archives

Archive for

in search of lights

inspired by BLIND POWER: Berdamai dengan Kegelapan (Eko Ramaditya Adikara) –> click here for more details.

Gelap.
Dan cahaya.
Dua kata yang memiliki makna yang sangat kontradiktif.

Pemakaian kalimat yang umum terjadi dengan perpaduan dua kata tersebut adalah ini:

…setelah mendung yang gelap itu berlalu, saya melihat setitik terang cahaya di balik awan….

atau ini:

…cahaya itu terus meredup… meredup… lalu menghilang sama sekali dalam gelap…

Ya. Dua contoh kalimat itu menggambarkan perpaduan dua kata yang maknanya bertolak belakang, bahwa memang, tak mungkin ada cahaya dalam gelap… atau gelap yang bercahaya…

Tapi, tunggu dulu.
Jangan gegabah untuk berpikiran sesempit itu sebelum kamu membaca kisah hidup seorang Rama, tunanetra yang baru menyadari kekurangannya (yang setelah saya selesai membaca buku ini lantas bertanya-tanya: apakah justru itu kelebihannya?) di usia tujuh tahun.

Karena apa?

Karena di dunia Rama yang gelap itu….. penuh dengan cahaya….

*

Namanya Eko Ramaditya Adikara, akrab dipanggil dengan nama Rama, lelaki kelahiran Semarang 27 tahun yang lalu itu, saya kenal lewat buku-nya yang berjudul Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan. Buku setebal hampir empat ratusan halaman itu baru selesai saya baca sesaat sebelum saya memutuskan untuk mengungkapkan kekaguman saya buat seorang Tuna Netra, yang justru bisa menemukan banyak cahaya indah di kehidupannya daripada saya yang bermata sehat tapi masih tak bisa menyadari bahwa cahaya-cahaya indah itu ada.

Rama mungkin tidak memiliki penglihatan seperti saya, yang bisa memvisualisasikan sebuah object dengan sempurna. But there’s always something that eyes just can’t see. Karena mata… tidak melulu soal sepasang indera yang terletak di wajah kita. Karena sejatinya… ada mata yang sungguh-sungguh bisa melihat dengan sempurna…. dia bernama Mata Hati.

…dan saya yakin, sangat meyakini, bahwa Rama, adalah salah satu manusia beruntung yang memilikinya.

Rama memang manusia yang beruntung. Dia bahkan bercerita sendiri di dalam bukunya bahwa dia terselamatkan dengan tidak memiliki penglihatan yang sempurna. Apa alasannya?

“Karena saya bisa terhindar dari dosa mata….”

Hey! Tidak bisa tidak, hanya orang-orang beruntung saja yang bisa menemukan kekurangannya lalu mengkonversinya menjadi kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain! Maybe it sounds like a self-defense mode, but hey… apapun itu namanya, selama bisa membuat kita tidak minder dan melangkah dengan percaya diri, so what?

Dan Rama telah membuktikan, bahwa dengan penglihatan yang tidak sempurna, dia tetap tidak minder melangkahkan kakinya…. menjejaki dunia-dunia yang lumrah diperuntukkan hanya untuk orang-orang tanpa cacat….

Meluncur di dunia maya, blogging, ceting,  dan membuat jejaring dengan teman-teman maya….. mungkin kata Rama, “Been there, done that.”

Mengutak-atik hardware komputer (meskipun harus kesetrum dan ketimpa kardun sekalipun)… masih kata Rama, “Ahhh.. itu sudah makanan sehari-hari…”

Membuat ilustrasi musik untuk games dan berhasil menjadi salah satu penyumbang musik untuk games fenomenal Final Fantasy (meskipun namanya tidak tercantum dalam credit title)…. Rama menganggukkan kepala untuk membenarkan.

Menjadi jurnalis? Reporter? Cari bahan ke sana kemari…. SUDAH PERNAH, LALA…

Traveling sendirian, ke sebuah tempat yang belum pernah tersentuh sebelumnya, hanya bermodalkan bahwa dia bisa dan Tuhan akan selalu menjaganya….. Hey! He did that all the time!

Saya tidak melek komputer…

Saya tidak bisa membuat ilustrasi musik game (dan buta not balok!)…

Saya tidak pernah menjadi jurnalis atau reporter

Traveling sendirian? Hanya mengunjungi tempat-tempat yang sudah saya kenal betul sehingga ketakutan saya akan ketidaknyamanan selama berpergian tidak sempat ada….

Padahal saya dan Rama tidak jauh berbeda.

Sama-sama flesh blood.

Sama-sama menarik dan menghembuskan nafas dengan cara yang tidak berbeda.

Sama-sama sakit hatinya ketika disakiti dan bahagia kalau dicintai.

Dan seharusnya, dengan penglihatan yang jauh lebih sempurna, seorang saya harus bisa melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang bisa saya lakukan hari ini….

Hhh…

Betapa kecilnya saya..

Betapa kerdilnya saya yang selalu merasa terkukung oleh keterbatasan padahal satu dari kelima panca indera saya selalu bisa membuat teman-teman Tune Netra saya merasa cemburu…

Betapa sempit pikiran saya yang menganggap bahwa dunia tak lagi bersahabat ketika saya sedang tersandung masalah…

Betapa kuno pikiran saya yang menganggap bahwa saya tidak bisa melakukan apa-apa…

Karena seharusnya saya bisa.

Karena seharusnya saya sanggup melakukannya.

Karena seperti yang Rama bilang, “There’s nothing impossible while we’re still alive, and miracle exists in every piece of dream you are building… If we cannot make a perfect dream, why don’t we build a perfect reality from little dream God has given to us? If we cannot find miracle, why don’t we create miracle by ourselves? If you cannot get both of them, just trust me that they exist…” (page.85)

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL DI DUNIA INI.
Tidak sebelum kamu berusaha.
Tidak sebelum kamu berjuang.
Tidak sebelum kamu mengerahkan segala kemampuan yang kamu punya.
Dan kalau memang itu tak bisa terwujud…
Percayalah saja, bahwa itu ada…
(but at least, kamu tahu, kamu telah melakukan sesuatu untuk meraihnya)

Hm,

Rama.

Empat jempol (termasuk jempol kaki, deh! hihi) saya berikan buat kamu, buat buku yang saya yakini betul bisa menginspirasi banyak orang, khususnya orang-orang yang lebih memilih mencemburui orang lain dan mengutuk nasibnya yang tidak beruntung. Saya banyak belajar dari setiap suguhan kisah di dalam buku ini. Saya tertawa (cerita tentang lima orang Bidadarimu itu lho… sepertinya seru sekali yaa?)… saya terharu (ketika kamu sedang menjumpai masalah yang membuatmu traveling sendirian)…. dan saya sungguh sungguh bangga (di seluruh kisah-kisah yang kamu tulis itu!)…

Ini adalah buku yang hebat.

Kisah hidup yang luar biasa.

Dan kamu, Rama…. adalah lelaki yang sangat-sangat beruntung bisa menemukan cahaya itu dalam gelapmu…

Kini giliran saya mencari cahaya saya, ya?

Dan saya tahu, SAYA PASTI BISA.

Thanks ya, Ram!
This book is going to be a hit!!

Ps. Sekedar saran saja, nih, gimana kalau tokoh Lala itu kamu ganti dengan warrior  gendut tapi cantik dan baik hati kayak saya ini? Hehehe….

Catatan Harian

September 2008
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono