you're reading...
7 episod 'Ketika Saya Harus Pergi...'

ketika saya harus pergi… (4/7)

Dia adalah seorang yang istimewa. Banyak yang jatuh hati padanya. Banyak pula yang memuja-mujanya, berharap bisa dicintainya. Tapi anehnya, meskipun saya tahu dia mencintai saya, tapi cinta saya buat kamu… seorang perempuan cantik, bawel, cerewet, super moody, ngambekan, tapi segalanya buat saya…. tak bisa saya jelaskan dengan seluruh kosa kata yang pernah saya pelajari selama ini.
Kamu adalah segalanya.

Kamu yang membuat saya berubah, membuat saya meninggalkan segala yang bisa menghancurkan saya… dan ironisnya, kamulah yang mengenalkan saya pada dia. Ya. Dia. Yang kini memiliki saya. Yang di pelukan dialah saya terlelap; meskipun pikiran saya selalu mengembara padamu, tapi saya tak pernah bisa meninggalkan dia. I wish I could, Babe. I wish

“Hey, you… Ngelamun aja…  Ada apa lagi sekarang? Sedih kok kebiasaan…” Dia tertawa. Wajahnya terlihat bercahaya.

“Hmmmm….”

“Tadi ketemu dia lagi?”

“Hmmmm…”

“Dia bilang apa? Tired?”

“Hmmmm…”

“Kamu sendiri?” Dia memandang saya. “Are you tired?”

Entahlah…
Entahlah… Apa saya capek… Apa saya sudah tak minat lagi untuk meneruskan permainan ini… Terkadang perasaan rindu saya pada kamu malah membuat saya lemah. Sungguh lemah. Saya berusaha menepis rasa ini, tapi…. it’s here. Right here. Tersembunyi di balik keegoisan saya… Kamu membuat saya lemah. Membuat saya merasa capek berdiri begitu saja di persimpangan jalan. Saya nggak bisa milih kamu, tapi saya juga nggak bisa meninggalkan dia, Sayang…!! I’m helpless

Perlahan dia mengusap punggung tangan saya.
“Kamu cinta sama dia?”

With all my heart and my soul…

“Kamu cinta sama saya?”

I don’t have any choice left… You’ve had me.

“Harusnya saya tersinggung, lho, kamu lebih mencintai dia. Ya, ya. Saya tahu, sejarahmu dengan dia begitu panjang… Dan ya, dia yang memperkenalkan kita saat itu… and I should thank her for that… Tapi… saya ingin… kamu lebih memperhatikan saya, lebih mencintai saya… Bukannya takdir sudah terjadi, Sayang? Bukankah kamu sudah menjadi milik saya? Dan bukankah sudah waktunya kamu meninggalkan dia dan membiarkan dia bahagia?”

She’s not happy?”

“…mmm… I’m afraid not.”

“Tapi dia terlihat bahagia…”

“Itu bahagia yang semu, Sayang. She pretends to be happy, padahal jauh di dalam hatinya, she’s so tired… Dia ingin berhenti… tapi dia nggak tahu bagaimana caranya… kalau kamu datang dan terus datang… dia malah terdistraksi… dia malah melupakan kebahagiaan sejatinya… dia memilih untuk menikmati secuil bahagia yang semu ini dan melupakan hidupnya sendiri…”

Saya terdiam. Benarkah saya membuat kamu nggak bahagia, Sayang?

“Saya tanya sekali lagi ya?” Dia memandang saya, lamat-lamat. “Kamu cinta sama dia?”

“Iya…”

Dia tersenyum. “Kalau begitu, jangan egois… She’s not yours, you’re not hers. You’re mine. And better tell her, I’m sorry… but someday, she’ll understand this situation.”

Hhhh…

 

masih bersambung… ketika saya harus pergi (5/7)

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: