you're reading...
novelet bersambung : Lelaki Dua Puluh

-10- Lelaki Dua Puluh

Nice to meet you, Saila,” kata Didit saat mereka berpisah di parkiran.

“Sama-sama, Dit.”

“Aku boleh telepon kamu, kan?”
Saila mengangguk.

“Sampai ketemu lagi, Saila…. Lang, Mon, terima kasih, ya!”

Saat Didit sudah berlalu dari pandangan, Monita menyikut pinggangnya lalu tersenyum-senyum pada Saila sembari melirik-lirik suaminya.

“Mas, Mas, kayaknya kali ini berhasil, deh.”

Mas Gilang hanya tersenyum sementara Saila mulai merasa salah tingkah.
“Monita, kamu ini…”

“Tapi aku nggak salah, kan, Sai?” potong Monita. “Tadi kamu terlihat enjoy sekali sama Didit. Pokoknya nggak seperti cowok-cowok yang dulu pernah aku kenalin ke kamu, deh!”

“Apaan, sih, Mon? Mas, Mas, bisa minta tolong, nggak? Istrinya dijagain, tuh… Lama-lama dia bisa jadi germo, lho.” Saila menoleh pada Mas Gilang yang ada di dekat Monita.

Monita mencubit pipinya sekilas.
“Ini, kan, karena aku care sama Saila, Mas,” rajuknya pada Mas Gilang yang hanya menonton mereka sambil tersenyum kalian-ini-kayak-anak-kecil-saja. “Ya, kan, Mas?”

“Kalau care itu, bayarin listrik, air, gas, belanja bulanan, dan biaya bensin setiap bulan, Mon, bukan jodoh-jodohin begini,” potong Saila.

“Kalau itu, bukan care lagi namanya, Sai, tapi kurang kerjaan dan lupa sama keluarga sendiri!” Mereka tertawa lagi.

“Tapi benar, kan, kamu enjoy sama Didit? Aku, sih, cuman melihatnya dari luar, Sai. Hati orang, siapa yang tahu, betul?” Saila mengangguk. “Jadi, jadi, benar kamu suka sama dia?” tanya Monita tidak sabar.

Sahabatnya tertawa. “Monita, nggak bisa, dong, aku bisa langsung suka sama seseorang. For God sake, aku baru ketemu dia dua jam yang lalu, Mon.”

“Iya, iya, tapi kesan pertama adalah segalanya, kan?”

“Iya, tapi bukan berarti aku bisa langsung suka sama dia, kan, Mon?”

“Tapi, Sai…”

Ladies… please!” Mas Gilang menginterupsi sambil berjalan di tengah-tengah mereka dan membuat Monita berhenti nyerocos. “Urusan itu bisa diselesaikan di lain waktu, kan? Lain waktu, maksudnya, kalau aku nggak ada di antara kalian. Bisa bahaya, lho, kalau aku lapar lagi. Istriku bakal ngomel kalau makanku banyak, Sai… ”
Mas Gilang mencium kening Monita sambil mengedipkan matanya pada Saila yang tersenyum lega.

bersambung…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: