you're reading...
Fiktif

Seorang Perempuan dan Kekasihnya

Sebuah kalimat cinta dan dibarengi dengan kecupan virtual di ujung telepon menyudahi percakapan antara seorang Perempuan dan Kekasihnya. Mata si Perempuan berbinar. Seolah ada banyak bintang bermain-main di dalam kedua biji matanya. Bintang-bintang yang berbicara banyak soal cinta, soal rindu, soal perasaan hangat yang selama ini telah memanjakan hatinya.

Usai bertelepon, si Perempuan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Meletakkan kepalanya di atas bantal bersarung warna putih polos dan membiarkan kedua matanya memandang lepas ke langit-langit kamarnya. Sebuah sosok tergambar jelas dalam imajinasi Perempuan, sehingga menerbitkan rasa hangat di dadanya, menciptakan senyum di wajahnya. Iya, sosok itu, wajah sang Kekasih, lelaki terhebat yang pernah hidup di dalam hatinya.

Sambil berkhayal tentang indahnya kebersamaan mereka, si Perempuan di usia awal tiga puluh itu, perlahan memejamkan matanya… Walaupun di dalam tidurnya itu, ia masih membayangkan wajah si Kekasih… Wajah tampannya, yang membuatnya tak ingin terbangun dari tidurnya dan terus saja bermimpi… Bermimpi bisa bersama dengan Kekasih…

Menghabiskan waktu berdua… Bercengkerama tanpa peduli waktu tergerus perlahan… Hanya bersama dengan Kekasih yang begitu dicintainya… Dan itu hanya bisa dilakukannya, lewat mimpi-mimpi panjang dalam tidurnya…

**

Si Kekasih memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dengan segera, dia mengeluarkan satu batang rokok dari balik saku celananya dan membakarnya perlahan. Lelaki berumur akhir empat puluh itu memilih untuk duduk di kursi teras rumah sambil meracuni paru-parunya dengan nikotin rokoknya.

Angannya mengembara. Melayang-layang pada satu sosok manis bersuara merdu yang sedang tersenyum di ratusan kilometer dari sini.

Is she smiling now?

What is she thinking about? Is it me
?

Does she remember all the good things when days were young and new?

Lelaki itu menghisap rokoknya sekali lagi. Seakan mencoba menelan utuh segala gelisahnya, lalu dihembuskan kuat-kuat seperti mencoba untuk menghilangkan semua resahnya. Ia mengedipkan kelopak matanya, mencoba mengusir wajah perempuan manis itu dalam ingatannya. But she’s there. Alive. In every particle of air that he breathes.

Lalu sekali lagi ia melakukan distraksi. Dengan memain-mainkan asap rokok yang dihembusnya menjadi bulatan-bulatan yang cantik lalu lenyap di udara sekian detik kemudian. Tapi… ahh.. susah sekali melakukannya. Perempuan itu masih ada. Masih menggodanya. Masih menggedor-gedor pintu hatinya.

Ah, Perempuan!

Saya cinta sama kamu…

Dia berbisik lirih dengan air mata tertahan. Bibirnya bergetar. Jemarinya seperti kehilangan daya hanya untuk memegang batang rokok yang kini sudah separuh terbakar. Dia kehilangan semua energi untuk menghapus garis wajah perempuan itu dari dalam isi kepalanya… and he hates that!

“Pa… kamu lagi ngapain?”

Sebuah suara membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Dia menekan ujung rokok itu ke dalam asbak, menenangkan diri, lalu menoleh pada seseorang perempuan yang sedang berdiri di depan pintu ruang tamu sambil memandangnya lembut.

“Di luar dingin lho, Pa.. Masuk yuk?”

Lelaki itu tersenyum. Dia beranjak dari kursi, berjalan mendekati perempuan itu, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Ia tahu ia gelisah, tapi ia tahu, perempuan ini tidak boleh mengetahui gelisahnya.. meraba resah jantungnya saat ini..

Karena perempuan ini adalah…

…Istrinya.

**

“Aku nggak peduli, Kekasih…” Si Perempuan merajuk manja sambil menggelendot di tubuh si Lelaki. Kini mereka sedang menghabiskan waktu berdua saja, di sebuah restoran pinggir kota, tempat mereka biasa berjanji untuk bertemu dan melepaskan rindu.

“Kamu sungguh nggak peduli?” Si Lelaki membelai lembut anak-anak rambut kekasihnya lalu mengecupinya perlahan-lahan dengan sayang.

Si Perempuan menggeleng.

“Sungguh?”

Si Perempuan menggelengkan kepalanya sekali lagi.

“Meskipun kamu tahu kalau…”

“Iya,” potong si Perempuan, “meskipun aku tahu kalau semua ini nggak mungkin… Ya, I really don’t care.”

“Tapi, Sayang…”

“Tapi apa?”

“Itu artinya, aku sudah nggak adil sama kamu…”

Si Perempuan memandang Kekasihnya dengan kedua bola matanya yang bulat cantik. Sesekali, dua mata itu berkedip. Dua mata yang dipenuhi dengan bulu-bulu mata yang lentik itu kini memandang si Kekasih dengan lembut. “Nggak adil, gimana?”

“Sayang, aku sudah menyia-nyiakan masa depan kamu…”

So?”

“Kamu berhak mendapatkan lelaki yang bisa membuat kamu bahagia…”

I AM happy… So?”

“Kamu akan lebih bahagia dengan lelaki lain, Sayang…”

Now, you want me to leave. Is that it?”

“…”

Now, you want me to be clever, after all of those years that we’ve been through together?”

“Say, please listen…”

No!” teriak si Perempuan. “YOU listen.” Si Perempuan memandang wajah Kekasihnya. Menggenggam erat kedua tangan Kekasihnya yang berkeringat karena gelisah yang amat sangat. “I really don’t care about the future… All I care is this very moment… with you. Sama kamu, Sayang. Cuman sama kamu. I’m happy just being around you. I’m happy just being hugged by you. I’m happy just by knowing that you love me with all you heart. I am HAPPY with all our limitations. Selama aku bisa bersama kamu… aku nggak peduli pada kenyataan kalau ini semua adalah mimpi, Sayang…. Let me have my dreams… Coz it will always be a beautiful dream as long as you’re there…

Si Lelaki terdiam.
Hatinya bergemuruh hebat melihat wajah cantik di depan matanya yang terlihat begitu bahagia.
Ah, binaran mata itu! Ada berapa bintang yang Ibumu ambil dari langit, Sayang, sampai-sampai kedua bola matamu terlihat begitu sempurna! Sparkling! Beautiful!

Dia masih terdiam.
Si Perempuan kini menyandarkan kepalanya di dada bidang Kekasihnya.
Sementara waktu terus berlari..
Meskipun kadang, ingin sekali berhenti…
Sejenak saja.
Sebentar saja.
Biar mereka bisa menikmati cinta ini lebih lama… dan lama…

**

Tapi betulkah si Perempuan tidak sedih hatinya? Tidak terluka perasaannya? Tidak ingin menggigiti bagian kue yang tidak diperuntukkan untuknya? Tidak bersedih karena setiap malam menjelang, dia harus membayangkan tubuh kekasihnya berlekatan dengan tubuh perempuan lain?

…she cries every nites…

Lebih-lebih ketika perasaan rindunya buat Kekasih seperti candu yang membuatnya sakaw dan kehilangan kendali. Lebih-lebih ketika Kekasih menciptakan jarak dan sulit dihubungi.

Dan ketika telepon seluler Kekasih tak bisa teraih, si Perempuan tak sanggup lagi menahan perasaannya.

Every weekends is disaster…

And every disasters makes her losing her breaths…

“Bukannya kamu sudah tahu apa konsekuensinya?” Seorang Sahabat bertanya.

“Kalau aku nggak bakal bisa bersatu sama dia?” tanya si Perempuan. “…yeah, I know.”

So?

“Apanya?”

“Kenapa masih terus kamu lakukan?”

“...I love him.”

But you’re killing yourself.”

“Aku tahu.”

“KAMU TAHU????”

Si Perempuan mengangguk.

“…I have no idea.. I surely don’t...” si Sahabat menggelengkan kepalanya.

Yes, sure you don’t…” Si Perempuan memandang wajah Sahabatnya. “Because you have no idea what it feels… to be me…

Dan keheningan itu pun mengurung dua orang Sahabat yang mengakhiri malam itu dengan satu pelukan penuh air mata.

**

Angkasa tanpa pesan
merengkuh semakin dalam
berselimut debu waktu
ku menanti…
cemas

Kau datang dengan sederhana
satu bintang di langit kelam
sinarmu rimba pesona
dan kutahu…
tlah tersesat

Kukejar kau takkan bertepi
menggapaimu takkan bersambut
sendiri membendung rasa ini
sementara kau membeku

Khayalku terbuai jauh
pelita kecilmu mengalir pelan dan aku terbenam…

redup kilaumu tak mengarah
jadilah diriku selatan
namun tak kau sadari hingga kini… dan nanti..

(Satu Bintang di Langit Kelam — RSD)

**

…karena aku tak akan mampu mengejarmu lalu memelukmu… sendiri saja.. milikku saja… sampai selamanya.. sampai waktu menggerus hidupku perlahan… dan nafas tak lagi terhembus dengan sempurna….

**

Koran itu terjatuh.
Meluncur cepat dari tangannya. Tangannya yang gemetar membuat segala kemampuannya untuk memegang kedua tepi lembaran koran itu dengan sempurna, langsung menghilang. Hatinya berdegup kencang.

-DEG!-

Jauh lebih kencang dari sebelumnya. Kepalanya langsung pening, wajahnya memucat, dan matanya berkunang-kunang. Hey, Oksigen! Kamu kemana??!! tiba-tiba saja paru-parunya berjuang sekuat tenaga untuk terus membantunya bernafas. Tiba-tiba saja.. semua daya untuk tetap duduk dengan tenang di atas kursi terasnya.. langsung menghilang. Sekejab saja!

Pandangan matanya mengabur.
Tiba-tiba gelap mengurung penglihatannya.
Tiba-tiba ia merasa lemas.
Dan dalam waktu sekian detik…
Ia terjatuh..
Pingsan…
persis di sebelah koran paginya tadi…
Yang pagi ini bercerita tentang seorang Perempuan, yang memutuskan untuk menyudahi nyawanya, hanya karena cinta yang tak terbalaskan….
Perempuan yang belakangan diketahui sedang hamil empat pekan itu tewas akibat menenggak pil tidur dalam jumlah di luar batas…

**

I have to go, Sayang. It won’t go anywhere.”
“…”
“I love my wife, my kids.. my family.. MY LIFE..”
“…”
“Aku minta maaf sudah membuat kamu mencintai aku sampai bertahun-tahun lamanya…”
“…”
“…seharusnya aku menghentikan semua ini dari awal… ”
“…”
“Tapi aku mencintaimu… meskipun ternyata… I know, that I love my life, more…”
“…”
“Maafin aku, yaa… Aku sudah nyakitin kamu…”
“…”
“Terimakasih buat cinta dan sayang kamu selama ini, ya? Kamu tahu, tiga tahun kemarin adalah sangat luar biasa.. Kamu adalah perempuan yang sungguh hebat buat saya, Sayang… Ketahuilah bahwa untuk mengucapkan kata-kata perpisahan ke kamu adalah sungguh berat dilakukan.. but I have to! I have to do this! Sebelum kita berjalan semakin jauh, sebelum aku menyakiti kamu lebih dalam lagi…”
“…”
I love you, Sayang… but I really have to go… And this time is forever. Are you okay with this?”
“…”

Dan itu adalah percakapan terakhir yang diingat Kekasih ketika mereka berpisah, semalam tadi…

**

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “Seorang Perempuan dan Kekasihnya

  1. sipp laa
    emang biasanya begitu kan endingnya?
    tak pernah ada si lelaki yang bunuh diri
    tak pernah ada lelaki dan selingkuhannya bersatu
    tak pernah ada yang mau mengerti bahwa si lelaki dan si perempuan memliki cinta yang sejati.
    hehehe sulit kalau berkata soal hati

    Ada kok, cerita tentang Lelaki dan Selingkuhannya yang bersatu… (and you know who they are!) πŸ™‚

    Posted by emiko | September 18, 2008, 4:59 pm
  2. great!

    Thanks! πŸ™‚

    Posted by ladyfi | September 19, 2008, 8:52 am
  3. keren La..i will buy your book one day..pasti πŸ™‚

    Janji ya, Yes?
    Sebentar lagi buku-ku keluar lho.. Awas kalau ga beli.. hihihi
    Thanks ya!

    Posted by yessymuchtar | September 19, 2008, 11:38 am
  4. HHHmmm …
    I’ve told you kan la …
    Ketika pertama kali aku masuk blog mu ini …

    Your words are … dynamite …
    Use it …

    Ya, Om…
    I still remember how you always said about my words.. from the very first beginning! πŸ™‚
    So, so…
    Kapan meledaknya ya kira2? ^_^

    Posted by nh18 | September 19, 2008, 2:32 pm
  5. La kalu mau pasang mercon utk lebaran berarti bakar buku kamu aja ya? kan katanya dynamite hahhahaha

    (canda loh)

    Posted by Ikkyu_san | September 19, 2008, 5:02 pm
  6. Keren banget tulisan-tulisannya, jeung…
    SaLam kenaL….

    Posted by tyanjogjack | November 21, 2008, 11:15 am
  7. yah begitulah klo cuma jd wanita kedua…lambat laun sang lelaki tsb akan kembali ke ibu dari anak2nya.

    Posted by silvi | November 21, 2008, 4:37 pm
  8. sometimes love comes to those who believe it…ga peduli uda merit ato belum.how can we stop that love when we’ve already married with someone?should we kill that love?tp gimanapun jg ga bole ada cinta yg lain selain pasangan kita setlah kita merit…..am i right?

    Posted by she | May 31, 2009, 2:46 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: