you're reading...
daily's blings

sejarah yang berulang

Seorang Istri duduk di depan cermin meja rias. Mematut-matutkan wajahnya di sana, wajahnya yang nampak sendu. Dia mendekatkan wajahnya sampai berjarak lima belas-an senti dari permukaan cermin, lalu kedua matanya mulai mencermati kerut-kerut yang ada di dahi, di sekitar mata dan bibirnya…

Lalu ia mundur lagi. Masih dalam diam, si Istri mengambil bedak tabur di atas meja rias dan mulai menaburkannya di atas wajahnya.

Selesai itu…
Dia menghela nafas.
Lalu menoleh pada saya sambil berkata perlahan, “Aku udah tua, ya, La…”

She’s a thirty three years old woman. Berkulit putih. Bertubuh berisi. Rambutnya bermodel bob pendek. And of course…. gorgeous.

Saya tersenyum. “Tiga puluh tiga sudah tua, ya? Baru tahu…”

Lalu dia memandang cermin di depannya sekali lagi. Kini mulai menyisir rambutnya. Nampak jelas gelisah itu menggayut di wajahnya. Saya jadi tak tahan untuk menanyakan tentang mendung gelisah di wajahnya itu.

“Kamu kenapa?” tanya saya, lalu duduk di atas ranjang yang persis di sisi kanan meja riasnya. “Wanna share?”

Si Istri meletakkan sisirnya sambil menghela nafas. Lalu menoleh. Lalu berkata, “Did you see my husband, this morning?”

Yes of course I saw him.
Tadi pagi kami sempat breakfast bareng.

Saya mengangguk. “So?”

Did you really, really SEE him?” tanyanya dengan penekanan di kalimat ‘SEE’, seolah ingin memastikan bahwa saya benar-benar telah MELIHAT suaminya tadi pagi.

“IYA.”

Istri mendesah. “Jadi kamu tahu kan, kalau dia potong rambut…”

“Ya, dan aku godain dia kayak anak SMA aja…”

Istri tersenyum. “Itulah, La. He looks so young now!”

Well, he does! Apa masalahnya? Dia terlihat lebih muda, lebih segar, lebih ganteng…”

Hey, hey, don’t you get my point? Dia? Muda. Aku? I look so terribly old, La!”

….point taken, my dear. Point taken.

“Tapi kamu cantik, Say… Siapa bilang kamu keliatan tua?”

No, Lala.. Nope. Aku sudah tua, aku nggak cantik, dan lihat badanku…. Dulu badanku nggak segini, La, waktu kawin sama Suamiku…”

“…”

“Karir dia bagus banget di kantornya, La… I know, mustinya aku bersyukur…. tapi… dengan pekerjaan yang bagus, wajah yang ganteng dan masih muda… I’m afraid…”

Lalu Istri diam.
Saya tahu persis apa yang ada di dalam pikirannya.

“…I ‘m afraid…”

Yes, Dear?” Saya biarkan dia ungkapkan saja.

“….aku takut… sejarah itu akan berulang….”

***

Istri adalah sulung dari tiga bersaudara; tiga anak-anak yang lahir dari keluarga yang (tadinya) nampak harmonis lalu setelah itu sejarah telah menorehkan catatan berwarna hitamnya.

Menginjak usia remaja, ia harus kehilangan figur seorang Ayah yang begitu dia idolakan ketika sang Ayah memilih untuk bermain-main dengan perempuan lain, tanpa mempedulikan si Ibunda yang merintih mencintainya dan selalu membuka pintu maaf untuknya.

Ayah yang tak pernah sampai di rumah sebelum pukul sembilan…

Ayah yang selalu mencari-cari alasan untuk tidak di rumah meskipun hari Minggu adalah hari yang tadinya dipersembahkan hanya untuk keluarga..

Ayah yang kemudian membuatnya penasaran lalu berniat mengikutinya, sampai akhirnya ia tahu persis bagaimana rupa perempuan yang telah merusak kebahagiaan Ayah dan Ibundanya…

Ayah yang itu… Yang pernah menjadi segalanya… Lalu menjadi sosok yang tak bisa ia maafkan sampai hari ini…

Karena…

Istri melihat sendiri bagaimana Ibundanya menangis…

Tersakiti…. Merintih…. Lalu sakit… Lalu tak berdaya…. Lalu menyerah setelah menyadari bahwa apapun yang dia lakukan tak bisa membawa kembali suaminya ke dalam pelukan keluarga… 

Dan sejarah itulah yang ditakutkan sang Istri akan berulang dalam kehidupannya.
Suaminya akan meninggalkannya…
Seperti seorang Ayah yang meninggalkan Ibundanya ketika sang Bunda mulai kehilangan daya tariknya…

***

Istri masih di depan cermin. Masih dengan pikiran yang melayang-layang pada sejarah masa lalu yang tak bisa hilang dalam isi kepalanya.

“Aku trauma, La,” kata si Istri akhirnya. “Aku takut sekali kalau sejarah itu benar-benar berulang…”

Di usia empat belas tahun, Istri sudah mampu merekam dengan baik setiap perilaku Ayahnya dan setiap tangisan Bundanya. Perselingkuhan sembilan belas tahun yang menguji hati Bundanya telah menciptakan satu pemahaman bahwa lelaki dengan wajah di atas rata-rata dan berkantong sedikit lebih tebal, akan rawan berselingkuh, apalagi kalau si perempuan pasangannya tidak mampu menjaga kecantikannya.

Ia percaya…
Ketika perempuan kehilangan daya tariknya…
Ketika kulitnya mengendur…
Ketika badannya menggemuk…
Ketika di wajahnya muncul kerutan-kerutan halus…
Ketika kelelahannya mengasuh anak-anak membuatnya tak sempat berdandan heboh untuk menyambut lelaki-nya pulang….

Ketika semua itu terjadi, komitmen pernikahan yang mereka ucapkan di depan penghulu, telah mereka letakkan di meja judi. Menanti… siapa yang kalah? Siapakah yang menang? Bisakah bertahan? Atau selesaikah sampai di sini?

….karena Bunda telah meletakkannya di meja judi, lalu kehilangan semuanya…

Hhh.
Saya sendiri belum menikah. Belum menemukan lelaki yang tepat untuk berkomitmen sehidup semati. Bukan kapasitas saya untuk memberikan nasehat-nasehat buat seorang Istri yang meragukan cinta suaminya, ketika ia mulai merasa tua, gemuk, dan tidak cantik.

Tapi karena ia adalah sahabat saya, ini menjadikan saya merasa berkewajiban untuk mengembalikan senyum manis itu kembali ada di wajahnya. Apapun caranya.

Dan sesaat sebelum saya pulang ke rumah, saya hanya bisa bilang begini:

“Siapa bilang kamu tidak cantik? Kamu cantik, kok. Dan kamu bilang kamu tua? Hey, you’re still thirty three! Lima tahun lagi aku akan di posisi kamu sekarang dan aku nggak mau dibilang tua  saat itu…

Dan satu hal yang perlu kamu ingat….

Ayah bukanlah Suami.

Dan Suami, adalah lelaki yang berbeda.

He could be worse… or better….

Only time will tell you… and at the mean-time, berhentilah menguras energi untuk meladeni ketakutan-ketakutanmu terhadap sejarah yang berulang, karena percayalah, Sahabat… setiap orang memiliki sejarahnya masing-masing… dan kamu nggak boleh berprasangka pada Tuhan bahwa Dia sudah kehilangan ide untuk membuat skenario yang berbeda…”

Lalu sahabat saya tersenyum.
Memeluk saya.
Menangis di bahu saya.
Tanpa bilang apa-apa.
Dan saya memang tak perlu mendengarkan apa-apa dari mulutnya.

…saya sudah cukup bahagia ketika ia tersenyum melepas saya di depan pintu pagar……

(Ah, Sahabat… Be strong, ya? Kamu tahu, kamu adalah orang yang bisa menguatkan saya dalam masa-masa pedih saya… I need you to be strong, so then I can be stronger…. Promise me one thing to never underestimate yourself. You’re beautiful! You’re smart! You have your dream jobAnd, yes, you have two beautiful kids! You’ll always be my picture perfect of a woman should be! Catat itu ya…)

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “sejarah yang berulang

  1. Wajar jika kita sebagai manusia, ada rasa takut kehilangan apalagi karena usia, hal yang tak mungkin kita lawan. Kuncinya satu, bahwa percaya Ayah dan Suami adalah orang yang berbeda, memiliki pemikiran yang beda, dan tentunya cinta yang beda.

    Berhubung saya juga belum menikah, tapi kata orang-orang yang menikah, kuncinya adalah kepercayaan penuh antara suami dan istri. Percayalah, suami sangat mencintai istri dan istri harus percaya diri, sehingga bisa mengeluarkan ‘inner beauty-nya di hadapan suaminya.

    Posted by d'UnOrdinary.World | September 6, 2008, 6:39 am
  2. hmmm yang pasti si Istri itu bukan aku la…
    coz aku sudah 40 nih hehehe
    but aku ngga takut dengan usia
    katanya life begins at 40 hahaha
    (nanti kalo udah 50 bilangnya lain lagi)
    kalo 33 udah takut…gimana 50 ya?

    tapi pernyataan kamu :
    Ayah bukanlah Suami.
    Dan Suami, adalah lelaki yang berbeda.
    itu benar…meskipun kebanyakan lelaki itu sama heheheh.

    hey istri… be strong!

    Posted by Ikkyu_san | September 6, 2008, 10:04 am
  3. Cerita yang mengguah, La.
    Kayaknya dialami oleh hampir setiap wanita ya….
    Jadi teringat Pak Basofi, “Tidak semua laki-laki…”
    Tapi, laki-laki selingkuhnya dengan perempuan juga kan?
    Lebih aib lagi kalau selingkuhnya dengan laki-laki.
    Gubrak deh…

    Posted by heryazwan | September 6, 2008, 10:19 am
  4. mengguah=menggugah

    Posted by heryazwan | September 6, 2008, 10:19 am
  5. Hahaha …
    Si Abang suka sengaja salah ketik nih …
    supaya di repisih …
    supaya komennya banyak …

    Hihihihihi

    maap OOT

    Posted by nh18 | September 6, 2008, 10:30 am
  6. @sahabatnya Lala ..
    Remember …
    Jangan berprasangka buruk
    Prasangka buruk bisa membunuh kita
    pelan-pelan
    dan bisa jadi sangat menyakitkan …

    so berprasangka baik lah …

    Posted by nh18 | September 6, 2008, 10:32 am
  7. ah… bu… yang namanya trauma dan ketakutan sejarah berulang itu masuk akal sekali… been there done that banget! karena memang keluarga ku juga bukan keluarga yang segitunya bahagia… jatuh bangun udah pernah ngeliat dengan mata kepala sendiri… juga yang namanya “datang dan pergi”… tapi pada satu titik dimana akhirnya mengenali diri sendiri dan menetapkan bahwa kali ini kesalahan yang sama ga akan berulang kayanya bakal jadi starting point yang bagus dan benar benar akan bisa jadi lebih baik lagi dan ga terikat dengan yang namanya sejarah apalagi kejebak dalam apa yang kata orang “karma orang tua”… yang benar saja! dengerin lagunya Kelly Clarkson yang Because of U itu cukup menyenangkan 😀

    Posted by natazya | September 6, 2008, 10:33 pm
  8. “…saya sudah cukup bahagia ketika ia tersenyum melepas saya di depan pintu pagar……”

    Tebing tulisan yang manis!

    Makasih……

    Posted by Daniel Mahendra | September 10, 2008, 2:08 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: