archives

Archive for

-12- Lelaki Dua Puluh

“Aku dengar kamu sudah beberapa kali kencan sama Mas Didit, ya, Sai? Ngaku, deh…” tanya Monita saat mereka makan siang di Amigos, alias agak minggir got sedikit.

“Mmm… sejak kapan kamu punya waktu untuk jadi mata-mata?”

“Sejak aku punya uang untuk bayar Mbok Darmi supaya dia buat laporan harian buat aku, Sai!” Monita tertawa. “Apa susahnya, sih, Sai, tanya sama Mbok Darmi? Dia, kan, yang paling bahagia kalau kamu dekat sama seseorang…”

“Mungkin dia kasihan melihat aku sendirian terus, Mon.”

“Atau kesal karena kamu sok selektif dan menempatkan luka hati di masa lalu di atas segala-galanya?”

Monita ingat bagaimana Biyan telah menciptakan luka itu dan tidak ada satupun lelaki yang bisa membuat sahabatnya tertawa dengan hati yang bahagia, kecuali… ya, mungkin hanya dengan Brondong satu itu. Lelaki baik, tapi salah, itu.

“Apa kabarnya, ya, si Brondong?” tanya Monita tiba-tiba.

Saila meneguk es teh tawarnya. “Ibnu? Dia lagi KKN,” sahutnya pendek.

“Oh ya? Kapan baliknya?”

“Nggg.. Belum pasti juga, sih, Mon. Kata Ibnu, sih, masih memungkinkan ada perubahan rencana. Bisa lebih lama, bisa tepat waktu, tapi nggak akan bisa lebih cepat dari jadwal.”

“Kamu nggak telepon dia?”

“Nggak ada sinyal, Mon. Dia malah bilang kalau telepon aku itu butuh perjuangan.”

“Kenapa?”

“Karena harus menempuh waktu dua jam untuk sampai ke wartel terdekat.”

“Jadi, dia nggak tahu kamu lagi dekat sama Mas Didit?”

Biasanya Ibnu selalu jadi orang pertama yang tahu lelaki mana yang sedang dekat dengan aku, tapi entah kenapa aku nggak pernah menceritakan soal Mas Didit padanya… Tanpa alasan yang jelas, yang pasti hanya aku nggak ingin melukai dia.

Saila menggeleng.

Monita menghela napasnya lalu menyentuh jemari Saila dengan lembut.

“Saila, kenapa kamu nggak…”

“Mon,” potong Saila dengan suara yang bergetar, “Waktu itu kamu tanya, kan, Ibnu itu ‘apa’ buat aku?”

Monita menunggunya.

“Dia…” Saila menunduk sebentar sebelum berkata, “…segalanya.”

bersambung…

-11- Lelaki Dua Puluh

Malam, Saila. Sudah tidur?

+6281330127727

Mm, siapa ya?

<send>

Ini aku, Didit. Masa sudah lupa?

+6281330127727

Haha, maaf, Mas. Aku belum simpan no hp kamu. Belum tidur, lah. Masih sore.

<send>

Masih sore? Di rumahku sih sudah jam 1. Apa ada perbedaan waktu ya antara Surabaya barat dan utara?

+6281330127727

Ada dong. Coba kalau kamu ke sini, pasti jamnya sudah beda 45 menit J

<send>

Jadi aku boleh main ke rumah, kapan2?

+6281330127727

Selama bawa bekal sendiri dan nggak ngerepotin sih, ayuk aja.

<send>

Ada yang marah nggak? Nanti sampai di sana ada algojo yang siap ngebiri aku, awas ya

+6281330127727

Untuk kunjungan pertama, aku mau sewa bodyguard, Mas. Untuk jaga2 aja

<send>

Minggu depan kita buktikan, deh. Tapi jangan sewa bodyguard yang gay ya, Sai. Aku takut dia naksir aku.

+6281330127727

Haha, hobi kok GR. Datang aja, Mas. Tapi bawa oleh2 ya…

<send>

It’s a deal. Ya sudah. Asal memang nggak mengganggu ‘hak milik’ orang lain, aku berangkat, kok! Benar, ya, nggak akan ada yang marah?

+6281330127727

Saila membayangkan wajah Ibnu sebentar, merasa hatinya pedih seketika, tapi ia memutuskan untuk segera membalas sms lelaki baik itu.

Benar, nggak ada. Percaya, deh.

<send>

Ibnu… Mbak minta maaf, ya…

bersambung…

Catatan Harian

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono