you're reading...
daily's blings

when you just can’t picture him in your fantasy…

Sabtu kemarin, saya ‘kencan’ dengan sahabat saya, Lin. Anak edun, sinting, tapi cantik dan baik hati itu menemani saya minum coklat blended di sebuah gerai donat yang menyediakan layanan hotspot gratisan. Kenapa bukan kupi??? Karena maag saya lagi kumat abis-abisan dan Pacar bilang saya musti stop minum kopi untuk sementara waktu… aarrrgghhh… I miss coffee so f**king much! Dan terdamparlah saya di sofa-sofa empuk tersebut, di depan laptop, dan di sisi seorang sahabat yang sepertinya sedang punya banyak cerita.

Dan yah. Ternyata Lin memang sedang overloaded dengan cerita-cerita menyangkut hatinya. Dan karena itulah, saya musti pamit dengan Pacar yang kebetulan sedang online dan mendengarkan cerita-cerita Lin.

Dari prolognya, saya mulai menangkap bahwa dia memang sedang ada di intersection, berdiri nggak jelas di persimpangan tanpa tahu harus mengambil jalan yang mana. Which way to go? The left one? Or the right one? Or should I just go straight ahead?

Ternyata masih soal si lelaki yang sudah bikin hari-harinya berwarna warni tapi…

It wasn’t love, Lala,” kata Lin sambil nyeruput blended chocolate yang saya beli itu *ah, anak ini doyannya gratisan ajahh.. hehe* “Ini bukan perasaan yang sama seperti gua dulu…”

“Waktu sama si Rogal yang nggak jelas itu?” tanya saya sambil ngerasa bete-surete. Ah, kenapa cowok satu itu nggak pernah bisa kabur dari pikiran sahabat saya ini sih?? Kenapa masih sok nekat main-main di hati sahabat saya dan bikin Lin nggak bisa ‘kemana-mana’??

Lin mengangguk. Dia tahu kalau saya benci banget sama si Rogal itu. Cowok yang disebut-sebut sebagai lelaki terindahnya itu. Yang punya segalanya yang Lin inginkan. Fisik yang sempurna, kebisaan yang luar biasa, dan yaa… he was the right man in the right place. Datang ketika sahabat saya merindukan bagaimana rasanya jatuh cinta setelah bertahun-tahun mati rasa.

“Yap. Dengan cowok yang menurut lu ga jelas itu, La,” kata Lin sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. “Tapi sama dia, gua ngerasa itu… Perasaan yang itu, tuh…”

Shivering things?” tanya saya. FYI, Shivering Things adalah istilah saya dan Lin yang merujuk pada getaran-getaran aneh tapi menyenangkan ketika kita bersama dengan seseorang. Ada yang menyebutnya Butterfly, ada yang menyebutnya Zsa Zsa Zsu. Yang jelas, itu perasaan yang sumpah, unbelieably amazing.

“Iya. Itu, tuh. The Shivering Things itu… Dan gua sama sekali nggak ngerasain itu sama Oby. Not a single things. Gua nggak pernah merasa bergetar tiap deket dia. Nyender, ya nyender aja. Deket, ya deket aja. Tapi perasaan gua adem, tenang, dan nggak ada deg-degannya sama sekali…. Argghh.. gua bingung juga La…”

“Bingungnya?”

“Karena temen-temen yang lain pada ribut supaya gua bisa moved on, supaya gua bisa belajar untuk suka sama dia. Never mind about the Shivering Things, yang penting Oby adalah cowok yang baik buat gua…”

Karena memang, Oby bukannya cowok yang nggak baik. Atau jelek. Atau ekstrimnya begini: dia bukanlah cowok yang nggak banget. Bisa dibilang, he’s the right man but in the wrong time and place. Mungkin sama seperti bibit unggul yang ditanam di tanah yang tidak subur. Tidak akan bisa tumbuh dengan baik. Jadi, gimana ‘sempurna’nya Oby… in my bestfriend’s heart… dia tetaplah lelaki yang minus pesona😦

“Susah, La. Kalau hati udah nggak ngerasain apa-apa, gimana gua bisa moving forward sama dia?” Lin menghela nafas. Saya tahu, dia sedang berjuang mencari tahu apa yang sesungguhnya dia inginkan. Cinta yang sedang tersodor di depan hidungnya atau mengulik-ulik masa lalunya yang masih ada di dalam hatinya. Oh MyShe’s just so devastated, I guess. Capek hati. Hhhh…

“Lin, gua nggak bisa nyaranin elu untuk jalan sama dia atau nggak… Karena ini soal elu nyaman atau nggak sama dia. Selama elu nyaman, ya go ahead. If not, jangan paksa diri elu deh. Karena gua pernah ngerasain itu… dan sumpah, itu nggak enak banget…”

karena ada satu lelaki dalam hidup saya, dulu hadir ketika saya nggak cinta sama sekali, dan butuh perjuangan untuk mencoba menerima dia… Sampai suatu saat saya sadar, kalau saya tetap dekat dengan dia… Saya menyiksa dia… Juga menyiksa diri saya sendiri…

“Ya, ya, gua ingat cerita lu itu, La…” kata Lin. Sahabat saya itu tahu banget sejarah saya. Mulai dari pacar pertama sampai yang terakhir ini. “Dan gua ingat, gimana elu tersiksa banget saat nyoba untuk cinta sama dia… Waktu itu lu terpaksa jadian karena dia yang cinta banget ama elu dan lu dipaksa ama temen-temen kan?”

Saya mengangguk. “Itulah kenapa, gua nggak bisa maksa kalau elu nggak nyaman, Lin. Karena somehow, I just knew that a love without a feeling is so frustrating. Kalau kita nggak punya passion sama sekali dengan pasangan, we have so many excuses to stay away from him… Dan apalah artinya sebuah komitmen kalau kita berlomba-lomba untuk berlari menjauh?”

Kami terdiam. Beberapa saat. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang hilir mudik di depan gerai donat, musik yang berdentum-dentum dari pengeras suara, dan di depan laptop yang layarnya memantulkan cahaya terang itu, kami berdua seperti mencoba untuk mendengarkan suara hati.

Apa sih yang kita cari, Lin?

Yang jelas… gua menyesal karena dulu sudah menyakiti orang itu… Yang gua tinggalin begitu saja karena gua nggak pernah bisa mencintai dia, seperti dia ke gua… Dan ketika sekarang dia udah menikah dan berkata, “Ah, coba waktu itu kamu nggak putusin aku.. Mungkin sekarang kita udah punya anak dua kali, Non…” Gua nggak tahu, apakah gua lega karena dia sudah menemukan pelabuhan sejatinya atau gua sedikit menyesal karena sudah menyia-nyiakan kesempatan?

Sebelum beranjak pergi dari gerai donat itu dan memutuskan KITA-HAVE FUN-AJA-YUK *yap, dengan belanja-belanja yang nggak penting ituh..😀 *, Lin nyeletuk sesuatu yang bikin saya merasa ‘nyesss’ di hati. Sederhana sih, sangat sederhana malah. Karena Lin hanya bilang begini:

How can I’m with someone when I just can’t even picture him in my fantasy?”

…sampai sekarang, Lin masih ada di persimpangannya… dan sedihnya… kali ini, saya nggak tahu musti bagaimana untuk membantu dia memilih.. *because it’s her life… and she has all the right to make every wrong decisions and she also has the right to learn something from those wrong decisions…*

Cinta, saya bersyukur banget, bisa terus membayangkan kamu ketika saya merem atau melek sekalipun… 

*I luv you… Banget! *

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

One thought on “when you just can’t picture him in your fantasy…

  1. wah… ko bisa ga bisa membayangkan seseorang yang katanya dicintai?

    rethink… reconsider…

    my lil man is my last thing on my mind before shutting the day and the first thing poppin in mind before starting the day all over again😉

    ga direncanakan… ga bahkan menginginkan

    terlintasbegitusaja

    karena dia ga cinta, Nat, makanya dia nggak bisa membayangkan laki-laki yang sudah sedemikian baiknya… itu permasalahannya, Say…
    dan ya. Pacar adalah sosok yang terakhir saya ingat ketika menjelang tidur dan orang pertama yang saya ingat ketika saya bangun besok paginya… Di situ saya baru sadar, kalau saya cinta sekali sama orang satu ini…😀

    Posted by natazya | June 30, 2008, 11:21 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: