you're reading...
Thoughts to Share

are you willing to let go… or not?

Saat sedang berdandan di depan cermin meja rias pagi ini, sebuah berita di televisi menyita pikiran saya dan serta merta membuat saya berhenti berdandan (meskipun beberapa saat saja) dan mengikuti isi beritanya. Cerita di televisi yang menarik perhatian saya itu adalah tentang (lagi-lagi) kelahiran bayi kembar siam yang akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Darmo (apa Soetomo ya? Yang jelas, di Surabaya, lah).

Tapi tunggu…

Saya tidak akan bicara soal bayi kembar siam itu. Tapi yang membuat air mata saya (hampir saja) tumpah usai menyaksikan berita itu adalah… kenyataan bahwa sang Ibunda, yang mengandung dua jabang bayi yang terlahir berlekatan satu sama lain itu… meninggal dunia, lima jam setelah melahirkan bayi-bayinya secara operasi caesar.

Deg!

Jantung saya berdegup jauh lebih kencang. Air mata saya seolah mengumpul di sudut mata lalu berebut ingin turun, mengaliri pipi saya, sampai jatuh ke bawah. Pemandangan mengharukan di mana seorang adik berteriak-teriak marah pada wartawan-wartawan yang berusaha mencari liputan yang seru untuk media yang menaunginya, seorang adik yang dengan isak tangis tertahan berusaha menghalau kamera itu supaya jangan sampai menyentuh bayi-bayi keponakannya…

Ah… it must be very terrible.. horrible!

Dan berita itu pun membuat pikiran saya melayang pada beberapa tahun silam, pada sebuah percakapan antara sahabat (Tat dan Lin) yang sedang menunggu praktikum Teknologi Pengolahan Nabati. Percakapan yang diawali karena lontaran pertanyaan iseng dari mulut bawel Lala.. (yes, as usual, saya yang paling iseng di antara GangGila!)

Saya hanya bertanya, “Eh, Guys, kalau seandainya nanti kalian hamil tapi ternyata kehamilan kalian bermasalah dan membuat kalian memilih either Ibu-nya atau anaknya yang selamat…. what will you do?”

Dan pertanyaan itu bikin kedua sahabatnya menghela nafas, hampir bersamaan. Mungkin dalam pikiran mereka, ini anak hobi banget nanya-nanya hal yang susah dijawab!🙂

Sahabat saya, si Tat, setelah diam beberapa saat, segera menjawab, “Aku sih lebih memilih untuk mempertahankan diriku sendiri daripada bayiku, La…”

“Kamu nggak eman (=sayang), Tat.. It’s your flesh blood kan.. Darah daging kamu…”

“Justru karena dia darah dagingku sendiri makanya aku nggak rela dia diasuh sama orang lain, di mana aku nggak bisa mengontrol, mengendalikan, atau menjamin bahwa dia ada di tangan orang-orang yang bertanggungjawab. Aku takut kalau-kalau anakku itu malah dibesarkan dengan cara yang salah dan dia tumbuh menjadi orang yang nggak bener…” kata Tat semangat.

Kalau Lin lain lagi. She said that… “Kalau aku lebih memilih give up myself daripada harus kehilangan bayiku, La. Bayiku berhak untuk lahir. Dia adalah anugerah terindah untuk aku dan suamiku. Dan sebagai hadiah buat suamiku, untuk selalu inget aku setelah aku nggak ada… Jadi dengan adanya bayi itu, suamiku selalu inget sama aku…”

Lalu Tat menyanggah, “Lha, terus? Kalau udah inget, so what? Apa kamu yakin anakmu bakal diasuh dengan baik? Emang nggak bisa, ya, pengingatnya bukan seorang bayi, tapi apa gitu.. yang nggak perlu mengorbankan diri sendiri secara konyol begitu…” Si Tat memang anggota GangGila yang paling ‘seru’. Pemikiran-pemikirannya beyond expectation. Dan ya, the most cynical woman I’ve ever known🙂 Ya, ya, mirip si Miranda Hobbs di Sex and The City itu!

Lin nggak mau kalah (hey, apa kabar moderator, si Jeung Lala? Kenapa dia diam aja, ya?😀 ). Dia segera menyambar dengan pertanyaan ini. “Tuhan membuat kita hamil kan pastinya punya plan yang spesifik, kan? Pasti ada maksudnya. Nggak sembarangan Tuhan menitipkan bayi-bayinya tanpa memiliki maksud yang spesifik… Nah, berarti anak itu harus dilahirkan, Tik. Nggak bisa nggak. Itu sudah jalannya!”

Dan Tat masih keukeuh.

Dan Lin juga masih mempertahankan argumentasinya.

Percakapan hari itu tidak diakhiri dengan kesimpulan bahwa ini seharusnya dan tidak seharusnya begitu. Kedua sahabat saya masih saling menyimpan pendapatnya masing-masing, meskipun sudah tidak mementingkan siapa yang dibilang benar, siapa yang dibilang salah.

Mereka malah balik tanya pada saya.

Dan saya hanya bilang begini, “I don’t know… Karena aku belum tahu gimana nikmatnya mengandung bayi kecil dalam perutku… Bagaimana serunya merasakan tendangan kaki-kaki mungilnya di dinding perut… Lalu ketika melihat hasil USG, melihat tubuh kecilnya bergerak-gerak di dalam tubuhku sendiri… I cannot decide whether I should let it go, or keep it with all the risk…  hm… mungkin aku akan sama seperti Tat…

Tapi entahlah kalau suatu saat kelak, ketika aku sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya mengandung seorang bayi.. mungkin aku akan memilih untuk melahirkan bayi itu… dan mempercayakan masa depannya di tangan suamiku tercinta…

Masih mungkin, kok.. Belum tentu juga…”

Dan di ujung percakapan tiga orang manusia yang bersahabat itu, Tat menyentuh pundak saya sambil berkata, “Tapi kalau suami tercintamu bilang ‘Sayang, stay with me… Jangan tinggalin aku sendiri… Mendingan aku kehilangan anak daripada kamu… because I want to stay forever with you, in bad and worse of times…’, kamu pasti akan mikir-mikir ulang untuk sependapat sama Lin, kan?”

Ah, Tat… Tat…

Are you willing to let go.. or not?

Sumpah deh, itu pertanyaan dari kamu yang sampai sekarang nggak bisa saya jawab! Serius!🙂

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

12 thoughts on “are you willing to let go… or not?

  1. sebetulnya simple saja, mending selamatkan ibunya. Soal bayi, kan masih bisa diusahakan lagi😀

    Yang jadi masalah, kondisinya begini, Mas Hari.
    Kehamilannya akan selalu bermasalah.
    Jadi harus memilih dari awal.
    Mau punya anak dan kehilangan istri.
    Atau selamanya tidak punya anak, tapi tetap bersama istri.

    …kalau begini, masih sederhana?😀

    Posted by *hari | September 9, 2008, 2:29 pm
  2. Lewat …
    No comment …

    kayak Dessy Ratnasari aja, no comment…😀

    Posted by nh18 | September 9, 2008, 2:35 pm
  3. Pass

    Posted by heryazwan | September 9, 2008, 4:32 pm
  4. pengalaman la….
    waktu Kai
    aku berdoa…
    Tuhan kalau aku mati, siapa yang rawat Riku dan anak ini? Tapi pasti Tuhan sudah siapkan, jadi terserah Tuhan aja. Kalaupun saya harus mati, saya siap.Dan saya serahkan Riku dan Kai dalam tanganMU.
    and … kamu baca juga kan di posting aku.
    Serahkan pada Tuhan. Dia lebih tahu mana yang baik.

    Teman jauh ku ada yang diabetes, hamil, padahal sudah diwanti2 dokter membahayakan. Dia mati, dan anak hidup. Anak dibesarkan oleh Omanya, karena bapaknya kan harus kerja. Aku ngga tau bagaimana anak itu sekarang. Tapi buat OMa, cucu itu penghibur, karena Oma itu sudah sendiri, Anak perempuannya meninggal, dan Opa juga sudah meninggal. Nobody knows La.
    mana yang baik….

    Coz I haven’t been in that shoe, jadi belum bisa kepikiran apa yang bakal aku lakukan ya, Sis…
    ah, nggak tau deh….
    We’ll see about that.
    Memang, tidak ada yang pernah tau, even a second a head…
    Thanks buat ceritanya, Sis… ternyata, aku, Lin, dan Tat memang tidak sendirian..🙂

    Posted by Ikkyu_san | September 10, 2008, 12:59 am
  5. Hidup adalah pilihan, eh?
    Jadi apa yang hendak kau pilih nanti…

    Life’s a matter of choices, indeed.

    Posted by Daniel Mahendra | September 10, 2008, 2:01 am
  6. Sebuah bahan renungan yang berat juga buat laki-laki, saat ini pun jika saya diminta untuk menjawab, pilih mana harus kehilangan istri atau anak? Bingung saya… he 🙂

    Hey!
    Ini nih…
    komentar dari seorang laki-laki/suami..
    I always wonder what a husband thinks about this matter…
    ternyata, oh ternyata… berat juga! sama beratnya!🙂

    Posted by undercover | September 10, 2008, 12:21 pm
  7. Jangan dijadikan pilihan, ah, apakah ibunya atau bayinya yang harus selamat.

    Tuhan pasti punya maksud atas semua kebijakannya itu.
    Tinggal kita saja yang mengambil maknanya.

    Ibu itu pasti sudah di sorga!
    Dan semoga bayinya bisa menggantikan perjuannnya.

    Salut postingannya!

    Tabik!

    Jadi, Ibu-nya sudah pasti masuk sorga ya, Pak?
    Hmmm…
    Tapi memang, berhenti berandai-andai aja, deh..
    Kalau memang itu akan jadi pilihan, biarlah nanti-nanti saja mikirinnya!🙂

    Posted by zulfaisalputera | September 10, 2008, 12:24 pm
  8. la..this is..deep

    too deep for me…

    Iya, Yes…
    Ini juga terlalu susah buat aku..😦

    Posted by yessymuchtar | September 10, 2008, 12:27 pm
  9. Suit-suittt… senengnya yang udah menelpon KangMas DM =))

    Ditunggu makan-makannya kalau udah jadian ya, La🙂

    Sebentar…
    Sebentar…
    Apa hubungan menelepon urusan kerjaan *halah! sok banget sih lu, La? hihi* sama jadian trus traktir makan-makan??

    Donny… Donny…
    ayo, ayo… nggak usah berhalusinasi begitu!🙂

    Posted by Donny Verdian | September 10, 2008, 2:13 pm
  10. ngga ada yang telpon aku nih DV…
    (buka lowongan hahaha)

    Aih, aih..
    yang pingin ditelepon…
    fans-nya kurang banyak ya, Sis..
    hihihi

    Posted by Ikkyu_san | September 10, 2008, 4:31 pm
  11. @ Donny Verdian:
    Aku tuh yang nggak tau apa-apa gitu deh, Don…
    (du-du-du-du-du…)

    Terus,
    kamu itu ngertinya apa tho Mas…🙂

    Posted by Daniel Mahendra | September 10, 2008, 8:51 pm
  12. pertanyaan kayak gini udah pernah mampir di benak saya, tapi tetep saya ga bisa nemuin jawabannya. Saya ga mau jadi wanita yang egois dengan memilih melepaskan bayi saya dan saya tetap hidup, i’ll be feeling guilty for the rest all my life then. Tapi saya juga ga mau anak saya tumbuh besar tanpa saya berada disampingnya. Ah shit, La..kenapa ngga ngasih pertanyaan macem 1+1 aja sih?:(

    Tau ga sih, Stey…
    Mungkin.. mmm.. lebih tepatnya, kemungkinan besar, ini akan lebih mudah, kalau kita memiliki pasangan yang mencintai kita in our good and worse of times… Dengan dukungan dia, sepertinya, ini akan way much easier… don’t you think?
    Dan soal ngasih pertanyaan ini.. hehe……. I need to know what others think, Bu! Coz I need all the opinions!🙂

    Posted by stey | September 13, 2008, 9:33 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: