you're reading...
daily's blings

it’s not a fairytale…

A wedding invitation.

Buat seorang perempuan lajang dan mendekati tiga puluh tahun seperti saya, menghadiri undangan pernikahan, apalagi anak-anak teman Mami, adalah sebuah tantangan tersendiri. Seperti menghadapi tantangan kuis Fear Factor, di mana membutuhkan nyali luar biasa *hah! hiperbolis.com ituh! hahaha* dan ya, pastinya, harus memiliki ekstra kesabaran dan kuping yang tebal *atau bebal? hehe*.

Kenapa?

Because I have to deal with the same questions.. over and over again…

 

“Kapan nyusul, Mbak Lala?” tanya Tante A.

“Nyusul kemana, Tante? Lala mau maem dulu, baru nyusul…” kata saya cengengesan.

 

“Mbak, si XX (yang lagi mesra-mesranya di pelaminan) aja udah menikah, kok Mbak Lala belum juga sih? Ayo, ndang cepetan…” kata Tante B.

“Biarin yang laen duluan aja, Tante… Lakon menang keri (jagoan menang terakhir)…” tukas saya, masih cengengesan.

 

Dan segala macam pertanyaan sejenis yang bikin kuping saya mendadak tuli sementara (tapi langsung waras ketika saya memutuskan untuk makan ikan kakap asam manis dengan brutalnya! haha). Kalau hati lagi emosi jiwa, mungkin saya akan marah-marah seperti di posting ini, lalu ‘menyikat’ seluruh hidangan dengan anarkisnya 🙂 Tapi berhubung saya agak jaim dengan kebaya atau gaun yang saya pakai, saya tahan aja deh, daripada nantinya malah dibilang begini, “Pantes aja nggak laku-laku, wong kelakuannya kayak gitu…” 😀

Sampai akhirnya, di sebuah pesta pernikahan teman (anak teman Mami, termasuk tetangga juga), saya bertemu dengan kawan lama. Namanya Ratih. Seumuran saya, dengan satu anak dan satu bakal anak. She was a close friend. She was one of the lead singer at my band. Dan saya sapa saja dia.

Sudah lama saya tidak bertemu Ratih. Terakhir bertemu, saat dia menikah dengan lelaki pujaannya, seorang lelaki yang menjadi idola di kompleks perumahan saya. Lalu setelah menikah, Ratih ikut suaminya, tinggal di bawah atap yang sama dengan mertua.

I thought she was living her dreams… A fairytale… Seorang perempuan cantik seperti Ratih, menikah dengan lelaki tampan seperti Bekti… Kisah cinta dari sekolah dasar, berpisah ketika SMP, lalu bersatu kembali saat kuliah… Lalu menikah… Lalu dikaruniai anak…

Seharusnya saya cemburu. Dan memang, saat itu saya sangat cemburu.

Then I said this to her, “Eh, Tih, aku iri deh sama kamu…”

“Iri kenapa, La?” tanya si Ratih dengan heran.

“Ya iri… Kamu udah menikah, sama laki-laki yang kamu cintai… terus udah punya anak, pula. Aduh, how complete, Tih…”

Lalu Ratih tersenyum. Saya tidak menangkap senyum itu sebagai senyum bahagia. Saya malah menangkap, ada kegetiran di sana.

“La, percaya deh sama aku… enakan jadi single kayak kamu… trust me…

Saat itu, Ratih berhenti melanjutkan ceritanya karena Bekti berjalan mendekati kami berdua lalu said hello. Bekti yang ganteng, anak yang lucu. Sebelah mananya yang bikin Ratih bilang enakan jadi single seperti saya?

Malam itu, Ratih berjanji untuk menelepon saya. Dia bilang, “Ntar aku cerita lewat telepon ya, La…” Dan saya mengangguk saja. Hm, saya masih merasa sangat aneh. How come she said something like that? I knew, she looked so skinny and pale. Tapi tetap saja, it kept me wondering around…

Besoknya, Ratih menepati janjinya. Lalu dia bercerita panjang lebar tentang rumah tangganya yang penuh konflik.

“Bekti nggak seperti yang kamu bayangin, La…”

Di dalam bayangan saya, Bekti adalah lelaki yang sempurna. Ganteng, baik, bersahaja, dan pandai mencari uang.

“Dia kasar sekali…”

Kasar, Tih??? But he seemed so NICE! WONDERFUL!

“Dia juga sangat posesif. Sampai-sampai, aku nggak boleh keluar dari rumah…. Aku nggak boleh ketemu sama siapapun… termasuk Mama sama Papa!”

OK. Saya kenal betul dengan sifat posesif. Tapi kalau sampai nggak diperbolehkan bertemu dengan orang tua sendiri? Halloooowww… maksudnyaaaa???

“Kamu tahu, La… aku terpaksa melunasi semua hutang-hutangnya.. Mertua sampai menjual rumah mereka untuk menutup hutang suamiku… Dan kamu tahu? Parahnya… dulu pernah, saat suamiku yang idealis itu mengorbankan pekerjaan demi harga dirinya, aku sampai harus menjual perhiasan-perhiasanku, kenangan-kenangan dari almarhum Papa…”

Lalu saya mendengar isak tangis Ratih di ujung sana. Saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan. I just wanted to hold her, right in that second.

I’m not happy, La… Kamu salah kalau kamu berpikir, menikah identik dengan kebahagiaan. Tadinya aku pikir menikah dengan Bekti adalah impian yang terwujud. Meskipun Papa menentang habis-habisan, tapi aku tetap keukeuh dengan pilihanku. I knew what I felt. AKu tahu aku mencintai Bekti, jadi aku paksa Papa untuk menerima Bekti… Dan ya, Papa akhirnya mengalah…. Meskipun hingga akhir hayatnya, Papa nggak tahu kalau sebenarnya aku merasa malu sekali telah melakukan kesalahan ini, La… He was right. I was wrong. Sedih lho, La.. Sedih banget…”

Ya, Tih… saya bisa merasakan kesedihan itu…

“Itulah kenapa aku bilang lebih enak jadi single kayak kamu, daripada menikah lalu tersiksa seperti aku…”

Saya terdiam.

“Dan asal kamu tahu, La… I’m filing my divorce…

I didn’t know what to do but held my breath.

***

Kabar terakhir yang saya tahu, Ratih melahirkan bayinya dengan selamat. Bayi yang lucu sekali. Ibu dan Ayahnya saja berwajah cantik dan ganteng, jadi kemungkinan besar, bayinya memang sangat cantik. Saya tidak tahu bagaimana cerita ‘kekejaman’ Bekti di kehidupan rumah tangga mereka, tapi yang saya tahu persis, saat itu, saya bertemu dengan Ratih, Bekti, dan kedua anak mereka di sebuah mal. Keluarga kecil itu nampak bahagia. Bekti terlihat sangat menyayangi mereka dan anak-anak yang lucu itu nampak sangat menggemaskan.

Saat Bekti ijin sebentar untuk membayar minuman, saya bertanya pada Ratih.

“Tih, how’s your marriage? Are you happy now?”

Dan Ratih hanya menggeleng.

“Aku masih nggak bahagia, La… Tapi aku harus mencoba untuk merasa bahagia… demi anak-anakku…”

Wajah Ratih terlihat sayu. Badannya masih kurus. Sangat kurus. Jauh lebih kurus daripada ketika ia masih lajang dulu. Perkawinan telah ‘merusak’nya, kata Ratih. Tapi, masih kata dia, “Ini adalah pilihan, La…  Ketika kamu sudah memutuskan sesuatu, kamu sudah harus siap dengan segala kemungkinannya…”

“Hm, lantas, soal divorce itu, gimana?”

Ratih tersenyum. “Lalu nasib mereka gimana, La….” Teman baik saya itu memandang kedua bocah yang asyik bermain sendiri. Kedua bola mata Ratih terlihat berkaca-kaca. Seperti kedua bola mata saya sendiri, yang tak bisa menahan air matanya untuk mengalir karena perasaan yang tak terbilang…

*ah, Ratih… I hope you’re happy… I really do…*

 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

14 thoughts on “it’s not a fairytale…

  1. hidup adalah pilihan
    dan hidup juga seperti gambling
    serahkan sama yang di ATAS

    yang aku bisa katakan
    perkawinan memang bukan fairytale
    ada tanggung jawab yang amat sangat besar.

    EM

    Life itself is a gamble.
    Karena ada pilihan2 di sana.
    Hmm… bakal jadi bahan posting nih!
    Thank you!! 🙂

    Posted by Ikkyu_san | August 26, 2008, 4:00 pm
  2. Iya, lebih baik jadi single yang ingin menikah daripada menikah yang ingin jadi single 😀

    Hahahaha… ini lucu.. lucu sekali… you always know how to make me laugh.. *cieh, cieh*
    Hai, hellow… Koko…
    kemana aja?

    Posted by Koko | August 26, 2008, 4:01 pm
  3. ngga ada yang sempurna,
    walau yang terlihat disepan mata kesempurnaan,
    sama seperti pernikahan,
    tak ada yang benar-benar sesuai “mau”nya kita,
    karena ada 2 latar belakang, pikiran, masa lalu, harapan,
    yang berbeda, tapi hendak disatukan…

    landasi sesuatu dengan niat, dan kesabaran…

    **…Serius Type Mode ON…**

    halah…

    karena menyatukan dua isi kepala adalah bukan hal yang mudah..
    hmm.. it’s true!

    Posted by rahmadisrijanto | August 26, 2008, 4:44 pm
  4. Wow… emang bener kata orang ya Jeng…
    don’t judge the books by its cover…

    Bener deh…aku juga sering denger cerita kaya’ gitu, keliatan kompak, mesra pas pacaran, keliatan cocok luar dalam, tapi ternyata setelah nikah malah nggak harmonis…

    Jadi hati-hati deh kalo dalam tahap mengenal pasangan, harus bener-bener dipastikan dulu sampe kita yakin, sebelum kita menyesal pas pernikahan…

    *kayak udah pernah nikah aja*

    :mrgreen:

    nice post 🙂

    ada ide gimana cara memastikannya ga ya?
    apa kita musti terima saja resikonya?
    Hmm… think, think, think, Lala! 🙂

    makasih buat pujiannya, Panda..

    Posted by Panda™ | August 26, 2008, 4:56 pm
  5. eeh ini kok blognya serem amat, gantiii

    btw, like I said before, menikah tidak menyelesaikan masalah!

    Udah aku ganti, Niaaa… 🙂
    Ya, I agree!
    Menikah tidak menyelesaikan masalah!
    *keplok2*

    Posted by ladyfi | August 26, 2008, 5:01 pm
  6. Pengalaman Ratih ini jangan jadi pembenaran untuk takut menikah, La.
    Sendiri bukan jaminan sengsara.
    Menikah bukan jaminan bahagia.
    Semuanya tergantung bagaimana kita menjalaninya.

    Kadang takut juga menikah…
    tapi gimanapun buruknya pernikahan…. aku tetep pingin nikah kok!!! hehehehe…
    *cuman… kok ‘lawan mainnya’ belum ada yah.. hihihi*

    Posted by heryazwan | August 26, 2008, 5:20 pm
  7. Yay… normal, Jeung!
    Normal kalau seusia panjenengan banyak yang nanya gitu..
    Normal kalau seusia panjenengan malah jadi dipertontonkan kisah-kisah “kurang mengenakkan” dari sebuah lembaga pernikahan..

    Tapi one thing that you should to realize…
    Bahwa kebahagiaan itu mesti dibangun bukan didapatkan..
    So, mengharapkan kebahagiaan dari seorang lelaki itu sama saja dulu saya beranggapan bahwa kebahagiaan juga bisa didapat dari seorang wanita..:)
    Hal itu harus dan baru bisa ada kalau dibangun bareng-bareng.

    So, menikahlah heheheh!

    Hah!
    Ini bagus!
    Bagus banget! 🙂
    Aku culik idenya buat bahan posting ya Mas DV…

    so, menikahlah?
    sampaikan juga ke teman baikmu, si Mas DM itu ya…
    hehehehe

    (siap2 dijitakin sama Mas DM)

    Posted by Donny Verdian | August 26, 2008, 9:21 pm
  8. Sama La, dulu sebelum nikah, menghadiri pernikahan di usia mendekati kepala 3 adalah tantangan tersendiri.
    Tp setelah menikah, jadi malah bisa mengambil hikmah dibalik agak lambatnya dakyu menikah; udah puas segala… puas maen, puas sekolah, puas kerja, puas traveling, which is kayaknya rada susah ya kalo dilakuin setelah nikah.
    So, just enjoy your single time 😀
    Anw, dapet suami baik itu suatu anugrah, mudah2an suatu hari Lala menemukannya 😀

    Katanya sih memang begitu ya, Mbak… Mudah-mudahan sih itu bukan sekedar usaha pembelaan diri sendiri… karena terkadang, itu sengaja dijadikan alasan kenapa perempuan betah melajang.. 🙂
    Tapi I will enjoy my single… no doubt! ^_^

    Dan mendapatkan suami yang baik……. AMIEN…. semoga.. semoga..

    Posted by vidya | August 27, 2008, 6:11 am
  9. Setuju dengan ladyfi di atas …. 😀

    saya juga.. 🙂

    Posted by Fenty | August 27, 2008, 8:59 am
  10. *setuju dengan Donny Verdian di atas* 🙂

    OKay.. Saya juga…

    Hey, hey… Does anyone here agree with me???? *emang pendapat lu apaan Buuu???!!! hehehe*

    Posted by yu2n | August 27, 2008, 9:32 am
  11. Engkau pasti akan temukan mbak…. tetep semangat, jangan pernah takut untuk memulai sesuatu yang baru lagi. siapa tau yang baru itu akan berbeda dengan yang dahulu… 🙂

    Nggak takut kok, Mas…
    ‘Yang baru’ itu yang takut sama saya.. hihihihi…

    thanks!

    Posted by Agung Mojosari | August 27, 2008, 1:24 pm
  12. Persoalannya adalah: itu masalah semua orang, La 🙂
    Apa dikira kalau nikah, tidak lantas ditanya: kapan isi? Kalau sudah punya anak, tetap saja ditanya: kapan ngasih adik. Terus seperti itu.

    Aku tak pernah gerah dengan pertanyaan seperti itu. Kenapa? Ya begitulah tabiat masyarakat kita. Barangkali maksudnya memang basa-basi, bermanis-manis. Tapi… Hihihi!

    Sama seperti si Pak Anwar itu ya Mas? hehehe…
    Tapi ya… ini adalah tabiat masyarakat kita. Mau cape-cape ngeles juga percuma ya, Mas… Karena ini sudah semacam sifat yang berakar gitu deh..
    Dan ironisnya, aku pun seringkali menanyakan hal yang sama ketika ketemu sama temen lama.
    “Eh, udah merit belum?”
    hahaha.. goblog banget… begitu pertanyaan itu balik ke aku, yang ada senewen.. edan bener ya Lala ini…

    Posted by DM | August 27, 2008, 6:06 pm
  13. Masyarakat nggak bisa disalahkan juga kalau bertanya mengenai hal2 pribadi. Itu kan menunjukkan keakraban.
    Coba kalau ada teman atau orang baru ketemu kita, lalu tiba2 nanya:”Eh, jeung Lala, udah pernah ke Monas belon? Asyik lho di sana bisa ngeliat Jakarta dari ketinggian”.
    Pasti yang ditanya langsung menyangka,”Gila nih orang. Belon apa2 udah nanya Monas.”
    Jadi, pertanyaan tentang hal2 pribadi tadi sebenarnya adalah intro untuk memulai pembicaraan.
    Apakah Lala punya intro yang lebih baik untuk disosialisasika kepada masyarakat Indonesia?

    Iya juga sih, sebenarnya itu menunjukkan keakraban kita terhadap orang yang lain…
    Boleh nyusul ga, jawaban buat INTRO YANG LEBIH BAIK itu? hehehe

    Posted by heryazwan | August 28, 2008, 4:44 pm
  14. Ada orang-orang tertentu yang ketika mereka nanya ke gua : Kapan nikah?

    Kok gua dengernya dia ngomong : Ayoo, buruaaann, gabung dalam kesengsaraan seperti gua!

    Huahahahaha :p

    *kayanya ada mur yang lepas di otak gua, hahaha*

    Katanya sih ada yang bilang supaya kita jadi pribadi utuh yang berbahagia dulu supaya kita ngga nyari orang untuk membuat kita merasa utuh.

    Suami atau istri harusnya menjadi pelengkap kebahagiaan, bukan sumber dari kebahagiaan itu sendiri 😀

    Posted by Indah | December 24, 2008, 3:48 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: