you're reading...
Thoughts to Share

a fake mind reader

Pertengkaran pertama di hari Senin ini adalah dengan Pacar tercinta. I barely couldn’t talk to him karena perasaan saya sedang kacau, campur aduk antara perasaan lega karena ternyata dia nggak kenapa-kenapa *faktor sibuk dan nggak sempat untuk berkomunikasi* dan perasaan marah *karena saya orang yang mudah panik dan kalau sedang PMS gini, bisa gampang meledak (hey, I’m a dynamite… remember? 😀 )*

He called me at 13.22 PM. After having a lot of talking and crying (saya yang nangis, bukan dia.. hehe), saya baru sadar, kalau semua ini adalah a little miss understanding. Selisih paham yang sebetulnya tidak perlu terjadi jika kita bisa berkomunikasi dengan baik atau menyampaikan apa yang kita rasakan instead of assuming that our partners know what’s inside our minds.

Karena saya bukan mind reader and neither he is, selisih paham seperti itu akhirnya terjadi juga. Saya memang orang yang meledak-ledak, super moody, dan terlebih saat PMS yang membuat segalanya jadi makin kacau saja. I could be a true psychologist to others but not for myself.. 🙂 Telepon dari Pacar membuat saya somewhere in between, sehingga saya berkali-kali bilang sama dia untuk menutup telepon saja sebelum saya mengatakan kata-kata yang mungkin saja bakal saya sesali di kemudian hari. Tapi berkali-kali pula Pacar meminta maaf dan bilang begini, “I didn’t mean to do that… I didn’t mean to neglect you… or tease you… I was so busy doing all my works here… I’m not going anywhere…

Dan bilang begini juga, “You could’ve just sent me a text message, right?”

Lalu saya marah. “Hey, I’ve sent a text message but you turned off that cellphone. Aku nggak bakal freaked out begini tanpa alasan yang jelas…”

… saya marah begini.. emosi jiwa begini… sebenarnya karena saya khawatir sekali dia kenapa-kenapa… Karena nggak biasanya, pagi saya terlewatkan tanpa suaranya di speaker ponsel saya… Dan sumpah, ini juga karena saya kangen sekali sama dia…

Kenyataan bahwa ini adalah sekedar salah paham, mengingatkan saya pada peristiwa seminggu yang lalu, saat latihan tari Yosakoi di Lapangan Koni *which btw, kelompok IMC (saya dan teman-teman) jadi juara Umum kategori Semangat, lho…* I was so damn angry with one of the girls, let’s call her A. Seseorang yang begitu egoisnya mengatur orang lain sementara dia sendiri menolak untuk diatur. Dan satu hal, dia menolak untuk berlatih di lapangan yang panas karena dia sedang memakai kaos you can see lalu memilih untuk menempati posisi yang bukan posisinya, sehingga membuat formasi menjadi berantakan. Lalu, yang menjengkelkan, dia malah dengan entengnya bilang, “Terserah gua dong, mau latihan di mana… Kalau panas satu, panas semua dooonggg… ” (apalagi dia menolak untuk memakai jaket, karena takut kegerahan! ooo.. c’mon…)

…padahal kita semua tahu, kalau kita semua tahu dimana saklar untuk meredupkan cahaya matahari, pasti sudah kita turn off dari tadi 🙂 Gilingan, panas banget boowww…. *dan ya, saya juga memakai baju lengan super pendek!*

I needed time out. Someone had to say something dan siang itu, rupanya saya yang ‘ketiban sial’ untuk melakukannya *one of the leaders cuman bisa marah di belakang.. saya? Hem… that wasn’t a heroic thing to do, but something that I SHOULD do* Saat break, saya ungkapkan saja keberatan saya. Hei, sekarang kan latihan formasi, bukan latihan gerakan. Semua orang HARUS WAJIB KUDU berada di posisi yang sudah ditentukan. Dan ya, saya bilang juga, if I could turn off the sunlight… I would. But hey, kita kan nggak bisa melakukannya? So, deal with that…

Rupanya dia emosi jiwa. Dan yang paling membuat saya marah adalah… she threw two Narukos *semacam kayu , dengan beberapa bilah kecil-kecil yang berbunyi kletak kletok jika beradu, dan ya, ini adalah alat wajib yang dibawakan saat menari Yosakoi* at my face! Geez… Lalu dia bilang, “Kamu tahu, La??? Tadinya aku udah nggak mau dateng latihan karena ada masalah. Kalau bukan karena B dan C yang SMS-in aku, nggak bakal deh aku mau dateng…” Then she ran away, menjauh dari saya setelah melempar kayu-kayu itu di depan muka saya.

I was so damn emotional. Gila aja. Untung Naruko-Naruko itu nggak kena muka saya. Kalau iya? Hm, bisa geger lapangan Koni.. dan ya, the dynamite’s ready to explode 😀

Lalu saya kejar dia dan bilang, “Aku bukan mind reader yang tahu kamu lagi ada masalah atau nggak, A. Dan nggak seharusnya kamu melibatkan emosi kamu di lapangan, di saat orang lain berlatih dengan sungguh-sungguh, kamu malah bilang, terserah gua, terserah gua…”

“Tapi kamu juga musti jaga omongan, La… aku lagi ada masalah…”

Not everybody has to understand you. Dan FYI, kamu tadi nggak woro-woro ke seluruh teman-teman kalau kamu lagi ada masalah kan? Mana kami tahu kalau hati kamu lagi aneh? Kita di sini buat latihan dan apa yang sudah kamu lakukan telah membuat formasi berantakan… As simple as that.”

Semakin marahlah dia…

Membentak-bentak saya dengan kasar….

Dan akhirnya membuat saya harus berlari ke mushola, untuk menenangkan diri dan pikiran dari segala emosi yang membuat saya menangis itu… There, *entah sholat saya itu berpahala atau tidak — karena nggak khusyuk*, during I prayed… I was crying…

Pertengkaran itu memang selesai dengan damai. Saya memutuskan untuk minta maaf dan ternyata, she did the same thing, at the exact same moment. Kami berdua menangis, menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang saling menyakiti hati masing-masing. Kami berdua bukan mind readers, yang tahu what to and not to do. Kami nggak tahu apa yang sedang bergumul di hati orang lain dan sisi mana yang sedang sensitif dan tak boleh tersentuh.

Peristiwa itu terbayang lagi hari ini, ketika pertengkaran Senin Pagi dengan Pacar membuat air mata saya mengalir deras dan mata saya sembab. Bahwa ya, kita memang bukan mind readers, kita nggak bisa tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam hati seseorang, apa yang sedang ia pikirkan, masalah hebat apa yang membuat tingkahnya menyebalkan, dan kenapa dia melakukan semua yang membuat kita emosi jiwa begitu…

Tapi… setelah hari ini… saya mencoba untuk menjadi seorang fake mind reader.

Kenapa?

Karena saya ingin mencoba untuk memahami apa isi kepala orang-orang lain, mencoba menempatkan diri saya di posisi orang lain, dan mencoba untuk mengerti bahwa apa yang mereka lakukan dibarengi dengan alasan-alasan yang sungguh sangat spesifik…

Ini bukan soal mengalah.

Ini bukan soal kamu nggak punya harga diri atau nggak berani untuk stand up for your feelings.

Ini soal kamu menghargai orang lain.

Dan semoga, jika kamu, juga saya, bisa menghargai orang lain… then they will do the same thing for us.

Kalau mereka nggak melakukan hal yang sama buat kita….. ya sudah…. Emang kamu keberatan, ya, jadi orang yang baik? 🙂

….

ps. untuk Pacar, I’m really sorry… I’ve learned something. Thanks ya…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “a fake mind reader

  1. Ini bagus, La….(lumayan….tambahan artikel buat bukumu yang sedang menuju best seller itu)…
    Dalam berumah tangga kesalahpahaman seperti ini seringgggkali terjadi. Masing2 mengira pasangannya dapat memahami apa yang berkecamuk di hatinya.
    Akhirnya, salah satu pihak merasa diabaikan atau bahkan merasa dilecehkan. Apa yang akan terjadi? ………..
    Perang bubat sodara2….

    Posted by heryazwan | July 7, 2008, 4:55 pm
  2. waaaaaaaaaahhhh….
    tapi udah baikan kan mbak..

    Posted by ulan | July 7, 2008, 5:08 pm
  3. pokoknya kalo sedang PMS pasti emosional,
    makanya tahan-tahan deh…hehehe
    bahaya soalnya kalo sampai merembet ke kerjaan.
    apalagi dynamite itu kan dekat api dikit langsung meledak (itu tanpa PMS loh)

    BTW aku jg sedang PMS dan ngerti banget kok. cuman kalo aku meledak, kasian deh 3 boys di rumah

    Posted by Ikkyu_san | July 7, 2008, 5:45 pm
  4. Hmm PMS again …
    Di satu sisi …
    Memang susah mengendalikan emosi di saat sulit seperti ini …

    Tetapi di sisi yang lain …
    memang bisa dimengerti jika kekhawatiran seperti ini sering muncul … dan biasanya kita menjadi orang yang tidak reasonable di saat seperti ini …

    Jalan tengahnya …
    Biarkan waktu yang akan membuat kalian berdua mengerti satu sama lain …
    Kadang kala perasaan cinta … tidak bisa diwujudkan secara nyata dalam bentuk call .. chat … bertemu dan yang sejenisnya …
    Namun aku percaya Pacarmu itu pasti sedang memikirkan kamu saat itu … walaupun dia tidak bisa mengirimkan sinyal perasaannya ke kamu dalam bentuk yang nyata ..

    Salam Saya … 🙂

    Posted by nh18 | July 7, 2008, 7:38 pm
  5. Seperti nonton dorama.
    Thx ya La, gw dpt hikmah.

    Posted by ipk4cumlaude | July 7, 2008, 9:57 pm
  6. Menurut gue sih jangan coba-coba jadi Mind Reader…it’s the mother of all f@#ed up..

    Kalau misalnya gak jelas ya tanya..

    karena kita gak diciptakan untuk membaca pikiran orang, tapi menanyakan pikiran orang..

    komunikasi..komunikasi..komunikasi..

    Posted by Koko | July 8, 2008, 11:45 am
  7. AbangKuw
    Aaah… another article ya Bang.. sip deh.. 🙂
    Iya, missunderstanding itu jamak banget ya Bang, in any relationships pasti pernah deh ngerasa being neglected padahal cuman karena minimnya pengetahuan kita tentang apa yang diinginkan pasangan….

    Ulan
    Udah baikan, Ulan… tapi ya gitu, malamnya berantem lagi, dan udah baikan lagi this morning.. wekekekekekekek

    WonderWoman
    PMS is every men’s nitemare kayaknya.. hehehe…
    Untungnya pacar mau banget memahami… Meskipun kadang dia suka kaget duluan.. hehehehe…

    Om Tersayang
    Kayaknya sih dia emang lagi mikirin aku, Om… mataku langsung cedutan.. hehehe…
    Thanks for the support yaa…

    AnakPintar
    Dorama?? ah masaaa… 🙂
    Alhamdulilah bisa dapet something dari baca tulisan ini… that really means a lot for a writer like me… ^_^

    Koko
    Ya, komunikasi itu penting, cuman terkadang, komunikasi menjadi meaningless ketika kita stand up for our own principals. Menganggap kita sendiri benar. Jadi, not just communication, tapi komunikasi yang mau menerima persepsi orang lain… Nah, itulah yang rada ribet, ko…

    Posted by jeunglala | July 8, 2008, 2:17 pm
  8. Komunikasi pasti dua arah dunks..mendengarkan dan didengarkan..kayaknya sih selalu ada jalan untuk komunikasi meskipun akhirnya sepakat untuk tidak sepakat..deuh, paling males kalo gitu 😀

    Posted by Koko | July 8, 2008, 3:37 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: