you're reading...
Jakarta's Stories

Now I hate you more! (Jakarta’s Stories 6)

Sudah tau kan betapa saya benci dengan kota Jakarta? Karena di kota canggih dan modern ini menyimpan sejuta kenangan saya dengan Orang Jelek yang memang benar-benar sudah lenyap di telan bumi. Sejak saya sampai di stasiun Jatinegara, minggu kemarin, yang terbayang adalah wajah si Orang Jelek dan wajah Pacar tercinta. Si Orang Jelek begitu jelas terbayang karena luka masa lalu yang menyisakan benci begitu dalam. Dan Pacar, begitu jelas terbayang karena saya bertengkar hebat dengannya ketika saya berangkat ke Jakarta.

Sampai di Jakarta, yang terbayang memang si Orang Jelek itu. Bagaimana tidak? The last time I came to Jakarta, dia adalah orang yang paling sibuk mengurus semua keperluan saya selama di Jakarta. Kasarnya, dia yang bertanggungjawab menerima saya di Jakarta dan bertanggung jawab pula mengembalikan saya sampai di Gambir. Saya masih ingat sosok tubuhnya yang tertimpa sinar matahari saat menjemput saya. Dia begitu menawan meskipun dia bilang kalau mandinya cepat-cepat karena musti menyusul saya pukul enam pagi. Argh… I still remember how he helped me carry all my bags and we walked together.

Dan ketika kemarin saya tiba di Jatinegara, bayangan itu yang muncul. Menggoda ketangguhan hati saya yang sudah berjanji bahwa saya akan melupakan dia. I have a boyfriend, now. Dan saya cinta sama dia.. (meskipun akhirnya kami harus berpisah karena menurut pacar, we have to end it before it’s killing us more!). Rasanya tidak etis kalau saya masih memikirkan orang lain ketika hati saya sepenuhnya milik seorang Pacar, my pianist, who made my life became like a merry go round, with beautiful songs as its soundtracks *remember that story, Cinta?*

Perjuangan untuk tidak menangis selama di Jakarta adalah cukup berat. Bagaimana tidak? Sepertinya segala jalan yang saya lewati bersama Mbak Neph adalah jalan kenangan saya dengan dia. Terlebih ketika saya menyusuri jalan-jalan di daerah Kelapa Gading, daerah tempat kosnya, di mana saya yang dulu begitu repot mengurus segala keperluannya di sana. Argh, saya nggak berani berkunjung, Orang Jelek. Karena saya takut ketemu kamu dan mungkin akan ‘kalap’ di sana… 🙂

Itulah kenapa saya benci Jakarta.

Benci sekali karena once a while, ketika saya melihat sesuatu di luar kaca jendela mobil Mbak Neph, saya merasakan berjuta kenangan itu terputar kembali dalam benak saya secara otomatis. Menyakiti saya perlahan-lahan. Menggerogoti kekuatan saya. Membuat saya merapuh seketika.

Kebencian saya semakin menjadi-jadi ketika saya berusaha meneleponnya dan dia masih saja mendiamkannya. Hey. Marahkah kamu sama aku, Orang Jelek??? Bukankah kamu yang selingkuh lalu berencana kawin dengan orang lain?? Kenapa sekarang aku yang jadi seperti orang sinting dan seolah ngarep banget?? Damn.

Arrrgghhh…

I really really hate it. Benci yang amat sangat. Pingin saya ‘kruwes-kruwes’ mukanya dengan kalap… Haha.. ini sudah anarkis, Lala. Stop it.

Tapi itukah yang membuat saya masih menulis blog dengan internet gratisan pada hari menjelang pukul satu pagi ini?

Ow tidak…

Bukan itu.

Bukan itu.

Kamu tahu kenapa saya ketik “NOW I HATE YOU MORE!” di kolom judul di atas???

Well..

Ini karena…

Ketika kunjungan saya di Jakarta sekarang ini…

Saya berpisah dengan Pacar yang sangat saya cintai.

I know, bukan salah Jakarta.

Ini hanya waktu yang memilih ketika saya ada di Jakarta dan Pacar menyudahi semua yang kami miliki ini…

Now, you see why I hate Jakarta even more?

Because it reminds me of my heartache, once again… 😦

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

10 thoughts on “Now I hate you more! (Jakarta’s Stories 6)

  1. OOT: Ya ampun… ganti-ganti theme mulu. Dalam berapa hari ini saja sudah berapa kali ganti. Bahkan dalam satu hari ini saja selalu dikejutkan dengan theme yang berbeda-beda. Kenapa, La? Mabok kopi? Hihihi! 😀

    hehehe… karena internetnya gretongan, Mas… Makanya napsu aja gonta ganti theme.. dan petualangan belum berakhir.. hihihihihi…
    Mabok kopi? Nggak apa2… jangan mabok judi ajah… Ga punya duit buat modalnya pula.. hehehe…
    Pa kabar Mas? Di mana sekarang?

    Posted by Daniel Mahendra | August 1, 2008, 5:19 am
  2. Hei, lagi pula, kenapa kau berusaha menelponnya ketika di Jakarta? Whew!

    Ya, memang bukan salah Jakartanya. Ayo bangun!

    I was too desperate that nite.. kayaknya benci banget, udah di bawah naungan langit yang sama, eh nggak ada kesempatan untuk have the closure.. I really hate that situation, Mas… tapi soal telepon itu.. ya.. it was a mistake! Goblog banget sayaaaa…..
    Saya bangun Mas…. bentar lagi.. dikit lagiii….. Wanna torture myself a little bit, sampai rasa pedihnya bisa jadi distraksi yang hebat dan membuat saya lupa sama dia… *emang bisa La?*

    Posted by Daniel Mahendra | August 1, 2008, 5:21 am
  3. Kamu siiiiih telepon. Seperti kata Daniel….
    Kalau aku ngga akan telepon dia lagi. HIStory semua. But, itu aku.
    Kamu adalah kamu dan kamu berhak untuk buat sesuka kamu.
    La… mau dibatalin hari ini?

    Lala punya semacam ‘penyakit kelainan jiwa’ nih.. menyakiti diri sendiri… menabur garam di atas luka hati yang masih merah.. perih.. tapi entah kenapa, it feels so damn good… gila ya???
    dibatalin?
    ow jangan dong……. pingin ketemu sama Abang dan Pak Melvi nih……. kangen sama Om juga! hehehe

    Posted by Ikkyu_san | August 1, 2008, 7:30 am
  4. Dua paragraf terakhir kurang jelas La…
    Udahan atau bubaran?
    Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…

    udahan? bubaran?
    Sama kannnn…
    intinya sih, we’re trying to let go….
    at this very moment.
    tapi ntah….. I don’t know about the future. It’s beyond my power. We’ll see….

    Posted by heryazwan | August 1, 2008, 7:31 am
  5. i hate jakarta for my own reason…

    tapi ga ada masalah hati sebetulnya di dalamnya

    tenang bu… ga ke jakarta masih ada bandung!!!!

    huhuhuhu

    sip lah… ntar gua cari gebetan di Bandung dulu sebelum berangkat ke sana… hehehehe

    Posted by natazya | August 1, 2008, 9:47 am
  6. HHHmmm …
    “menabur garam di atas luka hati yang masih merah.. perih.. tapi entah kenapa, it feels so damn good… gila ya???”

    Lala sedang bingung …
    But please jangan sakitin diri kamu sendiri …
    please …
    Hidup kamu …
    Perasaan kamu …
    Adalah anugrah yang tak terhingga dari NYA …
    dan itu harus kamu jaga sebaik-baiknya …

    (aku gak akan pernah bosen ngingetin kamu La … )

    iya Om.. lagi bingung…. tapi I’m okay.
    tadi liat Oprah dan seakan menemukan kekuatan baru di sana.
    All that matter is… we should not stop SMILING. Dan bukan sembarang senyum, tapi senyum yang dari hati. Senyum yang benar-benar pake hati…..
    Sekarang, I’m trying to smile everyday. No matter how painful life is, I believe that smile will cure any of my heartaches.
    And thank you for reminding me how worthy I am.
    You’re one of those people who I really look up to. Thanks ya Om! Jangan ngabur kemana-mana, ya? Karena Lala bakal curhat banyak sama Om.. 🙂

    Posted by nh18 | August 1, 2008, 10:09 am
  7. oh lala.. seems getting worse aja.. -___-..
    turut berduka la..
    btw kenapa jg ditelpon. mungkin juga g diterima karena takut ntar malah dia balik lagi ma lala, tapi dia kan dah punya istri?.. ato mungkin dia juga sangat sakit dengan kenangan2 yg indah dulu.. karena benci harus mengakhiri.. dan sekarang nggk bisa balik lagi karena sudah terjalin ikatan pernikahan.. gmn tu la?
    yah joomla juga deh sama kita u_u..

    Posted by Dy™ | August 1, 2008, 1:16 pm
  8. Saya pernah denger lagu jadul tapi lupa persisnya lagu apa, mengibaratkan sesuatu (entah cinta entah kehidupan) dengan “merry go round”… seakan menyenangkan tapi ya memang ndak ke mana-mana … Jadi Jeung turun aja, lalu jalan-jalan beneran dan nikmati pemandangan dunia nyata (*sok menasehati*)

    Posted by Oemar Bakrie | August 1, 2008, 5:38 pm
  9. Pokoknya
    salam semangat 😀

    Posted by achoey sang khilaf | August 1, 2008, 7:33 pm
  10. Lala punya semacam ‘penyakit kelainan jiwa’ nih.. menyakiti diri sendiri… menabur garam di atas luka hati yang masih merah.. perih.. tapi entah kenapa, it feels so damn good… gila ya???

    Kalo dipikir la…
    semua cewe punya kok penyakit ini
    masalahnya kamu merasa itu good.
    kalau aku mungkin malah dengan begitu berusaha mengingatkan diri sendiri “jangan lupakan itu pedih…dont be stupid, and make the same mistakes”

    Posted by Ikkyu_san | August 3, 2008, 12:50 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: