, La!

    Posted by natazya | September 20, 2008, 10:08 am
  12. baca judulnya kok langsung teringat Reflection-nya Christina Aguilera ya…..

    Who is that girl I see
    Staring straight back at me?
    When will my reflection show
    Who I am inside?
    …………………..

    *c’mon La, sing along with me*

    It’s good that you have found who you are in your mirror πŸ™‚

    Mbak..
    Tau ga sih..
    benernya aku lupa mo cantumin lirik lagu itu di post ini.. hehehe.. abis, ini emang didasari dari lagu reflection yang sering banget aku nyanyiin kalo audisi.. (yang gagal mulu itu! hahaha)

    Ya. ya.
    It feels so damn good to find my own reflection in the mirror!
    What about you?

    Posted by tantikris | September 20, 2008, 5:45 pm
  13. aq kalu melihat cermin suka ketakutan sendiri, takut ada mahluk lain yang ikutan ngaca di samping aq… hihihihi aq memang paranoid sangat

    kebanyakan nonton pilem horor tuh Neng.. πŸ™‚
    tapi iya.. gua juga sering begituh! hihihi…
    penakut banget…

    Posted by ladyfi | September 22, 2008, 8:14 am
  14. wakakakka..setuju banget sama om trainer..

    Posted by yessymuchtar | September 22, 2008, 11:04 am
  15. Karena emang manusia enggak pernah puas, kan sist? πŸ™‚

    Posted by outofthemind | September 23, 2008, 5:16 am
  16. Hi.. newbie neeh… dapet sitenya dari milis CC, boleh kan kasih komen ke mba lala?

    I’ve read some of ur writings, but this writing makes me wanna share my own experience. Opposite of ur story, I did get the job of my dream right b4 my graduation, being an english teacher and translator. both made me happy. but when i decided to get my master degree on translation, i had the opportunity to join Ministry of National Education (a fortune actually) and so i left my prev. jobs as well as my thesis. N now, i feel a bit upset. I do travel lots and get new experiences but, i missed my time on teaching and translating. But it is true… @least i try 2 love my job now, coz many people are willing 2 get exactly where i stand now. fiuhhh.. what a long comment yea?

    Posted by uchie | September 24, 2008, 9:09 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: