you're reading...
Thoughts to Share

from Tulus to Mulus

Ini masih ceceran cerita-cerita yang tertinggal dari Festival Yosakoi kemarin. Masih tentang teman-teman ‘kecil’ saya, masih tentang curhatan mereka tentang urusan hati, sekolah, masa depan, dll dsb. Ah, tersanjung sekali saya setiap kali ada yang mengajak saya untuk bicara dari hati ke hati. Curhat soal hatinya yang sedang meradang dan bertanya what to do, what to do. Bercerita tentang pilihan masa depan yang masih kabur dan bertanya what to do itu lagi. As a sister, I was just trying to help… Mungkin tidak membantu, tapi menyediakan telinga untuk mendengarkan keluh kesah mereka, menyediakan bahu untuk menopang segala kesedihan mereka, dan ya, berkomentar, memberikan pendapat, mengeluarkan apa yang ada di isi kepala, dengan harapan it would help them get through their problems.

Nah, cerita ini saya ‘culik’ dari kisah To-San. Ya, si cowok yang tadinya nggak bisa nari tapi akhirnya mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah berprinsip tidak mau menyerah itu (seperti posting ini). Sebuah kisah sederhana, sebetulnya. Yaitu cerita tentang persahabatan dan gadis cantik yang hadir di antara mereka. Dan FYI, ketiganya adalah ‘teman-teman kecil’ saya.

To-San dan An-San. Mereka bersahabat sejak SMU sampai hari ini. Keduanya sama-sama ganteng.. yaa… good looking lah. Bukan tipe laki-laki yang doyan becanda, ganteng, tapi ‘kosong’, karena mereka berdua adalah tipe anak muda yang know what they’re doing dan pastinya… sopan.

Persahabatan mereka diuji ketika hadir seorang perempuan cantik, Pipi-Chan, yang kemudian membuat kedua sahabat itu jatuh hati. Sederhana saja ceritanya. Pipi-Chan jatuh hati dengan salah satu dari mereka, An-San, dan ini membuat To-San sakit hati.

Saya sendiri sempat *dan seringkali* melihat kemarahan di mata To-San. Ah, memang siapa yang tidak marah? Terlebih, To-San merasa dia telah lebih dulu melakukan pendekatan dan dia merasa ‘lebih berhak’ (…meskipun akhirnya dia merevisi semua pikiran itu sambil tertawa-tawa konyol ^_^ )

Beberapa kali saya melihat api emosi terletup di matanya. Wajah yang banyak senyum itu seolah kehilangan cahayanya. Berkali-kali pula saya memandang dia dari kejauhan, yaa… just to make sure that he’s alrite. Bagaimanapun, To-San sudah seperti adik saya sendiri. Dan kami juga kemana-mana selalu berdua *ya, karena saya numpang dia mulu.. hehe…* Jadi saya seperti merasa ‘berkewajiban’ untuk mengetahui apa yang sedang bergumul di hati adik saya itu. Hm, ini bukan karena saya ingin menjadi Super Hero or something like that, tapi lebih karena rasa khawatir seorang Kakak terhadap Adiknya.

Sayangnya, setiap saya ingin tanya atau dia sedang ingin curhat, selalu saja waktu yang membuat kami tak bisa melakukannya. Nggak pernah ada waktu yang tepat. Entah dia atau saya yang sibuk. Tapi bukan berarti lantas saya tidak memperhatikan Adik saya itu, karena pada saat beberapa kali latihan menjelang hari H, saya cukup ‘terpesona’ dengan sikap To-San yang biasa-biasa saja menanggapi kemesraan Pipi-Chan dan An-San. Setelah berkali-kali saya melihat wajah To-San yang ‘nggak banget’ setiap meredam marahnya, lalu kemudian melihat wajahnya sumringah dan ikut menggoda-goda sahabat dan kekasih sahabatnya itu… Aw… saya seperti mimpi…

Dalam perjalanan pulang, dengan seekor Gajah bernama Lala di boncengan motornya šŸ˜€ , mengalirlah cerita soal sumringah di wajah Adik saya itu.

“Kenapa, Lala-San? Kamu kaget ya?”

Ya jelas lah, saya kaget… Perubahan ini sangatlah drastis, bombastis, dan unpredictable. Bagaimana mungkin dalam waktu tidak lebih dari 2 minggu semuanya bisa berubah? Apalagi ini urusan hati. Apalagi ini urusan cinta. Dua minggu dan segalanya berubah? C’mon…

Ini memang terkesan sinis, tapi sebenarnya saya kagum sama dia.

“Gimana ceritanya, To-San?” Bawel saya kumat.com

Lalu dia bercerita panjang lebar soal perasaannya, soal kesedihannya, soal rasa marahnya, dan upaya untuk berdamai dengan hatinya sendiri.

“Siapa yang nggak ngamuk Lala-San? Nggak kecewa? Kita udah yang suka banget sama seseorang, tapi orang itu milih cowok lain… Dan parahnya, itu sahabatku sendiri! Apa nggak pusing aku…”

hmmm… pusing.. I know… Pernah juga, soalnya… šŸ™‚

“Aku emang nggak pernah cerita sama An-San, dia nggak ngerti sama sekali kalau aku suka sama Pipi. Aku ngedeketin Pipi diam-diam, rasanya nggak perlu lah An-San tahu… Malu kan… Dan pastinya, begitu tahu kalau An-San juga suka dan Pipi lebih milih dia.. Uh, ancur, Lala-San. Sedih banget aku…”

Saat itu, To-San merasa sangat marah dengan keadaan. Kenapa harus An-San yang suka? Kenapa bukan orang lain, siapa saja asalkan bukan sahabatnya sendiri? Kenapa dia nggak pernah cerita pada sahabatnya kalau dia pedekate dengan Pipi sehingga bisa meminimalisasi kemungkinan bahwa An-San juga melakukan hal yang sama? Dan kenapa Pipi memilih An-San? Bukan dia.. Bukan To-San yang sudah berbulan-bulan melakukan pendekatan tapi Pipi-Chan tidak menyadarinya…

“Aku marah banget sama mereka, Lala-San. Tau nggak sih, kadang-kadang pengen aku maki-maki mereka berdua, nggak usah deh sok mesra-mesra di depanku…”

Tapi To-San tidak melakukannya. Meskipun dia sangat marah dengan kondisi ini, dia mencoba untuk menahan segala amarah yang akan menggiringnya ke permasalahan yang lebih rumit. Dia marah dengan dirinya sendiri, mengibarkan bendera perang pada hatinya sendiri, dan menyimpan segala gundahnya sendiri. Pada saya, ‘Kakak’nya, sebenarnya ingin sekali dia cerita. Tapi karena waktu yang tak pernah cukup dan situasi yang tidak memungkinkan, dia harus berperang sendiri… *ah, nyesel banget saya waktu dia cerita ini…*

“Sampai akhirnya aku sadar, Lala-San, mau bagaimanapun juga, aku nggak bisa menghalangi mereka untuk jatuh cinta, kan? An-San minta maaf sama aku karena akhirnya dia tahu aku juga suka sama Pipi, malah dia berniat untuk mundur segala. Aduh, aku nggak bisa, Lala-San. Dia itu sahabatku… Kalau sampai dia mundur padahal dia cinta sekali sama Pipi, berarti aku membuat sahabatku sedih, dong… Dan ini aku nggak mau…”

Lalu To-San mencoba menelaah hatinya lagi. Mencari tahu, apa sih yang sebenarnya dia cari? Apa yang membuatnya sakit hati? Apa yang sebenarnya paling esensi: ‘Memenangkan Pertarungan’ atau ‘Membiarkan Sahabatnya Bahagia’?

karena yang saya tahu… Melihat wajah sahabat-sahabat dipenuhi dengan senyum manis dan bintang-bintang di matanya… Melihat mereka tertawa… Melihat mereka senang… Riang… Minus segala sedih dan sakit hati, apalagi air mata… Itu adalah kebahagiaan saya, sebagai sahabat mereka…

“Aku memilih untuk berdamai dengan hatiku sendiri, Lala-San. An-San adalah sahabatku, dan Pipi? Hmmm, dia juga teman cerita yang seru… Aku nggak mau kehilangan mereka hanya karena aku emosi… Dan lebih-lebih, kalau aku marah, memangnya apa yang berubah?”

“…selain suasana bakal menjadi lebih kacau, ya?” Saya nyeletuk aja.

“Iya… Pasti bakal lebih kacau lagi, Lala-San. Dan aku nggak mau itu terjadi. Mendingan aku yang mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri daripada mengorbankan orang-orang yang aku sayangi…”

To-San mencoba untuk tulus dan ikhlas. Apa lagi yang bisa dilakukan olehnya kecuali dua hal itu? Dia tidak ingin marah, dia tidak mau segalanya menjadi lebih kacau dan berantakan, dia juga tidak mau memaksa semua orang harus melakukan apa yang ada di isi kepalanya… Dia hanya bisa berdamai.. Bisa ikhlas… Bisa tulus…

Dan ya, berat. Dan ya, tidak mudah. Tapi tidak, ternyata jika kita melakukannya karena cinta, karena rasa sayang kita terhadap orang tersebut, semuanya menjadi lebih mudah…

From Tulus to Mulus,” kata saya akhirnya. “Kalau kita melakukan semuanya dengan tulus dan ikhlas, semuanya akan berjalan sangat mulus seperti ini ya, To-San…”

“Ya, Lala-San,” sahutnya, “Setelah aku mencoba untuk tulus, ternyata apa yang terjadi? Semua jadi mulus sekali… Aku sudah nggak marah sama mereka… Aku malah menikmati semuanya dengan tertawa-tawa… Mereka berdua emang lucu banget, Lala-San… Eman (sayang) kalau aku nggak ikut godain mereka… Dan aku bahagia ngeliat An-San bahagia…”

Kalimat terakhir itu seperti menjadi ending yang sangat sempurna untuk kisah cinta segitiga ini. Menjadi kalimat yang selalu terngiang di kepala setiap melihat keakraban mereka bertiga. Sungguh, kalian akan merasa bangga sekali pada To-San yang bisa menempatkan prioritas dalam hidupnya dan mencoba untuk menerima kenyataan bahwa tidak selamanya segala hal itu manis dan legit saja, juga tidak selamanya semua skenario sesuai dengan isi kepalanya.

Bukankah hidup berjalan tanpa kompromi? Tak perlu persetujuan kita kan?

Sudah waktunya kita untuk terus menjaga ketulusan hati.. Mencoba untuk ikhlas… Sehingga semuanya menjadi jauh lebih mulus…

Ah, To-San.. Saya dapat ilmu baru lagi dari kamu, nih! Makasih banyak yah…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

7 thoughts on “from Tulus to Mulus

  1. pertama …amankan dulu…

    aku pikir mau cerita soal paha mulus hihihi

    Posted by Ikkyu_san | July 10, 2008, 3:15 pm
  2. Wah, cerita bagus lagi nih, La.
    Judulnya sangat menggoda…
    Ceritanya apalagi…
    Tancap terus…

    Posted by heryazwan | July 10, 2008, 3:18 pm
  3. Itu sih kawan makan kawan…selamat buat To-San, welcome to the club..

    Posted by Koko | July 10, 2008, 4:38 pm
  4. orang cerdas adalah orang yang mampu mendapatkan hikmah dari apapun yang terjadi šŸ™‚

    Kunjungi dan tulis prediksi sobat di:
    http://achoey.wordpress.com/2008/07/10/prediksi-lima-besar-partai-pemenang-pemilu-2009/
    Hatur nuhun šŸ™‚

    Posted by achoey sang khilaf | July 10, 2008, 4:47 pm
  5. wahhh… ini cerita berambung yahhh…bagus banget…

    aku RSS feed blog mu ini yach… makasihhhhh… šŸ™‚

    Posted by Silly | July 10, 2008, 6:32 pm
  6. saya baca dan kenal nama Anda dari Pak NH

    salam

    http://www.ilyasafsoh.wordpress.com

    Posted by ILYAS ASIA | July 11, 2008, 2:39 am
  7. ku tunggu jawabnya

    Posted by ILYAS ASIA | July 11, 2008, 3:26 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: