you're reading...
Thoughts to Share

it’s just a long, long day…

Kamu sama seperti saya nggak?

Yang sering merasa sangat sangat excited dan nggak sabar menjalani hari ketika tahu kalau nanti malam saya akan ketemu dengan seseorang yang sangat saya rindukan?

Atau sama nggak seperti saya?

Yang selalu merasa mendapatkan suntikan energi untuk menjalani sisa hari, hanya dengan mengetahui bahwa setelah hari yang melelahkan ini, saya akan janjian bertemu dengan sahabat-sahabat yang saya cintai dan kami akan ngobrol sampai berbusa-busa ditemani cemilan dan kopi susu?

Sama senangnya?

Atau malah kamu merasa biasa-biasa saja?

Well hey… lepas dari sama atau tidak, yang jelas, saya hanya ingin cerita kalau saya adalah orang-orang yang seperti itu. Yang selalu merasakan kegirangan yang luar biasa, hanya dengan modal satu janji manis dengan orang-orang tercinta (entah itu keluarga, sahabat-sahabat, atau pacar) dan imaji bahwa nanti saya akan bersenang-senang dan menghabiskan waktu bersama mereka. Saya bisa yang semangat sekali mengerjakan tugas yang melelahkan *dan syukurlah, tugas yang merepotkan itu sangat..sangat..sangaaaattt jarang terjadi.. hehe* dengan rasa senang yang membuncah di dalam hati disertai kalimat ini, “Ah, bentar lagi ketemuan nih.. asyek.. asyek…”

Sama seperti ketika saya ketakutan untuk berangkat ke Jakarta, hampir dua minggu yang lalu. Ketakutan-ketakutan yang nggak penting itu akhirnya terkalahkan oleh rasa excited saya yang akan bertemu dengan sahabat-sahabat (yang tak lagi) maya itu, The Asunaro. Senior-senior saya yang pengalaman hidupnya menjadi pelajaran berharga buat oh-not-so-junior Lala ini (maksudnya, paling tidak saya memang yang paling muda, walaupun sebenarnya udah tuwir juga.. hehehe).

Juga sama seperti kesedihan yang akhirnya saya rasakan ketika harus berpisah dengan Mbak Neph, yang sudah begitu baiknya menemani hari-hari saya ketika di Jakarta (imagine this: 10 consecutive days with her.. dari melek sampai melek lagi saya ketemu dia, gimana saya nggak terbiasa sekali dengan temen baik saya ini?). Waktu pisah di Gambir, saya sampai nangis segala lho. Bombai banget deh, pokoknya. Tapi kesedihan itu tetap saja tak bisa mengalahkan rasa senang saya yang akhirnya bisa kembali ke rumah tercinta, tidur di kamar sendiri, bertemu dengan keluarga, kembali ngantor (meskipun dering teleponnya sumpah bising banget!), dan bercanda-canda dengan sahabat-sahabat di coffeeshop… Hanya dengan membayangkan itu, kesedihan saya hilang.

Then I got this thinking.

Kenapa hidup tidak dibuat sama seperti itu?

Kenapa segala kesedihan, ketakutan, kegelisahan, juga kepahitan dalam hidup, tidak kita anggap sebagai suatu hari yang panjang dan melelahkan di kantor…. atau suatu perpisahan yang menyedihkan dengan sahabat… yang pada akhirnya akan membawa kita pada kebahagiaan yang bisa banget membuat kita tersenyum, seperti… bakal bertemu kembali dengan keluarga… bercanda lagi dengan keponakan… gila-gilaan dengan para sahabat yang bolak balik nagih oleh-oleh aja bisanya🙂 … dan masih banyak lagi.

Segala ketakutan kita dalam menjalani hidup ini…

Segala kepahitan yang kita telan dalam perjalanan waktu ini…

Mari snggap saja semua ini adalah sebuah hari yang panjaaaaannnnnngggg sekali di kantor. Sibuk kerjain tugas. Sibuk teleponin customer, misalnya. Sibuk ini itu. Berantem dengan bos. Berantem dengan rekan kerja. Belum lagi kopi yang sudah siap dinikmati itu akhirnya tersenggol dan jatuh, lalu menodai baju kemeja putih yang sedang kita pakai. Gggrrrhhh.. marah, marah deh. Eh, belum selesai itu, masih harus kerjain lemburan, karena bos asal instruksi kerjain ini itu secara mendadak ketika kita hendak berkemas-kemas untuk pulang. Arrrgghhh c’moonnnnn…..

Tapi hey!

Bayangkan saja bahwa setelah segala kepahitan itu… segala kekesalan itu… segala ketidaknyamanan dan ketidakbahagiaan itu… ada sebuah keindahan yang menunggu. Ada kebahagiaan yang tidak punya akhir. Seperti janji Pencipta kita, jauh sebelum nafas bisa terhembus dan terhisap oleh rongga pernafasan kita.

Dengan membayangkan bahwa kita akan merasakan segala kebahagiaan itu di ujung hari, seharusnya kita bersemangat…. Seharusnya kita tetap mencurahkan segala energi untuk melakukan yang terbaik agar hari itu bisa terlewati juga..

Jadi…

Mari semangat saja. Pompa segala energi kita untuk menghadapi setiap kerikil-kerikil yang tersebar tak sama rata di masing-masing jalan tiap makhluk Tuhan. Kunyah saja. Nikmati saja dengan senyum. I know, ini tidak mudah. Tapi bayangkan… bayangkan saja… setelah semua jalanan tak rata yang kamu lewati ini… kamu akan sampai di sebuah tempat peristirahatan yang sangat mewah di mana kamu akan menjadi Raja atau Ratu dengan sejuta pelayan yang sigap melayani kamu. Di mana kamu bisa tidur tenang, tanpa takut kedinginan. Di mana kamu tak perlu mengantri panjang saat membeli roti di kedai breadtalk *ya, di Surabaya masih antri, Sodara-Sodara!* Di mana kamu bisa bebas tersenyum, tanpa khawatir akan datang orang jahat yang akan melukai hati kamu lagi..

Just try to imagine that… then live your life with your best effort… and the biggest smile… sampai akhirnya kita bisa ‘bertatap mesra’ dengan kebahagiaan itu, selamanya…

tapi… tapi nih… dengan satu catatan yang paling mendasar…

kamu nggak boleh nakal-nakal yaaaa….🙂 ntar nyampenya malah ke tempat yang laen lagee… hehehehe….

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

7 thoughts on “it’s just a long, long day…

  1. hhehhe ternyata ada positive nya dari PMS nih…

    tapi kalo tau akan seperti itu, kenapa ada masa2 down ya? hmmm memang PMS yang harus disalahkan dan selamanya menjadi kambing hitam

    masa-masa down kan penting supaya kita bisa mensyukuri masa-masa high?🙂

    Posted by Ikkyu_san | August 6, 2008, 5:26 pm
  2. Ha? Di Sby masih antri Breadspeak?
    Wah Om Johny telat nih…
    Secara Sby kota kedua terbesar di Indonesia gitu lho…
    (komentarku nggak mutu ya?)

    mmm.. bermutu ga ya???
    dan ya, percayalah. BreadTalk masih antre!!!! (dan ironisnya, aku juga masih bela2in antri nih Bang.. hehehe)

    Posted by Hery Azwan | August 6, 2008, 6:38 pm
  3. Karena ini dunia, bukan surga…

    aaahhh…. it’s true
    (komentar yang minim, tapi dalem…)

    Posted by Daniel Mahendra | August 7, 2008, 2:29 am
  4. setuju sm DM

    samaan, Neng..🙂

    Posted by niaalive | August 7, 2008, 8:31 am
  5. hidup memang seperti gelombang…sedih dan senang datang silih berganti😀

    asal nggak tenggelam aja yaa…..

    Posted by Koko | August 7, 2008, 10:43 am
  6. iya sama aq juga orang yang kaya gitu..
    hari itu bisa menjadi special ketika saya akan bertemu dengan orang yang disayangi..

    sudah lama tak merasakannya -___-
    tapi semangat kan ya la! semangaat! n_n

    Posted by Dy™ | August 7, 2008, 8:00 pm
  7. +merem+
    +membayangkan jadi raja…+
    raja ayam….
    .-= ayamcinta´s last blog ..Mati lampu =-.

    Posted by ayamcinta | August 1, 2009, 6:13 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: