you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (last episode) : the reasons

Pulang ke Bandung.
Rasanya nikmat sekali datang ke sebuah kota yang sudah seperti hometown meskipun sebenarnya gue selalu berpindah-pindah mengikuti Bokap. Mencium aroma basah tanahnya karena hujan, duduk di atas angkot yang mengajak gue berputar-putar di jalan-jalan kecil, atau menikmati malam yang dingin penuh lampu di Ciwalk, adalah kenangan indah yang nggak terbeli.
Yang paling bahagia menyambut kedatangan gue di Bandung adalah, tentu saja, si Laura. Perempuan cantik itu menyambut gue di muka pagar dengan mata yang bersinar-sinar.
Dari jauh, gue lihat, perutnya membuncit.
Dia hamil.
Five months pregnant. Tapi tenang, tenang… Jangan miss understand gitu dulu, dong… Dia hamilnya resmi, kok. Ada suami yang resmin nikahin dia… Ya, si Aldo itu.
 Setahun yang lalu mereka menikah dan sekarang sahabat gue itu sudah hamil lima bulan. Katanya sih a baby girl, tapi mereka bilang, laki-laki atau perempuan sama saja.
Dasar standar!

“Saaaayyyy… Kangeeennn!!!”
Gue tersenyum. “Eh, main buncit aja, lo, Lor!”
“Yang penting buncitnya resmi, kaleee!!”
“Huh, dasar. Inget hamil tuh, kelakuan dijaga…”
Kami lalu tertawa, seakan lupa kalau semuanya sudah banyak yang berubah.
“Nggak nyangka ya, Sas… Lo bisa seperti sekarang…”
“Apa? Item kucel jelek, maksud lo?” tanya gue sambil tersenyum.
“Duh, sensi amat sih. Bukan, bukan. Maksud gua… lihat lo sekarang. Sukses beraaaatttt… Gua baca di tabloid, katanya album lo udah dapat tiga platinum, ya? HEIBAAATTT…”
“Iya, iya. Makasih. Tapi ralat, bukan gue yang dapet, tapi band gue. Daanish, Mas Ben, Miko, Erick…”
“Eh, Erick, Erick, gimana dia sekarang? Gue denger-denger, dia lagi deket sama pemain sinetron itu, ya?”
“Iya. Sama Kammila itu… Yang perannya nangis-nangis mulu itu, Lor!”
“Iya, iya… Kammila itu… Gue kirain dia bakal jalan terus sama si… Siapa, Sas? Yang anak Psikologi itu, tuh… Yang sempat bikin gue jealous kayak orang gila itu, lho…”
“Maksud lo, Karina?”
“Iya, Karina.”
“Setelah empat tahun, Lor? Seingat gue Erick nggak sesetia itu, deh…”
Laura tertawa.
“Semuanya banyak berubah, ya, Sas? Lo sekarang sudah jadi begini… Gua aja masih sering nggak percaya kalau dengerin lagu-lagu kalian di radio… atau di televisi pas kalian manggung… Rasanya… unbelievable.”
“Gue juga merasa begitu, kok, Lor. Rasanya masih suka nggak percaya aja kalau gue bisa seperti ini… Dan… lo bener, Lor.”
“Gua? Bener? Maksud lo apa, Sas?”
“Lo inget, dong, waktu lo bilang everything’s happened for reasons?”
“…?”
“Lo bener, Lor. Hikmah itu memang akan datang justru setelah semuanya lewat. Saat gue menangis darah gara-gara Robbie… eh, omong-omong, dia sudah punya dua anak, lho, Lor.. Lucu, deh, dia taruh foto-foto anaknya di friendster…
Eh, iya… ntar aja disambung lagi, ya? Gue mau cerita soal hikmah tadi, nih,” tukas gue sebelum Laura lebih tertarik untuk mendengar cerita Robbie dan anak-anaknya daripada mendengarkan cerita gue.
“Makanya, cerita.. cepetan… Orang hamil tuh gampang beser, Sas…”
Gue tertawa.
“Dengerin dulu, ya, Neng, gue mau cerita…
Soal hikmah, lo bener kalau dia akan datang justru saat semuanya sudah selesai. Pas Robbie ninggalin gue, lo ingat gimana sedihnya gue, kan, Lor? Gue merasa nggak adil, merasa hidup gue nggak ada artinya lagi… Denial kalau sebenarnya gue nggak punya harapan lagi sama dia…
Dan konyolnya, gue hampir aja gave up everything that I had cuman untuk menyenangkan hatinya…
But years gone by, Lor..
Gue baru tahu, apa hikmah sakit hati gue waktu itu.”
“Apa?”
Gue menghela nafas sebentar.
“Gue jadi… ngg… fokus ke karir, fokus nyari uang… tapi tetap nggak melupakan orang-orang yang di sekitar gue. Lo lihat gue sekarang, Lor. Kalau saat itu gue ninggalin mimpi gue untuk go national dan memilih untuk ada 24 jam buat Robbie, pasti sekarang gue nggak akan begini, Lor…”
“Iya, Sas,” sahut Laura sambil tersenyum, “Dan pastinya, lo nggak akan sebahagia ini.” Laura tersenyum menggoda gue.
“What, what? Ngapain sih lo senyum-senyum kayak gitu, Lor?”
“Sejak jadi ibu rumah tangga, gua jadi doyan lihat infotainment lho, Sas…”
“Haha… dasar Ibu-ibu…”
“Dan… gua tahu lho, soal…”
Tanpa basa-basi, Laura hanya menarik jari manis gue dan berteriak seperti orang kesetanan sementara gue pura-pura menarik tangan gue supaya dia makin penasaran.
“Soal apa? Apaaaa???”
“Apa,apa…! Udaaahhh!!! Nggak usah banyak cingcong, deeehhh!”
“Apaaaaaaann seeehhhhh???!!”
“SHOW ME THE RING!”

Yup.
The other reasons why I broke down and torned into pieces is because I have to meet this guy.

Kalian ingat Dean?
Boy escort Daanish pas kami ngamen di Surabaya?
Yang tajir, yang mobil kijang kapsulnya jadi alat transportasi yang paling sering dipakai buat jalan-jalan itu?
Yang walaupun tahu kalau Daanish cewek yang nggak mungkin berkomitmen tapi tetap nekat mau jadi boy escort selama kami di Surabaya itu lho…
Ingat, kan?
Well… well…
Cincin emas putih bermata satu yang terselip di jari manis gue ini…

Bukan dari dia.

Yang benar, tuh, laki-laki yang dengan penuh harapan dan dengan nekatnya (hehe) meminta gue untuk selalu setia sama dia adalah… Darryl!
Ya. Darryl yang itu.
Sahabat baik Dean yang pernah dikenalin ke gue, my distraction saat gue terlalu bermimpi Robbie kembali sama gue itu lho…
Ingat, kan?
Well, apparently…
There was a second date.

Don’t ask me how we met again or how he finally asked me to marry him.
Hidup punya misterinya sendiri.
Dan gue rasa, semua memang punya alasan tersendiri.

Gue nggak tahu apa alasan-alasan itu atau penasaran mencari tahu apa alasan-alasan di balik semua ini, tapi yang pasti, alasan gue mau berkomitmen dengan dia adalah:

I fell in love with him.
And I hope, he will always give me his hands and helps me walk through the better and worse…

Ternyata selama ini kita nggak pernah sadar, kalau ada seseorang yang selalu berdiri di balik pintu, menunggu kita untuk membukanya, tapi kita terlalu sedih untuk bangkit dari kesedihan karena patah hati…
Sayang banget, kan?😀

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “behind the door (last episode) : the reasons

  1. ya…ya… the end. dah…

    Posted by anton ashardi | June 18, 2008, 12:14 pm
  2. akhirnya slesai jg gw baca. *lega*….efek baca novelet ini adalah gw selalu mencari sesuatu di balik pintu..kali2 aja ada co ganteng nyangkut di belakang pintu *bodoh.com*….btw…ini cerita ocreh bgt….

    hihihi…
    dan sekarang kamu punya kegiatan baru nungguin bel pintu ya, Vi?
    Hahaha…

    emang ya, kalau ada co ganteng sampe nyangkut di belakang pintu, berarti emang bodohnya dia yaa.. pake acara nyangkut segala…🙂

    Eh, makasih lho…
    Ntar tunggu novel aku ya, Vi..
    Lu kudu mesti harus beli!🙂

    Posted by evi | October 17, 2008, 7:20 am
  3. duh……

    ceritanya bagus banget Mba…..gw ikut dari first episode till the end….uhmmm…

    write 2 us more story…

    Posted by dede | June 17, 2009, 2:20 pm
  4. baru baca crita ini…

    BAGUUUSSSSS bangettt!😉😉😉

    Makasih…
    *terharu banget*😀

    Posted by aira | August 27, 2009, 1:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: