you're reading...
Thoughts to Share

rahasia yang terbongkar

Ternyata, menjelang hari-hari ‘bersejarah’ seperti bulan puasa ini, bukan saya saja yang merindukan kehadiran Mami. Setelah 26 tahun melewati Puasa-Lebaran lalu Puasa lagi, lalu Lebaran lagi, Bro pun merindukan Mami. Sama seperti saya, si Bungsu yang masih betah melajang di usia mendekati tiga puluh tahun ini.

Semalam, Bro mengungkapkan semua perasaannya, tentang rasa rindu yang membuat sesak dadanya ketika malam menjelang lalu membuat matanya tak lagi berkompromi untuk segera terpejam. Besok pagi rutinitas telah menunggunya. Jadi, ia harus segera terpejam, segera menghilangkan rasa sesak di dada, lalu tidur, lalu lupakan semuanya.

Tapi Bro tak sanggup.

Hatinya mengaduh kesakitan dan sedikit amarah. Semalam, dia bilang, “Aku jadi jengkel, Mbul *ini panggilan sayang dia ke saya*. Aku jengkel, gimana caranya supaya aku bisa komunikasi sama Mami? Kalau aku kangen pingin ngobrol sama Mami, aku sampai jengkel sendiri…”

karena tidak akan ada komunikasi dua arah lagi, kan, Bro? Karena segala kesempatan kita untuk saling bercakap-cakap dengan saling memandang, menyentuh, atau mendengar nafas masing-masing telah hilang sejak Allah merindu Mami, kan?

“Kalau yang lain masih enak bisa ngobrol sama Ibu-nya saat mereka kangen… tapi aku? Gimana caranya?”

Saya meraba kesedihan itu. Kesedihan seorang anak laki-laki Mami satu-satunya yang menjadi kebanggaan keluarga karena prestasinya di dunia tulis menulis dan komputer. Kesedihan seorang lelaki usia 32 tahun yang merindukan sosok Ibu-nya setelah enam tahun destiny telah memisahkan dunia mereka.

Ini pemandangan yang sangat menyentuh buat saya.

Apalagi ketika Bro bilang, “Kenapa harus secepat itu ya, Mbul? Saat kita masih belum bisa membahagiakan Mami… Belum bisa ngasih Mami ini itu… Belum bisa seperti sekarang…”

… itulah kenapa, Om… waktu Om cerita tentang kompaknya Om dan Tante Sruntul mencoba memberikan yang terbaik buat Ibu (yang terkena musibah tertabrak sepeda motor itu), saya jadi sedih sendiri karena saat itu belum bisa melakukan apa-apa…

Lalu mulailah cerita melebar kemana-mana.

Tentang…

…paling tidak saat itu kamu sudah kerja, Bro.. jadi masih bisa beliin Mami sesuatu… Lha kalau aku?

…tapi tidak seperti sekarang kan… kalau sekarang, aku bisa mengusahakan pengobatan Mami, tidak seperti dulu, berhenti berusaha karena kurang biaya…

Dan segala cerita-cerita yang menjadi latar belakang kenapa saat itu tidak ada biaya untuk menanggung segala obat yang diperlukan Mami, just to make her life longer..

Termasuk cerita tentang ini:

“Kita sampai kebingungan waktu itu, ya, Mas,” kata Mbak Ira, istrinya. “Nyariin duit buat nebus obatnya Mami…”

…sampai frustasi segala karena Mami membutuhkan obat yang luar biasa mahalnya.. apalagi untuk ukuran kami saat itu. She needs 5 or more ampuls dengan harga satu biji satu setengah juta. Itu sudah sangat, sangat, sangat mahal untuk Bro. Dan keuangan Papi yang morat marit kala itu, sudah habis-habisan untuk biaya lain-lainnya, membuat Papi menyerah… (ADUH, DAD!!!)

“Saat itu Dokter bilang, she wouldn’t make it… Ginjalnya sudah rusak terlalu parah, nggak akan bisa sembuh…”

…and they were expecting for miracles… while the time was ticking desperately…

Sampai di situ, air mata saya mengalir. Hati saya langsung sesak seketika. Saya berteriak, “Kok aku nggak dikasih tahu, sih, Bro?”

“Dikasih tahu apa?”

“Dikasih tahu kalau Mami udah nggak ada harapan…”

“Saat itu juga nggak divonis kalau usia Mami tinggal berapa bulan lagi, kok.. Cuman dikasih tahu kalau ginjalnya sudah rusak parah…”

“Tapi kan tetep aja, artinya kamu udah tahu Mami sedang menunggu waktunya…”

Saya menangis.

“Kenapa sih Bro, kamu nggak kasih tahu aku? Kamu jahat, Bro.. Jahat!”

“Mbak Pit juga jahat.. Dia nggak ngasih tahu kamu juga, kan?”

Saya masih menangis. Air mata saya seperti berebut turun dari kedua bola mata.

“Kamu masih anak-anak saat itu, Mbul…”

I was twenty two… I was grown enough.”

“Aku sama Mbak masih mikir kamu anak kecil dan nggak perlu tahu…”

“…”

“Lagipula, would it make any difference if we told you all that story?”

….

…. would it?

Hmmm…

Paling tidak, kalau saya tahu Mami sedang kesakitan dan menunggu waktunya, saya nggak akan kabur-kaburan setelah pulang kuliah dan memilih untuk langsung pulang ke rumah… Lalu… Lupakan saja omelan-omelan saya yang tidak penting ketika harus memijit kaki Mami… Dan ya.. pastinya, setiap Mami bilang sesuatu, saya pasti akan menurut. Segala kalimat yang keluar dari bibir Mami hukumnya adalah haram jika tidak dipatuhi.

…tapi…

Tetap saja tidak menjawab pertanyaan Bro. Would it make any difference?

Apa saya malah shock, mungkin?

Bahkan tidak bisa menyelesaikan kuliah dengan baik, mungkin?

Atau ekstrimnya… apa dengan memberitahukan tentang kondisi Mami saat itu, maka saat ini Mami bisa ikut senang kalau tahu si Bungsu Bandelnya ini sudah bekerja di sebuah Perusahaan yang lumayan dengan gaji yang bisa memberinya hadiah tiap bulannya?

it wouldn’t change anything.

Sejarah kehidupan manusia sudah tertulis sempurna dalam master plan Tuhan yang Maha Hebat. Saya, kamu, dan semua orang tidak bisa mengubah apa-apa, kecuali berusaha untuk berdamai dengan segala kesedihan yang mungkin ada. Lalu mencari hikmahnya. Lalu mencari sisi positifnya. Bahwa segala dalam dunia ini terjadi karena maksud, bukan sekedar untuk mencelakai, tapi memberi pelajaran.

Di sini, saya baru sadar…

Lalu merasa sangat beruntung…

Lho??? Beruntung La? Maksud lu?

Hm, tahu kenapa?

Karena sejak saat itu, sejak saya kehilangan Mami yang pergi sangat mendadak dan tanpa sempat memberikan firasat apapun, si Bandel Lala ini mulai menghargai waktu kebersamaan dengan keluarga… Menghargai seorang Ayah yang kini sedang sakit dan sering kangen dengan anak-anaknya… Menghargai perjumpaan dengan Kakak-kakak tercinta… Dan telepon yang semenit dua menit dari keluarga adalah waktu yang sangat berharga…

So, now… I know why God ‘asked’ Bro to keep his mouth shut and kept this secret just between him and my sister…

Because God wanted me to learn something…

…and I’m learning…

I am… 

(Ajari saya, ya, Allah… keep on giving me Your lessons so I can learn most about everything…)

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

11 thoughts on “rahasia yang terbongkar

  1. itulah yang dibilang Positive Thinking la…
    ambil hikmah dari apa yang terjadi meski sulit awalnya
    dan itu butuh waktu juga untuk bisa memikirkan bahwa pasti ada “rencana” Tuhan untuk kita di balik semua kejadian.

    Kalau kamu ngga tulis blog, trus kamu ngga kenal om,
    lalu aku ngga kenal om, aku ngga kenal kamu juga kan?
    kayaknya seperti dibuat-buat…
    tapi spt yang aku tulis itu
    ichigo ichie…. setiap pertemuan pasti ada hikmahnya juga
    apalagi kalo dilanjutkan terus tentunya.

    my sister hari ini dewasa banget deh
    (dibanding kemarin yang menyulut aku nulis yg jorse juga akibat “mawar merah itu” huheuheuehe)

    Ichigo ichie.
    Kata-kata yang selalu dirimuh bilang padakuh ya Sis..
    Kalau mau mikir, sebenarnya it’s miraculous bisa ketemu sama kalian-kalian…
    Tapi yang namanya fate memang ga bisa kita tebak ya?
    Tau-tau ketemu…
    Tau-tau bersahabat…
    Argh, itulah hebatnya hidup… Pelakon utamanya justru nggak tahu apa detil skenarionya..🙂

    eniwei,
    hari ini dewasa??
    Hm.. tunggu postingan jorse darikuh! hahaha

    Posted by Ikkyu_san | August 27, 2008, 4:13 pm
  2. Nah, Lala, kau telah mencurahkan soal ini dalam bentuk tulisan. Semoga kamu bisa ikhlas dengan semua yang terjadi. Karena semua ini pada dasarnya adalah perasaanmu.

    Jangan lupa kunjungi makamnya. Ramadhan tinggal beberapa hari lagli.

    Tetap semangat, Mbul!😉

    Seringkali sulit ngerasa ikhlas, Mas. Tapi at some point, itu bukan hal yang bisa ditawar-tawar lagi kan?
    Soal berkunjung ke makam… sure… sure… Itu juga nggak bisa nggak🙂
    Dan “Tetap semangat, MBUL!” ?????
    HUaaahhh… reputasiku jattooohhh… hehehehe
    (tapi teteuuppp.. semangat dong…)

    Posted by DM | August 27, 2008, 6:04 pm
  3. Materi ini bagus banget, Mbul.
    Bisa dimasukin ke bukumu deh…

    Hehe..
    kemarin lupa aku kasih ke P. Sulaiman, Bang!
    Ntar deh aku submit lagi….
    *dan sekarang, semua panggil aku ‘Mbul’ deh… salah, La… salah langkah kamu… hahahaha*

    Posted by heryazwan | August 27, 2008, 6:34 pm
  4. La …
    Jangan kuatir … sekalipun Mami udah ada di dunia yang berbeda …
    Kamu (dan juga Bro dan Mbak) masih bisa melakukan banyak hal untuk beliau …

    Dengan berbuat yang terbaik untuk diri kamu (and mungkin juga untuk orang lain …) saja sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan Mami di “sana” …

    Thanks Om…
    Makanya aku pingin bisa jadi perempuan yang membanggakan keluarga… Menjadi anak perempuan yang tidak mengecewakan Ibu-nya… And I’m doing my best to be that daughter… It’s a promise for my Mom!

    Posted by nh18 | August 27, 2008, 8:07 pm
  5. Ah, sosok yang kuat itu ada di dalam dirimu, Lala.
    Pelajaran yang menarik…
    Selamat menjalankan ibadah puasa bagimu!

    Hai, Mas DV!
    Do you think I’m that strong, eh? Hm… then… I AM THAT STRONG!🙂
    Seneng banget kalau ini dibilang pelajaran yang menarik…

    Makasih ya, Mas…
    Hidup Jogja!🙂

    Posted by Donny Verdian | August 28, 2008, 12:59 am
  6. Saya kira berdoa kepada Allah merupakan jalan yg terbaik untuk “berkomunikasi” dengan beliau. Mohonkan ampun atas dosa dan kesalahan beliau, mohonkan diterima amal-ibadahnya serta diberi tempat yg mulia di sisi-Nya

    Iya, Pak..
    InsyaAllah saya nggak pernah berhenti berdoa untuk Mami…
    cuman terkadang, ketika saya sedang ‘egois’, saya menginginkan komunikasi dua arah dengan Mami tercinta…
    Dan akhirnya… at some point, saya sadar kalau itu useless…
    Ya sudahlah… I have to deal with that fact, however painful it is

    Posted by Oemar Bakrie | August 28, 2008, 1:04 am
  7. Ahhh, kenapa posting nya juga tentang mama… malah yang udah pulang lagi… bikin saya tambah sedih aja mbakkk… mamaku sedang drop banget kondosinya…

    haduhh, tambah sedih deh…😦

    maap ya mbak, malah nyampah-nyampah disini…

    Silly, semoga kondisi Mama membaik yaa…
    I know how terrible it is…
    Jadi satu pesan dari saya, a daughter that lost her mother 6 years ago, be grateful for what you have right now.. Every minute counts, Silly… Every single minutes…

    Ah, Silly… silahkan kalau mau nyampah…
    Kalau memang itu bikin kamu lega…

    Posted by silly | August 28, 2008, 1:38 am
  8. Nah, jadi, tetap tersenyum ya, Mbul!
    Hihihi…

    Oh..
    tersenyum?
    Itu pasti…
    Sekarang ada dua jenis senyum…
    1. Senyum buat Mami dan berusaha tegar menghadapi hidup tanpa beliau
    dan
    2. Senyum mangkel karena dirimu semakin mempopulerkan julukan MBUL!!!

    *jitak ahhhh!!!!*🙂

    Posted by DM | August 28, 2008, 9:18 am
  9. Mbul itu singkatan dari Timbul ya?
    Komenku nggak banget ya?
    Udah ngomong yang melow2 kok malah komen tentang Timbul.

    Mbul itu singkatan Gembul….!!!
    POWASSSS??? POWASSSS??? (ikutan gaya si Om, ah.. hihihi)

    Posted by heryazwan | August 28, 2008, 4:37 pm
  10. Everything happen for a reason,
    and there are always some lessons to learn,
    keep tough Mbul.. eh La…😉

    Iya, Mbak.
    Segala yang terjadi selalu bisa dijadikan pelajaran. Asal mata hati kita bisa mengambil hikmah di antara himpitan kesedihan.
    I’m trying to be tough… day after day… after day.
    Thanks ya, Mbak!

    Posted by tantikris | August 29, 2008, 9:35 am
  11. mbul…
    ceritamu membuatku ingin terus mencintai mamaku, selama aku memilikinya..

    iya, Yes…
    love her…
    as much as you can…
    before you’ll run out of your time..

    Posted by yessymuchtar | September 2, 2008, 3:42 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: