you're reading...
Jakarta's Stories

…from a crowded floor (Jakarta’s Stories 2)

Seorang teman baik yang rumahnya jadi ‘posko’ selama saya eksodus ke Jakarta (dibilang eksodus karena saya emang lagi fucked up dengan suasana di Surabaya dan sekaligus ketemu dengan The Asunaros, pastinya), langsung berteriak kegirangan ketika saya nanya via telepon, dua minggu yang lalu, “Eh, selama gua di Jakarta, boleh nginep di rumah Mbak, kan?”

Mbak Neph langsung dengan girangnya bilang, “Wahh.. asyik.. ya boleh dong Jeung.. Nginep ajaaahhh….”

Dan yang bisa saya tebak sebelumnya, Mbak Neph langsung nyamber dengan kalimat ini, “Eh, ntar kalau gitu kita dugdug ya?”

Hm.. Apa itu dugdug?

Tadinya saya nggak tahu dan nanya dengan begonya, “Dug-dug itu apaan sih, Mbak?”

Dan oalah.. yang dimaksud DugDug itu…. “Dugem, Cayankku… Dugdug itu artinya dugem.. Iseng aja gue bikin istilah gitu…”

Nah. Berhubung saya cuman tamu yang nginep gratis dan kemana-mana dianterin, tentu saya nggak enak ati juga kalau nolak permintaan dia. Eh, ini karena unsur kesopanan dan tata krama dong. Apalagi cuman sekedar dugdug. Bukan yang disuruh nyemplung sumur, kan? Jadi masih okay lah…

Malam minggu kemarin saya DugDug di X2, Senayan. Setelah meluncur dari rumah EmiChan (detil soal ini, di bagian cerita yang lain ya?), mengantarkan sahabat maya *ups, she’s for real now.. hehe*ย  dan anaknya yang super luthu uthu uthu itu, saya, Mbak Neph dan Eneng langsung ke X2. Saat itu masih pukul sebelas lewat sedikit. “Ah, ngepel lanteinya nih kita…” kata Mbak Neph sambil mengurangi laju mobilnya. Maksudnya sih membunuh waktu.

Setelah kami puas ngobrol-ngobrol di dalam mobil (masih usaha killiing time), kami pun segera berjalan menuju lift yang bakal membawa kami sampai ke X2. Di situ saya mulai ngerasa “not belong there“. Kenapa? Hm.. ini karena, ketika saya menunggu lift dengan dua orang teman saya itu, ada beberapa orang lagi dengan penampilan super heboh. Three girls with sexy dresses. Sumpah, yang kebayang langsung scene demi scene di film Sex and The City deh! Mereka tidak terlihat cantik… tapi sumpah, seksi abis. Mbak Neph, saya, dan Eneng yang saat itu tampil standar banget alias kaos dan celana jeans langsung berbisik-bisik setelah ketiga perempuan itu berjalan mendahului kita saat keluar dari lift.

“Eh.. niat banget ya…” kata Mbak Neph.

“Gila, sampai ‘itu’nya tumpah semuah…” si Eneng. Dan yang dimaksud dengan ‘itu’ adalah ‘itu tuh’ *hehe, silahkan gunakan daya imajinasi kamu, ya…*

Dan apa yang saya komentari?

“Eh, keren banget ya bajunya…” Eventhough, maaf-maaf aja ya, saya sih merasa they were there for something… ya, that ‘something‘.

Saat masuk ke dalam spot yang lagi happening di Jakarta dan dibandrol seharga 100rebu dengan free first drink itu, saya langsung menyadari bahwa there was no live performance… I mean, band performance. Di situ hanya ada tiga ruangan dengan tiga orang DJ yang masing-masing bertugas untuk meramaikan suasana.

Hah…

DJ?

Just DJs? All nite long? Dengan musik yang jedak jeduk nggak penting dan nggak bakal berhenti sampai pukul empat pagi itu?

Huahh… rasanya pingin segera kabur saja dari sana…

Ditambah pula, karena nggak ada tempat duduk (dan katanya, musti bayar beberapa juta lagi supaya bisa dapet tempat di sofa yang bikin ngiler orang-orang yang kakinya gampang pegel seperti saya ini), saya harus rela serela-relanya untuk berdiri terus sambil mencoba untuk menikmati suasana.

APA YANG NIKMAT, YA???

Kalau yang lain bisa ‘kalap’ dan langsung goyang badan saat mendengar musik yang dipandu DJ perempuan yang super seksi itu, saya malah bengong aja sambil nyari tempat buat sandaran. Si Eneng pun bernasib sama. Dia ikutan nyender di tembok dan bengong aja melihat fashion on the street itu.

Sumpah.

Saya seperti melihat hutan rimba ๐Ÿ˜ฆ

Dengan perempuan-perempuan yang nyaris ‘telanjang’…

Dengan laki-laki yang sibuk menggerayangi perempuan-perempuan mereka…

Dengan egolan dan goyangan badan yang nggak jelas…

Sambil merem melek pula…

Sambil mabok pula…

Dan rokok. Ya rokok. Batangan nikotin itu terselip hampir di semua jari pengunjung, laki-laki dan perempuan, dan asapnya berhembus dari mulut mereka seolah nikmat banget. Bikin polusi, apalagi ruangan berAC dan super crowded.

There.

Exactly the next one hour… saya memilih untuk ‘jahat’ dengan Mbak Neph lalu minta ijin untuk menunggu di luar bareng si Eneng yang matanya mulai berkunang-kunang (hey, we’re not drunk. Saya hanya pesan pineapple juice, Eneng dengan lychee juice, lalu sedikit alkohol untuk Mbak Neph). Ini bukan karena saya sudah males banget melihat ‘kelakuan rimba’ di depan mata saya itu *ah, ini kan urusan mereka, bukan urusan saya..*, tapi karena mata saya sudah mulai berair akibat adanya asap rokok di mana-mana.

Setelah Mbak Neph bertemu dengan satu temannya yang lain, barulah saya ‘tega’ meninggalkan Mbak Neph. Saya dan Eneng pun berjalan ke luar dengan hati yang riangnya nggak ketulungan. Huaaaahh.. paru-paru saya ikut berteriak kegirangan. Cenangnya.. cenangnya bisa nafas enak lagi.. Mungkin itu kata si Paru-Paru saya ๐Ÿ™‚

Begitu sampai di luar dan menunggu di kursi-kursi kayu yang membentuk lingkaran itu, saya baru sadar kalau ternyata, banyak sekali yang ‘tepar’ seperti saya. Duduk di luar dengan pandangan mata lelah. Ada yang nyender di kursi. Ada yang melipat kaki. Ada yang ngantuk-ngantuk sambil memainkan ponsel.

Dan ya…

Ada mereka-mereka ini:

…satu orang anak perempuan, masih belasan tahun, dibopong seorang anak laki-laki seumuranย  dia yang saya asumsikan itu adalah pacarnya.. si perempuan tidak sadarkan diri… sedang mabok… Gemesnya, begitu dia didudukkan di sebelah si lelaki, beberapa temannya malah dengan usilnya mengambil photo dan bilang begini, “Ah, ntar gua masukin friendster nih…”

…segerombolan laki-laki dengan dua orang perempuan yang keluar dari X2 sambil ketawa ketiwi mabok… persis di dekat saya, tiba-tiba si perempuan maen jatuh aja dan teman-temannya malah ketawa ketiwi lagi… Dan ya, perempuan itu mungkin mabok dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk berdiri.

…sepasang Om-Om duduk di belakang Eneng dan temen saya itu mencuri dengar sedikit percakapan mereka. Apa isi percakapannya? Hold your breath… karena Om itu bilang begini, “Eh, gua tadi pegang-pegang pa****ra cewek lho… Gua remes sekalian…” Damn! Binatang sekali sih!!!

AAARRRRRGGGHHHHH!!!

I really hate to see it.

And deep down inside, saya berkali-kali bilang, “Amit-amit jabang bayi, deh, jangan sampai anak gua senakal itu…” Dan jangan pula, senakal emaknya ini! ๐Ÿ™‚

Sambil menunggu Mbak Neph, saya dan Eneng akhirnya tertidur di kursi. Pules banget deh, meskipun begitu bangun, leher langsung pegel-pegel dan kaki kesemutan. Bangun-bangun sudah setengah tiga pagi dan melihat Mbak Neph berjalan ke arah kami dan mengajak pulang.

THANKS GOD! Akhirnya pulang juga.. hehe

On our way homeI thought about this thing.

Ya, saya tahu kalau X2 tidak akan menjadi my favorite spot. Ya, 100rebu dengan gratis sekali minum itu not worthy at all untuk mata belekan dan hidung megap-megap butuh oksigen bersih. Dan ya, eventhough saya ketemu sama Ivan Gunawan dan Adjie Notonegoro,ย  saya lebih memilih untuk jalan ke Plaza Senayan buat ketemu artis-artis dan memungkinkan saya bisa melihatnya dengan jelas tanpa harus tertutup asap rokok (which btw, memang penting gituh ketemu sama artis? hehe)

Tapi…

Saya mendapatkan banyak hal dari dugdug malam itu…

Bahwa satu… people are really animals.

Bahwa dua… when you dress real sexy, you’ll put yourself in danger.

Bahwa tiga… don’t drink too much, know your own limit, if you want to stay awake all nite.

Dan bahwa empat… you’re old, Lala. Dugdug is so last year ๐Ÿ™‚

So… Lala… masih mau dugdug lagi kamu, heh??? ^^

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “…from a crowded floor (Jakarta’s Stories 2)

  1. makanya gue ngga mau ikutan kan la.
    1. I really hate smoke from tobacco or else
    2. I really hate sexy girls who dont have enough money to buy dress (if you call that piece of cloth a dress)
    3. I hate noisy
    4. I enjoy drink within my capacity
    5. I don’t like a drunker drive a car….. Even when I went with KB and IW, there are no alcoholic chauffer or “drunker” and “gambler”
    6. I know my age, that place is not my place.
    7. Jangan ke dua kali ya La…. kan udah ada pengalaman. Meskipun buat aku tidak ada “my first experience” aku udah bisa ngira-ngira ya sebuas itulah rimba dalam kota.
    8. Biar aku mantan DJ (radio) ngga bakal lamar kerja di sana because I am not sexy huehuehueh.

    No 1 sampai 7 sih okay.
    tapi yang no.8…. huaaaaahhh….. *speechless* *ngakak ajah* HAHAHA…

    Posted by Ikkyu_san | July 28, 2008, 4:46 am
  2. Ehmmm…Untung gue nggak ikut juga (siapa yang ngajak lageee?…).
    Btw, ada fotonya nggak La?
    Halah….
    Arggggggggggggghhhhh….
    Gue speechless deh…
    No comment!

    hehe… padahal diajak tuh, tapi aku udah ada feeling kalo bakal ga mau juga.. ๐Ÿ™‚
    ada dong photonya.. tapi ga aku upload lah… ntar takut Abang kenapa-kenapa.. *halah, maksudnya???*
    No comment Bang.. Kayak Dessy Ratnasari ajah.. ^^

    Posted by Hery Azwan | July 28, 2008, 8:29 am
  3. hehehehehhehe….

    waduh.. ketawa aja nih? yakin? cuman ini nih? nggak ada komentar laen? *lah kenapa komentar saya lebih panjang dari situ yah.. hehe*

    Posted by ulan | July 28, 2008, 8:48 am
  4. Beberapa kali saya pernah ke sini, tetapi sekarang enggak lagi he he he…

    nggak kesitu lagi karena….. 1) udah ngerasa nggak sesuai dengan usia, atau… 2) saat itu kamu diusir dan ga boleh deket-deket X2 dalam radius 1 km??? hehehe…

    Posted by Harjo | July 28, 2008, 11:54 am
  5. mmmm habis dugdug, sekarang dah ga penasaran lagi khan di dalam sana ada apaan???
    trus oleh2nya mana neh yang habis jalan ke jakarta??

    udah nggak penasaran kok……. sekarang penasaran sama yang laen.. hahaha… teteeeuuupppp….
    nggak ada oleh-oleh dari Jakarta kecuali patah hati… *halah, masih musim ya hare gene?? hehe*

    Posted by Reti | July 28, 2008, 5:57 pm
  6. ada hubungannya ga antara umur dengan ketidaksukaan berdugem?coz I found myself lebih suka sendiri akhir2 ini, walopun demi sosialisasi msh berdug-dug jg sometimes..hehehe..

    mungkin kalau asap rokoknya ga terlalu ‘ganggu’ masih okay lah…. ๐Ÿ™‚
    hem.. sosialisasi ya? mendingan saya ‘bersosialisasi’ di resto yang enak aja aaaahhh….

    Posted by stey | July 29, 2008, 12:59 am
  7. X2 lumayan lah, not so bad, udah jarang kesitu, tapi pernah menyelamatkan teman yang mabok berat disitu, jadi keingetan..
    btw, scene semacam ini so familiar di saturday nite at jakarta..

    mestinya ke Bengkel or Embassy aja, lebih ” tenang “

    waduh… nggak kebayang deh kalau sampe ada yang mabok… bisa panik ajah kalee…
    ya, kayaknya sih scene begini emang so Jakarta… *di Surabaya pun ada tapi saya nggak pernah maen-maen ke sana*

    Posted by niaalive | July 29, 2008, 10:01 am
  8. dah gak jamannya , mending ngeblog aja

    Posted by GFriendster | August 8, 2009, 8:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: