you're reading...
Thoughts to Share

when it comes back to my ears…

Ada sebuah kalimat yang meluncur dari mulut salah satu Adik Manis saya, Gang Maru, si Momo-Chan, ketika kami janjian bertemu di Delta Plaza, kemarin sore.

Kata-kata sederhana yang cukup menyentak perasaan saya.
Kata-kata ini:

“Lho, Mbak kan yang paling bisa ngasih kita nasehat, kok malah putus asa begini, sih?”

Hm, kenapa si Adik Manis itu tiba-tiba berkata demikian?

Pastinya, dia memiliki alasan yang sangat spesifik untuk mengatakan kalimat itu, persis ketika dia menemani saya hunting kopi Torabika Capucinno with choco granule yang dua sachetnya sudah habis terminum pagi ini.

Di salah satu lorong supermarket itu, Momo-Chan berhasil membuat saya berhenti sejenak. Untuk berpikir, untuk refresh kembali pikiran saya, dan menyadari bahwa saya memang tidak boleh melakukan sesuatu in emotional based.

Apakah itu?

OK. Saya akan sedikit malu untuk menceritakannya, but hey… kan saya emang open diary? Bahkan suatu personality test via internet pun mengabsahkan ke-njeplak-an saya (halah, bahasanya ini Om banget sih.. hehe). Jadi, what the heck, saya akan cerita saja 🙂

Buat yang tahu saya banget, pasti sudah tahu kalau saya ini punya  satu mantan kekasih yang sampai sekarang entah kenapa masih dengan khilafnya ingin menikahi saya. Haha, padahal apa sih yang hebat dari seorang Lala? Selain kadar kebawelan yang tinggi ini? Hehe…

Yang pasti, dia sudah ‘melamar’ saya sejak Agustus tahun kemarin. Dia bilang, “Gua akan nungguin elu, Sayang…”

Dan ada sejarah di antara kami berdua yang membuat saya tak segera bilang, “OK, saya mau. Tungguin ya?” Sehingga saya hanya bisa bilang, “Hmm… I don’t know… We’ll see about that.”

….and he did wait… nope, he’s waiting till this very momment.

Saat dia menunggu, saya berpacaran dua kali, dengan orang yang berbeda. Yang satu, si Orang Jelek itu. Dan yang kedua, dengan Piano Man a.k.a Pacar yang sampai detik ini masih jadi orang yang terindah buat saya.

Yang membuat saya tidak percaya adalah, meskipun saya sedang menjalani semua ini dengan orang lain, The Ex itu masih dengan setia menunggu. Dia bilang, “Gua tungguin elu sampai elu capek mencari calon suami, Sayang…. Elu ga ngeliat apa, kalau kita ini jodoh?”

well, jodoh atau nggak, itu bukan urusan saya, Ex… Karena saya ingin menjalani semuanya sampai saya capek sendiri… dan kalau memang saya berjodoh dengan kamu, then we’ll see about that later.

Nah.

Apa hubungan antara kalimat Momo dan ilustrasi yang saya ceritakan tadi?

Hmm…

Karena saat berjalan di salah satu lorong supermarket dan sibuk mencari-cari kopi favorit, tiba-tiba saya nyeletuk begini:

“Hhh…… apa aku nikah aja sama si Ex ya…” Setelah saya cerita dengan Adik Manis saya itu, kalau hubungan saya dan Pacar tidak jelas kemana arahnya.

“Lho, kan katanya Mbak Lala nggak ada feeling sama dia, kok sekarang ngomong ini sih…”

“Abisnya…. aku pingin cepet-cepet merit nih. Nggak apa-apa deh, biar kata merit nggak pake cinta…”

Lalu meluncurlah kata-kata yang membuat hati saya tersentak itu.

“Lho, Mbak kan yang paling bisa ngasih kita nasehat, kok malah putus asa begini, sih?”

DZZZIIIGGGHHHH…

Seorang Lala yang rajin nasehatin orang kok malah sekarang keok duluan…. 😦

Arrghhh.. payah nih…

Tapi kemudian… later that night… saya menyadari sesuatu.

Bahwa ketika kamu menasehati seseorang… say it out loud (I mean, sampai kamu bisa mendengar sendiri di telinga kamu) lalu bisa terekam otomatis dalam ingatan kamu… and who knows, you’re going to need that to solve your own problems in the future... We’ll never know, rite?

Seperti nasehat yang pernah saya berikan pada Momo-Chan….  Yang akhirnya harus kembali lagi mengalun ke gendang telinga saya.

Karena si Adik Manis itu bilang begini:

“Jangan menikah tanpa cinta, Mbak. Atau karena terpaksa. Karena menikah adalah komitmen seumur hidup kan? Daripada menyesal, mendingan menunggu saja sampai ketemu dengan orang yang tepat…”

Iya, Adikku.

Thanks a bunch for reminding me….. 🙂

And I will find that guy…. A guy that will end my journeys in finding love… A guy that will never leave in my rainy days… I will find him… I will.

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “when it comes back to my ears…

  1. Masa sih nggak ada feeling sama sekali dengan orang tsb? Feeling kan bisa diciptakan?
    Pasti ada sisi menarik dari setiap orang.

    so far sih… belum ya Bang…. He’s a great guy, tapi entah kenapa, he doesn’t make me shiver… Hhhh..

    Posted by Hery Azwan | August 11, 2008, 12:59 pm
  2. you’re only human. Kadang memang kita ingin yang terbaik bagi orang lain meskipun kita tidak bisa menjalankan nasihat kita sendiri :p

    iya ya, Ko…
    We’re just ordinary people…… ^^

    Posted by akokow | August 11, 2008, 1:19 pm
  3. satu, menikah tidak menyelesaikan masalah

    dua, tidak ada orang yang menurut kita sempurna, oleh karena itulah, kita diciptakan untuk saling melengkapi

    tiga, akan selalu ada yang “lebih”, dan kalu mau diturutin, ga kan ada akhirnya,

    keempat, kamu boleh menunggu, tapi tidak dengan waktu

    intinya, semua tergantung lala, mau masi asik2 pacaran sana-sini, bolee.. mau serius mencari partenaire de vie alias pasangan hidup, silahkan..

    btw, aq punya mantan pacar duabelas, dan sempet tersentak ketika salah seorang sahabat berkata : ” ni, keledai aja jatuh cuma duakali, kamu sampe duabelas kali,, ngapain aja?? “

    Hah, mantan pacar kamu jumlahnya sangat fantastis Nia… 🙂
    eniwei..
    it’s not about that I expect someone more.
    Lebih karena…
    ada sebuah sejarah yang nggak bisa terlupakan begitu saja.
    And yes, sudah berusaha, tapi susah sekali……..
    (satu lagi, aku nggak ada ‘that so called chemistry’ with him… jadi ya susah… juga 😦 )

    Posted by niaalive | August 11, 2008, 1:28 pm
  4. jangan menikah tanpa cinta
    dan jangan menikah dengan kebohongan….

    Posted by Ikkyu_san | August 11, 2008, 2:10 pm
  5. jangan berbohong tanpa pernikahan dan jangan mencinta tanpa pernikahan..
    ternyata gak cocok kalau dibalik2 .

    Posted by akokow | August 11, 2008, 2:42 pm
  6. cerita yang hampir mirip ma gw….
    dan sampe detik ini…..gw masih berpikir bahwa klo gw setelah menikah harus lebih baik dr sebelum menikah….
    sabar sajalah………………:)

    Posted by siesie | August 11, 2008, 2:44 pm
  7. Kalau sudah saatnya menikah, pasti hatimu akan tergerak sendirinya, sist 🙂 Tapi jangan dipaksa kalo belum saatnya, hanya karena terkejar ‘deadline’ 🙂 Aku yakin hatimu akan tergerak, and it feels different, sist 🙂

    Posted by 'B' | August 11, 2008, 4:09 pm
  8. iya dong bu… menikah kan sebisa mungkin jangan sampai asal dan jangan ada sesal, yes?

    dan memang… orang bisa pintar bener mengenai hidup orang lain, tapi kadang buat hidupnya sendiri perlu banyak b anyak diingetin… sering sering….

    sabar sebentar lagi bu…

    that prince charming will soon be there 🙂

    Posted by natazya | August 11, 2008, 9:36 pm
  9. jadi nggk sabar nunggu mbak lala nikah hehe.. kira2 siapa ya jodohnya 😛

    Posted by Dy™ | August 12, 2008, 7:06 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: