you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (17) : why her?

…beli bahan buat lamaran Robbie…

Robbie akan menikah. Memang, Laura nggak menyebutkan soal pernikahan, tapi kalau sepasang kekasih akan melakukan prosesi lamaran, berarti nggak sampai dalam hitungan tahun, pasangan itu akan menikah, kan?
Jadi kalau Robbie akan melamar Jo, berarti… dalam waktu dekat, perempuan itu akan resmi menjadi Ny. Jovanka Hendrawan.

There’ll be no longer Mrs. Sasya Rachmania Hendrawan, yang akan setiap pagi menyiapkan kopi kental kesukaan Robbie sebelum dia membuka mata… Menyiapkan air panas untuk mandinya… Membuat roti panggang isi sayur dan tuna… lalu berangkat sama-sama ke kantor naik mobil impian kami berdua, Honda Jazz warna hitam metalik dengan neon light warna biru terang…
Yang ada sekarang cuman seorang Sasya Rachmania, penyanyi band, tanpa mimpi apa-apa…

*sigh*

Kalau memang Robbie berniat untuk melamar Jo, kenapa saat itu Robbie meminta gue untuk ‘introspeksi’? Kenapa nggak langsung saja dia bilang, ‘kita putus’? Dengan begitu, gue nggak perlu mengembangkan perasaan ke-GR-an gue terlampau jauh… Membiarkan gue berkhayal ending cerita yang dramatis seperti cerita-cerita di novel…
Tapi, kalau memang saat itu Robbie bilang kita benar-benar putus dan nggak akan pernah kembali lagi… apa memang gue jadi lebih bisa menerima kenyataan, ya? Bisa jadi saat itu gue malah akan lebih histeris, kan?

Because one thing I can say for certain, that there’s no easy way to break somebody’s heart..

… I heard he sang a lullaby
I heard he sang it from his heart
When I found out thought I would die
Because that lullaby was mine…

Kenyataan seperti ini seperti memukul gue dengan telak. Gue benar-benar nggak mempersiapkan hati gue untuk menerima kenyataan kalau gue sudah nggak ada harapan lagi untuk kembali sama Robbie dan mantan pacar yang masih sangat gue sayangi itu sudah memilih perempuan lain untuk berlabuh…
I know…
Akan jauh lebih mudah kalau Robbie hanya ‘pacaran’ dengan Jo, lalu akan putus sebentar lagi setelah Robbie sadar kalau gue jauh lebih baik dari Jo.
Tapi, kenyataannya, Jo bukan sekedar selingkuhan biasa saat dia merasa hubungannya sama gue mulai mendingin.
Kenyataannya, Jo malah lebih dari itu.
She’s even more than me.
The saddest part is…
She made him marry her!

Gue ingat betul betapa Robbie selalu menolak setiap gue mengarahkan pembicaraan ke soal pernikahan. Sebetulnya gue juga nggak bernafsu-nafsu amat untuk menikah, mengingat gue masih 23 tahun dan nggak ada pengharusan ‘kawin muda’ di keluarga gue.
Sejak gue berkunjung ke acara keluarga Robbie, beberapa hari setelah lebaran, dan bertemu dengan hampir seluruh keluarga besarnya… pertanyaan Mama Anne ke Robbie membuat gue terusik.

“Kapan kamu ngasih Mama cucu, Rob? Sebentar lagi kamu sudah dua lima, kan? Papapmu aja umur dua lima sudah punya kamu…”

Gue baru tahu kalau di keluarga Robbie ada sejarah ‘kawin muda’. Orang tuanya, Uwaknya, Aa’ Dimas dan Ceu Intan, kakak-kakaknya… Semuanya sudah produktif melahirkan anak-anak yang lucu sejak mereka berumur dua empat. Itulah yang membuat Mama Anne menanyakan keseriusan hubungan gue dengan anaknya.

Di atas kereta yang membawa kami berdua kembali ke Jakarta, Robbie menunjukkan wajah yang aneh.
“Kenapa, Sayang?”
Dia hanya menggeleng lalu pura-pura mengambil koran pagi yang tadi sengaja dia beli saat menunggu kereta datang.
What’s with the face? Ada yang kamu pikirin, ya?”
“Nggak ada, Yang… Aku cuman pingin baca koran aja, kok.”
Dia pura-pura sibuk. Gue tahu itu.
“Kalau soal merit yang Mama bilang itu…”
“Sayang… please. Aku nggak mau bahas soal itu, okay?”
“Iya, deh, iya. Aku juga nggak mau bahas kok… Cuman supaya kamu tahu aja kalau…”
“Sasya, please deh, kamu bisa lihat kan aku lagi ngapain sekarang?”

Lagi baca koran sekedar untuk mengalihkan perhatian gue kan, Rob?
Tapi gue mengangguk.

“Jadi, kamu bisa diam kan sampai aku selesai baca?”

Itu adalah pertengkaran pertama setelah kami bermaaf-maafan di hari Lebaran. Setelah itu, kami jadi makin sering bertengkar, saling berargumen, saling pointing fingers, dan mulai mengabaikan cinta yang berhenti tumbuh.
Sejak saat itu, gue dan Robbie seperti dua orang asing yang hanya bertemu setiap beberapa hari sekali, saat sarapan… atau lebih tepatnya, saat makan di pagi buta, usai menjemput gue di kafe.
Harusnya gue mulai curiga kenapa Robbie mulai nggak peduli lagi gue pulang jam berapa, sama siapa, lagi main di mana. Dan mulai curiga ketika mulai nggak mengeluh karena gue mengabaikan dia.
Karena ternyata…
Sudah ada Jo.
Yang sebentar lagi, akan menjadi pendamping hidupnya…

Ternyata…
Bukannya dia nggak ingin menikah muda seperti kedua kakak-kakaknya.
Bukannya dia nggak ingin memberikan cucu-cucu cantik buat Mama Anne.
Atau dia ingin berkarir dulu supaya bisa menafkahi anak istrinya.
Dia hanya…
Nggak bisa MENIKAHI GUE!
After all of this…
Why her?

to be continued

behind the door (18) : everything’s happened for reasons?

About Lala Purwono

Published writer (or used to be, darn!). A wife. A mom. A friend that you can always count on.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: