archives

Archive for

Isn’t that too much??

Sepasang suami istri berjanji untuk berbuka bersama di sebuah mal. Sore itu adalah buka puasa pertama mereka bersama-sama. Setelah semalam menyiapkan masakan untuk sahur berdua, lalu makan sahur berdua, mereka berjanji, nanti sore ketika berbuka puasa, mereka ingin melakukannya bersama-sama.

Istri berjanji untuk tidak mengambil lembur, meskipun ada sedikit pekerjaan yang belum selesai. Pikirnya, “Ah, besoknya bisa aku kebut pagi-pagi..”

Suami berjanji untuk pulang lebih cepat karena jarak tempuh antara kantor dan mal yang dimaksud adalah satu jam lebih. Dia tidak mau membuat Istrinya menunggu.

Hey, ini buka puasa pertama…

Mereka ingin melakukannya bersama-sama…

Tapi apa?

Ketika Suami tiba, sang Istri ternyata sedang asyik berbelanja dengan teman kantornya, di mal yang sama. Padahal adzan Maghrib segera berkumandang sebentar lagi, tapi sang Istri masih belum bisa menemui Suami karena ia asyik sendiri.

Lalu Suami marah.

Sholat sendiri… Makan sendiri… Sampai separuh isi piring nasi goreng Suami telah habis dilahap, Istri baru datang dengan seorang teman di sampingnya, membawa tentengan belanja. Rupanya rasa marah tak bisa terbendung lagi di hati Suami, sehingga dia hanya memandang Istri dengan pandangan tajam, lalu menunduk dan menikmati sendiri separuh lain isi piringnya.

Anehnya, si Istri malah marah.

Saat perjalanan pulang, ia merengut. Cemberut. Wajahnya menunjukkan rasa tidak senang. Saat ditanya, dia beralasan, “Aku kan malu kamu marah-marah di depan temanku…”

Dan Suami pun membalas, “Dan kamu tahu kenapa aku marah, kan?”

Suami memang sangat kecewa dengan Istrinya. Perjalanan satu jam ia tempuh dengan perasaan senang karena akan berbuka puasa bersama Istri, segera bergegas agar tidak terlambat dan membuat Istri menunggu, tapi Istri malah asyik sendiri dengan teman dan seolah tak peduli kalau Suami menunggunya sendirian.

Lalu mereka bertengkar.

Tidak berusaha untuk menenangkan badai, tapi malah ngotot bahwa masing-masing benar.

Istri tetap keukeuh dengan ketidaksukaannya pada reaksi Suami yang terlihat gondok saat Istri dan temannya datang.

Suami tetap konsisten tidak menyukai cara Istri yang seolah tidak menghargai segala effort yang sudah ia lakukan. Sampai-sampai ia bilang begini, “Buat apa tadi aku bela-belain ngebut di jalan kalau cuman buat makan sendirian? Sebenarnya kamu lebih eman siapa. Aku? Atau temanmu? Kok kamu lebih peduli sama teman kamu yang akhirnya rikuh, sementara kamu nggak peduli kalau aku lagi marah sama kamu…”

Pertikaian itu membuat perjalanan pulang mereka menuju rumah menjadi sangat dingin. Yang biasanya penuh canda, saat itu, bahkan hembusan air conditioner mobilpun terdengar ramai. Istri membuang pandangan ke arah jendela kiri dengan wajah masam. Suami memacu kendaraan dengan kecepatan yang tidak biasanya. Tak ada romansa sama sekali. Atau sentuhan komedi saat biasanya mereka saling bertukar cerita tentang kegiatan mereka hari ini.

Yang ada hanyalah perasaan marah.

Perasaan tidak mau kalah.

Perasaan, “Aku yang benar, kamu harusnya minta maaf…”

Sampai akhirnya Suami menikmati Sahur sendiri.

Sholat Subuh sendiri.

Dan pergi ke kantor tanpa berkomunikasi sedikitpun dengan Istri.

Istri memilih untuk memelihara rasa marahnya.

Dan Suami memilih untuk membiarkan Istri melakukannya.

….sampai pagi ini.

Hhhhh…

Saya tak tahu lagi, di mana letak pentingnya dari pertengkaran ini. Apakah dengan saling mendiamkan pasangan, membiarkan pasangan menyuburkan rasa marahnya, dan tidak ada inisiatif dari salah satu pihak untuk meminta maaf, lepas dari siapa yang salah, adalah hal yang penting dilakukan untuk membuat hubungan ini menjadi hubungan yang sinergi? Bahwa pemahaman kalau masing-masing memiliki batas wilayah kesabaran sendiri-sendiri, bagian mana yang tak boleh disentuh, bagian mana yang tak boleh lalai, bisa dilakukan dengan cara marah-marahan, diam-diaman? Tidakkah ada cara lain untuk mengkomunikasikan kemarahan mereka? Tidakkah ada cara lain untuk berkata, “Aku kecewa sama kamu, tapi aku mencintaimu” selain dengan saling berdiam, saling tidak bertegur sapa, dan membuat pagi hari mereka menjadi pagi yang mendung?

Suami dan Istri itu membuat saya tak habis pikir.

Mengelus dada.

Apa itu cinta, kalau saling menyakiti?

Dan kalau memang iya bahwa itu adalah cinta, lantas kenapa mereka malah melakukan segala macam tindakan destruktif yang membuat cinta kehilangan esensinya, yaitu saling membahagiakan pasangan?

Hanya masalah sederhana.

Istri yang egois.

Suami yang akhirnya acuh tak acuh.

Saya tak bisa bilang apa-apa, kecuali ini, “C’mon Guys…. Isn’t that too f**king much?”

Karena kalian tidak akan pernah tahu, sekecil apapun alasan kalian bertengkar, api kecil itu bisa terus membesar dan membakar kalian….

(And if that really happens… can you live with that, huh? Can you both handle that??? GOSH!!!)

Catatan Harian

September 2008
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono