you're reading...
precious persons

after 23 years…

My long lost bestfriend

My long lost bestfriend

Kota Jakarta tidak hanya menyimpan kebencian yang amat sangat terhadap Orang Jelek Itu (which actually, sudah tidak lagi saya benci karena saya sudah memutuskan untuk let go), tapi di belantara Ibukota yang banyak orang bilang kejam *tapi banyak pula yang datang untuk mengais rejeki* itu, juga menyimpan seorang sahabat masa kecil yang baru bertemu kembali setelah puluhan tahun berpisah, Mbak Neph.

Banyak yang tidak percaya kalau saya masih bersahabat dengan teman TK saya. Apalagi kami dipisahkan jarak yang sangat jauh untuk ukuran anak umur 5 tahun, kala itu. Apa sih yang masih terekam dalam ingatan bocah umur lima tahun? Apa memungkinkan daya ingat kami yang terbatas itu mengingat kembali pada persahabatan masa kecil, 23 tahun yang lalu?

Saat itu kami berdua memang sangat dekat sekali. Saya sendiri lupa bagaimana kami bisa dekat. Apa Mami yang bersahabat dengan Mama? Apa memang ini semua karena ulah Mbak Pit yang bersahabat dengan Mbak Ika?

Yang saya ingat…

Mbak Neph, saat itu, adalah anak kecil yang tomboi. Tidak seperti Jeung Lala yang kemayu dan keliatan narsis-nya sejak usia dini😀

Kalau saya pakai baju kebaya Jawa saat peringatan Hari Kartini, Mbak Neph memilih memakai baju Dayak Kalimantan.

Kalau rambut saya dikuncir tinggi-tinggi, Mbak Neph memakai ikat kepala.

(ah, aku masih mencari photo-photo masa kecil itu, Mbak… tunggu ya…. ntar aku upload deh)

Kata Mami, karena saya lebih luwes, saya lebih sering menang lomba Kartini-an daripada Mbak Neph (aduh, aku nggak bisa klarifikasi nih, Mbak… Soalnya ini kata Mami, bukan akyuuuhh.. hehehe). Masih kata Mami, “Akhirnya Mamanya Nevi beliin hadiah yang sama buat Nevi, supaya Nevi nggak gondok…”

Lucu ya?

Saya dan Mbak Neph hanya dekat selama setahun. Saat itu, Mbak Neph harus pindah ke Jakarta, sementara saya tetap di kampung halaman tercinta, alias Surabaya. Umur lima tahun, kami berpisah. Tidak ada acara tangis-tangisan saat itu (nggak seperti di Gambir kemarin ya, Mbak? Waktu keretaku mau berangkat ninggalin Gambir dan kita nangis bombai kayak orang pacaran itu? hehehe). Ah, ini karena kami masih terlalu kecil jadi belum tahu kalau perpisahan itu artinya kita akan jaraaaaannggg sekali bertemu dengan orang itu.

Tapi, meskipun dibatasi dengan jarak yang ratusan kilometer itu, kami masih saling bertukar kabar lewat surat. Tadinya sih cuman nitip-nitip salam lewat Mbak Pit dan Mbak Ika, tapi setelah kami mulai cukup besar dan bisa menulis sendiri, akhirnya kami pun menulis surat dan menitipkannya ke kedua kakak kami tercinta itu. Itulah kenapa saya hafal sekali dengan alamat rumah Mbak Neph. Hafal, fal, fal, fal di luar kepala. Sampai sekarang!

Dan tahu ga, sih.. ini sangat membantu saya ketika saya sedang ada di Jakarta dan kepingin ketemu dia…

Ceritanya, sejak terakhir kali bertemu saat umur lima tahun itu, kami praktis tidak pernah bertemu lagi. Surprisingly, Mbak Neph adalah saudara sepupu tetangga yang saya taksir! Aha! Tengsin dong saya. Ini saya ketahui ketika Mbak Neph main-main ke rumah saudara sepupunya itu. Saat kami sudah 12 tahun dan sama-sama chubby itu…

Tapi kami tidak otomatis menjalin hubungan lagi. Hm, kenapa? Mungkin karena saya sudah punya teman-teman baik di Surabaya, sehingga saya tidak lagi menjalin hubungan dengan Mbak Neph. Dan saya pikir, Mbak Neph pun berpikiran hal yang sama.

Sampai suatu ketika, saya berlibur ke Jakarta. Saat kesepian tengah malam, entah kenapa tiba-tiba saya teringat kalau saya punya teman masa kecil di kota ini. Ah… tapi gimana caranya mencari tahu dia ada di mana ya? Masa tanya tetangga saya yang ganteng itu? Masa saya ngubek-ngubek Jakarta (hell, gila aja kali! hehe)? Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menelepon rumahnya sambil berharap, Mbak Neph tidak pindah rumah!

Bermodal ingatan itulah, saya mencari tahu nomor teleponnya. Setelah tahu, buru-buru saya mendial nomor telepon tadi. Agak deg-degan saat itu, takut sekali kecewa. Tapi setelah telepon itu tersambung… senyum saya segera terkembang dengan sempurna… karena…… it was her who picked up the phone!!!

Aaahhh…

Senaaaannnggg sekali. Setelah puas ngobrol sambil mengenang masa lalu, saya dan Mbak Neph pun berjanji untuk ketemu esok malamnya. Saya tidak tahu kapan persisnya, tapi in that March, 2003, akhirnya saya bertemu kembali dengan sahabat masa kecil yang sudah 18 tahun tidak bertatap wajah…

Hmmm….

Saya sangat bersyukur karena masih bisa bersahabat dengan perempuan manis yang super baik ini. Kalau bukan karena dia, saya bakal down sekali ketika Pacar meragukan saya. Kalau bukan karena dia, saya bakal sedih sekali setiap malam. Kalau bukan karena dia yang selalu mendengarkan saya, mungkin hari-hari saya di Jakarta adalah living hell.

I have to admit that she’s really my angel. Dia yang telah membuat saya bertahan selama di Jakarta dan selalu menumbuhkan semangat setiap saat saya meragukan kemampuan diri saya sendiri. She makes me stronger than ever. Mungkin tidak melulu dengan kata-kata yang (tumben, Mbak) bijak🙂 Tapi juga lewat usapan di punggung, sodoran tissue ketika hidung meler, dan sentuhan lembut di punggung tangan. It was so simple, but I felt it so damn special.

And now…

After twenty three years…

Saya tahu, saya adalah termasuk orang yang terpilih.

Ya.

Terpilih oleh Tuhan, untuk memiliki seorang Sahabat yang baik, seperti Mbak Neph…🙂

Miss ya, Mbak!!

ps. Mbak, Mbak… jadi ke Bali, kan???

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

7 thoughts on “after 23 years…

  1. ini dia sahabat sejati
    berbahagialah orang yang mempunyainya….

    irihati.com

    Posted by Ikkyu_san | August 9, 2008, 10:35 pm
  2. Wah, persahabatan kayak gini termasuk jarang La.
    Berbahagialah dikau bisa merasakannya.
    Selamat ya…

    Posted by Hery Azwan | August 11, 2008, 8:50 am
  3. Hmm …
    Yes Indeed ini persahabatan yang manis …
    ups sorry … maaf ini bukan persahabatan … ini persaudaraan … !!!

    Posted by nh18 | August 11, 2008, 9:46 am
  4. “Terpilih oleh Tuhan, untuk memiliki seorang Sahabat yang baik,”

    Kalimat yang manis, La!😉

    Posted by Daniel Mahendra | August 12, 2008, 11:30 am
  5. congrats…

    Posted by fajar | August 16, 2008, 11:16 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Meniti kenangan #4 - after 22 years - August 12, 2008

  2. Pingback: ternyata bukan Luna Maya! | The Blings Of My Life - April 20, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: