you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (18) : everything’s happened for reasons

Laura pulang.
Gue mengantar dia sampai ke airport. Erick meminjam paksa mobil Dean, gebetan Daanish, dengan alasan, cowok itu masih punya tujuh mobil yang lain. Dasar orang kaya, Dean rela-rela aja meminjamkan mobil kijang kapsulnya untuk dipakai keliling-keliling selama kami di Surabaya.
Kalian pasti membayangkan betapa anehnya Erick, Laura, dan Aldo ada di dalam satu mobil, kan?

Well…well… pada awalnya, gue juga membayangkan hal yang sama, makanya tadi sempat meminta Erick untuk nggak ikut. Tapi dasar cowok sableng, dia malah dengan teganya bilang, “Ntar kalau lo pergi sendiri, gue nggak yakin mobilnya kembali dengan selamat, Sas!”
Kurang ajar, kan?

Dengan jengkel, gue akhirnya merelakan diri untuk tenggelam di kecanggungan selama satu jam di dalam mobil. Apa yang terjadi, ya terjadi, deh. Kalau ada apa-apa di jalan, gue tinggal turun dan mencari taksi.
That was my plan A.
Mm.. nope.
That was my only plan.

Ternyata…
Apa yang sudah gue bayangkan sebelumnya, sama sekali nggak terjadi. Mereka bertiga malah seperti tiga orang sahabat yang saling meledek, saling bergurau, dan malah dengan konyolnya cerita-cerita soal masa lalu Laura dan Erick.

Anehnya, mereka semua berpendapat, kalau untung aja Laura patah hati karena Erick. Soalnya kalau nggak begitu, Laura nggak akan mencari pelampiasan ke Aldo…
Orang-orang yang aneh…

Saat gue keheranan, Laura menyahut begini.

“Ya, iya, lah, Sas. Semua yang terjadi itu pasti ada alasannya, kan? Ibaratnya ini lingkaran yang terus berputar…”

“Maksud lo, Lor? Lingkaran?”

“Iya, Sas,” timpal Aldo, ikut-ikutan. Ini cowok, kok, nggak ada cemburu-cemburunya sama sekali, sih? Heran gue! “Maksud saya begini. Semua kejadian itu pasti nggak datang buat sia-sia aja. Kalau waktu itu Laura-saya ini nggak ketemu Erick dan nggak, sorry lho Rick, disakitin cowok ini… pasti, deh, saya nggak akan ketemu dia.”

“Emang lo ketemu Mas Aldo di mana, Lor?”

“Pas nongkrong di Sapu Lidi, sendirian, pulang siaran…”

“Nongkrong dengan tampang sedih banget, Sas,” tambah si Aldo sambil mengelus sayang rambut Laura.

“Jadi lo sedih banget, ya, Lor? Tu cowok emang kurang ajar, yaa…” sahut Erick sambil tertawa.
HU-UH! Sableng! Sableng!
Anehnya, mereka tertawa.

“Terus, terus?”

“Ya, maksudnya… Kalau dia nggak sedih karena Erick… saya pasti nggak akan tertarik untuk menyapa dia, Sas.”

“Dan bikin kita jadi dekat seperti sekarang…”
Mereka berdua saling menatap dengan pandangan penuh cinta yang cukup jijay di mata gue. Kalau ini film India, setelah ini pasti mereka akan saling membelai, lalu mulai bernyanyi, dan menari-nari di bawah hujan!
Mereka seperti nggak sadar kalau gue masih lost.

“Ini anak gebleg apa gimana, sih?” komentar Erick pas gue masih bingung kenapa mereka bilang ini lingkaran yang terus berputar.

“Yeee… kalian tuh, ngomongnya pakai bahasa planet, sih! Muter-muter ke sana-sini. Kalau pakai argo, sudah habis berapa, nih…”

“Elo-nya aja yang nggak tanggap, Sas…”Gue memang bilang Erick temen jalan yang menyenangkan, tapi urusan kata-kata pedih, dia memang nominasi unggulan untuk pemeran utama antagonis!

“Sasya Sayang…” kata Laura setelah usai memandangi Aldo. For your record, mereka nggak sempat keluar dari mobil untuk berhujan-hujan ria seperti film India. “Lo masih inget, kan, pepatah ‘everything’s happened for reasons’?”
Ya.
Gue tahu banget. Itu kalimat standar setiap gue failed.

“Setelah gua ketemu Mas-gua yang ganteng ini,” kata Laura sambil memandang pacar tercintanya, “Gua baru nyadar apa maksud Tuhan ngasih gua sakit hati waktu itu…”

“…”

“Supaya gua ketemu Mas-gua, Sas. Supaya gua ketemu laki-laki yang lebih baik daripada, sorry lho, Rick, mantan gua.. Erick ini.”
Erick yang dari tadi disebut-sebut namanya cuman diam mendengarkan dan mengangguk-anggukkan kepalanya setiap dia mendengar sorry-lho-Rick.

“Semua yang kita jalanin ini nggak akan sia-sia, kok, Sas. Tiap sakit hati, tiap air mata yang netes, tiap lo sedih… nggak akan hadir buat sia-sia. Bahkan, tiap orang yang hadir dalam hidup lo, meskipun dia udah jahat banget sama gue seperti Erick… Sorry lho, Rick… Tetap aja dia hadir untuk satu alasan.”

“Apa, Lor? Apa arti gue buat lo?” Erick menggodanya dan melirik Laura dari kaca spion dalam.

“Mmmm… apa ya? Buat…” Laura sengaja menggantung kalimatnya. “Buat nganterin gua ke airport, Rick!” tukasnya sambil tertawa.

“Ha..ha..ha.. edannnnn!!”
Kami ikut tertawa.

“Tapi, tenang aja, Rick. Bukan itu aja, kok, arti lo buat gua.”

“Apa, dong? Gue udah mikir mau cari taksi buat kalian, nih!” katanya sambil tersenyum.

“Mm.. arti lo buat gua, Rick… Bikin gua sadar, kalau sebenarnya gua nggak bisa pacaran jarak jauh… Nggak bisa pacaran sama orang seumuran… Dan lelaki yang tepat buat gua itu lelaki seperti Mas Aldo ini…”
Gue melihat ada kilatan harapan di mata Laura dan saat gue melihat Aldo, gue bersyukur, ternyata gue menemukan kilatan yang sama.

<Semoga mereka memang berjodoh dan nggak perlu menangis-nangis darah seperti gue…>

“Sas, Robbie juga begitu, kok.”
Mendengar nama Robbie membuat gue terkejut. Cukup, deh, gue belum bisa mendengar nama Robbie. Gue masih terlalu sakit hati, masih perih, masih belum bisa menganggap ini adalah reasons for everything that happened
Tiba-tiba, suasana menjadi tenang. Bahkan diam-diam, Erick memutar tombol volume ke kiri.

“Dia pasti hadir karena membawa misi, Sas.”

“Misi? Misi apa? Bikin hancur hati perempuan terus pergi ngawinin perempuan lain?” tanya gue ketus.

“Sasya, itu juga yang gua kira saat Erick ninggalin gua… sorry lho…”

“Iya, iya, gue maafin,” sahut Erick sambil tersenyum. Mau sampai kapan dua orang manusia ini bilang sorry ke dia, ya?

Laura melanjutkan lagi. “Awalnya gua hancur banget, Sas. Lo lihat sendiri, kan, gimana menderitanya gua saat itu? Nggak mood makan, apalagi siaran. Yang ada gua nangis, nangis, dan nangis. Tapi setelah itu, apa? Gua ketemu Mas Aldo… gue ngerasa bahagia… gue dikenalin ama orang tuanya… which is my very first experience, makasih ya, Mas…” kata Laura sambil mengerling ke pacarnya dan Aldo menggenggam jemarinya lembut.

And you’re saying that…”

“Maksud gua, Sas. Hikmah itu justru baru kelihatan setelah lewat, bukan saat kita lagi kena masalah…”

<So, how many more days should I live before I get the point of this heartache?>

“Sasya, mungkin Robbie harus ninggalin lo dan bikin lo sakit hati supaya lo akhirnya nyadar kalau dia… bukan cowok yang baik buat lo?”
Laura menatap mata gue.

“Karena, Sas, yang gua tahu, cowok yang baik tuh, nggak akan menyakiti orang yang dia cintai, dengan menikahi orang lain…”
 

to be continued

behind the door (19) : dreams

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: