you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (16) : his lost, not mine

The reality, really, bites.
Saat Laura berhenti cerita, gue langsung nggak tahu harus melakukan apa-apa. Rasanya, kenyataan itu terlalu menyakitkan buat gue.
Ya.
Karena gue masih, somehow, berharap akan datang keajaiban meskipun gue sudah tahu persis, Robbie sudah melupakan gue…

Akhirnya gue menangis.
Denial kayak apapun nggak akan bisa membuat gue berhenti menangis dan menganggap semuanya under control. Gimana gue bisa pura-pura nggak sedih, kalau ternyata gue benar-benar SEDIH?
Robbie sudah mengkhianati gue sejak delapan bulan yang lalu…
Delapan bulan yang lalu.
Padahal seingat gue, meskipun kita sering bertengkar untuk mempermasalahkan hal-hal yang sepele, kita masih sering bercanda-canda. Masih sering berbagi cerita, saling memeluk, bahkan mencium…
Apa arti delapan bulan itu, Rob?
Apa?

You were everything, everything that I wanted
We were meant to be, supposed to be
But we’ve lost it
And all of those memories so close to me
Just fade away
All this time you were pretending
So much for my happy ending…

Erick, lelaki ajaib yang seperti punya radar setiap gue sakit hati, akhirnya malah jadi penyelamat gue.
“Sas… gue denger dari Laura… Gue tahu ini sakit, Sas, tapi harusnya lo bersyukur karena lo tahu dari sekarang. Ini jauh lebih baik daripada lo terima undangan kawinan dari dia, kan?”
Erick memang nggak pernah kenal dengan ‘basa-basi’. Itu yang gue kagumi dari dia. Tapi untuk sekarang ini, gue rasa dia nggak perlu terlalu straight to the point begitu, deh…
“Terserah lo mau bilang gue nggak punya hati, nggak punya perasaan, lelaki tahunya apa, sih… Tapi… yang gue tahu, kalau Robbie emang kayak gitu, berarti… bukan lo yang nggak pantas buat dia, Sas, tapi lo yang kebagusan buat dia.”
“Rick… tapi hati gue sakit, Rick… Sakit banget…”
“Iya, gue tahu. Hati lo bukan buatan pabrik, Sas, jadi gue ngerti kalau lo sakit hati. Tapi, Sas… coba, deh, lo keluar dari segitiga ini.”
“Maksud lo, Rob? Segitiga? Which triangle?”
“Segitiga ‘lo-Robbie-that bitch’.”
“…”
“Kalau lo ada di dalam, lo akan selalu menganggap lo itu korban. Tapi kalau lo keluar dari segitiga itu dan melihat semuanya dari luar, lo pasti akan bersyukur karena tahu Robbie bukan cowok yang baik buat lo, Sas…”
“…”
“Sas, satu hal yang perlu lo ketahui.” Erick, dengan lagak psikolog terkenal, yang gue yakin banget sudah menular dari Karina, memegang bahu gue dan berkata perlahan, “It’s his lost, Sasya. Not yours. Percaya gue, ya?”

 

to be continued

behind the door (17) : WHY HER?

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

One thought on “behind the door (16) : his lost, not mine

  1. hahaha been there 😀

    Posted by natazya | June 6, 2008, 10:09 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: