you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (19) : dreams

Gue masih leyeh-leyeh di kursi teras, saat Mas Ben dan Miko membuka pintu pagar. Mereka baru pulang dari check sound, hari ini adalah pertunjukkan terakhir kami di Surabaya. Setelah itu gue pulang dan mungkin, akan terbang ke Denpasar.

Melihat gue asyik di kursi sambil sun bathing (bisa dibilang gitu, lah, soalnya jempol kaki gue kena matahari sedikit! Hehehe), Mas Ben langsung ikut duduk di sebelah gue dan Miko malah berinisiatif mengambil kursi tambahan dari ruang tamu.

“Eh, mumpung Sasya lagi waras begini, kita bicarain sekalian, ya, Mik?”

Gue nggak sempat tersinggung karena dibilang ‘lagi waras’ soalnya gue melihat Miko juga terlihat serius dan memanggil Daanish yang sedang creambath sendiri di kamar juga Erick yang sibuk bergombalria dengan Karina di telepon.

Nggak lama, kami semua sudah lengkap duduk di teras.

Okay. Semuanya sudah kumpul, kan?” Mas Ben, yang bisa dibilang our team leader memulai diskusi. “Kita bahas, ya…”

Lalu Mas Ben cerita soal hari terakhir kami di Surabaya dan dia bersyukur sekali karena respon masyarakat Surabaya cukup positif dan mereka berencana mengundang kita enam bulan lagi. Kemudian, soal tawaran manggung di Denpasar yang sedang dalam tahap negoisasi ternyata akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk mengontrak kami selama dua bulan di sana.

“Denpasar, Mas? Bali itu, kan?” tanya Daanish konyol.

Denpasar ya di Bali itu, Neeennnggg…

“Iya, Nish, Bali.”

“Waaahh… asyik, dong, Mas!”

“Harusnya sih, asyik, Nish, clubbers di sana, kan, bule-bule gitu, Nish… Itu yang bikin nilai kontrak kita jadi dua kali lipat!”

Erick langsung berteriak kesenangan. Sudah, deh, pokoknya kalau sudah masalah duit, cowok itu pasti langsung semangat.

<Padahal sebetulnya, dia tinggal nodong Papi tercintanya untuk ngasih duit, terus nggak lama kemudian, si Papi malah nggak cuman ngasih duit, tapi satu lembar cek dengan jumlah nol yang buanyak buanget!>

“Jadi, sudah deal, ya, Mas?” tanya gue.

“Kata Oom Hasan, sih, gitu, Sas… Kenapa? Kamu sudah ambil cuti, kan?”

Gue mengangguk, perlahan. Air muka gue langsung berubah.

“Terus kenapa, Sas? Kok kamu…”

“Eh, Mas, terus, terus, mulai kapan kita ngamen di sana?” Gue tahu, Daanish mengalihkan perhatian Mas Ben sebelum lelaki itu bertanya-tanya kenapa gue nggak terlihat happy.

Dan rupanya berhasil. Mas Ben mulai cerita kalau dua minggu lagi, kita sudah tinggal di Denpasar untuk survey lokasi dan karakter para clubbers.
Berarti, gue punya dua minggu di Jakarta untuk beristirahat… Hmm… Kenapa juga gue merasa sedih karena harus meninggalkan Robbie? Padahal mantan gue itu nggak akan pernah jadi pacar gue lagi…

“Dan… kalian siap untuk berita yang lebih membahagiakan?”

Mas Ben membuat kami penasaran.

“Apa, Mas?” tanya Daanish, gue, dan Erick barengan. Persis kayak koor di Gereja.

Mas Ben mendehem sebentar lalu memandangi kami satu-persatu.

“Anak-anak…” Mas Ben selalu begitu setiap mulai sok dewasa. “… masih ingat demo yang kita kirim tahun lalu?”

Gue masih deg-degan.

Tentu saja gue inget sama demo tape yang kami kirim setahun yang lalu. Yang dengan susah payah kami buat, dengan uang yang perlahan-lahan kami sisihkan supaya cukup untuk menyewa studio rekaman, dan kami kirim ke perusahaan major label yang terkenal.

Ya. Gue inget persis.

Waktu itu gue bilang sama Robbie kalau gue… Hus, hus. Gue lagi nggak mau inget Robbie!

“Kenapa, Mas?” tanya gue lagi.

“… kita… diundang untuk AUDISI!”

Kalau rumah kontrakan ini cuman berbahan triplek dan bambu, mungkin sekarang sudah runtuh dan rata dengan tanah karena serta merta kami langsung berdiri, teriak, lonjak-lonjak kesenangan, dan lupa kalau kami masih punya tetangga…
 

to be continued

behind the door (20) : newsflash!

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: