you're reading...
Thoughts to Share

and this is why…

Riris adalah perempuan yang manis. Tubuhnya kecil mungil. Rambutnya hitam tebal sebahu. Matanya berpendar indah seperti menyimpan ribuan bintang di sana. She’s totally gorgeous! Apalagi dia juga termasuk perempuan yang pintar; lulusan Sarjana Strata 1 Perguruan Tinggi Negeri dan sudah bekerja sangat nyaman di kantornya yang sekarang. Her life seems perfect. She seems to have everything. Tapi ada satu yang tak bisa atau belum bisa dia miliki; Radith, kekasihnya, pujaan hati, belahan jiwa, dll dsb-nya ini. Because of what? …. karena Radith adalah suami orang lain…

***

Eyva bukan perempuan yang biasa-biasa saja, bukan perempuan bodoh yang dengan semudah itu bisa diperdaya oleh omong kosong laki-laki. Tapi ketika cinta berbicara, ia seolah buta. Perempuan usia nearly 30 itu harus mengabaikan keluarga, meninggalkan pekerjaannya yang hebat, hanya demi menyusul kekasihnya, Ivan, di ibukota. Semuanya terlihat benar-benar saja… andai saja… Ivan bukanlah suami dari seorang wanita lain yang kini tengah mengandung buah hati mereka berdua…

***

Dua kisah itu adalah kisah nyata; mereka adalah teman-teman dekat saya (so don’t expect me to write their true names, ya! ^_^ ). Kami sering curhat, sering berbagi cerita, sering berdiskusi dan meminta pendapat. Jauhnya jarak bukan halangan buat kami untuk saling bercerita. Thanks to technology; komunikasi menjadi lebih mudah.

Riris termasuk yang paling sering berkomunikasi dengan saya; ini karena kantornya yang tidak jauh dari kantor saya dan kami masih sering nongkrong bareng usai pulang kerja. Sekedar minum kopi atau nyemil roll sushi di tempat tongkrongan favorit.

Biasanya, saya bertanya, “How’s your life?” Pertanyaan yang standar dan selalu saya tanyakan setiap bertemu dengan teman atau sahabat.

“Mmm… okay,” kata dia.

Lalu saya suka iseng dengan bertanya ini, “Radith apa kabar?”

He’s fine. Tadi dia yang nganterin gua ke sini,” kata Riris. Dia mengeluarkan sebatang rokoknya. “Kenapa?” tanyanya sambil membakar ujung rokoknya dengan lighter hijau miliknya. Lalu dia mulai asyik menghisap rokok itu pelan.

Just being so curious. How’s everything with you and him?” Perlu diketahui, saya memang orang yang wanna know ajah😀

We’re okay,” kata Riris, pendek.

Are you?” tanya saya.

I am.”

…. Lalu saya berhenti mengusik ceritanya dengan Radith dan percaya bahwa teman baik saya saat masih muda belia ini baik-baik saja dengan kondisinya yang sekarang. She’s in love with someone else’s husband. Saya nggak bisa membayangkan bagaimana hancurnya dia ketika lelaki pujaannya harus pulang ke rumah menemui anak dan istrinya… and wonder… apa yang dilakukan Radith saat bersama dengan istrinya ketika malam menjelang dan udara semakin dingin…  It’s killing her!

Tapi kalau dia bilang dia baik-baik saja… ya berarti dia baik-baik saja. Try to believe that. Have to believe that. PERIOD.

Sampai suatu saat, kami bertemu lagi. Dia memaksa untuk mengajak saya makan siang. Suaranya yang galau terdengar begitu jelas di ujung telepon. Saya mulai panik. What the hell has happened? Lalu meluncurlah saya ke tempat janjian. And she was there… Dengan wajah yang lelah… Dan air mata yang tumpah…

“Gua lagi berantem sama Radith, La…”
“Berantem? Kenapa lagi sih, Ris?”
“Kata Radith gua terlalu kekanak-kanakkan…”
“Kenapa dia bisa bilang begitu? Lu abis ngapain?”
“Karena gua teleponin dia, La…”
“…?”
“Waktu itu, dia lagi di mobil… with his whole family…”
Sampai di situ, wajahnya makin kuyu. Air matanya menetes.
“…..Gua panik, La… Berhari-hari gua teleponin dia, tapi dia nggak angkat teleponnya….”
“Kenapa dia ga angkat?”
“Karena dia boongin gua, La…”
“..?”
“… dia bilang, dia nggak akan meluangkan waktu sama istri dan anaknya liburan ini. Dia tahu, ini bakal ngelukain hati gua kalau dia masih tetep spent time together dengan istrinya. He promised me to leave his wife… Soon.. Very soon, katanya. Tapi apa? By creating the moments together?”
“Terus?”
“Ya karena gua kirain dia ada di Surabaya, ya udah, gua teleponin aja… Gila, gua kan kangen banget sama dia.. Eh, berkali-kali gua coba, ga diangkat juga. Sekalinya diangkat, dia langsung pura-pura ngomong sama customer-nya. Dan yang bikin gua panik, La… I heard their voices! Istri, anak-anaknya…”
“Lu panik karena dia…”
“…karena dia masih liburan bareng sama istrinya, Lala… And it’s killing me!”
Dia terisak.
“…terus?”
“Terus dia bilang gua kekanak-kanakan. Dia bilang, kenapa gua terlalu panik dan over acting begitu. Ya, gua emang nelepon dia berkali-kali setelahnya, sampai akhirnya dia turned the cell phone off. Besoknya dia ngamuk-ngamuk karena gua hampir bikin dia dicurigain yang macam-macam sama istrinya. Dia bilang, gua hampir ngebikin semua ini berantakan. Dia nggak pingin ketahuan selingkuh, karena yang dia mau, setelah cerai nanti, dia punya hak untuk mengasuh anak-anaknya…”

Sampai di situ, saya langsung menggenggam tangannya. Mencoba memberinya kekuatan. Jauh di dalam hati, saya merasa sangat bimbang. Rasa benci saya terhadap perselingkuhan dan rasa sayang saya buat seorang teman baik yang sering kali menjadi ‘penyelamat’ di masa-masa terburuk saya. I was in the intersection. I didn’t know what to do.

Apalagi dengan melihat wajahnya yang kini penuh dengan air mata. Saya nggak tega… Beneran!

“Ris… elu aware kan kalau hal-hal begini pasti akan terjadi?”
Riris masih diam.
“Elu sadar banget kan, waktu pertama kali elu memilih untuk mencintai Radith, suatu saat kelak, hal-hal begini ini yang akan bikin kamu menangis dan sedih?”
Riris masih terisak.
“Elu tahu banget kan, yang kalian punya itu stolen moments? Waktu yang elu curi dan elu nikmati diam-diam?”
“Tapi gua cinta dia, La… He’s …. he’s just… everything.”
“Hey, gue tahu kok lu cinta sama dia, Ris. Kalau nggak cinta, gue yakin elu nggak bakal nangis-nangis darah begini… atau freaked out… atau ngerasa hopeless begini….”
He promised me his world…”
I know, Sweety… I know…” Saya usap belakang kepalanya. “But promises can be broke. Apa yang elu harap dari janji seorang manusia yang nggak luput dari salah dan alpa?”
“…. I love him…”
Saya terdiam. Inilah yang sulit; ketika cinta sedang berbicara, segala telinga seolah menuli.
“… gua nggak ingin kehilangan dia, La… Gua bisa mati kalau dia nggak ada dalam hidup gua…”

Bukankah elu dulu hidup dan bernafas sebelum ketemu Radith empat tahun yang lalu, Ris?
Tapi saya simpan pertanyaan ini dalam hati. Tidak akan memperbaiki keadaan. Malah bikin masalah semakin rumit.

What to do…. What to do, La… I’m lost….”

Elu tersesat, tapi elu nggak pengen keluar dari masquerade yang elu bikin sendiri, Sayangku!😦

“Gue nggak berhak ngasih tahu apa yang musti elu lakuin Ris. Secara lu adalah manusia dewasa yang punya alasan tersendiri kenapa elu ngelakuin ini semua. Dan gue yakin, ketika elu udah decided untuk terlibat di permainan ini, itu adalah pilihan yang elu udah well aware apa resikonya.
Resikonya udah jelas Ris. Radith milih elu. Atau Radith ninggalin elu. Elu sakit hati karena Radith harus bagi waktu dengan keluarganya. Elu bahagia karena Radith bisa mencuri-curi waktunya buat ketemuan sama elu…”

“…I know…” dia berbisik.

Then deal with it. Karena ini hidup, Is. Suatu pilihan pasti memiliki resiko. It’s a one whole package. Lu nggak bisa cuman ambil enak-enaknya doang. Ada bagian pahitnya yang entah di awal atau di bagian akhir yang musti elu telen juga.”

Riris memandang saya. “Should I end this?” matanya yang basah terus memandang saya.

Riris… kalo gue bilang ‘hentikan sekarang juga’ apa elu bisa nurutin permintaan gue ini???

Everybody has their own remote controls, Sayang,” kata saya akhirnya. “Di situ, ada dua tombol. Yes and No. Kalau elu tekan tombol ‘yes‘, ada preview sedikit di layar, bahwa elu akan begini.. akan begitu… Juga sebaliknya. Kalau elu tekan tombol ‘no‘, lu akan ngeliat sedikit preview soal kemungkinan-kemungkinan yang terjadi….
Now you decide.
Remote control itu ada di tangan elu, Ris. Ada di genggaman tangan elu. Bukan gue, bukan pula Radith yang menentukan elu harus memilih tombol yang mana. Karena ini hidup lu… karena yang bakal ngrasain semua resikonya adalah elu, Ris…. It’ s your call.”

Siang itu berakhir dengan satu pelukan sayang saya buat Riris. Tubuhnya bergetar. Saya tahu, dia takut kehilangan Radith. Tapi saya tahu persis, dia lebih ketakutan pada kenyataan bahwa sesungguhnya ini adalah sekedar mimpi-mimpi yang melenakan dan bukannya tak mungkin dia harus bangun dari tidurnya…

***

Riris telah memilih untuk tetap bersama dengan Radith. She decided to press the NO button; SHE STAYS.

***

Eyva kini hidup sendiri di belantara Ibukota. Ivan memilih untuk tetap bersama dengan istrinya and expecting his new baby born. Eyva terluka. Eyva tak berani menatap muka orang tua dan keluarganya. She’s lonely… She’s afraid… She regrets everything…
Then she called me and said,
“Lala…. elu masih mau temenan sama gue kan?”
“Lho, kenapa?”
“Gue takut aja elu marah karena saat itu gue nggak ngedengerin elu…”
“Va… gue bukan orang yang gampang buat bilang ‘I told you so’. Percaya deh, you’re still my friend… Kenapa elu tiba-tiba nanya itu sih, Va?”
“Karena… Karena gue… karena gue ngerasa hidup gue sudah hancur dan satu-satunya yang bisa nerima gue cuman orang-orang macem elu, La… temen-temen gue…”
Diam-diam, di ujung telepon satunya, saya menangis perlahan.

***

Inilah kenapa saya benci perselingkuhan.
Karena saya tahu…… it’s never that easy….

Life’s about choices.
And I’ve chosen… not to play with fire coz I don’t wanna get burned.
Can you all deal with that?

 

Buat Eyva dan Riris

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

6 thoughts on “and this is why…

  1. buat aku nggak ada ??? hehe

    Banyak pelajaran berharga dalam cerita teman mbak.

    beteww : Carilah cinta sesungguhnya, cinta diatas cinta Sang Maha Pecinta…..itu aja.

    emang situ selingkuh juga?:mrgreen:
    iya….. itu memang cinta sejati ya, Pak?

    Posted by Alex | June 4, 2008, 2:03 pm
  2. bu…. gw juga punya orang terdekat yang jadi istri kedua seseorang pada akhirnya dan itu juga membuat gw ga bisa bicara apa apa lagi di depan dia tentang betapa brengseknya perselingkuhan karena gw menghargai keputusan dia… tapi kalo dia jadi pusing sendiri, nangis sendiri karena suaminya lebih sering ke istri pertama dll, gw cuma bisa diem aja…

    yang namanya selingkuh emang selalu PUNYA BANYAK PEMBENARAN dan yang paling najis adalah karena cinta… godamnit!

    Bener banget, Bu… jadinya speechless. Setuju ga, ga setuju juga ga bisa…😦
    *kayaknya kamu bener-bener udah eneg banget ya Nat sama selingkuh-menyelingkuh ini?*

    Posted by natazya | June 4, 2008, 2:36 pm
  3. Selingkuh itu bikin orang di sekitarnya sakit BANGET !!!
    Apalagi kalau yang kita tau, nggak mungkin bisa kita share ke orang …

    Posted by Hateanaffairsomuch | June 4, 2008, 3:34 pm
  4. lha… orang2nya kok pada ribet gini ya… semacam menakutkan… trus skarang nasib mereka gimana? ndak mrinding dicritain kaya begitu?

    Posted by ashardi | June 4, 2008, 3:40 pm
  5. No comment…

    Posted by niaalive | June 4, 2008, 6:02 pm
  6. hai la…
    aku mau komen. tapi ini komen cemen gak penting…
    komenku adalah…

    emang lelaki cuma radit dan ivan ?
    kayak gak ada yang laen ajah….
    kayak apa sih mereka ???
    segitu amat cintanya….

    udah gitu aja …
    yg jelas … siapa nanem … dia lah yang metik…

    Posted by nh18 | June 5, 2008, 1:32 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: