you're reading...
daily's blings, Penting Ga Penting...

terlena, merdeka

Mumpung Negeri Tercinta, Indonesia, sedang merayakan hari kemerdekaannya yang ke-63 pada hari ini, saya akan latah juga bicara soal kemerdekaan. Hm, ini bukan soal kemerdekaan negeri ini, tapi tentang rasa kemerdekaan yang sudah saya cecapi selama 28 tahun saya menjadi seorang Lala, perempuan yang bawel, cerewet, egois, super moody, dan sensitif ini.

Sudahkah saya benar-benar ‘merdeka’? Kapan saya benar-benar merasa sudah boleh mempergunakan hak saya sebagai seorang anak perempuan yang bebas memilih apapun yang saya inginkan, tanpa perlu tunduk terus terhadap keinginan orang tua?

Lalu saya flash back, mundur ke tahun-tahun sebelum hari ini, ketika saya masih merasa seluruh keinginan saya terpasung oleh cita-cita Papi dan Mami yang menginginkan anaknya menjadi orang hebat, anak ideal, yang entah kenapa itu selalu identik dengan dokter, dokter, dan selalu dokter. Itulah kenapa, buat Papi dan Mami, sekolah adalah nomor satu. Les privat bila perlu.

Dari ketiga anaknya, yang paling penurut adalah si Bungsu, alias saya. Si Perempuan bernama Lala itu paling patuh terhadap instruksi. Disuruh sekolah yang rajin, ya rajin. Disuruh ikut les tambahan, ya manut saja. Apa saja yang masuk ke telinga saya, itulah instruksi yang wajib laksana. Sounds so ideal, right?

Hm… Nanti dulu. Sabar. Sabar saja…🙂

Saya sendiri memang pernah bercita-cita menjadi dokter anak-anak. Cita-cita mulia ini sempat muncul karena saya ingin mengobati teman-teman saya yang sakit. Haha, kalau dipikir-pikir, bego juga ya saya. Kalau saya sudah menjadi dokter, bukankah mereka juga akan tumbuh sebesar saya? Lhah, mana mungkin saya mengobati mereka sebagai seorang Dokter Anak? Dari Dokter Anak, saya beralih menjadi Dokter Umum saja. Biar saya bisa mengobati siapa saja.

Tapi ketika saya semakin besar… semakin besar… lalu mulai rajin menulis, cita-cita menjadi Dokter itu luntur sudah. Saya lalu bercita-cita menjadi seorang Novelis terkenal. Dengan mimpi bahwa suatu saat kelak, saya bisa melihat buku-buku saya terjajar rapi di rak best seller, di toko buku terkemuka di Indonesia, atau malah di mancanegara. Ah, indah sekali sepertinya.

Ketika keinginan saya menjadi Dokter meluntur, Papi dan Mami masih bertahan dengan keinginannya, “Salah satu anak Papi harus ada yang menjadi Dokter.”

Dan sialnya… ketika itu… kedua kakak tercinta saya, sudah tak mungkin menjadi dokter lagi. Mbak Pit kuliah di Fakultas Ekonomi Manajemen Unair dan Bro mengambil jurusan Informatika di STTS.

Oh my… Tinggal saya… Anak perempuan bungsu mereka… Yang benci Matematika dan nggak doyan masuk lab kimia ini… Gila.. Gila…. *padahal saya suka sekali dengan bahasa… saya suka sekali menulis…*

Saat penjurusan SMU, Papi sudah wanti-wanti. Jangan sampai nilai IPA saya jeblok, soalnya kalau masuk fakultas Kedokteran, harus dari jurusan IPA, tidak bisa IPS atau Bahasa. (puyeng, puyeng deh Lala saat ituh….)

Meskipun akhirnya saya masuk IPA juga dan menjadi rangking 2 terus selama kelas 3, bukan berarti saya cinta dengan pelajaran-pelajaran itu. Karena tidak nyaman, saya malah rajin cabut dari kelas dan jalan-jalan dengan teman-teman… Ini tidak pernah diketahui oleh Papi dan Mami, karena saya mainnya cantik banget saat itu🙂 Akibatnya, nilai ujian saya jeblok dan makin stress lah saya.

Ketika UMPTN, saya ingin sekali mengambil jurusan Sastra Inggris, Psikologi, atau Hubungan Internasional. Tapi apa yang terjadi? Papi dan Mami menyuruh saya untuk mengambil pilihan ini: Kedokteran Umum dan Kedokteran Gigi. HAH??? Dengan otak terbatas dan pesaing yang seluruh Indonesia, bagaimana bisa saya berkompetisi sehat di sini? Saya sudah nggak yakin… Sangat tidak yakin.

But again… Karena saya anak yang penurut, saya tidak berani komentar macam-macam. Saya isi saja sesuai dengan keinginan mereka, sembari melepas segala mimpi saya. Saat itu, saya tidak memiliki keberanian untuk menolak. Saya cuman anak mereka. Saya sudah membuat mereka kecewa dengan nilai yang tidak bagus kala itu.

Dan benar..

Ketika pengumuman keluar, saya memang tidak masuk kemana-mana.

Papi dan Mami kecewa? Ah itu pasti. Kalau saya? Saya malah lebih kecewa daripada mereka. Ada beberapa hal yang membuat saya kecewa. Satu, karena saya telah membuat sedih orang tua. Lalu kedua, karena sebenarnya saya ingin bersaing di sebuah kompetisi di mana saya ikutan ‘lari’, bukannya jalan di tempat😦

Lalu Papi bilang… “Sudah, masuk Fakultas Pertanian di UWM aja. Bagus tuh. Paling nggak, kayak Papi dulu…” (Papi adalah mahasiswa IPB angkatan 6).

Fakultas Pertanian? Teknologi Pangan dan Gizi? Kimia, Fisika, Matematika……. Praktikum-praktikum….. Oh My God!

And again… I didn’t have any courages to say, “Please Dad, I want to study English Literature. I want to be a writer…” Atau bilang ini, “C’mon Dad… Aku pingin jadi Psikolog aja…”

Karena saya hanya bilang, “OK, Dad. Aku daftar hari ini, ya?”

4,5 tahun mempelajari mata kuliah-mata kuliah yang tidak saya cintai adalah penderitaan yang luar biasa. Thanks to Gang Gila yang sudah membuat hari-hari saya di sana tidak seperti living hell. Dengan kehadiran mereka, 4,5 tahun kuliah di sana bisa jauh lebih menyenangkan.

Sampai umur 22 tahun, saya tidak memiliki ‘kemerdekaan’ yang dimiliki sahabat-sahabat saya yang lain. OK, untuk jam malam sampai pukul 9 itu memang terus mundur dan mundur sampai pagi *apalagi ketika saya aktif nge-band awal kuliah dulu*, tapi kalau urusan pilihan, saya benar-benar tak bisa berkutik. Apa yang keluar dari mulut Papi dan Mami adalah harga mati. Tidak bisa ditawar.

Beasiswa kuliah di Fakultas Sastra Inggris di Malang…. tidak bisa saya pergunakan.

Kuliah dengan biaya murah karena saya masuk peringkat satu di Fakultas Sastra Inggris di UWM… juga tidak bisa pergunakan.

Kesempatan untuk ganti kuliah di Fakultas Psikologi… juga sekedar janji-janji manis.

Saya tidak bisa menolak.

Dan sebenarnya saya sangat gerah.

Saya harus memiliki momen yang tepat untuk mengakhiri ‘penderitaan’ saya. I have to say no when it comes to my own needs. Saya sudah cukup dewasa. Saya harus bisa meneriakkan apa yang saya maui, bukannya selalu tunduk tapi menggerutu terus menerus.

Lalu kapan momen itu datang? Momen yang tepat untuk menghirup udara ‘merdeka’ dan berani menyuarakan apa yang saya inginkan?

Saya tak tahu kapan persisnya, tapi perlahan-lahan, setelah saya mulai bekerja dan mendapatkan ganjaran rupiah tiap bulannya, Papi mulai mengendurkan pengawasannya. Kalau dulu Papi mirip seorang Bos, perlahan-lahan Papi berubah menjadi seorang Penasihat.

Kemerdekaan ini tidak saya peroleh karena saya berani bilang tidak.

Tapi ini hadiah dari seorang Papi, yang mulai menyadari, bahwa his little girl, telah berubah menjadi perempuan usia dua puluh tiga tahun yang bisa mencari uang sendiri setiap bulannya…

Jujur. Kalau bicara soal ini, saya sedikit malu. Ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa seorang Lala telah menjadi perempuan yang cukup pemberani untuk menyuarakan apa yang ada di dalam hatinya. Karena yang ada, mulai sekarang, saya mulai didengarkan…..

Hmmm…

Inikah yang disebut kemerdekaan? Bahwa mulai sekarang saya bebas melakukan apa saja yang saya inginkan, dengan bekal satu kalimat saja dari Papi, “Jangan sampai melakukan sesuatu yang kamu sesali di kemudian hari”? Bahwa kini saya bebas pulang selarut apapun yang saya mau? Berpacaran dengan cowok manapun (dari yang tengil sampai wanginya minta ampun)? Asal saya bahagia… Asal saya senang….

Aduh…

Kok saya malah jadi rindu dengan pengekangan Papi dan Mami saat itu ya? Ketika saya pulang lebih malam dari jam yang telah ditentukan, ponsel saya selalu berdering-dering tanpa henti? Ketika saya berpacaran dengan orang nggak penting, Mami langsung melarang?

Karena sekarang, ironisnya, saya justru merasa kemerdekaan ini telah melenakan saya….

Hhhhhhh…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “terlena, merdeka

  1. manusia tidak pernah puas pada kondisinya. Karena itu saya selalu berpikir untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada sebaik-baiknya meskipun bukan merupakan pilihan saya sendiri.

    Kalau aku lain la. … papa mama justru memberikan kebebasan dalam memilih masa depan. Dan saya tidak tahu apa pilihanku…. Malah inginnya mereka yang menentukan. terbalik sama kamu kan? Dan keadaan bisa memilih itu justru tidak cocok untuk aku.

    dan sebenarnya apa sih arti kemerdekaan itu sendiri? bebas yang sebebas-bebasnya? Kayaknya ngga deh…ada tanggung jawabnya kan? dan salah besar kalau kita mau bebas dari tanggung jawab…meskipun rasa hati ingin demikian.

    yang penting sekarang gimana kita bentuk diri kita sendiri la…

    lala bagaikan sembuh dari sembelit kayak riku sehingga posting sebanyak-banyaknya hehehe.
    wait till i arrive in Tokyo …..

    Itulah, Sis. Tak melulu suatu kondisi itu buruk di mata orang banyak, karena bisa jadi, justru dengan kebebasan yang (seolah) terenggut itu kita mendapatkan arah yang jelas dan pasti. Hah… susah sekali ya jadi manusia yang berdaging inih..🙂

    Eniwei.. ya… ‘sembelit’… akhirnya bocor cor cor… hahaha

    Posted by Ikkyu_san | August 17, 2008, 10:53 am
  2. Ini gabungan …
    Antara Lagunya Ike Nurjanah dan H Mutahar …

    But Seriously …
    kalimat terakhir …??
    “Karena sekarang, ironisnya, saya justru merasa kemerdekaan ini telah melenakan saya….”

    Ah please La …
    … jangan sampai kemerdekaan itu “membunuh” mu …

    (trainer tercenung …)

    kenapa tercenung ya Om?

    Posted by nh18 | August 20, 2008, 3:42 am
  3. Aku kebalik denganmu La.
    Orangtuaku telah membebaskanku untuk memilih sekolah.
    Padahal aku kepingin juga dipilihin.
    Nanti aku buat postingan sendiri tentang hal ini.
    Hmm…Jadi dapat ide…

    Posted by heryazwan | August 20, 2008, 5:06 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: LPLPX.COM » » What’s your Independence Day? - August 21, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: