you're reading...
daily's blings

Oh Gosh!

Di tengah-tengah percakapan antara empat orang sahabat yang berkumpul di sebuah coffee shop sambil menikmati empat jenis minuman yang berbeda, ada sebuah kalimat dari sahabat saya, Lin, yang membuat saya cukup terheran.

“La, apa gue ini nggak jodoh sama laki-laki ya?”

Herannya.. karena saya pikir, ini anak sudah mau ganti orientasi seksual… *dan dengan segera, Lin melotot dan ngomel nggak jelas ke saya.. hehehe*

“Bukan itu maksud gue…”

Jadi ternyata, yang dia maksud adalah, selama ini dia selaluuuu saja nggak pernah ‘jodoh’ dengan laki-laki. Intinya sih sama saja seperti saya. Pacaran bolak balik, sampai dipikir punya love pattern yang berulang terus, tapi nggak pernah sampai ke tahap yang lets-go-get-married thing.

“Lu ingat gua sama Toto?” Ya, si Toto yang pernah ngajak dia kawin lari itu.. (hey, inget ga sih gimana naifnya elu jaman dulu, Bu? Yang elu nangis-nangis di depan kios majalah sambil nyedot teh botol? Dan saat itu gua sama Tat bukannya prihatin malah ketawa najiz karena ngebayangin elu sama si Toto bakal adu lari sama si Bapak Penghulu? Dan saat itu gua sama Tat yang kebagian bawa gentong duitnya lalu kita melarikan diri itu? Haha.. remember that, Sweetheart?)

“Heh, lu pasti inget yang soal kawin lari itu yaa…” Dia nyadar, rupanya.

Saya, Tat, dan Yun malah tertawa. Sumpah. Ngakak.

“Serius La.. Gue serius nih…”

“Mmpphhhh… okay… okay… ” Saya menahan supaya tidak tertawa. “Terus, terus…”

Setelah Lin berhasil memastikan bahwa tiga sahabat gilanya itu tidak meneruskan imajinasi soal dia yang kawin lari sama Toto itu *believe me, kalau kamu tahu Lin seperti apa dan daya khayal kami yang luar biasa tinggi, saya berani jamin, kalian akan susah untuk berhenti tertawa! percaya deh! 🙂 *, dia melanjutkan ceritanya.

“Terus sama si Dar… sama si Rogal…. sama yang sekarang… Obi yang angin-anginan itu.”

Kami alias saya, Yun, dan Tat hanya terdiam. Sumpah, saya masih membayangkan Lin dan Toto berlarian sambil pake kebaya dan beskap. Terus di depannya, si Bapak Penghulu sedang terengah-engah menyuruh Toto membacakan janji nikahnya, dan kami, sahabat-sahabat Lin, ada di dalam Bis Pariwisata yang berpacu di samping mereka sambil berkata “SAAAHHHHH” saat Penghulu menanyakan keabsahannya! Haha.. jahat ya, saya?

Tapi, demi menghindari aksi amuk Lin yang lumayan destruktif dan menjatuhkan reputasi saya sebagai perempuan cantik dan kalem *padahal nggak pernah punya reputasi semacam ituh! haha*, saya terpaksa berkonsentrasi.

OKay… So what?”

“Ya itu tadi, La.. Gue jadi mikir, apa gue ini memang nggak ditakdirkan untuk bersama dengan laki-laki ya? Maksud gue… kenapa sih gue selalu dijauhkan ketika gue udah deket banget sama mereka…”

“…dan itu bikin elu berpikir, sudah waktunya elu jadi lesbong aja?” tanya saya asal, sambil cekikikan.

Setelah Lin melotot dan siap memukul *hiperbolis.com* lalu bikin saya mengkeret karena body-nya jauh lebih sangar daripada saya (kalau saya kayak satpam, dia kayak bos-nya satpam! haha), sahabat saya itu bilang begini, “Maksud gue, Setan *ini panggilan kesayangan dia ke saya kalau Lin lagi bete surete semelekete sama saya.. hehe*, gue jadi nggak nafsu untuk jatuh cinta lagi…”

….hah?

**

Dalam suasana yang jauh lebih tenang, saya telepon Lin dan menanyakannya lagi, siang tadi.

“Jadi elu udah kapok jatuh cinta, begitu?” tanya saya.

“Iya.”

“Karena apa? Takut sakit hati?”

“He-eh.”

“Apa lagi?”

“Hmm.. takut gue jatuh lagi, pasti. Takut gue salah lagi. Takut gue bakal nangis-nangis lagi… takut gue…”

“Nggak usah hidup aja sekalian, Bu,” tukas saya, agak cengengesan. “Lu takut ini itu, ya udah, mati aja.”

“Ih, ekstrim banget sih. Gue kan preventif, karena gue udah tau gimana rasanya sakit hati, nangis-nangis sedih karena kehilangan cowok yang gue cintai…”

“Elu? Preventif?”

“Hati-hati, La… Gue hati-hati…”

“Elu bukan hati-hati, Say. Kalau hati-hati itu, ibarat kayak elu nyetir mobil pelan-pelan terus tetep liat kaca spion, tetep aware, tetep konsentrasi… tapi mobil lu jalan terus. Lhah, kalau elu ketakutan begitu, yang ada mobilnya ngejogrok aja di satu tempat. Elu takut nubruk, lah. Elu takut ntar ketubruk, lah.”

“Gue cuman nggak ingin sakit hati lagi…”

“Hei, emang gua pingin? Emang ada gitu, orang yang sengaja mencari cinta untuk dilukai? Dengan maksud supaya besok-besoknya dia nangis dan patah hati?”

“Haahh… gue cuman nggak pingin asal ‘terjun bebas’, La… Gue musti bisa memastikan bahwa gue akan baik-baik saja setelah gue landed ntar… Gua perlu parasut….”

“Dan elu tahu, parasut lu itu apa?”

Lin diam. Sepertinya dia sedang berpikir keras. Hm.

“Itulah, gue nggak tahu, parasut gue itu apa…”

Parachute… is … mmm… something that makes you feel safer…

“Kalian? Sahabat-sahabat gue gitu, maksud lu?”

Maybe…

“..hhh.. Lala… gue tau, kalian itu penting maknanya buat gue… tapi somehow… meskipun gue tahu kalau kalian selalu ada di samping gue setiap saat gue jatuh, tetap saja…. gue takut rasa itu terlalu menyakitkan….”

…ya, Lin. Sama seperti yang gua rasain. Kalian emang orang-orang gila yang bisa menjadi distraksi terhebat di saat gua terluka… tapi luka itu akan selalu ada… nggak bakal pernah hilang… tidak sebelum gua benar-benar bisa melupakannya… tidak sebelum luka itu benar-benar tidak memedihkan… Jadi percayalah, gua tahu itu…

“Lin… lu percaya nggak, kalau kita adalah manusia-manusia naif yang nggak tahu kemana waktu bakal membawa kita? Menggelinding kemanakah kita setelah ini? Kita cuman bisa jalan, jalan, dan terus jalan… Sambil mata kita tetap aware terhadap rambu-rambu yang ada di sisi jalan?”

“Mmm.. ya…”

“Lu percaya nggak, kalau meskipun ada rambu-rambu itu, sometimes, kita bakal terperosok juga ke sebuah jurang?”

“….”

“Jadi lu sekarang percaya, kalau soal jatuh dan terluka itu adalah sebuah resiko saat kita melangkahkan kaki di sebuah jalanan yang medannya tak pernah kita ketahui sebelumnya?”

“….”

“Dan kalau kita kemudian jatuh dan terluka, lu tahu kalau elu, gua, atau orang-orang gila alias temen-temen kita itu, bukan tolol? Tapi ini lumrah karena kita manusia?”

“…”

“Dan percaya nggak sih, lu… Kalau kita ini nggak sendiri? Bukan orang gila macam kita berenam aja yang bisa jatuh, tapi juga mereka-mereka yang ada di seluruh dunia ini? Yang mengaku bahwa mereka adalah manusia, sama seperti kita?”

“…”

“Kalau elu jatuh, kita nggak akan ngetawain elu kok, Lin. Karena gua juga nggak ingin kalian ketawain gua ketika gua jatuh… Karena somehow, someday… gua juga akan jatuh kok. Cuman masalah waktu saja yang gua sama sekali buta; kapan dan karena siapa kelak gua jatuh lalu terluka. Dan gua yakin sekali, ketika gua jatuh, gua akan nangis… sedih… sakit semua… dan berteriak-teriak kesakitan… gua nggak pernah sendiri. Ada elu, ada Yun, Tat, Ly, dan Els… ada Kakak-Kakak gua… ada Q Qe yang manis-manis itu… ada banyak orang yang bakal berlomba-lomba memompa semangat gua lagi *ya, termasuk kalian-kalian, Kakak-Kakak Asunaros tercinta!*. I know, it’s scary. I know… but hey, as long as I have you all in my life, at least, I know that I am not helpless.”

“Ya, ya.. gue tahu La… tahu…”

“Tapi?” I heard a ‘but’ sound.

“Gue takut….”

“Takut..? Takut apa? Kan kita semua selalu ada di samping elu, Bu?”

“…but not twenty four seven… rite?”

“…”

“Karena gue takut La… saat gue sendirian di dalam kamar, usai ngopi sama kalian…. gue nggak bisa berhenti nangis di dalam kamar…”

 

Oh Gosh!

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “Oh Gosh!

  1. why you all have so much worries ??

    Posted by ladyfi | August 22, 2008, 5:14 pm
  2. mungkin inilah pertanyaan yang cocok buat kalian yang udah lama disakit .
    Kebahagiaan

    Kenapa hidup ini penuh dengan penderitaan?

    Kenapa kita tidak bisa menikmati hidup dengan kebahagaian terus menerus?

    Seberapa mahalnya sebuah kebahagian?

    Mampukah kita membelinya ataupun membuatnya?

    Kenapa kita selalu kehilangan orang yang kita sayangi?

    Ketika kita mulai mendapatkan kebahagian,

    Mengapa selalu ada rintangan?

    Mengapa selalu ada orang yang iri dengan kebahagian kita?

    Mengapa ada begitu banyak orang kejam di dunia ini yang berusaha merusak kebahagian kita?

    Andaikan dunia ini hanya ada kebahagian pastilah hidup semua orang pasti senang terus menerus.

    Emang pepatah tuh bener kok hidup ini tidak adil

    Kenapa kita harus mencari kebahagian lagi jika sudah dihancurkan?

    Sampai kapankah kita harus mencari kebahagian itu?

    Apakah kita tidak lelah mencari, mendapatkan trus dihancurkan lagi?

    asal tau aja semua kebahagian itu susah didapetin tapi ketika kita ngedapetin pastinya kita akan berusaha dengan keras untuk tidak melepaskan kebahagian yg sudah susah payah kita dapetin bahkan kita akan mempertahankan dengan sekuat tenaga kita.
    So, Sakit itu wajar untuk mendapatkan hal yang lebih baik dan sesuai denga harapan kita bahkab lebih
    ingat slogan salah satu detergent “ga ada noda, ga belajar”
    sama dengan kita klo kita bahagia melulu pastinya begitu kita jatuh udah tinggal 2 watt deh

    Posted by darwin | August 22, 2008, 11:47 pm
  3. post ini harusnya sedih atau lucu sih??
    cause i cant stop LAUGHING!!!
    inget2 kawin larinya b-gong!!!!
    WAKAKAKAKAKAKAKAKAK……………………

    🙂 Lilyana

    Ituullllaahhhhh!!!
    Ngakak ngakak deh buat yang tau gimana bentuknya si Linda! hihihi…
    dan mukenye saat itu…
    dan raungan-raungan nggak jelas saat itu…
    uluh, uluh…
    kangen nggak sih lu, Mboi, sama masa lalu kita??? (cieh, bahasanya La!) 😀

    Posted by lily | October 13, 2008, 12:04 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: