you're reading...
novelet bersambung : Lelaki Dua Puluh

-14- Lelaki Dua Puluh

Siang itu, hari pertama Ibnu datang ke rumah dan wajahnya seperti tumpukan kangen yang tertahan. Senyumnya sangat lebar, pelukannya sangat hangat, dan Saila hampir tidak bisa bernafas ketika Ibnu tidak melepaskan pelukannya selama beberapa menit.

“IBNUUU… Mbakmu ini masih pingin hidup, lho…” Saila mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Dia memang sangat menikmati pelukan hangat itu, setelah sekian lama dia mencoba menjadi ‘wanita sesuai umur’ setiap ia bersama Mas Didit. Entahlah, setiap ia bersama Ibnu, sepertinya ia kembali menjadi ‘anak kecil yang menikmati permennya’.

“Sorry, Mbak, abis kangen sih…”

“Kangen, ya, kangen, Nu, tapi nggak usah sampai bikin aku sesak nafas, dong… Mm, minum, ya?”
Saila berjalan ke dapur dan mengambil satu kaleng minuman bersoda kesukaan Ibnu. Saat di dapur, dia melihat Mbok Darmi yang memandanginya dengan pandangan aneh.
Ah, terserah, deh, Mbok Darmi mau bilang apa… Melaporkan pada Monita? Atau bahkan langsung pada Mas Didit? Terserah saja. Aku lagi kangen, nih, sama Ibnu. Sekali-sekali, aku ingin menjadi diriku sendiri…

“Tadi langsung ke sini, Nu?”

“Iya, dong. Lihat aja, tuh, ranselnya masih penuh baju kotor semua. Titip cuci, dong….”
Saila tahu Ibnu hanya bercanda, meskipun seringkali Saila merasa kasihan dengan anak kost seperti dia. Tapi setiap dia merasa ingin membantu Ibnu membantu pekerjaan rumahnya, lelaki muda itu yang menolaknya dan berkata, “Aku bukan anak kecil, Mbak. Ibu Bapak sudah melepaskan aku ke Surabaya karena mereka tahu aku bisa hidup mandiri.”

“Nu, Ibu sama Bapak apa kabar, ya?” Dia jadi bertanya soal kedua orang tua Ibnu. Tiba-tiba saja hal itu terlintas dalam pikiran Saila.

“Kenapa, Mbak? Kok tiba-tiba nanya seperti itu, sih?” tanya Ibnu heran. Setelah setahun menjadi orang terdekat Saila, rasanya baru hari ini orang cantik itu bertanya soal orang tuanya.

“Ng… nggak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu kabarnya saja, kok. Kamu, kan, nggak pernah cerita mereka seperti apa, kabar mereka bagaimana…”

“Baik, kok, Mbak. Waktu KKN kemarin aku sempat pulang ke Jogja. Sowan keluarga, kangen Bapak Ibu, dan… cerita soal Mbak Saila.”

Saila terkejut. “Kamu cerita soal aku, Nu?”

“Iya. Siapapun perempuan yang aku sayangi, pasti mereka tahu, kok, Mbak.”
Saila masih belum bisa melepas rasa terkejutnya. Bagaimana mungkin Ibnu bisa cerita soal dirinya ke orang tuanya? Mungkinkah dia menyelipkan kebohongan di sana sini supaya yang terkesan adalah Saila-yang-baik-baik-dan-pantas-untuk-anaknya? Saila terdiam dan membiarkan Ibnu melanjutkan ceritanya.

 “Aku cerita kalau Mbak Saila itu yang jadi pembimbing aku saat magang kemarin. Aku juga cerita kalau Mbak Saila itu nggak hanya cantik, tapi juga baik hati. Dan, pastinya,” kata Ibnu sambil memandangnya lembut, “Aku juga cerita kalau Mbak Saila sudah 39.”

Saila menelan ludahnya. Tiba-tiba dia merasa gerah dan gelisah.
Aku sudah siap kecewa kalau setelah ini kamu bilang Bapak Ibu nggak suka kamu dekat sama aku, Nu…

“Mereka…”

“….”

“… ingin ketemu Mbak Saila bulan depan.”

Kalimat terakhir itu seperti daging kenyal yang susah terkunyah sempurna di geliginya. Saila benar-benar tidak mempercayai pendengarannya, apalagi wajah Ibnu begitu cerah dan ceria saat mengatakannya.

“Ibnu…”

“Mbak, mereka ingin tahu lebih banyak soal Mbak Saila…”

“Tapi, Nu…”

“Dan apapun hasil penilaian mereka, Mbak masih ingat, kan, kalau aku pernah bilang nggak akan segan untuk mengajak Mbak Saila pergi? Dan aku akan selalu menyimpan janjiku, Mbak.”

“Tapi, Nu…”

“Mbak masih nggak percaya? Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan hidupku sendiri, Mbak. Tahun depan aku sudah dua satu, lulus kuliah, dan semoga perusahaan yang sekarang memenuhi janjinya untuk mengangkat aku jadi staf tetap.”

“Nu…”

“Mbak, aku sayang banget sama Mbak Saila… Aku nggak pernah main-main dengan kata-kataku, Mbak… Please, Mbak, dengarkan aku…”

“Ibnu,” potong Saila dengan mata perih menahan air mata. “Kamu yang harus mendengarkan aku.”
Ibnu menatapnya dengan pandangan heran. Air mata Saila seperti ingin segera turun dari kedua mata indahnya dan perasaan Ibnu mulai meraba kalau telah terjadi sesuatu.

“Kenapa, Mbak? Ada apa?”

“Nu…”

“Iya, Mbak…?”

“Aku….”

“…”

“Sepertinya kita harus berhenti sering bertemu seperti sekarang…”

bersambung…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: