you're reading...
Thoughts to Share

….shinpaishinaide

Saya sedang mengerjakan laporan Overtime yang due date besok pagi ketika saya sadar kalau hari ini adalah tanggal 7 Juli. Ini bukan hari Senin biasa, atau hari-hari Selasa sampai Minggu lainnya. Tapi hari ini terasa begitu menggetarkan hati ketika saya menyadari, bahwa at the exact date, 6 years ago, Mami tercinta saya menghembuskan nafas yang terakhir di pelukan Papi, di samping seorang anak puterinya yang berumur 22 tahun dan masih nggak percaya kalau siang itu adalah hari yang terakhir….

Nope. I’m not gonna write something sad in this sunny morning. Mood saya pagi ini sudah cukup kacau *karena kerjaan yang tumben-tumbenan seabrek-abrek itu — biasanya saya pengangguran tersamar… wekekeke* and writing the sad story is the last thing in my mind, tapi saya malah terinspirasi untuk menulis tentang kekhawatiran.

Apa hubungan momen kehilangan saya enam tahun yang lalu dengan kekhawatiran?

Jadi begini. Enam tahun yang lalu, ketika saya harus kehilangan seorang Mami tercinta dengan sangat sangat mendadak *tidak sakit, tidak mengeluh apa-apa, she just gone*, saya seperti limbung dan susah untuk berpijak di atas tanah. Selama 22 tahun, rumah saya selalu harum oleh masakan Mami, ramai oleh teriakan lucu Mami saat bermain Nintendo, atau merdu oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang meluncur dari mulut Mami setiap malam, setelah sholat Isya’. Selama 22 tahun saya terbiasa bergantung kepada seorang Mami, meskipun ada beberapa saat ketika saya marah dan membenci peraturan-peraturan yang dibuat Mami, tapi saya tahu, saya tak pernah bisa berhenti mencintainya… Mami adalah Ibu saya. Matahari tempat saya berporos. Tanpa Mami, saya nggak tahu harus bagaimana…

Saat itu, saya benar-benar nggak tahu harus melakukan apa setelah hari ini. Would days be the same? Siapa yang akan mengingatkan saya untuk sholat? Siapa yang akan menyuruh saya untuk pulang ke rumah dan berhenti untuk ngeluyur setelah pulang kuliah? Bagaimana saya musti menghadapi kesedihan saya nanti? Bagaimana kalau saya kangen sama Mami? Bagaimana kalau saya ingin bertemu dengan Mami? Adakah provider ponsel yang bisa menghubungkan saya dan Mami di alam kubur sana? Bisakah kami bertukar SMS jika sewaktu-waktu saya ingin bercerita?

what would my life be?

what if I couldn’t live my life without her?

Itulah ketakutan-ketakutan saya saat itu. Ketakutan seorang anak perempuan berumur 22 tahun yang baru kali ini menghadapi kepergian seseorang yang paling dicintai, persis di depan mata kepalanya sendiri. Melihat Mami yang tersengal-sengal, sesaat sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, lalu menyunggingkan senyuman yang sangat manis di wajah cantiknya.

Ketakutan-ketakutan itu begitu menghantui saya dan membuat saya menangis setiap harinya.

Saya benar-benar khawatir… bahwa setelah Mami pergi… saya tak bisa menghadapi hari lagi, seperti hari-hari kemarin, ketika Mami begitu cerewetnya dengan kebandelan saya….

Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk deal with it, day by day. Tidak merencanakan semacam rundown or making ‘What to Do’ list, tapi mencoba untuk menjalani saja hari-hari yang memang sudah disediakan oleh Tuhan untuk saya kacaukan.. hehehe…

Dan hari ini, tepat enam tahun setelah Mami pergi…… ternyata, saya bisa juga melewati hari-hari terburuk itu, hari yang dipenuhi ketakutan, kekhawatiran, dan kesedihan…

Yep. There were those moments when I missed her…. There were those moments when I cried and needed to talk to her… There were those times when I just needed to be hugged… But, I got through those challenging moments, somehow. And time has brought me here, July 7, 2008, where I sit down in front of my notebook and write a story about her, with smile…πŸ™‚

Jadi…

Shinpaishinaide. Artinya, jangan khawatir. Do not worry. Seperti episod kebahagiaan yang harus berakhir, some times, segala episod kesedihan akan berakhir juga, somehow. Hidup tidak melulu bahagia, tapi juga tidak melulu sedih. Mungkin itulah yang membuat hidup disebut juga Panggung Sandiwara, seperti kata-kata rocker gaek Achmad Albar. Full of dramas. Bitter… sweet…. all mixed up in to a great formula of life.

Kalau kamu membiarkan world revolves as usual,Β  membiarkan waktu bergulir dan percaya bahwa someday somehow kamu akan melewati semua ini…. Saya berani jamin, one day you’ll wake up and realize, kalau kejadian yang kamu takutkan itu… sudah berakhir.

It’s up to you Guys.

Percaya bahwa waktu akan membereskan segalanya dan menjalani day by day with all the strength you have?

Atau ini….

Memilih untuk terus ketakutan dan membuat hari-harimu penuh dengan kesedihan dan kekhawatiran?

….hmmm… take your time, Guys…. take your time….πŸ™‚

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

10 thoughts on “….shinpaishinaide

  1. Wah, masih gress nih.
    Pertamaxxx

    Ya, Bang.. pertamax.. monggo diambil..πŸ˜€

    Posted by heryazwan | July 7, 2008, 11:56 am
  2. Kekhawatiran kita seringkali tidak terjadi. Lala telah membuktikan itu setelah 6 tahun kepergian maminya tercinta…
    Wah, kekhawatiran Ime-chan hidup di luar negeri gimana ya?
    Terus kekhawatiran bersuamikan orang Jepang?
    Wah, kok jadi pengen tahu?
    Silakan masuk Ime-chan…
    eh, dan Bos Nh juga dong…

    Kalau Abang sendiri, khawatir apa? *nanya ala wartawan infotainment.. hehe*

    Posted by heryazwan | July 7, 2008, 12:01 pm
  3. And time has brought me here, July 7, 2008, where I sit down in front of my notebook and write a story about her, with smileβ€¦πŸ™‚ ==== pasti sambil bayangin om ganjen deh…

    komentar aku dipending dulu ah
    tatut kepanjangan kalau mau bicara soal kekhawatiran, secara saya anak tertua deh

    Om ganjen??? Siapa yaah??? ^__^ Nope, bisa-bisa dipentung Bunda dan Pacar kalau ngebayangin si Om… hehehe….
    kok dipending sih, kan penasaran jadinyaa…πŸ˜€

    Posted by Ikkyu_san | July 7, 2008, 12:32 pm
  4. HHHmmm …
    Do not worry …
    Do not worry …

    Ini masukin di buku kamu la …
    Ini touchy dan bagus sekali

    Salam saya

    Posted by nh18 | July 7, 2008, 1:14 pm
  5. wah.. be tough ya jeung..

    Posted by ulan | July 7, 2008, 4:21 pm
  6. Hei, hakuna matata…don’t worry for the rest of your day..

    Dan masih banyak orang-orang yang akan seperti ibu kamu..
    Contohnya ya komentar-komentar di atas…hehehe..

    Posted by Koko | July 8, 2008, 11:41 am
  7. Yups… Bunda is the best !!
    Aku cinta bundaku sayang….
    jadi sedih bacanya, dah lama ga pulang kampung, gag ketemu bunda, gag juga tuker sms walau banyak provider, dgn cerewetnya bunda hidup jadi ga terarah……
    just do it! So, close….. itu yg aku tahu
    Never Flat itu pula yg aku alami…..
    Ups, kapan aku bisa mencium telapak kaki bunda? walau hanya sekali selama hidupku….
    Kapan aku kan bisa pinjamkan titipan tuhan, syurga dunia berikut segala kemewahannya untuk bunda tercinta…..
    Kita semua bisa bila kita siap menerima. ……….

    Hai Enzha…
    Jangan menunda untuk melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan…
    Sekedar bilang bahwa kamu cinta, merindukannya, dan kepingin pulang saja pasti Ibu sudah senang..πŸ™‚

    Posted by enzha21 | November 1, 2008, 9:37 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Heartbeats « the blings of my life - February 16, 2009

  2. Pingback: Saung Bunda » The Blings of Her Life - July 5, 2009

  3. Pingback: The Blings of Her Life « SaUnG BuNdA … - November 2, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: