you're reading...
Uncategorized

behind the door (23) : the answer

Malam itu, gue berusaha untuk nggak memeluk dia.
Ya, meskipun gue sangat, sangat, kangen sama Robbie, memeluk dan membiarkan Robbie tahu seberapa kangen gue sama dia adalah a-big-NO-NO. Gue harus behave, gue harus menyimpan rapat perasaan gue karena Robbie nggak boleh GR.
He left me mess and destructions.
Tapi dia nggak boleh lihat gue rapuh.

“Sasya…” Robbie berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangannya. “Apa kabar?”
“Baik… Kamu?”
“Baik…”

How awkward…
Kayak salam pembuka di surat-surat jadul.

“Aku dengar kamu baru pulang dari Surabaya, ya?”
“Iya.”
“Gimana, Sas? Seru?”
“Mmm… short of.”
Hening sejenak.
Gue kehilangan kata-kata.
“Kok nggak bilang?”
So tempting…
“Nggak sempat, Rob.”
“Nggak sempat? SMS juga nggak sempat?”
Okay. This is it. I have to spit it out.
“Penting?”
“Maksud kamu, Sas?”
“Ya maksud gue, apa bedanya gue SMS sama nggak?”
Forget about the Aku and Kamu things.
“Ya penting, dong, Sas.”
“Pentingnya?”
“Karena aku harus tahu kamu ada di mana, Sas.”
“Oh, gitu. Terus, kenapa lo nggak SMS gue? Nanya, kek, gue di mana…”
“Aku pikir kamu…”
“Don’t think, Rob. Do it! Lo pikir gue ini apa? Orang gila yang nungguin SMS dari mantannya?? Gitu maksud lo?”

Robbie kehilangan kata-katanya. Gue jadi curiga, apa memang Robbie benar-benar butuh informasi gue ada di mana atau tiba-tiba dia mendadak kena amnesia sampai lupa kalau dia mau kawin sama Jo?
SHIT!
Gue jadi ingat lagi!

“I’ve traveled… so far… left you sooo long, but what? Mana ada SMS dari lo? Mana pernah lo telepon gue? Tapi lo dengan konyolnya nanya kenapa gue nggak ngasih tahu lo soal ini? OMG… yang bener aja, Rob…”
“I’m sorry…”

Jawaban klasik yang malas gue denger sekarang.
Sorry for what?
For not looking for me?
Or for hurting me by cheating with Jo for 8 months and about to marry her in a year???

“FYI, gue tahu soal lo sama Jo.”
“Tahu apa, Sas?”
“Nggak usah pura-pura bego, deh! Gue tahu Jo setan itu bukan sekedar selingan karena gue mangabaikan elo, kan, Rob? Lo malah udah pacaran sama dia sebelum lo putusin gue, kan?” Gue melihat wajah Robbie seperti kepiting rebus. Memerah. Mungkin karena malu… mmm.. bukan mungkin, tapi pasti karena malu.
“Gue tahu karena, pertama.
Waktu pagi-pagi gue telepon elo, tebak siapa yang mengangkat? Ya. Si JO! Dan cewek lo itu bilang lo lagi tidur! Itu pagi-pagi buta, Robbie! What the hell was she doing there?? Dan yang lebih ironis lagi, gue telepon karena gue kangen elo!
Terus, Laura, inget sahabat gue itu kan, Rob? Dia ketemu sama Mama Anne dan cerita kalau sebenarnya lo udah ngaku putus sejak delapan bulan yang lalu!!! DELAPAN, Rob! Bukan bulan kemarin waktu lo bilang lo butuh break!”
Air mata gue seperti sudah mengumpul di pelupuk, tapi dengan susah payah gue tahan. Najis banget gue harus nangis di depan Robbie, setelah apa yang sudah dia lakukan buat gue.
Apalagi dia sama sekali nggak berkomentar dan hanya memandang kosong ke arah langit-langit teras.

<C’mon, Rob, say something… Nice things, maybe? Atau semacam pembelaan kalau lo sebenarnya cuman playing with fire and get burned?>

“Rob, gue tahu, this is too dramatic, tapi lo harus percaya. Satu bulan di Surabaya adalah waktu terbaik yang pernah gue punya.”
“…”
“Nope. Kalau lo mikir gue punya gebetan baru, well, frankly, I don’t. Ya. Lo sudah menyumbangkan perasaan malas gue untuk suka sama cowok lain. You should thank God for that. Tapi… gue bilang itu masa yang terbaik karena… I found my true friends…
Ya. Friends.
Mereka datang memberi dukungan, memberi cinta, membangun rasa percaya diri gue yang hancur karena lo. Mereka memberi pelukan, rangkulan, atau usapan di kepala saat gue nangis dan mengutuk diri how unfortune I was…
Gue lupa, Rob.
Gue punya segala hal.
Punya pekerjaan, punya orang-orang yang menyayangi gue unconditionally… Yang gue nggak punya cuman satu, Rob… keberanian gue kalau harus bener-bener putus sama lo.
Gue pasti hancur, Rob.
Gue pasti akan sakit hati dan nangis terus karena gue sudah terlanjur dekat sama Mama Anne, sama Ceu Intan, Aa’ Dimas…
Tapi, Rob.
Setelah gue tahu lo sudah mengkhianati gue, I think harder and harder, Rob. Silahkan GR, tapi memang, siang malam gue mikirin lo, mikirin keajaiban, siapa tahu semua ini cuman bohong…
Dan ternyata… I’m living my dreams… my fantasies. Keajaiban itu nggak datang, Rob, lo tetap sama Jo, lo tetap memilih dia, lo tetap menganggap gue masa lalu.
So, apa gunanya, Rob, gue nangisin elo?
Nothing.
N-O-T-H-I-N-G.”

Gue menangis.
Akhirnya setelah berpanjang lebar mencurahkan semua perasaan gue selama satu bulan penuh di Surabaya, meluluhlantakkan perasaan gue.
Sudahlah.
Gue sudah nggak peduli lagi soal penilaian Robbie ke gue. Toh ini bukan pengujian skripsi. Ini adalah soal hati dan gue nggak bisa mengaturnya semau gue.
So, right in the middle of our fight… I cried.

“Sas… You know how I love you, don’t you?”

Don’t say it, Silly! You really are insane to say that right now!! SHIT!

“Kita punya tiga tahun yang indah…”

Ini menjawab pertanyaan gue: Apa arti 3 tahun itu buat dia, ya?

“Aku bersyukur sekali bisa ketemu sama seseorang seperti kamu, Sas. Seseorang yang selalu bikin aku tersenyum, tertawa… Yang suka ngotot kalau dibilangin apa-apa… Boleh percaya atau nggak, tapi itu memang indah banget.”
“Rob, please…”
“No, no. Please, Sas. Biarkan aku selesai dulu.”
Gue diam.
“Aku memang kehilangan kamu sejak kamu sibuk ngamen, Sas. Kita jadi jarang meluangkan waktu sama-sama… Jarang keluar malam mingguan… Jarang masak berdua, ketawa ketiwi karena masakannya amburadul dan hampir nggak ada rasanya… I missed those moments, Sas. Dan, parahnya, aku jadi merasa dinomorduakan sama kamu, Sas…”
“Kenapa lo nggak bilang terus terang, Rob? Kenapa lo akhirnya malah mencari perempuan lain?” Gue nggak tahan untuk nggak bertanya.
Robbie menunduk.
“Karena aku ingat apa alasan kamu datang ke Jakarta, Sas… Dan aku nggak mau merusak cita-cita itu…”
“But, what if I changed?”
DAMN. Ini mulut memang harus cepat-cepat disekolahin, deh!

<And by the way, ini pertanyaan gue yang lain: Gimana kalau gue mau berubah?>

“Kamu? Berubah? Demi aku? Would you?” Robbie menatap gue. “Kamu yakin, merelakan semua yang sudah kamu rintis, merelakan cita-cita kamu, demi seseorang seperti aku?”

I wasn’t prepared to answer.
I’m here to ask him questions!

“Satu hal, Sas, jangan menyerahkan hidup kamu buat orang lain, even if he’s your husband, your soulmate, The One… Jangan pernah membiarkan orang lain merampas cita-cita kamu, hidup kamu, kebahagiaan kamu, demi kebahagiaan orang itu sendiri.
Karena, Sasya… kalau dia memang betul-betul that One, dia nggak akan menyuruh kamu give up everything karena dia merasa terabaikan, tapi dia akan memberikan semua yang dia punya untuk membantu kamu mewujudkan mimpi-mimpi kamu itu… bersama-sama dia. Karena bahagia kamu, adalah bahagianya juga.”

I always hate to know how clever he is…

“Sas, hidup sudah berbaik hati ngenalin kamu ke aku, tapi… sayangnya, hidup sudah menggariskan aku untuk berjalan ke arah lain…”
“Ya, Jovanka…” gue mendesis, sedih.
Robbie melihat kesedihan di mata gue.
“Aku minta maaf, Sas… Aku nggak bermaksud untuk…”
“Jangan minta maaf, Rob.”

…Semua yang kita jalanin ini nggak akan sia-sia, kok, Sas. Tiap sakit hati, tiap air mata yang netes, tiap lo sedih… nggak akan hadir buat sia-sia. Bahkan, tiap orang yang hadir dalam hidup lo, meskipun dia udah jahat banget…

“Everything’s happened for reasons.”
“…”
“Gue lega karena lo sudah menjawab pertanyaan gue, Rob.”
“Pertanyaan?”
“Iya, pertanyaan.”

<Pertanyaan yang mulai ada di pikiran gue sejak take off dari Cengkareng lalu landing kembali di sana>

Gue menggenggam jari Robbie.
“Tapi gue punya satu pertanyaan terakhir.”
Robbie ikut menggenggam jemari gue.
“Apa?”
Gue melihat dia.
“Apa yang terjadi kalau gue nggak pindah ke Jakarta tapi tetap kuliah di Bandung, dan menunggu lo pulang setiap dua minggu sekali? Apa kita masih pacaran sampai sekarang, Rob?”
Robbie memandang gue dengan matanya yang indah.
“I don’t know, Sas… You tell me.”
Gue tersenyum.
“Lo juga nggak tahu jawabannya, ya, Rob?”
Dia mengangguk.
“Karena aku bukan Tuhan, Sas… Bukan aku yang mengatur hidup aku, tapi Dia.
Dia yang bikin aku bergetar saat pertama kali bertemu kamu. Dia yang membuat kita berdua dekat. Dan… dia juga yang membuat kita berpisah.
Kita hanya berusaha, Sas.
Tapi, yaa… mungkin aku menyerah duluan, Sas, tapi aku yakin, yaa.. seperti katamu. Everything’s happened for reasons.”

Robbie memeluk gue.
Gue terisak perlahan di dadanya.
Kehilangan Robbie bukan cuman kehilangan pacar, tapi kehilangan seseorang yang telah memanjakan kehidupan gue selama tiga tahun… Unreplaceble moments…

Saat Robbie memeluk gue, tiba-tiba gue merasakan dada Robbie bergetar. Is he crying?

“Rob…”
Gue menarik kepala gue dari pelukannya untuk melihat jelas. Dan ternyata, dia memang menangis.
“Rob, lo nangis, ya…”
“I love you, Sas…” kata Robbie tiba-tiba. “I didn’t know why I’ve cheated on you… Aku nggak tahu kenapa aku bisa setega itu… Mutusin kamu, ninggalin kamu, dan nggak memberi kamu kesempatan untuk memberi pembelaan sedikitpun…”
Matanya berkaca-kaca dan membuat gue hampir menangis lagi.
Tapi gue hanya memegang tangannya.
Lalu berkata dengan tangis yang tertahan.
“Robbie… Don’t worry. Gue nggak kenapa-kenapa, kok. Gue ngerti, malah, kenapa lo heran lo bisa ninggalin gue seperti itu.
Because, what… Gue pernah denger, ada seseorang yang bilang, kalau terkadang, kita nggak pernah tahu kenapa kita bisa jatuh hati sama seseorang atau kenapa perasaan itu hilang. We just fell. Next is… our destiny.”

And my destiny led me to…
NOT YOU, Robbie.

Malam itu, kami berdua menangis.

 

to be continued

behind the door (last episode/24) : the reasons

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

One thought on “behind the door (23) : the answer

  1. lha… masi tu bi kontinyut tho…

    * beli kacang kulit dulu sama fanta stroberi kalengan *

    Posted by ashardi | June 17, 2008, 7:56 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: