archives

Archive for

not just an ordinary Friday….

Gara-gara Batik mulai trend lagi……..
Gara-gara hari Krida kantor pindah ke Jumat (karena hari Sabtu libur)….
Gara-gara ulah cowok-cowok Operations yang pingin tampil beda…………
Akhirnya… hari ini.. Jumat, 18 Juli 2008…..
Kantor berubah menjadi ‘Tempat Kondangan’….. 😀
ini mo kondangan, apa ngantor?? ^^

ini mo kondangan, apa ngantor?? ^^

pssst… dan bikin saya musti rela cuci baju (batiknya barusan dipakai dan masih teronggok di keranjang baju kotor), malem-malem, pulang kantor, ngeremes-ngeremes biar airnya cepet ilang, dikeringin, dan diangin-anginin… lalu pagi-paginya… dipakai tanpa disetrika! huakakakaka…..

*untung ga keliatan, soalnya motifnya rame sih… syukur, syukur… *

…a little piece of heaven

*terinspirasi dari tulisan Om Trainer Ganjen, NH18 yang ini, Abangku, Hery Azwan yang ini dan Emi-Chan, the Wonder Woman yang ini*

Baru saja saya berhenti mengaduk cangkir yang berisi bubuk kopi instan dan air panas. Ah, rupanya larutannya sudah cukup homogen sehingga kopi kesukaan saya itu, Torabika three in one with choco granule, sudah siap untuk dinikmati. Hm… wanginya kopi sudah menusuk-nusuk indera penciuman saya dan membuat saya nggak sabar untuk segera menyisip sedikit demi sedikit di bibir mug bergambar a little cute angel with wings and fashionable bag. Berjalanlah saya kembali ke meja sambil meniup-niup permukaan kopi itu supaya nggak terlalu ‘menyakitkan’ kalau menyentuh bibir saya.

Sampai di meja, barulah saya sibuk menyisip perlahan, sambil menghirup aroma sedap yang melayang di udara dan saya tangkap dengan semena-mena oleh hidung pesek saya.

Ah.. coffee

A little piece of heaven in my days…

Kalau boleh hiperbolis, saya akan bilang, “I can’t live my life without coffee.” Dan kalaupun hari terlewat tanpa kopi yang membasahi tenggorokan saya, I got to say this, “Hell, I’ll get through it.. But it’s going to be a tough day…”

Mungkin kandungan kafein di dalam kopi yang saya konsumsi tidak memberikan efek candu yang segitu bombastisnya, tapi efek sugesti yang terpola di dalam pikiran saya, bahwa minum kopi bisa menenangkan mood yang sedang tidak bersahabat, telah membuat saya begitu mencandui kopi sampai sedemikian dahsyatnya.

Ah, itulah kenapa saya bilang… Coffee…. A little piece of heaven in my days… Karena memang, tanpa kopi, saya akan otomatis merasa super ngantuk dan malas melakukan apa saja….

But hey, the funny part is… with or without coffee, I can’t help my self to do this… visiting my Cyber BestFriends’ ‘home’… 🙂

Yeah. Saya kenal tiga orang di dunia maya yang bisa dibilang Sahabat. Mereka adalah Om NH18, Abang Hery Azwan, dan The Wonder Woman, Emi-Chan. Rumah ketiga orang hebat itulah yang paling sering saya kunjungi setiap hari dengan beragam alasan. Pertama, karena isi blog yang sangat menarik. Kedua, karena saya ingin mengetahui perkembangan terakhir mereka dan apa kabar mereka hari ini. Dan ketiga karena… hey… they’re my bestfriends! Don’t you think that it’s so damn normal that we want to visit our bestfriends’ houses?? In the name of we really care about them?? ^_^

Saya nggak tahu bagaimana awalnya saya bersahabat dengan orang-orang hebat itu. Posting mana yang mengakrabkan kami, posting mana yang menjadi awal mula persahabatan kami, dan kenapa, dan bagaimana… Yang saya tahu, setelah dengan berjalannya waktu, orang-orang inilah yang menjadi sumber energi saya setiap hari; untuk terus menulis dan mengingatkan saya pada sebuah mimpi yang pernah terlupakan.

Mereka mendukung saya dengan cara mereka masing-masing.

Om NH, dengan motivasi-motivasinya yang luar biasa serta kalimatnya yang sungguh fenomenal: “Percayalah, La. Someday aku akan lihat buku-buku kamu terpajang di toko buku terkenal dan aku akan menjadi orang pertama yang minta tanda tangan kamu…” 🙂

Emi-Chan, dengan kehebatannya dalam menjalani hidup sebagai Ibu yang super sibuk untuk kedua anaknya, menjadi penerjemah, menjadi sensei, bahkan pernah menjadi seorang DJ, telah mengajari saya bahwa tidak ada kata tidak bisa sebelum mencoba. Dan sebelum waktu benar-benar membuat saya tak bisa melakukannya, then that’s the time I should not stop. She always encourages me to do every positive things. And keep on believing that we can do it…

Dan Abang Hery Azwan, dengan cara menulisnya yang membuat saya terkagum-kagum karena mirip sebuah artikel koran *ah Abang, how I love your writings!* sehingga menginspirasi saya untuk terus belajar menulis dan ya.. pastinya dukungan yang benar-benar terasa nyata: he was the one who introduced me to an editor, which made my life brighter than ever… 😀

Saya nggak tahu apa peran saya buat kehidupan mereka. Apa yang bisa mereka ambil dari postingan seorang ‘Pengangguran Tersamar di Kantor’ usia 28 tahun ini untuk kehidupan mereka bertiga. Am I worthy enough for their lives? Apakah segala macam cerita bawel saya setiap hari akan memberikan a little something to think about afterwards?

I’m totally clueless, meskipun dengan sedikit pengharapan bahwa bersahabat dengan ‘Anak Kecil’ seperti saya ini*hey, biar begini, saya yang paling muda lho.. hahaa, bangga….*, their lives will be as bright as mine since the moment I met them in the forest of technology…

Hmmm.

Ternyata teknologi tidak menghalangi perasaan emosional yang tumbuh di hati saya buat mereka bertiga. Ternyata teknologi tidak seangkuh yang dibayangkan orang-orang bahwa persahabatan tidak mungkin bisa hadir tanpa tersentuh oleh fisik.

Tapi teknologi-lah yang membawa saya sampai hari ini.

Sampai di hari ketika saya menyadari, bahwa hidup saya semakin menyenangkan karena mereka ini…bukan  GangGila, Gang Maru…. tapi THE ASUNAROS, empat sekawan, empat orang blogger yang sampai detik ini hanya saling bercanda lewat sentuhan keyboard dan klik mouse, tapi terasa begitu dekat….

Dan kini.

Sambil menyisip kopi yang perlahan mulai dingin dan aroma nikmat yang mulai lenyap dari udara, saya tahu… there’s nothing more exciting than doing this:

Sipping my coffee and visiting my bestfriends’ homes… 😀

Halo, Om… Abang… Emi-Chan…… ^_^

que sera, sera…

When I was just a little girl, I asked my mother, “What will I be?
Will I be pretty, will I be rich?”
Here’s what she said to me
“Que Sera, Sera … Whatever will be, will be
The future’s not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be”
(Doris Day: Que Sera, Sera)

Kamu tahu kan, lirik lagu di atas? Sebuah lagu lama dari Doris Day, Que Sera, Sera, yang sekarang malah digubah liriknya dan menjadi jingle iklan sebuah produk semen itu? Sebuah lagu yang bercerita bahwa kehidupan di masa depan adalah masih misteri dan apa yang terjadi, terjadilah?

Tadi siang, saya dengar lagu ini di radio. Sambil blogging, lagu lama ini terputar di radio favorit saya. Ah, saya ini memang pecinta lagu-lagu evergreen, lagu-lagu lawas yang sampai sekarang masih terngiang dengan manisnya di telinga saya. Melodi yang sederhana, nggak terlalu ribet dengan sentuhan teknologi, dan ya, kata-kata yang langsung straight to the point itulah yang mungkin mendasari saya mencintai lagu-lagu itu. Ah, iya, iya, juga didukung sama koleksi laser disc karaoke Papi dan Mami sejak saya masih umur 9 tahun itu.. Makanya, nggak heran juga kalau sedikit banyak saya tahu tentang lagu-lagu jadul…

Ketika saya mendengarkan lagu itu, saya langsung tersenyum. Liriknya itu lho yang membuat saya langsung terbayang dengan masa kecil saya, langsung membawa saya ke masa lalu ketika saya masih polos-polosnya dan lembarannya masih putih bersih (bukan abstrak seperti hari ini..hehe)…

Saat pikiran-pikiran itu melayang, saya langsung ingat kalau saya punya satu photo waktu saya masih TK dan duduk dengan manisnya di depan kulkas *FYI, suatu kali saya pernah ngambek sama Mami dan mengancam minggat… lalu tiduran di depan kulkas.. haha.. itu sudah termasuk minggat namanya…* Ini dia nih photonya…

four-years-old Lala. Did she ever think that she would be me today?

Kalau lihat photo ini, saya langsung merasa, “Oh Gosh… I ruined this kid…!” 😀

Karena anak perempuan kecil ini, yang rambutnya selalu jadi bahan eksperimen Mami tercintanya *Mami kan pernah ikut kursus menata rambut gitu, deh..*, yang tampangnya polos banget…. sekarang jadi perempuan yang bawel, moody berat, sensitif abeesss, dan ya, sering jatuh cinta nggak jelas dan bikin dia patah hati berkali-kali sampai si Bro bilang, “Kamu ini harusnya bikin modul, supaya nggak patah hati terus…” Karena dia berasumsi, relationship pattern saya itu nggak pernah berubah dari jaman pacar pertama sampai yang terakhir ini… Ah.. mosok tho…

Saya jadi punya pikiran begini. Pernah nggak sih terpikir bahwa suatu hari kelak saya bisa jadi seorang perempuan 28 tahun yang aneh seperti sekarang ini? Pernah nggak sih dulu saya berpikir kalau dua puluh empat tahun kemudian saya bakal kerja jadi blogger dengan kerjaan sampingan sebagai sekretaris ini? 😀

Pernah nggak sih, dulu terpikir bakal nggak kawin-kawin sampai usia segini?

Pernah nggak sih, dulu terpikir bakal pernah ngincipin yang namanya rokok terus malah menghasut sahabatnya untuk merokok, meskipun akhirnya si teman berhenti dan sendirinya juga kapok?

Pernah nggak sih, dulu kepikiran untuk jatuh cinta dengan cowok-cowok nggak banget, yang materialistis, yang bakal nyelingkuhin saya, yang bikin saya nangis berhari-hari dan patah hati berat?

Ah, saya rasa, si Kecil Lala, si Empat Tahun Lala, tidak akan pernah menyangka bahwa 24 tahun berikutnya, dia akan seperti ini. Seperti saya yang tidak akan bisa menyangka, akan seperti apa kelak si TigaPuluhLimaTahun Lala, EmpatPuluhTahun Lala, dan seterusnya… dan seterusnya…

Karena memang, masa depan itu misteri.

Dan benar apa yang dibilang Doris Day ini: “The future’s not ours to see… Que Sera, Sera…. What will be, will be…”

And I won’t question…

I just want to deal with it.. day.. by day…

my mirror…

Masih cerita-cerita tentang orang-orang terdekat saya…
Selain Gang Gila, saya punya temen super baik sejak jaman SMP dulu. Namanya TIES. Kami sudah dekat sejak masih kelas 1 SMP dan sudah akrab dengan dunia perganjenan sejak saat itu pula. Sebetulnya ada dua orang lagi, Fan dan Fitri, tapi memang cuman saya dan Ties yang tetap akrab sampai sekarang.
Kalau dihitung-hitung, sudah 16 tahun kami berteman dekat. Sejak tahun 1992 sampai detik ini, 2008. Yang membuat kami kompak adalah karena “kedewasaan” dan kegilaan kami. Yang dimaksud dewasa adalah, di antara murid-murid SMP kelas 1, cuman kami berempat yang hobinya jatuh cinta dan naksir cowok-cowok kakak kelas… (apa kabar, Boy, Oke, Surya, Jaya, Raymond, dan Chandra??? hehe, banyak ya?) Dan yang dimaksud gila, pastinya adalah kami memang bukan anak-anak perempuan yang bisa diam dan duduk dengan tenang.. Heboh aja bawaannya… Sanguin semua kali, yah.. ^^
Hm, eniwei… Kenapa saya bilang Ties adalah My Mirror alias cerminan seorang Lala? Hm, tentunya saya punya alasan-alasannya..
TIES... My So Called Mirror

TIES... My So Called Mirror

 

Saya bilang Ties adalah cerminan seorang Lala karena entah kenapa, somehow, hidup saya dan Ties memiliki pattern of life yang bisa dibilang sangat mirip.

Kami lahir dari sepasang orang tua dan memiliki dua orang saudara. Bedanya, saya bungsu. Dia, anak tengah. Kami juga lahir di keluarga yang terlihat bahagia sekali, tapi ternyata menyimpan badai… Dan ini baru kami ketahui setelah beranjak dewasa. Pengalaman yang sama ini membuat kami sama-sama tahu bahwa segala hal yang indah di permukaan belum tentu indah di dalamnya. Dan untungnya, saya dan Ties tidak minder atau malu, tapi malah mempelajari sesuatu…. Ah, she’s a great mentor

Kami sama-sama suka bahasa. Dulu pernah hampir satu fakultas di Sastra Inggris. Sama-sama masuk kategori satu dengan biaya sekolah yang paling murah, tapi akhirnya saya menuruti Papi untuk kuliah Fakultas Teknologi Pertanian dan Ties akhirnya lolos UMPTN di tahun berikutnya lalu kuliah di Fakultas Sastra universitas negeri. Kecintaan kami terhadap bahasa terbukti dengan betapa hobinya dia belajar bahasa Belanda (that time) dan betapa cintanya saya dengan Nihongo (ya, baru mulai belajar). Sebenarnya pingin sekali belajar satu kelas di tempat kursus Bahasa Perancis, tapi sampai sekarang, niat itu belum kesampaian juga…

Setelah lulus kuliah, ajaibnya, saya dan Ties malah kerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang sama, alias Pelayaran. Ya. Hanya tiga bulan setelah saya kerja di perusahaan yang sekarang, eh tau-taunya dia juga diterima di perusahaan yang lokasinya hanya berjarak lima menit dari kantor saya! Ah, kebetulan yang sangat menyenangkan nih…

Love pattern saya dan Ties juga sangat mirip. Di usia yang beda satu bulan itu (dia lebih tua satu bulan dan saya lebih berat 20 kg dibanding dia.. haha), kami punya love issues yang nggak pernah okay. Berkali-kali pacaran, berkali-kali pula putus. Berkali-kali jatuh cinta, berkali-kali pula musti patah hati. Lucunya, tidak sekali dua kali saya mengalami kisah cinta yang mirip dengan dia. Sama-sama pernah dekat dengan foreigner (bedanya, Ties sempat pacaran selama dua tahun dan sudah jalan-jalan keliling Eropa sama cowok itu sementara saya cukup dinner dan lunch aja selama tiga bulan.. hehe), sama-sama pernah diselingkuhin habis-habisan, sama-sama pernah dibuat menunggu tapi ternyata si cowok itu nggak pernah keliatan lagi batang hidungnya… Banyak kesamaan itulah yang membuat saya dan Ties punya satu kesamaan lagi.

Yaitu, kami berdua, sama-sama bukan orang yang judgmental (insyaAllah, sih bakal begitu terus). Mencoba untuk mengerti apa yang mendasari perilaku orang yang nggak banget itu. Kalaupun kami nggak setuju, biasanya kami hanya diam dan tidak menuding orang-orang itu. Ah, kesannya ini narsis sekali ya? Tapi hey, that’s the way we are… Makanya kami paling nggak suka sama orang-orang yang suka ngomongin orang lain… It’s not our capacity.. and it never will be, so shut your mouth 😀

Selain itu, ada kesamaan-kesamaan kecil lainnya yang membuat saya berani menyebut Ties sebagai cerminan saya. Sama-sama suka Japanese food, misalnya. Sama-sama suka nonton live music concert di cafe-cafe. Sama-sama suka dandan. Sama-sama suka belanja. Sama-sama suka memotret pakai HP kalau menemukan barang-barang ‘ajaib’ dan nggak banget (misal: dekorasi korden diikat dengan karet gelang.. remember Ties?). Dan ya.. pastinya nih.. kami berdua, sama-sama narsis sunaris alias Narsis Akut! 🙂

Sekarang…

Kami berdua, sedang mengalami jatuh cinta yang sama dahsyatnya… Yang penuh dengan tantangan… Yang membutuhkan ekstra kesabaran supaya bisa survive

Kekuatan dia dalam menghadapi hidup adalah energi buat saya. Keberanian dia dalam menyikapi semua masalah adalah semangat saya.

She’s really my mirror…

And I love her for everything she’s done for me.

Makasih ya, Ties… Please be strong, okay? Cause whatever you feel… that’s exactly what I feel… ^_^

Partner in Culinary *yeah Lin, it’s you! ^_^ *

…ceritanya nih, yang punya blog lagi nostalgia…
Kalau TAT adalah Partner in Crime, sahabat saya yang lain, si LIN, adalah my Partner in Culinary, alias partner dalam hal makan-makan. Sebenarnya ini sangat obvious, karena di antara member Gang Gila, yang badannya subur-subur ya cuman saya dan Lin aja. Ly masuk kategori montog sumontog dan Tat tergolong molig karena keadaan *punya anak satu gituh…*
Selain doyan makan, Lin juga hobi dan jago banget masak-memasak. Mulai dari Chinese food sampai Italian food, bisa banget dimasak sama anggota termuda di Gang Gila itu. Jaman masih kuliah dulu, kami sering numpang makan di rumah Lin. Ya, selain rumahnya yang termasuk dekat dengan kampus, variasi makanan yang tersedia di balik tudung saji meja makannya itu lho yang bikin kami ngiler. Kalau di rumah saya cuman tersedia dua jenis masakan, di rumah Lin bisa sampai lima-enam jenis! Fantastis kan?? Ada Garang Asem Ayam, oseng-oseng kangkung, bakwan udang, soto daging, semur, dan bakmi goreng. Lengkap ada di atas meja. Huaaa… nafsu dong kita…
Apalagi alm. Mama-nya juga paling hobi nyuruh kita makan. Udah gitu, kalau mengambilkan nasi pakai porsinya si Lin, jadi ya gitu itu.. Satu piring munjung *tau ga? itu lho, mirip porsi kuli gitu.hehe*… kenyang boooww… Malah pernah tuh, wajah Tat sampai menderita banget, keringetan, mata membelalak saat menelan makanan, dan buru-buru ke kamar mandi buat… apa hayooo…. ah, kalian pasti tahu deh buat apa…  Pokoknya out put, deh.. ^^
Nah, hobi masak dan hobi makan adalah kombinasi yang sempurna, tapi ini sangat bikin stress sahabat saya itu. She’s gaining weight… 🙂
Ada satu kenyataan yang bikin saya ngakak sampai sekarang:
Lin itu kalau stress, larinya ke makanan.
Dan kenapakah Lin bisa stress??
Karena mikirin berat badan…
Haha… itu mah lingkaran setan atuh Neeennggg…. :mrgreen:
leyeh-leyeh di J-Co... (3100508)

leyeh-leyeh di J-Co... (3100508)

 Lala dan Lin lagi ngeleset nggak penting di J-Co, in a hot Saturday

Eniwei,
Karena sama-sama doyan makan, ditunjang pula dengan kondisi ini nih, yang setiap Sabtu libur *yang lainnya masuk, kecuali Els yang biasanya sibuk ngasih les privat*, makanya kami sering banget bikin agenda wisata kuliner setiap hari Sabtu.

Pastinya sih, kalau soal lokasi, harus yang gampang dijangkau dengan angkot, ini karena saya masih belum mampu beli mobil sendiri dan Bro tercinta sama sekali nggak rela mobilnya diserudukin ke rambu-rambu lalu lintas kalau saya yang bawa 🙂

Biasanya, saya dan Lin wisata kuliner from mall to mall. Ngincipin makanan di resto ini…. resto itu…. Nengkri di cafe sini… cafe situ… Kadang, sambil nungguin Tat, Yun, dan Els yang bisa kumpul setelah pukul lima sore dan kami lanjut sampai pukul sembilan malam *dan kalau peralatan tukang alias tas make up saya ketinggalan, saya bisa nangis-nangis darah nih karena nggak bisa touch up dan sliweran dengan wajah berminyak acak adut 😀 * Dan setelah manusia-manusia ‘gila’ itu datang, kami yaaa… makan lagi deh jadinya… hehehe..

Paling seru kalau makan all you can eat. Bisa dijamin, kami bakal jadi pengunjung terlama yang makan di sana. Karena kami selalu punya prinsip begini: “Sebelum balik modal, dilarang udahan”Haha.. jadi, setiap potongan ayam yang kami makan, kami kira-kira aja berapa harga… Setiap siomay… Setiap roti… Setiap porsi spageti… dll dsb, musti diitung dulu. Setelah impas, baru deh kami pulang… Hehe, bener-bener nggak mau rugi yah…..

 Karena kebiasaan ini juga, saya dan Lin nggak pernah bisa kurus-kurus. Gimana mau kurus kalau setiap Sabtu selalu punya agenda wisata kuliner begini? Dan FYI, biasanya nih, kalau sudah masuk agenda begini, saya pasti lupa dengan program diet sayaaaa… huaaaahhh………

Ah, tapi sekarang saya mah mau cuek aja ah. Makan aja selagi mampu beli dan bisa makan (but don’t waste the food ya La.. kasih Lin aja kalau nggak habis..hehe)
Apalagi tadi saya lihat Oprah di Metro TV yang membahas soal buku Eat Pray Love, buku yang jadi best seller,  menceritakan pengalaman hidup seorang Elizabeth, perempuan yang terlihat memiliki segalanya tapi merasa hidupnya hampa. Ketika dia hendak collected her pieces of life that she had left lalu mencoba untuk menemukan dirinya sendiri, she said, “Gimana bisa aku punya energi untuk menyerap hal-hal positif kalau badanku kurus banget dan loyo? Karena itu selama empat bulan di Italia, aku makan, makan dan makan… Nggak peduli dengan bobot tubuh, asal aku bahagia…”

…yes, she’s gained weight, but no… she’s not depressed. She’s so happy!

*malah ada yang bilang, si Elizabeth ini sampai ngomong-ngomong sendiri sama makanan yang hendak dia suap ke mulutnya, lho.. hehehe.. so cute, eh?

Nah. Kalau akhirnya saya makan dan makan terus sama Lin dan bakal ngasih efek samping *bener-bener ke samping alias melebar gituh.. hehe*, ya nggak apa-apa deh. Just as long as we’re both happy…. *ah, lagian juga seminggu sekali kan La…. www.menghibur-diri.com*

Pokoknya, Lin benar-benar partner sejati deh buat urusan makanan. Selain dia yang hampir selalu available setiap Sabtu *sekarang dia udah sibuk pacaran nih..*, dia juga teman yang pengertian.
Kenapa begitu?
Karena prinsip Lin yang nggak bisa nolak makanan yang sudah ada di atas piringnya, dia selalu bersedia menghabiskan kelebihan makanan jatah saya, yang diam-diam saya letakkan di atas piringnya saat dia berdoa sebelum makan… hehehe.. gomenasai, ya, Say… ^^

Luv ya! Mmuachhh!

sex and the city….. WANNABE! ^^

Gara-gara iseng nguprek-nguprek Ms Notey, akhirnya saya menemukan satu photo yang diambil secara candid sama Yun, pas kami kumpul-kumpul regular di Cafe Grazia, tempat kami sipping coffee dan nge-sandwich berlima (Gang Gila minus Ly yang lagi terdampar di Hongkong dan baru pulang bulan Desember tahun ini).
Karena candid, kami bertiga nggak banget deh tampangnya. Tat ketawa, Lin bengong, dan saya sendiri entah kenapa dagunya bisa maju banget kayak Nenek Sihir gitu.. wakakaka…
 
three girls, hot gossips, delicious coffee

three girls, hot gossips, delicious coffee

Cuman, gara-gara lihat photo inilah, saya jadi ingat kata-kata Lin kalau kami semua ini mirip karakter-karakter dalam Sex and The City *sumpah, bukan mereka yang super fashionable atau super langsing mirip supermodel itu.. fitnah.com banget, Sodara-Sodara! Hehe*

Ceritanya nih, di suatu telepon nggak jelas malam-malam yang sering jadi kebiasaan saya dan Lin kalau sedang nggak sibuk dengan urusan asmara masing-masing *apalagi sekarang nih.. hehe*, Lin pernah bilang begini:

Lin: Eh, La.. sadar nggak sih, kalau kita ini kayak Sex and The City banget?

La: Ha??? *sambil mikir, ini anak ngelindur apa nggak, secara dari bentuk tubuh dan kecantikan, jelas kami nggak ada mirip-miripnya sama Carrie Bradshaw ‘n the Gang itu…*

Lin: Kenapa lu?

La: Kenapa gua? Kenapa elu, Bu… Secara kita modelnya nggak karu-karuan begini, lu bilang kita kayak Sex and The City??? C’mon…

Lin: Ah, itu sih, gua ngerti lagee… Secara gua cukup tau diri… *dan kami ketawa* Maksud gua itu ini lho…

Dan mengalirlah cerita soal kemiripan kami dengan tokoh-tokoh di Sex and The City. FYI, di situ, ada empat tokoh sentral, Carrie Bradshaw, Charlotte York, Samantha Jones, dan Miranda Hobbs. Serial favorit saya dan Lin itu menceritakan banyak kisah soal cinta, sedikit seks, dan pastinya tentang persahabatan yang menjadi benang ceritanya.

Apa yang mirip? Apa Lin memang sedang ngelindur cukup parah?

Ternyata dia punya alasannya.

Carrie Bradshaw, si Kolumnis di koran New York Star, yang mengisi kolom seks tiap hari Rabu itu, memiliki kisah cinta yang cukup tragis. Susah berkomitmen meskipun terlihat begitu jatuh cinta dengan pasangan. She’s so tough, but when it comes to love, she’s so fragile. Dan, Lin bilang…

“Carrie itu elu banget La…” Dengan alasan, di antara member GangGila, satu-satunya yang penulis adalah saya dan ya, kisah cinta saya cukup tragis ^^ Soal komitmen itu, saya sempet protes sama Lin, tapi akhirnya dia bilang, “Bukannya elu emang gitu La? Nanya kapan kawin, kapan kawin, begitu ada yang khilaf ngawinin, langsung ngacir nggak jelas?”

-gleg- Ah, sok tau… 🙂

“Tapi elu nggak murni Carrie, La…”

“Lah?”

“Karena elu juga Samantha…” Samantha Jones, PR kondang yang sudah tidur dengan semua laki-laki di Manhattan itu sama kayak gua Lin???? “Bukan… bukan soal itunya… tapi karena Samantha itu kan sex appealnya tinggi.. dan yang mirip sama elu itu, ganjennya dia ke cowok-cowok…” Lin ketawa. Saya mingkem aja. Eh, masa iya sih saya ganjen???

“Ooookkay… terus, terus…”

“Kalau Tat itu… coba tebak, mirip siapa…”

Nggak pakai mikir lama, saya langsung nyeletuk, “Miranda ya???”

“Haha, elu tahu juga La…” Karena emang, Tat cukup sinis soal cinta. Dia tuh paling anti romantisme, meskipun akhirnya dia yang nikah pertama kali *dan baru diikuti oleh Els empat tahun berikutnya! ah, jangan bilang ntar diikuti empat tahun berikutnya lagi.. Giliran saya kapaaaannnn…* Tat bukan orang yang mellow-mellow. Malah dia yang paling tegas di antara kami berenam. Mungkin lawan tanding Tat yang sesuai cuman sama Satpam yang kumisnya kayak pak Raden.. haha.. gimana nggak, wong Tat ini nggak pernah takut biar kata berantem sama lawan jenis, kok. Hebat banget deh pokoknya Ibu satu anak ini…

“Miranda banget kan dia, La?” tanya si Lin setelah kami puas ber-flashback-ria dan membayangkan betapa miripnya Tat dengan karakter Miranda Hobbs itu.

“Iya, iya banget… Terus, terus, kalau Charlotte, mirip siapa?”

Terjadi perdebatan yang sengit, siapa yang paling pantas mendapatkan gelar terhormat itu. Siapa yang paling mirip dengan karakter Charlotte yang a Hollywood, yang hidupnya mirip fairytale, dan suka mimpi-mimpi nggak jelas soal romansa.

“Mirip elu, kali, Lin…” kata saya akhirnya, mengingat Lin ini cukup dramatis kalau menanggapi segala sesuatu. Dia satu-satunya sahabat saya yang pernah merencanakan kawin lari *nah lho, hari geneee*, pernah niat running away ke Hongkong supaya bisa melupakan orang tercintanya yang ngebetein itu dan berangan-angan, eh siapa tahu si cowok menyusul dia di airport.. haha… plis deh…

“Kok gua sih??”

“Karena Els dan Ly nggak begitu, Lin..”

“Kan elu juga…”

“Eh, gua udah dapet dua karakter nih.. Emang maen bola, hetrik gitu…”

“Hehe, iya deh… Tapi, tapi… Charlotte kan orangnya rada-rada aneh gitu kan, La? Suka nyobain hal-hal yang aneh gitu? Yang hobinya nggak jelas itu?”

Tiba-tiba pikiran kami langsung menuju kepada satu orang sahabat yang sedang membanting tulang *benaran dibanting lho, Sodara-Sodara.. gila aja kerjaannya!* di Hongkong sana.

“Ahhh… si Ly ya???” Lalu kami berdua tertawa lagi. “Jadi Charlotte itu perpaduan elu sama Ly, Lin…”

Usai membahas betapa miripnya kami semua dengan karakter Sex and The City itu, kami ngobrol-ngobrol hal yang nggak penting lainnya *istilah Bro: “obrolan nggak bermanfaat” hehe* sampai berjam-jam berikutnya. Ketika kami diserang rasa ngantuk, baru kami berhenti, karena kalau nunggu bahan pembicaraan habis, percayalah….. we would never stop 😀

Nah, saat hendak menutup telepon itulah, Lin tiba-tiba nyeletuk.

“Tapi La… terus Els mirip sama sapa ya? Kayaknya, di Sex and The City nggak ada karakter Mbah Dukun deh…”

Hahaha…

Di ujung percakapan itu kami ketawa ngakak-kak-kak…

Ah, kasihan kamu Els… Selaluuuuu aja jadi object penderita kami… Maaf yaaa… Tapi beneran, we all love you kok.. *Apalagi minggu depan kan kamu bakal ntraktir kita makan-makan, syukuran rumah baru sama kehamilan kamu itu…. hehehe*

you make me feel so young!

Festival Yosakoi tidak hanya menghasilkan satu gelar juara umum kategori Semangat, tapi juga menghasilkan pertemanan akrab antara saya, Pipi-Chan, Momo-Chan, dan Mbem-Chan, Adik-Adik Manis saya yang belakangan rajin sms-an tiap hari. Buat seru-seruan, kami berempat menamakan diri sebagai Gang Maru *hehe, bisa diketawain GangGila nih kalau saya bikin Gang-Gang-an lagi.. C’mon, La… Don’t you know your age???*

Ya. Don’t I know my own age?

Umur saya sudah 28. Sudah nggak pantes lagi bikin Gang yang anggotanya masih “anget-angetnya”. Fresh from the oven banget deh. Gimana nggak? Mereka bertiga itu, si Adik-Adik Manis itu, semuanya masih muda belia. Pipi-Chan, lahir tahun 1988. Momo-Chan, 1989. Mbem-Chan, 1990. Bisa kebayang dong, betapa ‘nggak tau dirinya’ saya kalau masih nekat nge-Gang sama mereka-mereka itu…

Mbem-Chan, Pipi-Chan, Lala.... mencucu style!

Mbem-Chan, Pipi-Chan, Lala.... mencucu style!

Tapi hey… ini kan masalah kecocokan aja, kan??? Mungkin mereka bertiga yang terlalu dewasa… *atau saya yang sok merasa muda belia ya? hehe* sehingga kami berempat bisa dekat.

Ini terbukti dengan betapa akrabnya Gang Maru setiap latihan. Kemana-mana selalu berempat. Mulai dari makan, mojok sambil bergosip, sampai pipis pun bareng-bareng. Haha.. pokoknya kompak banget deh… Ditambah pula si Momo-Chan, si Wajah Minus Ekspresi, yang suka melucu tapi wajahnya datar banget nggak pakai ekspresi, bikin saya dan kedua teman yang lain ketawa sampai guling-guling di lantai *eh, ini hiperbolis… jadi berhenti ngebayangin deh..*

Pipi-Chan juga begitu. Si Cantik ini latahnya nggak main-main deh. Tadinya saya pikir, Pipi-Chan itu orangnya kalem *liat aja di photo*, eh ndilalah suralah, dia ini yang paling heboh di antara kami berempat. Dan bukan saya aja yang tertipu, tapi Momo-Chan dan Mbem-Chan juga. Kami semua bilang, kalau Pipi-Chan itu cuman cantik waktu diphoto doang. Dan dijamin, orang langsung ilfeel begitu ngeliat tingkah polahnya yang nggak banget itu.. *eh, tapi itu kali ya, yang bikin saya akrab sama dia? maksudnya, saya dan Pipi-Chan itu.. sama-sama nggak banget! hahaha*

Kalau Mbem-Chan, dia itu polosnya minta ampun. Masih anak-anak banget. Apalagi dia memang baru lulus SMU, masih suka nggak ngeh kalau kita bicara rada pinteran dikit *emang pernah gitu? nggak usah fitnah deh La… ^_^*. Pipi-Chan aja harus menjelaskan panjang lebar soal “kebaikan di punggung” yang pernah saya ceritakan di post ini. Dan percaya nggak sih, Sodara-Sodara sekalian… Dia masih nggak ngerti sampai sekarang! Ampun deh….. ^_^

…eh, ini karena masih belia banget, apa karena faktor Oon ya, Pi, Mo? hahaha…

Eniwei…

Berteman dengan tiga Adik-Adik Manis itu membuat hidup saya makin seruuuu… Makin warna warni… Makin penuh dengan kejutan-kejutan… Apalagi tiga manusia itu suka banget bergosip. Jadi perbendaharaan gosip saya nggak pernah basi 😀 Dan satu hal lagi… mereka bertiga itu… penurut banget sama saya.. hehehe… Kali ini, umur saya yang keliwat uzur buat mereka menjadi nilai tambah karena saya dianggap paling bisa diandalin kalau dimintain nasehat…. uuuhhuuuiii…. berasa gimanaaaa gituuhhh…. ^_^

Maru in Action!

Maru in Action!

Ahhh…

Biarpun saya harus rela serela-relanya kalau dikatain: “Elu nggak inget umur ya, La???”

Atau dikatain: “Plis deh, La… elu ama mereka bukannya kayak Tante-Tante gitu???”

Dan sejuta kata-kata ‘mutiara’ lainnya…

Yang jelas…

I really don’t care.

Selama saya nyaman sama mereka… Selama mereka memang bisa banget bikin saya ketawa-ketawa dengan hepinya… Selama saya bisa menghabiskan waktu dengan bahagia… I really, really don’t care.

Bodo amat… ^_^

….aaahhh….Guys… you make me feel so young!!!!

Makasih yaahhh…

 

why do you love him?

“Kenapa kamu milih aku?”

No specific reason, karena kamu adalah kamu.”

“Cuman karena itu?”

“Memangnya cinta perlu alasan? Aku cinta kamu karena aku memang cinta sama kamu. Lepas dari segala macam alasan yang mungkin akan hilang di kemudian hari.. Dan aku nggak pingin itu terjadi…”

Hmm.

Pernah dengar percakapan ini? Atau mungkin terlibat dengan percakapan yang serupa?

Entah kenapa percakapan itu memenuhi pikiran saya hari ini, ketika miskin ide dan pekerjaan yang sangat minim sekali di kantor, dan saya duduk di depan laptop sambil diiringi suara John Legend yang merdu mendayu di lagunya Ordinary People (ah, saya masih sangat jatuh cinta dengan lagu ini nih!). Ditemani juga secangkir kopi plus krim dengan sedikit gula yang perlahan menghabis, saya jadi kepikiran dengan percakapan itu dan mulai bertanya.

Kenapa saya memilih dia?

Betulkah jatuh cinta bisa tanpa alasan, cuman karena itulah seorang Pacar, yang baik maupun buruknya adalah kelebihan buat kita?

Bisakah? Just fall, outta the blue, without any reasons why?

Banyak Pelaku Cinta yang berlindung dengan alasan I love you because it’s you, no body else. Tapi tidakkah ada penyebab kita jatuh cinta dengan seseorang? Tidakkah kita punya alasan kenapa kita jatuh cinta dengan pasangan kita? What make them look so special in our eyes? Dan kenapa binar-binar di mata kita selalu muncul saat melihat pasangan? Dan kenapa degup jantung seolah nggak karuan saat berdekatan dengan orang tersayang kita itu?

Buat saya, selalu ada alasan kenapa kita jatuh hati dengan seseorang. Entah itu fisiknya, entah itu kepandaiannya, entah itu apa yang dia miliki *harta benda, mungkin 🙂 *, entah itu personality-nya, dll dsb. Itu adalah awal kita menoleh, memandang kagum, dan dengan berjalannya waktu, perasaan itu berubah menjadi something good or even something bad. Mungkin ada yang terperangkap dengan ‘bungkus’ lalu menyadari bahwa bukan orang ini yang kita cari. Mungkin malah ada yang semakin meyakini bahwa orang inilah our own missing puzzles.

Waktu yang akan membuktikan apakah it was really there atau it was something like that but then it wasn’t.

Tapi, selalu ada alasan kenapa kita jatuh cinta dengan seseorang; kenapa kita begitu tak ingin berjauhan dengan orang itu dan berusaha memberikan the best of us untuk orang yang kita sayangi itu. Kenapa kita memilih dia menjadi pasangan berbagi cerita, berbagi sayang, berbagi sedih…

Itulah kenapa, di pagi yang dingin (yang pastinya karena hembusan AC persis di depan meja kantor saya) ini, saya ingin bilang sama Pacar kalau someday somehow he ask me this question, I will definitely say  that I know the reasons why I chose him over any other guys that came along into my life.

Ya. Awalnya adalah… karena dia pintar. Because he knows what he’s doing.

Lalu makin jatuh cinta… karena dia bisa bermain piano. I just love a man with his piano or guitar.

Setelah dekat dengan dia, saya jatuh cinta… karena dia begitu dewasa. Usianya yang di atas saya membuat dia selalu bisa ngemong, menjaga, memperhatikan, dan mau memahami seorang saya yang masih moody dan meledak-ledak.

Those three major reasons membuat saya jatuh cinta sama Pacar, yang membuat saya ingin terus berdekatan dengannya, membuat saya ingin terus-menerus mendengarkan suaranya, membuat saya tak ingin kehilangan dia…

Ya. Sekalipun akhirnya saya tahu kalau dia itu posesif dan pencemburu, meskipun kedewasaannya kadang membuat saya salah tingkah karena seolah-olah saya masih seperti anak belasan tahun meskipun dia suka sekali membuat saya spaneng karena cemburu juga dan mencium saya setelahnya sambil berterimakasih karena saya telah cemburu sama dia…… Saya tetap jatuh hati padanya.

Lalu saya ingat dengan seorang teman yang pernah bilang, “Kalau alasan-alasan seseorang mencintai pasangan itu menghilang, misalnya wajahnya tak lagi tampan? Dia kehilangan pekerjaannya yang fantastis itu? Bukankah malah akan berantakan jadinya?”

So? Maksud kamu?”

“Jadi bukankah cinta memang nggak perlu alasan?”

Mmm…

Kalau ada di antara kamu yang bertanya itu pada saya, hari ini, saya akan bilang begini:

Saya punya alasan kenapa saya tertarik sama dia. Ya, karena tiga alasan utama itu tadi. Kepintarannya, kebisaannya bermain piano, dan kedewasaannya. Itu menggiring saya ke perasaan yang lebih dari sekedar tertarik. Waktu yang berjalan mengantarkan saya pada seorang Pacar yang pastinya memiliki kekurangan *we’re just ordinary people, rite?*. Dan ketika sampai di situ saya masih bertahan dengan kekurangan Pacar dan bisa menerima…. that’s the moment I realize, I was totally in love with him… Hm, not just was, but still am.

Seperti yang pernah saya tulis di blog, semingguan yang lalu.

It’s just about a trigger… or a rock that makes us fall.

After we fall… the rest is destiny.

Dan bagaimanakah destiny itu?

Hmmm… jangan tanya saya, ya? Karena, sumpah… saya nggak tahu… ^_^

-16- Lelaki Dua Puluh

 Jadi Ibnu itu ABG yang suka banget sama kamu itu, ya, Sai? Mbok Darmi yang cerita…
Mas Didit

Mbok cerita? Kapan dia cerita, Mas? Jadi dia wajib lapor ke kamu, ya?
<send>

Bukan begitu, Sai. Mbok Darmi cuman care aja sama kita berdua. Sepertinya dia ingin sekali melihat kita berhasil. Jangan sewot dong, Cantik.
Mas Didit

Ya sudah. Aku malas membahasnya sekarang. Cerita aja soal kerjaan kamu. Gimana tadi presentasinya? Sampai kapan kamu di Jakarta?
<send>

Rencananya Minggu baru bisa pulang. Biasa, big boss mau entertain aku. Mm, Sai, sudah dulu ya? Aku mau istirahat dulu. Besok pagi2 sekali aku harus sampai di kantor. Selamat tidur, Saila… Mimpi indah, ya? Dream of me.
Mas Didit.

Met tidur juga.
<send>

*

Sekali lagi, Ibnu membuktikan bahwa dia adalah man with words. Dia memenuhi janjinya untuk ‘pergi’ dalam hidup Saila. Tidak ada SMS, tidak ada telepon, tidak ada lelaki yang dengan betah duduk menonton di depan teve sambil mengunyah kacang telur dan memijit punggung Saila yang pegal karena terlalu banyak duduk di kantor. Dan pastinya, tidak ada pelukan sayang dan genggaman jemari yang hangat, yang bisa membuat perasaannya rileks dan ingin bermanja-manja dengannya.

Jujur, Saila sangat merindukannya. Dan menginginkan Ibnu selalu ada di dekatnya, meskipun dia harus bersama dengan Mas Didit. Sungguh egois. Dia menempatkan keinginannya di atas segalanya. Tidak ingin kehilangan Mas Didit, lelaki yang mungkin saja akan menjadi ‘Pria Impiannya’, dan tetap merindukan kehadiran Ibnu, yang selalu bisa membuatnya tertawa dan awet muda.

Tapi, bukankah itu sudah menjadi sifat dasar manusia? Menginginkan segala sesuatu menjadi lebih indah, paling tidak untuknya sendiri?

Mas Didit memang lelaki ‘paling sempurna’ yang bisa membuatnya mengakhiri masa lajangnya selama 39 tahun. Lelaki tampan dengan kemampuan finansial jauh di atas rata-rata, serta berasal dari keturunan baik-baik. Apa lagi yang bisa diharapkan seorang wanita dari Mas Didit? Dia memiliki segalanya.
Tapi, aku nggak bisa membohongi perasaanku…

Beberapa minggu yang lalu, akhirnya, Mas Didit mengungkapkan perasaannya. Dia ingin serius dengan Saila dan mungkin akan segera melamarnya paling lambat tahun ini. Keluarga besar sudah setuju dan mereka senang karena akhirnya Didit-mereka sudah menemukan calon istri yang baik.

“Tapi kenapa kamu nggak kelihatan senang, sih, Sai?” tanya Monita saat tidak sengaja bertemu Saila di gym. Mereka duduk di kafetaria dan memesan dua jus tomat. “Harusnya kamu senang, dong, akhirnya bisa ketemu sama orang yang tepat…”

Saila hanya mengaduk-aduk jus tomatnya dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya. Belakangan ini, dia kehilangan minat untuk membicarakan soal itu, apalagi dengan Monita. Jujur saja, saat Mas Didit mengatakan kalimat yang seharusnya indah itu, dia malah ingin segera masuk ke kamar dan bermimpi soal Ibnu, yang paling tidak, masih bisa ditemuinya di dalam mimpi.

“Sai, laki-laki seperti Mas Didit itu jarang, lho… Dan kamu beruntung bisa dapat lelaki seperti dia…”

Kalau Ibnu bilang, dia yang beruntung mendapatkan perempuan seperti aku…

“Coba lihat dia baik-baik. Berapa banyak lelaki seperti dia di Surabaya? Yang sehari-hari naik mobil Jaguar, jadi presdir di perusahaan asing ternama, belum lagi penampilan fisiknya? Kalau boleh jujur, ya, Sai, Mas Gilang, sih, nggak ada apa-apanya dibandingkan dia! Betul, nggak?” Monita terus ‘cerewet’ seperti germo menawarkan ‘anak-anaknya’.

“Sai, kamu dengar, nggak, sih? Kok kamu nggak komentar apa-apa, Sai?”

Komentar seperti apa yang ingin kamu dengar, Monita Hutabarat? Kalau aku malas mendengar sisi baik Mas Didit? Dan kalau aku sebetulnya ingin bilang sama kamu kalau aku “tidak bahagia” bersama Mas-Didit-mu itu?

“Sai, kamu kenapa? Ada yang salah, ya, sama ucapanku barusan?”

Saila menggeleng. “Mm, Mon, aku mau lari di treadmill dulu, ya? Kamu mau ikut, atau…” Dia memutuskan untuk mengalihkan perhatian.

“Aku pulang aja, deh, Sai. Anak-anakku sudah nangis minta diajak jalan ke mal…” Monita mengakhirinya dengan kecupan di pipi kiri Saila dan meninggalkan Monita sendiri di kafetaria. “Kamu kenapa, sih, Sai…” Monita berbisik lirih sambil melihat sahabatnya berjalan ke ruang alat tanpa berkata sedikitpun.

bersambung…

tarot.. oh tarot…

Entah kenapa saya jatuh hati dengan ini: Kartu Tarot. Kepingin sekali bisa mendalami kartu Tarot, bisa membacanya, bisa mengaplikasikannya untuk saya dan mungkin bisa membantu orang lain. Tadinya ini buat iseng-isengan aja, lumayan juga kan buat bisa-bisaan. Jarang sekali kan ada orang yang bisa membaca Kartu Tarot? *yang katanya, harus ditunjang dengan kemampuan intuitif yang hebat sekaligus penyampaian cerita yang bagus* Dan jarang sekali lho ada perempuan cantik kayak saya yang bisa baca tarot?? *yang mau muntah silahkan aja lho… saya nggak apa-apa kok.. Sumpah nggak tersinggung.. hehe*

Keinginan untuk mempelajari kartu Tarot semakin menggebu ketika saya mulai kuliah. Kayaknya asyik juga ya, pas nengkri-nengkri di Markas a.k.a tempat photokopian dekat ruang Senat/BPM sambil nungguin mata kuliah berikutnya, saya buka praktek baca ramalan Kartu Tarot. Dan kalau ada yang nekat minta diramal, nggak boleh atuh pura-pura nggak ngeliat kotak sumbangan di samping saya ^_^

Walhasil, dulu, pas jaman kuliah itu, saya akhirnya keliling dari mal ke mal untuk cari kartu Tarot. Sampai GangGila pada bete surete semelekete karena musti ngikutin saya yang selalu ‘mblusuk-mblusuk’ cari kartu Tarot. Konyolnya, pernah saya malah nyasar masuk ke toko kartu Hallmark dan tanya-tanya sama si Mbak-Mbak Penjual, mereka jual kartu Tarot nggak. Hal ini bikin Mbak-Mbak itu langsung takjub. Hallloowww…. kartu Hallmark gitu lhoo…. Yang identik dengan beruang-beruang yang lutu-lutu itu.. Yang identik dengan romantisme itu… Ini malah ditanyain punya Kartu Tarot apa nggak???? Plis deh, Lalaaaaa…. ^_^

Pernah, pas saya jalan sama Lin dan Tat di sebuah Mal, saya menemukan kartu Tarot itu di counter yang penampilannya mistis banget. Barengan sama kepala tengkorak dan yang berbau magis gitu. Halah.. kok serem yaah…. Coba deh saya deketin lagi, nanya-nanya. Eh ternyata, yang serem bukan cuman penampilannya, tapi juga.. ehmmm… harganya. 350rebu booowwww…. Awal tahun 2000-an… masih anak kuliahan… terus beli barang nggak penting yang harganya 300rebu??? Makasih deh…

….kesel, sedih, dan kecewa sih he-eh banget… tapi kenyataan bahwa kartu Tarot yang saya cintai itu ada, bikin saya seneng setengah mampus… Ah, someday… someday, La…

Dan FYI,

Yang saya sebut SOMEDAY itu adalah LAST SATURDAY, JULY 12, 2008.

Sebenarnya beberapa bulan yang lalu, hasil jalan-jalan nggak jelas sama Lin dan Tat di mal yang bikin saya nyasar di Gramedia, saya sempat melihat ada satu buku Tarot (lengkap dengan Kartu dan cara pembacaannya) yang harganya terjangkau, cukup 100rebu saja. Tapi karena Lin dan Tat selalu bilang, “Ah, paling cuman nafsu doang La… Kan biasanya elu gituh.. Beli-beli doang, buat punya-punyaan doang, tapi ntar begitu dibeli, nggak lama kemudian ilang deh nafsunya…”

Dan herannya, saya selalu nurut sama mereka… *ah, hipnotis tuh kayaknya.. awas ya kalian.. hehehe* lalu pulang ke rumah dengan angan-angan yang masih tertinggal di Gramedia… *halah, romantis’e rek…*

Ini terjadi berkali-kali, lho, Sodara-Sodara. Nggak cuman sekali dua kali. Aaarrrggghhhh…. kenapa ya? Kenapa….

Sampai akhirnya saya nggak bisa menahan diri lagi untuk nggak membeli buku itu…

Dan peristiwa bersejarah itu… terjadi juga pada hari Sabtu, tanggal 12 Juli kemarin. HORE! *faktor keberhasilan pembelian buku ini pastinya karena saat itu saya nggak sedang jalan-jalan dengan Tat dan Lin.. hehehehe.. si Adik-Adik Manis itu mana berani melarang-larang saya? Ya, nggak? Ya, nggak? ^_^ *

Ahhh…

Akhirnya… Terwujud juga keinginan saya itu………. Bisa punya kartu Tarot dan mempelajari bagaimana cara pembacaannya… Uuhhh.. cenangnyaaaaaaaa…..

Tapi, tahu nggak Sodara-Sodara, apa yang terjadi dengan buku Tarot itu sekarang?????

….

Ya.

Setelah saya bersemangat sekali membaca lembar demi lembar buku mengenai cara-cara pembacaan kartu Tarot yang baru berhasil saya beli kemarin itu……

Akhirnya…

Saya mengaku kalah. Meletakkan buku itu dengan pasrahnya sambil mata mengerjap-ngerjap kelelahan.

Ya ampuuuuunn…. Ternyata…. SUSAH BANGET BOOOOWWW………….

Pusing banget saya… *cenut-cenut-cenut*

Uh, uh.. gimana nih… *semoga Gang Gila pada gaptek semua dan nggak ngebaca posting ini… biar sayanggak diketawain dan dikata-katain sama mereka nih! hehehe*

Catatan Harian

July 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono